Lombok Post
Headline Metropolis

Cara Anak Pinggiran Kota Mengisi Liburan Sekolah

Sejumlah anak dari Lingkungan Seganteng bermain sepeda di Sirkuit Selagalas, Kota Mataram, dengan rambut menyala, kemarin (27/12).

MATARAM-Ini namanya bebas kebablasan. Ketika hari libur sekolah tiba, anak-anak di pinggiran Kota Mataram seperti merdeka. Bebas sebebas-bebasnya. Boleh ngapain saja, yang penting bahagia.

Tidak sedikit dari mereka mewarnai rambutnya. Ada yang merah, putih, abu, hijau, ungu, kuning, bahkan biru. Meski tak tahu filosofi dan tujuannya, mereka tetap melakukannya dengan gaya. Alasannya, biar tampak keren dan disebut kids zaman now.

Selama liburan belum usai, rambut mereka akan tetap merona. Mereka meniru perilaku remaja yang dilihatnya di televisi. a�?Kalau saya hanya ikut-ikutan teman. Nanti kalau masuk sekolah dihitamkan lagi,a�? kata Mirza kepada Lombok Post.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Siang kemarin, Mirza Saputra berjalan bersama teman-temannya. Siswa Kelas 4 Sekolah Dasar (SD) yang berasal dari Lingkungan Jangkuk, Kelurahan Selagalas, Kecamatan Sandubaya, Kota Mataram itu terlihat berbeda dengan rambutnya yang berwarna merah tua.

Di sampingnya, terlihat juga Rafa Mahardika, Siswa kelas 2 SD. Rambutnya sama seperti Mirza, tak lagi berwarna hitam seperti biasanya. Begitu juga dengan rambut teman-temannya yang lain. Satu grup. Hampir semua mewarnai rambut mereka. Warnanya pun berbeda-beda. Model cukurannya juga khas cukuran Barbershop.

Ditanya apakah mereka senang memiliki rambut berwarna, rata-rata menganggukkan kepala. Kecuali ada beberapa di antara mereka yang tidak ikut mewarnai rambut. Golongan rambut tak berwarna itu akan segera mengatakan hal sebaliknya. Di mana mewarnai rambut merupakan perilaku orang a�?kebona�� atau kampungan.

Murgasah, warga lingkungan Jangkuk yang siang itu berada tak jauh dari anak-anak itu mengatakan, kebiasaannya memang begitu. Menurutnya, anak-anak itu menikmati masa libur dengan mewarnai rambut mereka sendiri. Namun terkadang ada juga yang diwarnai oleh kakaknya, atau bahkan orang tuanya.

a�?Kalau saya, tidak mau saya berikan anak saya seperti itu,a�? terang Murgasah.

Memang itulah yang dilakukan anak-anak di Lingkungan Jangkuk untuk menikmati masa liburnya. Murgasah mengatakan, tak ada uang buat mengajak mereka liburan. Apalagi ke bioskop, main game di mal, dan menikmati wahana permainan kota lainnya. Maka salah satu caranya adalah mewarnai rambut.

Melihat fenomena tersebut, Pujiarohman, Psikolog NTN, yang juga menjadi konsultan rehabilitasi di BNN Kota Mataram mengatakan, ia telah melihat fenomena yang terjadi pada anak sekolah tersebut. Menurutnya, hal itu merupakan salah satu akibat dari adanya role modelling, atau sikap meniru dari apa yang telah dilihat anak-anak dalam kehidupannya. a�?Salah satu gaya peniruan itu berasal dari televisi,a�? terang psikolog yang akrab disapa Puji.

Saat ini, kebiasaan anak-anak mewarnai rambut di hari libur dianggap menjadi hal yang biasa saja. Namun menurut Puji, jika hal ini dibiarkan begitu saja, maka dampaknya akan lebih buruk di kemudian hari. Salah satu dampak itu karena adanya budaya meniru yang tertanam pada diri generasi muda Indonesia, khususnya di Lombok.

Fenomena ini menurut Puji memang lebih sering terjadi pada anak-anak di pinggiran kota. Karena bisa jadi, hal itu disebabkan karena keterpengaruhan orang tua saat menonton sinetron.

Kalau bagi orang tua yang berpendidikan, kemungkinan mengizinkan anaknya untuk mewarnai rambut sangatlah kecil. Apalagi sampai dia sendiri yang melakukan itu.

Puji menegaskan, bahwa fenomena seperti ini mestinya menjadi pekerjaan rumah semua pihak. Menurutnya, persoalan sosial mesti diselesaikan bersama-sama oleh banyak pihak. Dalam hal ini, keluarga dan tokoh masyarakat, serta dinas pendidikan dalam pemerintahan. Tak lupa juga, ia mengatakan bahwa ia dengan Lembaga NTN membuka konsultasi gratis bagi orang tua yang ingin mengetahui lebih jauh tentang perilaku dan cara mengatasi persoalan anaknya.

a�?Dulu, berpegangan tangan bagi yang bukan muhrim itu sangat tabu. Sekarang karena orang tua banyak melihat sinetron yang membiarkan anaknya berpacaran, hal yang dulu tabu, segera menjadi sangat biasa bagi kita,a�? jelas Puji.

Berbicara tentang budaya meniru yang mengakar di anak-anak, Hj Hadijah, Kepala Sekolah SDN 2 Cakranegara mengatakan, persoalan perilaku anak di hari libur merupakan tanggung jawab penuh orang tua di rumah. Karena tak bisa mengontrol perilaku siswanya selama libur, sekolah dengan pendidikan karakter telah membekali orang tua dengan program pendidikan keluarga.

a�?Sebelum libur, kita juga sudah mengumpulkan orang tua. Agar menjaga perilaku anak di rumah dan di masyarakatnya,a�? terang Hj Hadijah.

Hj Hadijah mengakui bahwa peran orang tua sangat penting dalam membentengi anak dari perilaku meniru tersebut. Namun jika ternyata orang tuanya juga yang ikut-ikutan meniru, maka di sanalah pentingnya pendidikan keluarga.

a�?Dari sanalah kita memberikan masukan kepada orang tua, untuk menjaga anak dari pengaruh televisi,a�? tutupnya.

Mungkin budaya meniru terlihat sepele. Namun apa jadinya bangsa kita, bila generasi muda besar dengan meniru gaya hidup masyarakat di luar dirinya. (tih/r5)

Berita Lainnya

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost