Lombok Post
Headline Metropolis

Komisi III Terbelah Sikapi Pembentukan Pansus

USUT TUNTAS: Hingga kini jembatan yang menghubungkan Dasan Agung dengan Dasan Sari belum dilanjutkan lagi pengerjaanya. Para pengendara harus berputar jauh, baru bisa menyeberang ke wilayah Dasan Sari. Lalu Mohammad/Lombok Post

MATARAM-Kasus jembatan yang menghubungkan Dasan Agung dengan Dasan Sari, timbul tenggelam. Sejauh ini baik dari kejaksaan atau kepolisian, belum ada sinyal mengusut tuntas penyebab mangkraknya jembatan.

Sementara itu, Komisi III DPRD Kota Mataram setelah memanggil rekanan di penghujung tahun 2016 lalu, hingga saat ini masih belum merampungkan rekomendasi yang akan diserahkan pada pimpinan dewan. a�?Masih dalam tahap penyusunan,a�? kata Ketua Komisi III DPRD Kota Mataram I Gede Wiska.

Di internal komisi III sendiri, lanjut Wiska, masih belum satu suara. Ada yang setuju dibentuk pansus. Ada pula yang menyebut sanksi yang diberikan pada rekanan berupa ditariknya uang jaminan, lebih dari cukup.

Wiska, tidak merinci siapa saja yang setuju dan tidak setuju dengan dibentuknya pansus. a�?Ada yang setuju ditingkatkan ke pansus, ada pula yang sudah menganggap sanksi itu cukup,a�? ulasnya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Wiska sendiri merasa persoalan ini masih perlu ditelusuri. Karena ada beberapa hal janggal yang perlu dibuat seterang-terangnya. Ia tak ingin persoalan ini kembali terjadi di tahun mendatang.

Jangan sampai uang rakyat yang diamanahkan pada eksekutif tidak bisa dikelola dengan profesional. a�?Kita tentu bukan dalam posisi ingin cari-cari kesalahan dengan membentuk pansus, tapi demi kebaikan bersama agar persoalan ini tak terulang lagi,a�? imbuhnya.

Wiska berharap persoalan jembatan ini jadi pelajaran penting. Agar hal ini tak teruang lagi di tahun 2018. Ia menjanjikan hasil dari rekomendasi akan rampung dalam minggu ini. a�?Teman-teman juga kemarin sibuk persiapan Pilgub, karena itu sempat molor rekomendasinya,a�? terangnya.

Sementara itu, raibnya nama H, kembali dijelaskan oleh Wiska, sesuai keterangan Syahbudin. a�?Jadi si B dan D inilah yang mengerjakan proyek ini, dan merupakan teman pak Yatno (sub kontraktor),a�? terangnya.

Ia sempat menanyakan poisisi H, dalam kasus ini karena belakangan namanya berkembang di media. Tapi dari penjelasan Syahbudin, H tak terlibat. a�?Tapi diakui H, pernah terlibat di pengerjaan kantor Dukcapil dan Kebersihan,a�? tuturnya.

Sementara itu, melalui pesan singkat Ketua Gapensi Lombok Barat, H Salman menjelaskan nama H tidak hilang. Ia menjelaskan B ngotot mau kerjakan jembatan itu menggunakan bendera Limbu Indah dengan alasan ada a�?setorana�? ke H.

a�?Alasannya ada setoran ke H, dan itu disampaikan pada kepada PPK, Kabid Bina Marga di hadapan pak Budi,a�? tulis pesannya, pada Lombok Post.

Di keterangan berikutnya, ia mengatakan B pernah ada rencana mau kembalikan anggaran itu. Tapi karena nilainya cukup besar dan negosiasi yang alot, akhirnya pengembalian uang urung dilakukan. Proyek akhirnya disepakati untuk dikerjakan. a�?Itu salah satu penyebab terlambatnya mulai pelaksanaan sesuai waktu kontrak,a�? bebernya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Taksi Online Jangan Parkir Sembarangan!

Redaksi LombokPost

Bantuan Jadup Urung Disalurkan

Redaksi LombokPost

Pajak Panelnya Dihapus Dong!

Redaksi LombokPost

Jasad Bayi Membusuk di Bukit Korea

Redaksi LombokPost

Polda NTB Berikan Data Penyidikan ke Bareskrim

Redaksi LombokPost

Waspada Banjir Kiriman!

Redaksi LombokPost

Dinas Pendidikan Loteng Gelar Latihan Dasar Kepemimpinan

Redaksi LombokPost

Waspada Calo PNS !

Redaksi LombokPost

Sosialisasikan Migrasi Aman Dengan Drama Rudat

Redaksi LombokPost