Lombok Post
Headline Politika

Jangan Ulangi Kegaduhan Pilpres 2014

MEDSOS SEHAT : Para peserta seminar media sosial sehat berpose bersama pemateri dari Kantor Staf Presiden (KSP) RI dan pemateri lainnya dalam kegiatan yang digelar di Kotaraja, Lombok Timur, kemarin. Fathul/Lombok Post

SELONGa��Pemilihan presiden (Pilpres) 2014 menjadi tahun politik terpanas dalam sejarah pemilihan langsung. Menyusul kemudian pemilihan gubernur (Pilgub) DKI Jakarta yang baru saja usai. Suasana panas Pilpres dan Pilgub DKI Jakarta itu masih terasa hingga saat ini, bahkan di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang sebenarnya tak memiliki kepentingan dengan Jakarta.

Tahun politik yang gaduh itu sebenarnya dipicu oleh riuh di media sosial (medsos). Pelbagai informasi yang disebar melalui medsos, yang sayangnya berisi berita bohong (hoax) justru paling banyak disebar. Akhirnya proses demokrasi yang mestinya disambut dengan menyenangkan, justru menimbulkan dua kubu yang sangat berlawanan.

a�?Makanya sekarang hati-hati dengan jempolmu, jangan mudah menyebar berita yang belum tentu benar,a��a�� kata Wakil Deputi IV Bidang Komunikasi dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden (KSP) Rudy Gunawan dalam seminarA� a�?Media Sosial yang Sehat untuk Generasi Hebat dan Bangsa yang Kuata�? yang digelar di Kotaraja, Lombok Timur, kemarin (17/12). Dalam kegiatan ini hadir Anggota DPR RI HM Syamsul Lutfi, dan 170 peserta dari komunitas-komunitas anak muda di Lotim.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”192″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Berulang kali Rudy menekankan pada para peserta agar selektif dalam menyebarluaskan informasi yang didapatkan di media sosial. Dalam sesi tanya jawab, misalnya, beberapa peserta menanyakan tentang sikap pemerintah terkait kasus a�?kriminalisasia�? kelompok tertentu. Rudy menegaskan, apa yang disebarkan di medsos itu tak semuanya benar. Ada informasi yang dilebih-lebihkan, dan sayangnya banyak pengguna medsos yang percaya lalu menyebarluaskan kembali informasi itu.Padahal orang yang menyebarluaskan itu tak ada di tempat dan tidak tahu informasi yang sebenarnya.

a�?Saya yang tinggal di Jakarta melihat dengan mata kepala sendiri, tidak seperti yang disebarluaskan di media sosial itu faktanya,a��a�� katanya menjelaskan beberapa isu di Jakarta yang juga dikonsumsi pengguna medsos di NTB.

Rudy meminta para peserta seminar yang semuanya anak-anak muda yang akrab dengan medsos bijak dalam memanfaatkan medsos. Tahun depan, di NTB akan ada pesta demokrasi pemilihan gubernur dan pemilihan kepala daerah di dua kabupaten dan satu kota. Menyusul kemudian Pilpres 2019 dan Pileg 2019 yang akan bersamaan waktunya. Dalam pesta demokrasi yang akan memilih pemimpin itu, jangan lagi dicederai dengan informasi menyesatkan yang disebar di medsos.

a�?Manfaatkan media sosial ini untuk mempromosikan pariwisata NTB, manfaatkan untuk hal yang positif,a��a�� katanya.

Kornas Duta Joko Widodo, Joanes Joko memberikan contoh pemafaatkan medsos untuk hal-hal yang positif. Dia bercerita tentang seorang ibu rumah tangga yang mendapatkan penghasilan puluhan juta rupiah hanya dengan memanfaatkan media sosial. Di tempat lain ada kelompok anak muda yang fokus menyebarkan konten konten positif di media sosial. Dia juga bercerita tentang orang terdidik yang terjebak informasi bohong, lalu menyebarluaskan informasi itu. Medsos ibarat pedang bermata dua.

a�?Nah NTB ini kan terkenal dengan pariwisata. Sebaiknya teman-teman fokus mempromosikan pariwisata dan bagaimana mengambil manfaat, misalnya teman-teman bikin usaha paket wisata murah,a��a�� katanya.

Sebagai salah satu tim yang terlibat langsung dalam menyukseskan Jokowi sebagai Presiden, Joanes menuturkan banyak fitnah yang dituduhkan. Termasuk juga baru-baru ini fitnah jika istri Panglima TNI yang baru dilantik adalah keturunan China. Begitu juga dengan isu yang masif di media sosial ada 7 juta pekerja China masuk ke Indonesia.

a�?Lah kalau sampai 7 juta itu sama artinya sebanyak penduduk NTB dan Bali yang datang tanpa diketahui dimana tempat mereka,a��a�� katanya.

Pembicara ketiga adalah Supiandi, putra daerah Lombok Timur yang kini sedang menempuh studi doktor di Belgia. Dia banyak bercerita tentang aktivitas sosial yang bisa dilakukan dengan memanfaaatkan media sosial. Termasuk juga berbagi tips mencari informasi pendidikan dan beasiswa melalui media sosial.

a�?Jangan habiskan energi kita untuk hal yang negatif,a��a�� katanya.

Sebagai perantau di luar negeri, Supiandi mengaku selalu mengikuti informasi tentang Lombok. Dia menyayangkan jika berbagai konten negatif banyak disebar oleh para pemuda di NTB. Padahal sebagai daerah yang baru berkembang, para pemuda harus banyak menyebarkan informasi yang sehat.

a�?Mari kita branding NTB untuk peningkatan ekonomi,a��a�� katanya. (fat/r4)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost