Lombok Post
Headline Metropolis

Save Genggong!

NYARIS PUNAH: Sadarudin tengah memainkan alat musik Genggong di Sanggar Seni Amiranjili, Kekalik, Kota Mataram, Jumat (1/12) Lalu Mohammad/Lombok Post

Banyak yang mengira alat musik ini tidak akan pernah muncul di ibu kota. Apalagi alat musik modern membuat generasi muda melupakan alat musik tradisional. Tapi kemunculannya hari itu, membuat banyak orang tersentak. Genggong belum mati, tapi masih sekarat!

—————————–

TAK banyak orang yang tahu, sekumpulan pria sepuh itu sedang berbuat apa pada Karnaval dan Parade Budaya Festival Mataram. Mereka melintas hanya beberapa detik, di depan wali kota Mataram dan tamu undangan lain. Panitia tak memberi waktu tim sepuh itu perform lebih lama.

Alasannya sore sudah siap-siap menjelang. Sedangkan puluhan peserta masih menunggu kesempatan unjuk gaya. Mereka berlalu, meninggalkan suara berdengung-dengung.

a�?Apa itu?a�? tanya Irvan pada ayahnya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Irvan merupakan salah satu dari ribuan penonton yang menyemuti Jalan Pejanggik kala itu. Tapi ayahnya tak segera menjawab. Bocah asal Dasan Agung itu, harus menunggu beberapa saat mengobati rasa penasarannya.

a�?Genggong,a�? jawab ayahnya kemudian.

Ia baru bisa menjawab setelah bertanya ke sana-sini. Tak banyak yang tahu itu alat musik apa. Cara menikmati musik itupun rasa-rasanya sulit bagi orang yang baru mendengar satu dua kali. Suaranya sepintas lalu lebih mirip serangga malam.

Sebenarnya munculnya genggong tak akan terlalu mengherankan jika dimainkan di daerah-daerah pelosok luar Kota Mataram. Di sana alat musik ini memang masih ada yang mempertahankannya.

Tapi karena alat musik ini muncul di Kota Mataram, di mana generasinya telah dianggap punah, wajar jika membuat sejumlah orang tertegun dan bertanya-tanya.

Lombok Post lalu mencari tahu dari mana kelompok itu. Fakta menariknya, tim genggong itu berasal dari Lingkungan Gerung Butun Timur, Kelurahan Mandalika, Kecamatan Sandubaya, Mataram. Mereka menamai kelompoknya dengan nama a�?Genggong Singosaria�?.

a�?Sudah sejak lama genggong ini ada,a�? tutur Amaq Ayat.

Ia adalah salah satu dari empat pria sepuh yang fasih memainkan genggong. Usia Amaq Ayat saat ini sudah berkepala tujuh. Usia yang sudah cukup senja, bagi pemegang estafet pemain genggong.

Baginya genggong alat musik yang simpel dan praktis. Dulu kala ia masih muda, genggong kerap digunakan para remaja untuk mengakrabkan diri dengan waktu. Terutama saat menunggu waktu giliran midang (ngapel ke rumah gadis).

Bagi wanita dengan pesona kecantikan yang kesohor ke berbagai pelosok, sudah hal yang lazim jika puluhan pria datang midang ke rumahnya. Tapi ruang tamu yang sempit, biasanya tak memungkinkan mengakomodir semua pemuda masuk. Jadilah sebagian besar menunggu di luar.

a�?Karena banyak yang midang, sambil tunggu giliran ya main genggong,a�? tuturnya.

Dengan genggong, waktu menunggu jadi tak terasa. Puluhan tembang Sasak bisa diiringi dengan alat musik ini. Sampai akhirnya tiba giliran untuk masuk dan bertemu wanita pujaan hati di ruang tamu.

Ada juga yang berkisah tak sedikit pemuda, mengawali alunan musik genggong dengan puji. Sebuah kalimat suci yang memiliki daya magis. Kerap juga disebut mantra senggeger. Tujuannya tentu saja agar wanita di dalam dibuat resah tak karuan. Hingga jatuh hati pada pemain genggong!

a�?Genggong juga telah jadi bagian dari alat perjuangan kemerdekaan,a�? ungkapnya.

Masih seputar kisah Amaq Ayat, di masa lalu, genggong konon digunakan sebagai bunyi sandi bagi pasukan pejuang yang hendak memberikan perlawanan pada penjajah Jepang di Mataram.

Kala itu, Mataram tidak seberisik saat ini. Hutan dan semak masih banyak yang perawan. Wajar saja rambatan suara musik genggong bisa menggema hingga tempat yang jauh. Bahkan konon jika dimainkan di wilayah Kecamatan Sandubaya, bisa terdengar sampai Ampenan.

a�?Saat ada yang akan melakukan penyerbuan ke markas-markas penjajah, alat musik itu dibunyikan, sebagai tanda bagi pejuang lainnya,a�? tuturnya.

Lambat laun pasukan Jepang menyadari, genggong berbahaya bagi eksistensi mereka. Karena itu, banyak pemuda akhirnya ditangkap hanya karena memainkan genggong. a�?Jepang selalu memburu para pemain genggong,a�? tuturnya.

Amaq Ayat salah satu pemain sekaligus pembuat genggong yang masih ada. Selain dia ada lagi Amaq Raini, dan Amaq Sute. Alat musik ini terlihat sangat sederhana. Tapi tak mudah membuatnya.

a�?Kondisi hati harus tenang saat membuat ini,a�? tuturnya.

Tidak bisa dalam keadaan grasa-gurusu. Layaknya garpu tala, kejernihan hati digunakan untuk menala frekwensi getar dari elaq (lidah, Red) dari genggong. Sehingga nada yang dihasilkan bisa indah dan nyaring.

Walau terlihat sederhana, genggong memang bukan alat musik yang gampang dibuat. Proses tunning atau stem nada oleh para pembuatannya, hanya mengandalkan insting dan ketajaman naluri saja. Tidak ada alat atau aplikasi stem nada seperti yang banyak di temui saat ini.

a�?Genggong ada yang dibuat dari bambu dan pelepah enau,a�? terangnya.

Konon, pelepah enau yang beririsan dan kerap bergesek dengan pelepah dari enau lain yang paling dicari. Jika dibuat genggong alat musik ini akan menghasilkan suara yang sangat nyaring dan memikat hati. Sayangnya, tidak mudah mendapatkan pelepah seperti ini.

a�?Ada tapi sulit, makanya kebanyakan dibuat dari bambu tutul,a�? ulasnya.

Obsesi untuk menghasilkan suara nyaring juga dilakukan dengan sebuah ritual sederhana. Para pembuat genggong dulu, biasanya memilih untuk membuat di tepi sungai. Sisa-sisa dari hasil meraut bambu atau pelepah enau dalam proses pembuatan genggong, selanjutnya akan dihanyutkan di sungai.

a�?Sebagai simbol harapan, jika genggong itu sudah jadi sempurna, suaranya bisa nyaring sejauh serpihan itu bisa hanyut,a�? tuturnya.

Orang-orang di zaman dulu kala, juga punya tenaga yang cukup kuat untuk menghasilkan suara genggong yang nyaring. Setiap hari, setiap waktu mereka mengisi waktu luang untuk bermain alat musik ini. Wajar saja mereka akhirnya terlatih dan bisa menghasilkan bunyi yang menerobos ruang dengan menembus berkilometer.

a�?Genggong juga dijadikan alunan untuk menidurkan anak di dalam buaian, suaranya yang lembut dan jernih mudah membuat hati siapapun merasa tentang dan tentram,a�? ungkapnya.

Sebut saja musik pelipur lara seperti Angin Alus, Babad Lombok, Gugur Mayang, dan sederet tembang indah lainnya. Genggong bisa mengiringi tembang-tembang itu hingga membuat hati siapapun terkesima. Bahkan di sela-sela masyarakat Lombok dulu melepas letih setelah seharian bekerja mengikat padi yang telah di panen.

Sementara itu, Agus Rahman sosok dibalik eksisnya Genggong Singosari, Gerung Butun Timur, Sandubaya bertutur tentang usaha kerasnya menjaga genggong dari kepunahan di Kota Mataram.

Ia berjibaku ke sana-kemari. Memperjuangkan agar Genggong, dilirik oleh pemerintah daerah. a�?Sayangnya hanya dari pemerintah provinsi yang baru menyambut kami, sedangkan dari pemerintah kota belum ada,a�? ujar Agus.

Tidak hanya pada pemerintah daerah Agus juga tanpa lelah dan dengan biaya dari kantong sendiri, mempromosikan genggong agar mendapat tempat di hotel-hotel. Baik di Mataram hingga Senggigi, Lombok Barat. Sampai saat ini usahanya sudah membuahkan hasil. Meski belum terlalu mengembirakan.

a�?Ada beberapa hotel di Lombok Barat, beberapa kali mengundang kami,a�? tuturnya.

Tapi undangan manggung ini belum terlalu intens. Sifatnya masih sangat tentatif. Beberapa kali tampil live di televisi dan radio lokal, juga buah dari ikhtiar dirinya rajin bersurat pada manajemen media. a�?Setelah bersurat dan menunggu beberapa waktu, baru akhirnya dipanggil untuk tampil,a�? tuturnya.

Beruntungnya berkat kedekatan dengan Dinas Pariwisata Provinsi, eksistensi genggong singosari akhirnya diakui. Mereka bisa masuk dalam 10 alat musik lokal khas Lombok untuk didokumentasikan dalam bentuk CD

A�a�?Itulah yang saya bawa ke hotel-hotel untuk berpromosi,a�? bebernya.

Sayangnya, karena hasil belum sesuai harapan Agus lalu mengajak tim genggong Singosari masuk rekaman lagi di sebuah tempat produksi rekaman lokal. Ada beberapa lagu yang dimainkan menggunakan alat musik genggong sebagai instrumen utamanya.

a�?Tapi sampai sekarang kami belum punya duit untuk tebus hasil rekaman,a�? ujarnya.

Sekahe (personil) Genggong Singosari terdiri dari delapan orang. Empat di antaranya adalah pemain genggong yang kini sudah berusia sepuh. Sedangkan empat lainnya, memegang instrumen musik pendukung genggong berupa, gong, seruling, gendangm, dan rincik.

a�?Ditambah dua orang joget,a�? jelasnya.

Satu hal yang membuat hati Agus resah sampai saat ini. Yakni soal regenerasi pemain genggong. Sampai saat ini belum ada satupun yang bisa mewarisi kemampuan empat pemain genggong yang sudah berusia sepuh.

a�?Di sini tempat kita sedih,a�? ungkapnya.

Regenerasi pemain genggong terancam punah di kota. Sepengetahuannya khusus di kota, hanya genggong Singosarilah yang masih eksis. Ia pun belum pernah mendengar ada di tempat lain.

a�?Beda dengan Gendang Beleq, Ale-ale, Kecimol, masih banyak di tempat lain,a�? ujarnya.

Tapi genggong yang merupakan musik yang mulai langka, sepertinya tengah sekarat di Kota Mataram. Selain memainkan musik ini sangat sulit, baru hanya satu dua yang terlihat berminat melihat. Tapi belum sampai berkeinginan mempelajari.

a�?Sangat sulit (memainkan genggong), alat musik ini juga berbahaya bagi lidah jika tidak terampil,a�? tuturnya.

Hembusan nafas yang menggetar-getarkan elaq genggong dapat melukai lidah. Bilahnya tajam dan sewaktu-waktu dapat menyayat lidah jika tidak terampil. Karena itu ia menyarankan, bagi yang mau berlatih sebaiknya meminta bimbingan dari ahlinya.

a�?Karena itu, jika mereka sudah tiada lagi, Genggong Singosari bahkan di kota mungkin punah,a�? ungkapnya sedih.

Agus mengaku risau. Undangan mengajar ke Jakarta hingga Negeri Belanda pernah mampir ke mereka. Tapi dari dalam daerah sendiri, sunyi senyap tanpa kabar. Jika usia para pemain genggong itu masih muda, barangkali mereka telah pergi meninggalkan tanah kelahirannya.

a�?Tapi karena alasan usia, mereka akhirnya menolak dengan halus,a�? tuturnya.

Sejauh penelusuran, genggong juga ada di pulau tetangga Lombok, Bali. Alat musik kuno ini dikatakan sudah ada sejak tahun 1935. Belum diketahui apakah genggong, bagian dari a�?warisana�� alat musik selama Kerajaan Karangasem, Bali selama melebarkan ekspansi kekuasaanya hingga di tanah Lombok.

Bisa juga pengaruh dari daerah lain. Karena masyarkat Sunda, Jawa Barat juga mengenal alat serupa yang disebut Karinding.

a�?Tapi ini tidak pakai petuk (ditarik-tarik tali), tapi dipukul-pukul,a�? jelasnya.

Ketua Pengemban Budaya Adat Sasak (Pembasak) Kota Mataram Sadarudin, juga mengakui alat musik ini sangat sulit dimainkan. Ia sendiri mengoleksi dua jenis genggong. Genggong lanang atau laki-laki dan genggong wadon atau perempuan.

Sebutan lanang dan wadon, bukan berarti alat musik itu ada yang dimainkan oleh pria dan wanita. Tapi sebutan lanang dan wadon merujuk pada karakteristik musik yang dihasilkan. Genggong lanang suaranya lebih nyaring. Sedangkan wadong suara yang dihasilkan lebih nge-bass dan rendah.

a�?Jadi untuk menghasilkan suara yang indah dan padu, dua-duanya harus dimainkan, barulah suaranya saling mengisi,a�? tutur Sadar.

Pada dasarnya antara musik sasak dengan musik modern, sama-sama memiliki tangga nada. Jika di musik modern dikenal ada tujuh tangga nada diatonis. Dari do sampai si. Rupanya dalam musik sasak, juga ada tangga nada. Tapi tidak sampai 7 tanngga nada melainkan 5.

a�?Kalau di musik modern ada do, re, mi, fa, sol, la, dan si, tapi kalau di musik Sasak ada dong, deng, ding, ndang, dan ndong,a�? jelasnya.

Nah dalam musik genggong tangga nada sasak itulah yang muncul. Untuk menghasilkan fariasi nada suara.

a�?Saya bisa bunyi (genggong), tapi belum bisa memainkan,a�? aku Sadar.

Alat musik genggong dimainkan menggunakan, suara halus dari kerongongkongan. Bukan hembusan suara. Karena jika dengan cara itu, tidak akan ada nada yang dihasilkan. Kombinasi nada yang keluar dari kerongkongan dan hentakan lidah yang akhirnya berpadu dengan elaq genggong, sehingga menghasilkan suara yang indah.

a�?Kita banyak punya alat musik yang sudah mulai langka, salah satunya genggong, selain itu ada juga kendole yang juga kini tidak pernah saya lihat lagi,a�? tutupnya. (zad/r3)

Berita Lainnya

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost

BPBD Tunggu Perintah Perkim

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Sudah Lama Ambles, tapi Dicuekin!

Redaksi LombokPost

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

169 Formasi Gagal Terisi

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

Redaksi LombokPost