Lombok Post
Metropolis

Jantung Koroner Mulai Suka a�?Daun Mudaa�?

JANTUNG BERMASALAH: Sebuah lembaran hasil ronsen jantung seorang pasien di atas buku rekam medis terlihat di ruang poli RSUD Kota Mataram, kemarin (3/1) Wahyu for Lombok Post

MATARAM-Penyakit Jantung Koroner (PJK) tidak lagi bersarang di tubuh mereka yang berusia 50 tahun ke atas. Akan tetapi, PJK kini mulai suka hinggap di tubuh daun muda.

Fakta ini tentu menjadi alarm serius bagi siapapun. Karena kini tak ada lagi yang bisa menjamin, anak muda terbebas dari penyakit mematikan itu. a�?Dari studiA� terbaru didapatkan aterosklerosis dimulai sejak usia muda sekitar usia 20 tahun,a�? kata dr A.A SG. Mas Meiswaryasti P, M. Biomed, Sp. JP, FIHA.

Spesialis jantung yang akrab disapa dr Tumas itu mengatakan, faktor resiko PJK pada usia muda yang paling sering ditemukan di RSUD Kota Mataram adalah merokok. Selama bekerja di poli jantung RSUD Kota Mataram, dr Tumas cukup sering kedatangan pasien muda dengan gejala PJK.

Jika dirata-ratakan, dr Tumas mengatakan, diperkirakan ada satu pasien muda dari sepuluh pasien usia diatas 50. Walaupun angkanya masih lebih banyak pada usia 50 tahun ke atas, akan tetapi, tentu hal itu patut menjadi warning bagi perokok, dan yang tidak menjaga pola hidup yang sehat.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Menurutnya, selama ini, faktor resiko PJK yang ia temui pada pasien muda rata-rata adalah merokok dan pola hidup yang tidak sehat dibandingkan dengan faktor resiko PJK lainnya. a�?Yang paling banyak sih merokok,a�? tambahnya.

Adapun faktor resikoA� lain penyakit jantung adalah darah tinggi, kolesterol, diabetes, obesitas, dan gaya hidup yang tidak sehat. Sedangkan gejala yang umum adalah nyeri dada (angina). a�?Bukan sembarang nyeri ya, itu harus dipahami juga. Nyeri dada yang tipikal biasanya dirasakan di sebelah kiri, terasa seperti tertekan dan tertindih benda berat, menjalar ke lengan kiri, punggung, dan rehang , serta biasanya disertai keringat dingina�? terang dr Tumas.

Berbicara tentang penyakit tersebut, dr Tumas menjelaskan kalau masyarakat kota memang lebih peka. a�?Baru merasakan nyeri di dada, pasien akan langsung ke poli,a�? terangnya.

Hal itu sedikit berbeda dengan pasien di desa. Biasanya, kebanyakan pasien dari desa yang kurang teredukasi datang jika sakitnya sudah parah. dr Tumas menegaskan, di sanalah pentingnya edukasi tentang PJK ke masyarakat secara luas.

a�?Banyak yang begitu merasakan nyeri dada biasanya sudah datang untuk periksa ke dokter jantung. a�? terang dr Tumas.

Menurutnya, saat ini, pengetahuan dokter umum yang bertugas di fasilitas kesehatan tingkat pertamaA� mengenai diagnosa dan pengangan awal PJK sudah jauh lebih meningkat dibandingkan sebelumnya, mengingat saat ini semakin banyak pelatihan-pelatihan tentang kegawat daruratan penyakit jantung bagi dokter-dokter di daerah.

Saat ini, banyak pasien yang datang ke Poli Jantung RSUD Kota Mataram memang merupakan pasien rujukan. Tapi ada juga yang langsung datang ke Poli. Karena terkadang, dengan pengetahuan yang mereka dapatkan tentang penyakit jantung, dengan cepat mereka ingin segera berobat.

Persoalan yang dihadapi pasien menurut dr Tumas tidak hanya pada kurangnya edukasi tentang PJK ke masyarakat. Akan tetapi, kesadaran masyarakat ketika sudah ditangani juga menjadi kendala tersendiri. Salah satu kendala tersebut adalah ketakutan pasien mengkonsumsi obat yang banyak dalam jangka waktu yang A�lama.

Menurut dr Tumas, jumlah obat jantung yang banyak dan biasanya diminum seumur hidupA� membuat pasien terkadang jenuh dan takut meminumnya. Paling sering, ketakutan terhadap terlalu banyak minum obat dipikirkan nantinya akan merusak ginjal .

a�?Memang benar obat bisa punya efek samping ke ginjal. Tapi dalam pemberian obat kita harus melihat resiko dan keuntungan obat terhadap pasien secara individual,a�? terang dr Tumas.

Ia menegaskan, bahwa resiko kerusakan ginjal karena obat jantung lebih kecil dibandingkan keuntungan yang didapat bagi pemeliharaan jantung dan menurunkan angka mortalitas pada pasien jantung.

Selain malas minum obat, pasien juga terkadang jenuh melakukan kontrol rutin setiap bulan. Beberapa hal itu menjadi bahan edukasi yang selalu ia berikan kepada pasien yang datang ke berobat ke poli jantung.

Sementara itu, Udin, seorang pasien dr Tumas yang berasal dari Kota Mataram mengatakan, ia tidak meminum obatnya selama satu minggu lebih. Baru setelah merasa sakit, ia kembali datang ke RSUD Kota Mataram untuk mengontrol kesehatannya. a�?Iya, saya tidak minum obat. Itu yang membuat saya sakit lagi. Makanya datang ke sini,a�? tandasnya. (tih/r5)

 

Berita Lainnya

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost

SPSI Usul UMK Rp 2,13 Juta

Redaksi LombokPost

Rumah Belum Jadi, Tenda Kemasukan Air

Redaksi LombokPost

Pasca Gempa, BPS Belum Keluarkan Data Kemiskinan

Redaksi LombokPost

Kalau Lagi Mood, Lima Jam Bisa Selesai

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Longsor!

Redaksi LombokPost

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost