Lombok Post
Headline Metropolis

Menjadi Wartawan Hebat ala Dahlan Iskan

MENGENANG TAMPOMAS DUA: Dahlan Iskan sedang menceritakan masa ketika berhasil meliput peristiwa terbakarnya Tampomas Dua secara eksklusif, di Korleko, Lombok Timur, Sabtu (9/12). Ivan/Lombok Post

MATARAM-Dalam kunjungannya ke Lombok, Dahlan Iskan mempunyai beberapa agenda yang telah terjadwal. Mulai dari melihat proses panen udang perdana di Tambak Udang PT Laut Biru Lombok, Sambelia, Lombok Timur, sampai senam sehat di Gili Kondok dan Lombok Epicentrum Mall (LEM) Mataram.

Di sela kegiatan tersebut, ada juga kegiatan-kegiatan di luar jadwal. Kegiatan yang mengalir sesuai situasi dan kondisi. Salah satu kegiatan yang tak terjadwal tersebut adalah menikmati kuliner khas Lombok.

Nah, di sela-sela kunjungan yang tak terjadwal itulah, Dahlan Iskan secara tidak langsung memperlihatkan dirinya sebagai seorang wartawan sesungguhnya. Bagi yang sedang atau ingin menjadi seorang wartawan hebat, ada baiknya menyimak pengamatan dari Lombok Post. Berikut cara menjadi wartawan hebat ala Dahlan Iskan.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Kepekaan dan Disiplin Verifikasi

Dalam perjalanan ke Mataram dari Sambelia, Dahlan Iskan tiba-tiba ingin memakan bebalung, atau masakan daging berkuah. Hal itu ia putuskan setelah mendengar kalau ada tempat makan bebalung enak di warung a�?Mule Ngenoa�� Pringgabaya, Lombok Timur.

Setibanya di tempat itu, ia mengaku tergoda dengan bebalung, dan membatalkan a�?puasaa�? tak makan daging yang sudah dilakukan selama setahun. Setelah itu ia juga tak lupa menanyakan arti a�?Mule Ngenoa�� dalam bahasa Indonesia. Salah seorang rombongan pun menjawabnya. Mengatakan kalau arti dari a�?Mule Ngenoa�� adalah a�?memang begitua��.

Di saat menyantap nikmatnya daging berkuah khas Lombok tersebut, lantunan ayat suci Alquran terdengar dari pengeras suara masjid yang berada tak jauh dari tempat makan bebalung. Waktu itu, azan Zuhur sebentar lagi tiba.

Mendengar lantunan ayat suci tersebut, Dahlan pun bertanya kepada CEO Lombok Post Group H Ismail Husni. Kerbetulan siang itu Ismail ikut menyantap enaknya aneka masakan daging di warung a�?Mule Ngenoa��.

Dahlan menanyakan apakah lantunan ayat suci dari pengeras suara masjid itu dibacakan secara langsung. Ismail pun menjawab, itu suara rekaman imam Masjidilharam.

Dahlan Iskan mengangguk. Namun tak lama kemudian, ia mengatakan kalau lantunan ayat suci Alquran tersebut dibacakan qori dari Indonesia. a�?Ini suaranya beda. Caranya melafalkan huruf a�?Ha�� (baca dalam bahasa arab a�?haa��) berbeda,a�? kata Dahlan.

Semua yang berada di tempat makan itu terdiam. Betapa peka Dahlan Iskan mendengar lantunan ayat suci yang dibacakan dari pengeras suara. Tak puas dengan pendapatnya, ia pun meminta Lombok Post untuk mengecek langsung ke masjid, apakah benar lantunan ayat suci Alquran tersebut dibaca oleh pembaca dari Indonesia. Jika benar, maka siapa pembaca tersebut.

Selain peka, Dahlan Iskan juga tak puas dengan sekadar memercayai pendapat. Apalagi sekadar dugaan semata. Naluri wartawannya dalam melakukan verifikasi terhadap sebuah fakta saat itu muncul begitu saja.

Hal itu terlihat ketika ia meminta Lombok Post mencari tahu kebenaran pendapatnya. Peka menganalisa kejadian dan disiplin verifikasi merupakan modal utama yang mesti dimiliki seorang wartawan.

Dan benar, Lombok Post menemukan nama H Muammar di dalam flashdisk yang diputar pengurus masjid di Pringgabaya tersebut. Siang di tempat makan itu, Dahlan telah menunjukkan betapa ia merupakan seorang wartawan hebat. Itulah mengapa ia menjadi orang nomor satu di Jawa Pos.

Tentang Kebakaran Kapal Tampomas II

Dari tempat makan bebalung, Dahlan mendatangi salah satu pantai di Korleko. Kunjungan tersebut untuk melihat potensi tambak di sana.

Setelah melihat-lihat lokasi, ia segera menjelaskan pendapatnya tentang bagaimana seorang wartawan semestinya menjalani profesinya.

Ia mulai dengan mengomentari bagaimana penulis berhasil mendapatkan nama Muammar, pembaca ayat suci Alquran yang ditanyakan Dahlan. a�?Yang Anda lakukan tadi luar biasa. Itulah yang harus dilakukan wartawan. Cepat, tidak ragu-ragu, dan mengetahui cara mendapatkan berita dengan baik,a�? kata Dahlan kepada Lombok Post.

Dalam kesempatan tersebut, di bawah pohon kelapa, Dahlan menjelaskan bagaimana ia berhasil meliput tragedi terbakarnya Kapal Tampomas II secara eksklusif. Waktu itu ia masih sangat muda. Dan menjadi satu-satunya wartawan yang berhasil meliput kejadian tersebut.

Judul tulisannya, a�?Neraka 40 Jam di Tengah Laut a�� Kisah Kapal Tampomas IIa��.A� Tulisan tersebut begitu menyeret pembaca ke dalam suasana kengerian saat terjadinya tragedi tersebut. Dan Dahlan menceritakan kepada Lombok Post, bagaimana ia berhasil menjadi satu-satunya wartawan yang meliput berita tersebut secara mendalam.

Dahlan memulai ceritanya dengan berangkat ke Makassar. Di sana, ia tak menemukan apa-apa. Ia pun segera mencari orang yang selamat dari kejadian tersebut. a�?Dan ketemu,a�? tuturnya.

Tak hanya berhasil mewawancarai korban selamat, ia juga mendapatkan foto film (zaman sebelum ada kamera digital) tentang peristiwa terbakarnya kapal dan upaya evakuasi para korban. a�?Waktu itu, tak ada satu pun yang mendapatkan foto film tersebut,a�? terang Dahlan dengan ekspresi puas.

Selama tiga hari, ia melakukan peliputan. Ketika semuanya rampung, Dahlan menunggu bangkai Kapal Tampomas tersebut. a�?Kapal itu saya tunggu, rencananya, kalau ada wartawan datang bertanya, saya akan kasih tahu kalau itu bukan kapalnya,a�? candanya.

Meskipun ditunggu, kala itu, tak ada satu pun wartawan yang datang.A� Dan Dahlan pulang membawa kemenangan sebagai wartawan. a�?Tiap hari saya lihat berita-berita yang terbit di koran harian. Tapi, tak ada satu pun yang menulis lebih mendalam,a�? terang Dahlan, puas.

Tampomas II konon merupakan sebuah masterpiece dari seorang Dahlan muda. Bersyukur sekali, siang itu ia mengingatnya, dan menceritakan kembali bagaimana ia berhasil menjadi satu-satunya. Selain itu, liputan tersebut juga dikabarkan menjadi cikal bakal reportase investigasi majalah Tempo.

Wartawan Wajib Baca Sastra

Setelah mengenang Tampomas II, Dahlan kemudian memilih berjalan kaki dari pesisir pantai sampai jalan raya. Dalam perjalanan kaki dari pantai ke jalan raya, Dahlan bercerita bagaimana ia mulai menyukai senam, dan tak lupa memberikan apa yang semestinya dilakukan wartawan. Khususnya wartawan di media cetak di zaman milenial ini. a�?Wartawan itu bukan lagi sebaiknya membaca sastra, tapi wajib,a�? tegas Dahlan.

Sambil berjalan kaki, ia menjelaskan bahwa wartawan cetak di zaman ini harus memiliki gaya tersendiri. Tidak mesti seragam. Akan tetapi tidak juga mesti dibuat-buat berbeda. Dahlan menegaskan bahwa cara menemukan gaya adalah dengan membaca. Wabilkhusus membaca sastra.

Kedalaman tulisan Dahlan, seperti dalam reportase investigasi Kapal Tampomas II, dan bukunya a�?Ganti Hatia��, merupakan bukti bagaimana ia memiliki ciri khas dalam menulis berita. Salah satunya menggunakan kalimat-kalimat pendek. Dan detail yang membawa pembaca ke dalam suasana kejadian yang sesungguhnya.

Menurut Dahlan, dari membaca sastra, wartawan akan mengetahui cara lain dalam mendeskripsikan berita. Lebih dalam dan detail. Karena tantangan wartawan media cetak di zaman ini sebenarnya bukan lebih sulit dari zaman sebelumnya, akan tetapi mesti dipandang lebih mudah. Di mana, adanya media sosial bisa menjadi tolok ukur keberhasilan wartawan media cetak dalam menyajikan berita secara berbeda.

a�?Saya saja, sampai saat ini, mewajibkan diri baca novel. Minimal satu novel dalam sebulan,a�? kata Dahlan sambil menuju pintu mobilnya.

Mendengar penjelasan Dahlan Iskan, penulis tak sadar sudah menempuh jarak sekitar satu kilometer dengan berjalan kaki. Dan jalan raya tiba-tiba saja sudah ada di depan mata. (tih/r5)

Berita Lainnya

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post