Lombok Post
Headline Metropolis

Keramba, bak Buah Simalakama

RIANG GEMBIRA: Sejumlah anak tengah bermain di keramba ikan di Sungai Ancar, beberapa waktu lalu. Ivan/Lombok Post

Sudah lama keramba ikan jadi urat nadi perekonomian warga. Pundi-pundi keuntungan dari keramba memastikan asap dapur tetap mengepul. Tapi di sisi lain keramba itu telah banyak memicu masalah. Sungai jadi penuh sampah hingga tak jarang mengundang banjir.

—————-

SAPOAN menghela nafas. Pria yang tinggal di bantaran Sungai Ancar itu mengenang keramba ikannya. Kejadiannya memang sudah lama. Bulan Ramadan lalu. Tapi kerambanya kini sudah tidak ada. Raib bersama 50 buah keramba milik warga lainnya. Tersapu air Sungai Ancar kala itu.

a�?Ada ikan lele, nila dan karper,a�? tutur pria yang karib di sapa Poan itu.

Ikan-ikan ini bisa untuk konsumsi sendiri. Bisa juga untuk dijual. Untungnya lumayan. Ia dan warga lainnya tak perlu susah payah bangun kolam yang biayanya tak sedikit. Begitu juga tak perlu terlalu repot memikirkan pakan. Ikan-ikan di dalam keramba, sudah dapat asupan a�?gizia�� yang diperlukan di dalam aliran sungai.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Jika dulu mereka secara berkala bisa memenuhi kebutuhan lauk dengan mengambil ikan di keramba. Tapi kini, jangankan lauk berharap bisa beli sesuatu dari hasil jual ikan tidak ada. Tapi Poan dan rekan-rekan yang lain masih pikir-pikir kalau mau buat lagi.

a�?Biayanya tak murah, sekitar Rp 500 sampai Rp 1 juta,a�? keluh warga Kekalik Kijang ini.

Keresahan yang sama juga warga lainnya, Safrudin. Bahkan pria ini mengaku tak akan membangun keramba lagi. Ia mengaku beberapa kali kerambanya hanyut. Sedangkan, membuat yang baru, butuh modal tak sedikit.

a�?Sudah lebih dari tiga kali saya taruh keramba ikan, jika banjir datang, pasti hanyut. Saya tidak berani bangun keramba lagi, bukan untung, tapi rugi,a�? sesal Safrudin saat tengah beristirahat di salah satu berugak di pinggir Sungai Ancar.

Tak semua memang yang patah arang seperti Safrudin. Beberapa warga lain ada yang kembali mencoba menaruh peruntungan di tengah sungai. Warga seperti tak ada pilihan. Keramba-keramba itu telah menjadi urat nadi perekonomian mereka.

a�?Kalau di sini tidak ada lagi. Tapi di sebelah timur masih beroperasi,a�? terangnya.

Tak mudah bagi Poan dan Safrudin membangun keramba. Resistensinya tinggi. Tidak hanya terancam hanyut saat aliran sungai datang dengan deras. Tapi kritik juga datang dari warga lain. Mereka merasa terancam dengan keberadaan keramba-keramba itu.

a�?Katanya sungai jadi kumuh, banyak sampah yang mengendap dan akhirnya membuat sungai dangkal,a�? ujarnya.

Sungai Ancar memang salah satu sungai yang kerap mengalami banjir. Jika hujan turun dengan intensitas tinggi disertai air kiriman, warga di sekitar bantaran sungai acap kali was-was. Air sungai dengan mudahnya naik ke rumah-rumah warga.

Salah satu penyebabnya adalah keberadaan keramba ikan di tengah sungai. Sampah yang dibawa air, tersangkut di keramba-keramba. Lama kelamaan, menebal dan akhirnya membuat sedimentasi di kawasan itu semakin parah.

Wilayah Kekalik Jaya, misalnya pernah banjir. Tak hanya keramba, sedimentasi dari limbah tahu, sampah yang banyak dibuang ke sungai menjadi pemicu banjir. Safrudin sendiri mengaku dilema. Selain keramba, ia tak punya keahlian lain. Kalau akhirnya ia dan rekan-rekan lain akhirnya dilarang tanpa pandang bulu akan banyak rekan-rekannya dipastikan kelimpungan mencari rizki.

Lurah Kekalik Jaya Faturahman membenarkan puluhan keramba ikan milik warga Kekalik Jaya hanyut karena banjir. A�Air deras tak mampu membuat keramba-keramba itu bertahan. Tak sedikit warganya yang akhirnya rugi secara ekonomi. Tapi menurut Faturahman ini tak sekadar isu ekonomi. Tapi lebih dari itu, keramba itu telah mengancam lingkungan hidup. Karena itu, pihaknya mengambil langkah tegas.

a�?Ada juga keramba yang kami bongkar,a�? aku Faturhaman.

Ia mendata lebih dari 80 keramba ikan milik warganya disapu banjir. Tapi jika saja keramba-keramba itu tak hanyut, maka bisa jadi air akan meluap ke atas. Dan justru akan menyapu rumah warga. Hal ini memang kerap membuat dilema.

Tapi pemerintah menurutnya harus bisa bertindak tegas dan mencoba melihat dari sisi kepentingan lebih besar dan jangka panjang. a�?Mau tidak mau harus ada yang dibongkar untuk memastikan lancarnya aliran air,a�? terangnya.

Bahkan warga sendiri yang berinisiatif membongkar keramba yang dinilai dapat menganggu aliran air. Yang terakhir Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) pun pernah turun menggulung keramba-keramba warga.

Kabid Perikanan Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Mataram Ahmad Suryadi juga merasakan dilema ini. Sayangnya ia tak bisa mengungkapkan pasti berapa data jumlah keramba ikanA� yang ada di sungai-sungai kota.

a�?Tapi yang jelas banyak sekali,a�? ujar Suryadi.

Sampai saat ini ia juga masih dibuat ragu oleh beberapa aturan. Menurutnya dalam aturan pemanfaatan air, sebenarnya tidak ada larangan secara eksplisit menyebut pembuatan keramba di sungai. Seperti di Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 Tentang Sumber Daya Air.

Tapi dalam regulasi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, keramba ikan di perairan umum bisa merusak lingkungan. a�?Jadi kami dibuat dilema,a�? cetus Suryadi.

Terutama dapat mempercepat proses terjadinya sedimentasi atau pendangkalan sungai. Tapi dalam aturan lain di kementerian pertanian disebutkan aliran sungai atau irigasi boleh saja dimanfaatkan untuk kepentingan lain. Termasuk pertanian dan budidaya ikan.

a�?Kami memang perlu berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup apa yang akan jadi keputusan pemerintah soal keramba ikan di kota,a�? ujarnya.

Apalagi sejauh ini belum ada riset khusus yang dilakukan. Apakah ada teknik lain keramba ikan yang lebih ramah lingkungan. Sehingga unsur-unsur bahaya bagi lingkungan bisa diminimalisir.

a�?Jika dilarang tentu akan banyak masyarakat hilang mata pencahariannya,a�? cetusnya.

Di tiga sungai antara lain Sungai Jangkuk, Ancar, dan Unus ada saja warga yang memasang keramba. Mereka dikatakan Suryadi menggantungkan hidup dan menyekolahkan anak-anaknya dari hasil budidaya ikan keramba.

Karena itu, ia sendiri sebenarnya tidak mempermasalahkan pembudidayaan dilakukan. Selama para pembudidaya dapat menyesuaikan dengan kondisi aliran sungai.

a�?Kalau masih aman ya kami biarkan, tapi kalau picu banjir seperti di Ancar, terpaksa kami angkat,a�? katanya.

Belum jelasnya posisi pemerintah dalam pembinaan para pembudidaya keramba ikan sungai, akhirnya membuat Dinas Kelautan dan Perikanan di 2018 tidak mengalokasikan agaran untuk pembinaan. Pembatasan akan dilakukan sampai adanya titik temu antara pihaknya dengan Dinas Lingkungan Hidup.

a�?Kalau dulu ada, tapi tahun depan tidak ada program bantuan,a�? tutupnya. (cr-tea/zad/r3)

Berita Lainnya

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost

BPBD Tunggu Perintah Perkim

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Sudah Lama Ambles, tapi Dicuekin!

Redaksi LombokPost

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

169 Formasi Gagal Terisi

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

Redaksi LombokPost