Lombok Post
Headline Metropolis

MAULID, Merayakan Cinta tanpa Kedaluwarsa

DULANG SAJI: Sederetan dulang saji yang disiapkan pada acara Maulid Nabi Muhammad SWA, di Masjid Nurul Bilad Desa Kuta, Pujut Lombok Tengah, Jumat (1/12) lalu. dedi/Lombok Post

Seperti Ramadan, bulan Rabiulawwal juga begitu dinanti kedatangannya. Begitu tiba, segera kegembiraan meruyak di mana-mana. Inilah bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, yang disambut suka cita selama sebulan penuh masyarakat Muslim Sasak di Lombok. Bulan penuh berkah, wujud kerinduan dan cinta pada Rasulullah. Memang ada harga yang harus dibayar. Tapi, bersuka cita di bulan kelahiran insan paling mulia di dunia, itu lebih dari segalanya.

***

PEKAN-pekan ini, Lalu Sulman Riadi sibuk bukan kepalang. Waktu istirahat untuk pria asal Lingkungan Darul Hikmah, Kelurahan Dasan Agung ini begitu tipis. Kesibukan menderanya seabrek-abrek. Dan tubuhnya pun limbung.

a�?Saya sampai tidak enak badan,a�? aku pria yang juga menjadi pengurus di Masjid Hubbul Wathan Islamic Center NTB ini.

Senin (10/12) lalu, bersama seluruh warga Lingkungan Darul Hikmah, Sulman memang punya hajatan besar. Di sana, warga bersam-sama merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi saban tahun, turun temurun, tiap bulan Rabiulawwal tiba.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Karena itu, tak cuma Sulman yang mendadak super sibuk di sana. Keluarga-keluarga lain juga nyaris punya kesibukan yang sama. Beberapa hari terakhir, Sulman bahkan tiada jeda berkendara ke sana-kemari mengundang khalayak dan handai taulan.

a�?Ini agar acara di masjid Lingkungan Darul Hikmah bisa diramaikan oleh warga lingkungan lainnya,a�? kata Sulman.

A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A� Macam hajatan besar lainnya, perayaan Maulid Nabi pun begitu. Acara inti memang boleh satu hari. Namun, persiapannya memang harus digelar jauh-jauh hari. Dan kesibukan tak cuma urusan laki-laki. Para perempuan pun jauh lebih sibuk. Dengan agenda yang seabrek-abrek pula.

Kesibukan biasanya sudah mulai mendera sepekan sebelum acara. Kian dekat ke hari-H, intensitas kesibukan biasanya terus meningkat. Mengapa begitu? Sebab, di Dasan Agung, Maulid memang heboh.

Sebab, Maulid Nabi di Dasan Agung selain kental dengan tradisi keagamaan dan budaya yang kuat, tradisi maulid telah bermetamorfosa menjadi ajang pesta rakyat. Kalau Maulid tiba, seluruh menu-menu makanan terbaik dikeluarkan. Warga berlomba-lomba berbagi, lalu saling bersilaturahmi masal.

Sebab, di Dasan Agung, biasanya Maulid adalah penggabungan empat tradisi sekaligus. Ada khataman Alwuran yang disebut namatan, ada tradisi khitanan atau sunatan, ada tradisi ngurisan, dan ada tradisi roah selamet bale (zikir dan doa untuk keselamatan rumah).

Empat tradisi yang mengambil waktu di bulan Rabiulawal itu, bukan cuma sekarang. Namun sudah berlangsung lama. Itu mengapa, bagi warga Dasan Agung, Raibulawal adalah bulan kebaikan, bulan penuh keberkahan. Sebab, inilah bulan di mana Rasulullah Nabi Muhammad SAW, menginjakan kaki pertama di dunia.

Menurut H Abdul Latif Majid, salah seorang warga Dasan Agung, karena ada empat tradisi itu, maka pernak-pernik yang menyertai tradisi itu kemudian ikut turut serta pada perayaan Maulid Nabi.

Semisal tradisi praje untuk anak-anak yang hendak dikhitan. Tradisi inipun muncul dalam perayaan Maulid di Dasan Agung. Anak-anak diusung dan diarak di jalan. Disaksikan ribuan warga. Seiring perkembangan zaman, wujud praje-nya pun berbeda. Kalau dulu cuma dalam bentuk kursi yang diusung, atau kuda-kudaan dari kayu, sekarang bermetamorfose menjadi bentuk-bentuk lain. Seperti sepeda motor gede atau mobil-mobil balap. Iringan musiknya pun beda. Tak lagi musik tradisional, namun musik masa kini yang bikin dada ikut jedag-jedug.

a�?Tujuan diarak itu sendiri, agar masyarakat tahu, ini loh anak yang akan a�?diislamkana�� itu,a�? terang Latief, yang juga Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram ini.

Dalam hal makanan pun begitu. Nyaris seluruh menu terbaik masyarakat suku Sasak biasanya keluar pada perayaan maulid ini. Hanya ada dua pilihan makanan. Satu makanan enak, dan satu lagi makanan enak sekali. Hanya itu.

Apa yang paling enak buat Anda. Sate pusut khas Sasak? Sudah pasti ada. Gulai daging? Pasti Anda temukan. Ayam bumbu kuning? Yang ini juga tersedia. Telur opor? Ini menu wajib. Bebalung, ayam pelecing, sayur nangka, ares, atau aneka olahan ikan, semua siap santap. Dan tak cuma lauk pauk. Buah-buahan segar juga berlimpah. Tak cuma buah-buahan yang lazim dijual di pasar tradisional. Buah-buahan impor yang dijual di pasar-pasar modern juga pasti tersaji.

Jajanan tradisional juga akan unjuk gigi. Ada peyek, kaliadem, glodok, keciput, renggi, opak-opak, bantal, pangan, ewel, poteng, abuk, atau cerorot, akan tampil dengan rasa-rasa terbaik. Dipadu dengan aneka jajanan yang lebih modern dengan aneka rupa nan menggoda.

Dan lazimnya sebuah kemeriahan, undangan pun berdatangan. Sebagian secara khusus dundang hadir di rumah. Sebagian lain diundang untuk hadir sebagai tetamu di Masjid. Dan biasanya, para tetamu setelah pulang akan membawa buah tangan. Biasanya seabrek-abrek pula.

a�?Itu namanya berkat,a�? kata Lalu Sulman Riadi.

Berhutang tapi Bahagia

Itu mengapa, persiapan pun harus dilakukan jauh-jauh hari. Mirip orang yang hendak menggelar pesta pernikahan sanak saudara. Kesibukannya bisa dibilang sebelas dua belas.

Nurmah, salah seorang warga Presak, Dasan Agung misalnya. Dia bertutur bagaimana persiapan bahkan sudah dilakukan setahun sebelumnya. Ini terutama karena Nurmah memang berencana menggelar sunatan bagi cucu lelakinya.

Persiapan terutama dalam hal menyiapkan biaya. Sebagai keluarga yang tidak setiap saat dikaruniai rezeki berlimpah, maka Nurmah dan keluarganya harus mengatur siasat. Biaya maulid pun dicicil. Dengan ditabung selama setahun. Sedikit demi sedikit. Ikat pinggang dikencangkan, belanja diirit-iritkan. Hingga sampai bulan Maulid, dana yang dibutuhkan kemudian terkumpul. Dengan begitu, bisa mengundang lebih banyak tetangga, sanak saudara, hingga keluarga jauh di sana.

a�?Dari Rp 8 juta sampai 15 juta. Bahkan ada yang lebih dari itu,a�? tutur Nurmah soal biaya yang harus disiapkannya. Tentu, yang tak punya hajatan khitanan, biaya lebih rendah dari itu.

Dana sebesar itu dipakai untuk membeli seluruh kebutuhan. Mulai dari daging, sayur-mayur, membuat berbagai macam kudapan khas Sasak, dan juga buah-buahan untuk menjamu para tetamu.

a�?Termasuk juga uang itu untuk menyumbang pembuatan praje,a�? tuturnya.

Biaya pembuatan praje, berkisar antara Rp 1,5 juta a�� Rp 3 juta. Bahkan bisa lebih. Tergantung mau seperti apa kemewahan praje yang diinginkan pemilik acara. Biaya praje juga bergantung tingkat kesulitan bentuk dan wujudnya.

Apakah semuanya seperti Nurmah? Tidak juga. Ada pula warga yang memilih jalan pintas. Caranya dengan mencari dana talangan alias berhutang dana segar. Mengingat biaya yang dibutuhkan memang tidak sedikit. Paling tidak, duit Rp 3 juta harus ada di tangan.

Sebab, warga memang tak bisa memuliakan Maulid Nabi, hanya sekadar menyiapkan Nasi Rasul (nasi kuning berbahan ketan) belaka. Nasi Rasul harus tak bisa disodorkan sendirian dalam dulang. Harus ada pelengkap lainnya.

Tapi, hutang pun bagi warga sudah tak jadi soal. a�?Ndak apa sudah tradisi, biarkan kita ngutang-ngutang dulu, yang penting kita dapat maulid,a�? kata Martini, warga Dasan Agung lainnya.

Ia merasa tak perlu memusingkan hutang itu. Toh, kata dia, perayaan Maulid hanya dilakukan sekali dalam setahun. Kalaupun harus mengangkat hutang, masih banyak waktu untuk melunasi lagi.

Bagi Mar, ini kesempatan berbagi dan berbahagia bersama orang lain dengan rasa ikhlas. Apa salahnya melakukan sesuatu yang baik? Walau itu berhutang. Kalau yakin bisa melunasi tepat waktu. Apalagi tidak ikut menyiapkan dulang pada bulan maulid, tentu dapat mempengaruhi psikoliginya.

a�?Ndek te maulid, ndek semel bae lek tetangge, ndek naekan!a�? cetusnya.

Karena itu, baginya, bulan maulid sebenarnya bukan untuk memperdebatkan berapa harga daging. Tapi bagaimana agar bulan itu bisa berbagi sesuatu yang sangat baik dengan orang lain. Semahal apapun, akan dibeli juga. Lagi pula bukan untuk ia nikmati sendiri. Tapi dengan banyak orang. Dan bagi Mar, itu bernilai kebaikan.

a�?Pakai daging, pakai bakso, walaupun mahal, teloq (telur) walaupun harganya naik. Gak apa,a�? cetusnya.

Mahri, warga Lingkungan Arong-arong Timur, Jebak Belek, Dasan Agung juga mengungkapkan hal serupa. Tatkala ada kelebihan rezeki, maka tidak tidak ada salahnya jika momen spesial Maulid Nabi dirayakan.

Pria asli Narmada itu mengaku sering mengundang kerabatnya untuk makan bersama di rumah ketika maulid. Tapi selama ini ia tidak pernah merasa berlebihan. Hanya mengundang makan dan zikiran. Jika bisa mengambil bagian dalam hari lahir Nabi Muhammad itu, ia merasa sangat bahagia.

a�?Kita rasakan dalam hati itu ketenangan, lebih tenang dan nyaman,a�? katanya.

Baginya tidak masalah harus mengeluarkan banyak uang.A� Rezeki menurutnya hanya titipan Allah SWT. Maka jika dipakai untuk maulid tidak akan teras berkurang. Semua itu tidak ada artinya dibandingkan kebahabiaan yang dirasakan. Ibarat merayakan hari ulang tahun anak, rasa bahagia tidak bisa ditukar dengan apapun.

a�?Apalagi ini Nabi kita, panutan dan teladan kita semua,a�? katanya tersenyum.

Tapi ia menyadari dalam merayakan mulid semuanya harus dilandasi keikhlasan. Jika tidak ikhlas, maka akan menjadi mudarat. Misalnya harus sampai berhutang, menurutnya tidak perlu menjadi beban. Jika sudah niat untuk merayakan,A� Mahri biasanya menabung. Ia tidak mau menyebut berapa biaya yang pernah dihabiskan. Tapi bagi orang yang punya hajatan lain, semisal nyunatan, ngurisan. Biayanya pasti banyak, bisa sampai belasan juta.

Maka jelang tibanya ditentukan hari maulid, sejak satu minggu sebelum maulid, mereka sudah siap-siap. Mencicil beragai macam keperluan yang akan dihidangkan sepanjang hari maulid. Mendekati H-2, warga khususnya kaum hawa, sudah sibuk di dapur. Membuat berbagai macam panganan khas maulid.

a�?Tapi kalau yang tidak mau repot, biasanya tinggal beli jajan,a�? tutur Martini.

Sedangkan H-1, mereka akan kembali berbelanja. Membeli berbagai macam buah-buahan yang segar. Untuk dihidangkan di hari H. Sejak pagi, hingga sore hari. Tamu yang akan diberikan dulang (hidangan dalam nampan), tidak hanya di masjid. Tapi juga handai tolan yang berkunjung ke rumah.

Ada dulang buah yang biasanya dikeluarkan pada pagi hari. Lalu dulang nasi dan lauk pada siang hari. Kemudian menjelang sore hari, yakni dulang penamat. Dulang untuk diberikan pada para udangan di masjid, yang akan mengikuti sejumlah prosesi tradisi. Seperti khatam Alquran dan ngurisan.

Keberkahan dan Silaturahmi

Dan tradisi merayakan Maulid ini tak cuma di Dasan Agung atau Kota Mataram saja. Perayaan serupa nyaris dijumpai di sebagian besar pulau Lombok. Di Lombok Barat, Lombok Tengah ataupun di Lombok Timur. Tradisi ini bisa dijumpai.

Skala dan kehebihannya memang tidak sama. Namun, kemeriahan, silaturahmi dan keberkahannya nyaris serupa. Ada tempat di mana undangan utama datang ke masjid. Sementara undangan yang ke rumah, biasanya keluarga-keluarga dekat saja.

Namun, tetap saja makanan terbaik yang disajikan. Kudapan paling enak yang diberikan biasanya sama. Pun begitu dengan berkat dalam kantong plastik besar yang dibawa pulang para tetamu yang seabrek-abrek itu, juga biasanya serupa.

Pekan ini misalnya Lombok Post mendatangi perayaan Maulid Nabi di Dusun Penanggak, Desa Batu Layar. Maulid nabi di dusun ini khas. Sebab, para tetamu yang datang ke sana, bisa menikmati keindahan pantai Senggigi yang menakjubkan. Maklum, Dusun Penanggak memang ada di ketinggian. Karena itu, untuk menjejaknya harus bersusah payah dan penuh perjuangan. Melalui jalan berliku, berbukit dan menanjak. Menerobos jalan yang bahkan tidak bisa dilalui sepeda motor yang berpapasan.

Lombok Post memenuhi undangan Amaq Muaihin, salah seorang tetua di Dusun Penanggak. Di sana, para tetamu dijamu Amaq Muhainin di sebuah berugak sederhana. Di atas tikar, sudah tersaji berbagai aneka panganan khas Sasak. Seperti wajik, nagasari, dodol nangka, peyek. Ada pula aneka buah-buahan seperti pisang, salak, rambutan.

Uniknya lagi, karena berada di dataran cukup tinggi, tamu tidak lagi disajikan segelas air putih saja. Selain kopi khas Lombok, warga menyajikan tuak manis dan air kelapa muda.

Setelah setengah jam menikmati jamuan, para tetamu kemudian diarahkan menuju Musala Baiturrahman. Di musala itu, perayaan maulid dipusatkan. Ada banyak warga di sana. Aneka usia. Mulai dewasa hingga anak-anak dan remaja. Laki-laki dan juga perempuan.

Usai menjalankan solat dzuhur berjamaah, berdoa dan bersalawat para tetamu kemudian duduk bersila berkeliling, mengikuti alur tembok musala. Dan tak lama, dulang-dulang disajikan. Isinya nasi dan aneka lauk pauk maulid.

Dan yang unik, satu dulang, untuk satu orang. Bahkan, tiap dulang itu sudah ada nama masing-masing tetamu. Ditulis di secarik kertas. Itu sekaligus menjadi jawaban atas pertanyaan, mengapa di awal tiba di musala, setiap tamu ditanyakan nama, lalu kemudian ditulis oleh panitia.

a�?Satu dulang satu orang. Namanya tamu ditempel di dulang. Nanti, sisa nasi dan lauk pauk yang telah disantap dibawa pulang,a�? ucap Saeti, salah seorang warga.

Pada perayaan maulid di Dusun Penanggak, warga mengundang salah seorang tuan guru untuk menyampaikan siraman rohani. Sekaligus juga menyimak bacaan khataman Alquran anak-anak setempat. Sementara warga di sana juga mengundang sanak saudara, kolega, dan kerabatnya.

Bagi Amaq Muhainin, maulid ini sebenarnya wadah untuk silaturahmi, mempererat hubungan antar keluarga antarmasyarakat, teman, kerabat. Tatkala ada komunikasi dan silaturrahmi yang baik, persaudaraan, pertemanan juga akan kian membaik.

Bagi warga, lanjut Muaihin, inilah cara mereka menujukkan kecintaannya kepada Nabi Muhammad SAW. Dalam pelaksanaannya juga, warga lakukan sederhana dan tidak bermegah-megah.

Ustadz Kurdi yang menjadi penceramah dalam perayaan maulid tersebut menyampaikan betapa perayaan maulid adalah wujud kerinduan umat kepada Nabi Muhammad SAW. Maulid juga bagian dari upaya terus menerus memakmurkan masjid dan musala. Sekaligus memperbanyak doa dan salawat kepada Nabi Muhammad SAW.

Kemeriahan juga ada di Lombok Tengah. Lombok Post sempat mengikuti perayaan Maulid Nabi di Desa Montong Terep, Praya. Di sana, kemeriahan perayaan sudah dimulai dengan aneka lomba. Mulai dari lomba azan, membaca ayat-ayat pendek Alquran, cerdas cermat hingga panjat pinang. Yang mengikutinya anak-anak setempat. Lomba berlangsung sepekan.

Pada hari puncak, tetamu datang mengunjungi rumah-rumah warga setempat. Suasananya riuh dan ramai. a�?Inilah yang namanya silaturahmi, mengalahkan biaya yang kita keluarkan,a�? ujar TGH M Ruslan Bakri pengasuh Ponpes Attohiriyah Alfadhiliyah (Yatofa), saat memberikan pengajian perayaan maulid di Montong Terep.

Di Montong Terep juga, aneka menu makanan terbaik dihidangkan. Pun dengan penganan-penganan yang enak-enak. Tak cuma masyarakat. Pemkab Lombok Tengah pun menggelar peringatan maulid. Dihadiri ribuan tetamu dan dipsuatkan di Masjid Nurul Bilad Desa Kuta, Pujut.

Ada 3.200 dulang saji yang disiapkan. Terdiri dari 1.600 dulang berisi penganan maulid dan 1.600 dulang nasi serta lauk pauknya. Begitu zikir dan doa, acara diakhiri dengan makan bersama atau begibung. Lalu, masing-masing tamu undangan membawa pulang berkat.

Yang menarik, di Lombok Tengah, biasanya jadwal perayaan maulid di kampung-kampung biasanya menyesuaikan dengan jadwal para Tuan Guru. Saking masalnya perayaan, jadwal para Tuan Guru biasanya sangat padat. Bahkan, ada yang sudah jauh-jauh hari sudah membooking jadwal para alim ulama tersebut.

A�Cinta untuk Rasulullah

Bagi Masriadi Faesal, Dosen Hadis Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Mataram mengatakan, merayakan mualid bukan sesuatu yang dilarang. Malah di dalam Alquran, umat Islam diajurkan untuk bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW, meskipun perintah itu tidak secara gamblang diperintahkan.

a�?Semua itu dilakukan sebagai bentuk rasa cinta kepada Nabi Muhammad,a�? katanya.

Direkur Lembaga Rowot Nusantara Lombok Lalu Ari Irawan mengatakan, masyarakat Sasak memiliki akar budaya yang kuat terkait bulan maulid. Dalam sistem kalender Rowot, maulid disebut bulan mulut. Dia itu satu bulan, bukan hari tertentu. Sehingga batas perayaannya selama sebulan itu.

a�?Itu menandakan bahwa mencintai Rasulullah bukan baru belajar, tetapi sudah sejak dahulu,a�? kata Dosen Pascasarajana IKIP Mataram itu.

Ada pelajaran penting yang harus dipentik dari tradisi itu. Sebab dalam tradisi mualid itu, masyarakat yang merayakan merasa sangat bahagia bisa melayani orang lain. Dia merasa senang bisa merayakan. Setelah itu silaturrahmi dengan sesama juga terjalin dengan baik. Begitulah cara orang Islam Sasak menunjukkan kecintaannya kepada Rasulullah.

a�?Masing-masing orang punya ekspresi rasa cinta kepada Nabi Muhammad,a�? katanya.

Begitulah perayaan Maulid Nabi di Lombok. Bulan dimana doa dipanjatkan, keberkahan diharapkan, dan silaturahmi ditunaikan. (zad/ili/ewi/dss/r8)

 

Berita Lainnya

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost