Lombok Post
Metropolis

Penduduk Miskin di NTB Turun

MATARAM-Jumlah penduduk miskin NTB di akhir tahun 2017 menurun. Berkurang sebanyak 45.660 orang atau 1,02 persen. Pada bulan Maret penduduk miskin mencapai 793.780 orang atau 16,07 persen. Sedangkan pada September turun menjadi 748.120 orang atau 15,05 persen.

Ditinjau dari daerah kemiskinan, penduduk miskin perkotaan pada Maret 2017 sebesar 17,53 persen, turun menjadi 16,23 persen pada September 2017. Demikian pula penduduk miskin di daerah perdesaan turun dari 14,89 persen menjadi 14,06 persen.

Hal itu diungkapkan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) NTB Hj Endang Tri Wahyuningsih, dalam keterangan persnya di kantornya, kemarin (2/1).

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Dia menjelaskan, indeks kedalaman kemiskinan di perkotaan maupun di perdesaan juga mengalami penurunan. Indeks ini adalah ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan. Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata pengeluaran pesuduk dari garis kemiskinan.

Untuk perkotaan, Indeks Kedalaman Kemiskinan menurun dari 3,590 pada Maret menjadi 3,001 pada September 2017. Untuk perdesaan, indeks kedalaman kemiskinan juga turun dari 2,758 menjadi 2,316 pada September.

a�?Hal itu mengindikasikan rata-rata pengeluaran penduduk miskin di perkotaan, maupun perdesaan cenderung mendekati garis kemiskinan,a�? jelasnya.

Indeks keparahan kemiskinan juga menurun. Untuk perkotaan, indeks keparahan menurun dari 1,060 menjadi 0,762 pada September. Untuk perdesaan, menurun dari 0,679 menjadi 0,522 pada September. Dengan menurunnya keparahan kemiskinan berarti kesenjangan diantara penduduk miskin di perkotaan maupun di perdesaan semakin berkurang.

Peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan komoditi bukan makanan. Seperti perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Di daerah perkotaan sumbangan makanan terhadap garis kemiskinan sebesar 73,44 persen, dan 75,73 persen untuk perdesaan. a�?Ini terjadi baik di perkotaan maupun perdesaan,a�? kata Endang.

Beberapa komoditi makanan yang memberi sumbangan terbesar pada garis kemiskinan yakni beras, rokok kretek filter, daging sapi, telur ayam, dan mie instan. Misalnya beras memberikan sumbangan sebesar 25,40 persen di perkotaan dan 31,69 persen di perdesaan. Rokok kretek filter memberikan sumbangan terbesar kedua 7,10 persen di perkotaan dan 5,33 persen di perdesaan, dan sebagainya.

Menurut Endang, penurunan angka kemiskinan periode Maret -September 2017 merupakan yang tertinggi. Meski demikian, jika dicermati setiap periodenya, penurunan penduduk miskin bersifat fluktuatif. Selain itu, persentase kemiskinan NTB juga masih di atas rata-rata kemiskinan nasional 10,12 persen. Dari 34 provinsi di Indonesia, persentase kemiskinan di NTB berada di urutan ke-19.

Ketimpangan

Di sisi lain, tingkat ketimpangan pengeluaran penduduk yang diukur melalui Gini Ratio sebesar 0,378 pada September. Angka itu meningkat 0,007 poin dibandingkan Maret 2017 sebesar 0,371. Sementara itu, jika dibandingkan dengan Gini Ratio September 2016 sebesar 0,365, Gini Ratio September 2017 naik sebesar 0,013 poin.

Meski begitu, penurunan angka kemiskinan yang menyentuh angka 15,02 persen itu disambut gembira. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) NTB H Ridwan Syah mengatakan, penurunan yang mencapai 1 persen baginya sangat bagus. Hal itu akan semakin memotivasi pemprov dalam mengentaskan kemiskinan di akhir masa RPJMD NTB 2018.

a�?Upaya yang sudah dilakukan akan kita tingkatkan,a�? kata Ridwan.

Ada beberapa pendekatan baru yang akan dilakukan tahun ini. Di antranya, fokus melawan kemiskinan dari desa. Meningkatkan sinergi dengan pemerintah kabupaten/kota. Mendorong pemanfaatan dana-dana di desa untuk menanggulangi kemiskinan. Dan mendukung pelaksanaanA� program padat karya di desa yang dimulai tahun 2018.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial NTB H Ahsanul Khalik mengatakan, penurunan kemiskinan itu merupakan hasil kerja keras semua pihak, dari berbagai program pemerintah provinsi, kabupaten/kota di NTB. a�?Semua elemen memiliki peran dalam penurunan ini,a�? katanya.

Ke depan, pengentasan kemiskinan harus diperkuat lagi dengan integtasi program antardinas. Program itu sifatnya berkelanjutan. Sasaran yang dituju pun harus tepat. Dinas Sosial sendiri akan melakukan pengawasan pelaksaan program PKH dan beras sejahtera supaya tidak dibagi rata. Sistem bantuan pangan non tunai akan diperkuat. (ili/r8)

Berita Lainnya

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost