Lombok Post
Headline Metropolis

Paksa Hibah Segera Dicairkan, Truk Sampah Pemkot Dihadang Warga

DILARANG MASUK: Sejumlah warga dari Desa Suka Makmur dan Desa Banyumulek menghadang truk-truk sampah dari Kota Mataram dan Lobar yang akan masuk ke TPA Kebong Kongok di Desa Suka Makmur, Kecamatan Gerung, Lobar, kemarin (21/12). DEWI/LOMBOK POST

MATARAM-Aksi penghadangan truk sampah milik Pemerintah Kota Mataram, kembali terulang. Masyarakat dari dua desa, Banyumulek dan Suka Makmur meminta truk-truk sampah berplat AK yang menuju TPA Kebon Kongok, Lombok Barat, putar balik membawa kembali sampah ke dalam wilayah kota.

Kejadian ini cukup membuat resah. Hal ini seperti mengulang peristiwa tahun 2015 lalu. Saat truk milik Dinas Kebersihan (kini Dinas Lingkungan Hidup), juga dihadang ramai-ramai oleh masyarakat Lombok Barat.

Saat dimintai tanggapan, Sekda Kota Mataram H Effendi Eko Saswito enggan berkomentar. Ia mengarahkan agar menanyakan langsung pada Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram. “Langsung ke DLH (untuk konfirmasi persoalan itu),a�? kata Eko pendek.

Sementara itu Kepala DLH Kota Mataram Irwan Rahadi mengatakan, persoalan penghadangan yang dilakukan dua desa, tidak lepas dari janji pencairan dana hibah.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Pencairan ini secara teknis sulit direalisasikan. Karena Desa Banyumulek dan Suka Makmur, berada di luar wilayah Kota Mataram. “Teknis pencairannya ini yang masih dicari caranya seperti apa,a�? kata Irwan.

Ia menegaskan, dananya sudah ada. Saat ini tersimpan di Bappeda. Hanya saja, dari beberapa aturan terkait mekanisme pencairan dana hibah, belum ada aturan yang membolehkan Kota Mataram memberi bantuan hibah pada desa di luar wilayahnya. “Makanya teknisnya ini yang perlu kita cari, seperti apa,a�? jelasnya.

Sampai berita ini diturunkan, Irwan mengonfirmasi truk-truk DLH Kota Mataram, belum dibolehkan untuk lewat menuju TPA Kebon Kongok. Tapi ia berjanji akan berupaya secepatnya, agar ada kebijakan dari pemerintah Lombok Barat menenangkan warganya.

a�?Saya akan bertemu dengan pak Kadis (DLH Lombok Barat), saya juga terus berkomunikasi dengannya minta permakluman. Ini hanya masalah teknis keuangan saja,a�? ungkapnya.

Sembari terus mencari jalan keluar, ia berharap masyarakat di dua desa legowo memberikan akses bagi truk-truk milik DLH Kota Mataram. Di sisi lain bagian keuangan juga sedikit riskan jika memaksakan diri untuk mencairkan dana. Karena takut menyalahi aturan yang ada. “Masing-masing desa Rp 75 juta,a�? bebernya.

Irwan mengatakan, untuk langkah sementara yang diambil guna mengatasi penghadangan, yakni dengan meminta camat dan lurah, membiarkan sampah di TPS atau Depo Sampah.

“Kita harapkan bisa tahan sampah sementara, besok (hari ini, Red) paling lambat (sudah ada solusi),a�? janjinya.

Sementara itu, hingga berita ini ditulis, penghadangan masih berlangsung. Truk sampah milik Pemkot Mataram maupun Lobar tidak bisa masuk ke TPA Kebon Kongok.

Aksi penghadangan sendiri dimulai pukul 07.30 Wita, kemarin. warga menghadang di dua titik pintu masuk ke TPA Kebon Kongok. Ada yang menghadang di Desa Banyumulek. Dan sebagian warga lagi menghadang di pintu masuk Desa Suka Makmur dari arah Desa Gapuk Gerung.

Aksi tersebut dipimpin langsung oleh Kepala Desa Suka Makmur H Saharudin dan Kepala Desa Banyumulek H Masnun Haris.

Sebelum aksi penghadangan dilakukan, telah tersebar surat permakluman dari pemerintah dua desa tersebut. Yang ditujukan langsung kepada Wali Kota Mataram dan Bupati Lobar. Surat tersebut ditandatangani oleh seluruh kepala dusun dan BPD Desa Banyumulek dan Desa Suka Makmur. Isinya, meminta kejelasan terkait dana hibah yang pernah dijanjikan untuk dua desa ini. Nilainya masing-masing Rp 25 juta per tahun.

Aksi penghadangan ternyata tidak hanya soal dana hibah. Aksi ini merupakan akumulasi kekesalan warga terhadap sikap Pemkot Mataram dan Pemkab Lobar, melalui Dinas Kebersihan dan Dinas Lingkungan Hidup masing-masing daerah.

Sebab, hampir setiap hari warga dua desa itu dihadapkan dengan bau sampah. Serta pemandangan yang tidak mengenakkan di lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kebon Kongok yang ada di Desa Suka Makmur.

a�?TPA itu sudah over load, lebih tinggi sampah dari gunung yang ada dilokasi,a�? ujar Kepala Desa Suka Makmur H Saharudin yang ditemui dilokasi penutupan jalan, kemarin (21/12).

Selain itu, kondisi di TPA Kebon Kongok sangat memperihatinkan. Lantaran sampah yang ada di TPA tidak pernah di fogging. Sehingga lalat banyak bertebaran. Kondisi itu diperparah dengan bau sampah yang menyengat dan menyebar hingga ke beberapa desa yang berbatasan dengan Desa Suka Makmur.

a�?Sebenarnya beberapa desa tetangga ingin ikut turun (aksi), tapi kita larang. Karena memang ini sangat mengganggu kami,a�? tambahnya.

Lantas sampai kapan aksi ini dilakukan? Ia menjelaskan, aksi akan dihentikan sampai ada realisasi dari tuntutan yang diminta warga. Yakni, soal penyemprotan sampah agar baunya tidak menyebar. Serta kompensasi yang dijanjikan Pemkot Mataram dan Pemkab Lobar sebesar Rp 25 juta per tahun.

a�?Kami akan larang truk sampah itu lewat sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Harus ada realisasi dulu,a�? pungkasnya.

Senada disampaikan Kepala Desa Banyumulek H Masnun Haris. Menurut dia, dua pemerintah daerah tersebut hanya bisa berjanji tanpa mau merealisasikan. a�?Janji tinggal janji. Dana hibah itu sampai sekarang tidak ada kejelasan,a�? kritiknya.

Masnun Haris juga kembali mengingatkan, terkait kesepakatan beberapa tahun lalu soal waktu pengangkutan sampah. Dalam kesepakatan yang dibuat sekitar tahun 2013 silam, disepakati sampah boleh lewat di Desa Banyumulek mulai pukul 05.00 hingga 07.00 Wita. Dan selanjutnya, boleh lagi dilakukan pada malam hari.

a�?Namun nyatanya kesepakatan itu dilupakan, dan tetap saja pengangkutan sampah tidak mengenal waktu,a�? tandasnya.

Pantauan Lombok Post, pada dua titik penghadangan truk sampah itu, warga desa meminta sopir-sopir truk sampah memutar balik arah truknya. Warga melarang setiap kendaraan pengangkut sampah melintas dan membuang sampah di TPA Kebon Kongok.

Sementara itu, Kapolsek Kediri Iptu M Riyanto yang ditemui di Desa Banyumulek mengatakan, pihaknya turun hanya untuk mengamankan jalannya aksi. Ia tidak ingin aksi pelarangan truk sampah itu berujung pada aksi anarkis. Selama aksi tersebut dilakukan dengan tertib dan tidak anarkis, kepolisian tetap membiarkan namun dengan pengawasan aparat polisi.

a�?Kita hanya mengimbau agar penghadangan tetap dilakukan dengan persuasif. Kita berusaha menghindari terjadinya gesekan antara warga dengan sopir truk sampah,a�? katanya.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Lobar HL Surapati menyampaikan, Pemkab Lobar melihat aksi tersebut adalah internal antara pihak desa dengan Pemkot Mataram. Artinya, Pemkab Lobar tidak bisa mengintervensi lebih jauh karena berkaitan dengan kebijakan Pemkot Mataram.

a�?Tapi sesungguhnya kita tetap memegang MoU yang sudah ditandatangani Wali Kota Mataram dengan Bupati Lobar,a�? tuturnya. (zad/ewi/r5)

 

Berita Lainnya

Kekayaan Tersembunyi Pantai Penghulu Agung Ampenan

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Jalan di Tempat

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost