Lombok Post
Headline Metropolis

Apo, Sido, Jajo, pun Loyo

BAHASA: Warga Dusun Kuranji, Desa Mas-mas Lombok Tengah ngobrol santai di depan rumahnya. Sirtu/Lombok Post

Seperti yang hidup, bahasa Sasak dialek A-O kini diambang maut. Penuturnya tidak lagi semangat menggunakan bahasa leluhurnya. Kerap jadi bahan olok-olok, mereka memilih jalan pintas mencintai bahasa Sasak dengan penutur mayoritas. Sekali lagi, pemerintah harus turun tangan. Seperti budaya, bahasa juga mestilah dijaga.

***

GERIMIS menyambut saat Lombok Post tiba di Dusun Gelogor, Desa Mas Mas, Kecamatan Batukliang Utara, Lombok Tengah akhir pekan lalu. Kebetulan, salah satu sudut dusun itu tengah ramai. Warga berkumpul, terutama para lelaki. Mereka gotong royong memperbaiki masjid.

Sembari mengangkat batu-bata, wajah-wajah mereka begitu gembira. Mereka juga bersenda gurau dengan menggunakan Bahasa Sasak. Dialek yang digunakan pun sama seperti bahasa Sasak kebanyakan. Dalam kaidah ilmu bahasa, dialek sasak kebanyakan itu adalah dialek A-E. Maksudnya, kalau mau bilang a�?apaa�? menjadi a�?apea�?. Atau kalau mau bilang a�?mataa�? menjadi a�?matea�?. Begitu seterusnya.

Ndilalah. Koran ini berpikir sudah salah alamat. Terngiang lagu dangdut yang dilantunkan Ayu Ting Ting. Itu lo, lagu yang a�?Alamat Palsua�?.

Yang hendak dicari adalah warga yang menggunakan Bahasa Sasak dengan dialek A-O. Yakni mereka yang menyebut a�?apea�? menjadi a�?apoa�?, atau yang menyebut a�?matea�? menjadi a�?matoa�?. Belum lama, seseorang memberi petunjuk, bahwa di Dusun Gelogor itulah masyarakat yang menggunakan dialek A-O tersebut.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Penasaran, Lombok Post akhirnya menyapa salah seorang warga yang tengah bergotong royong. Dia adalah Ahmad Nasai. Lega rasanya. Pria berkopiah hitam dan berjenggot itu menjelaskan, memang benar jika warga asli di dusunnya menggunakan dialek A-O.

Cuma, akhir-akhir ini, semakin jarang yang menggunakannya. Terutama generasi muda. Generasi yang menuntut ilmu jauh dari kampung. Lalu pergaulannya menjadi lebih luas. Banyak di antara mereka yang mulai melupakan dan terbiasa menggunakan dialek A-E, dialek yang penuturnya banyak dan umum di pakai dan dimengerti di sekujur Pulau Lombok.

a�?Kebanyakan malu,a�? kata Nasai.

Iya. Mereka malu, menggunakan bahasa ibu mereka sendiri.

Inilah masalahnya. Akibat para penuturnya yang malu tersebut, dialek A-O kini menjadi varian Bahasa Sasak yang terancam punah. Dia terpinggirkan. Sebab, penuturnya kian jarang. Mungkin soal waktu, bahasa ini bakal dilupakan oleh para penuturnya sendiri, lalu hilang lenyap dari muka bumi.

Sedari mula, Bahasa Dialek A-O ini penuturnya memang sedikit. Dialek A-O tidak berkembang pesat. Data Kantor Bahasa Provinsi NTB menyebutkan, para penutur dialek A-O ini sebarannya sporadik. Di Lombok Tengah terdapat di di Desa Aik Bukaq, Bujak, dan Peresak. Desa-desa ini ada di Kecamatan Batukliang. Sementara di Lombok Timur ditemukan di beberapa tempat seperti di Denggen, Pancor.

a�?Itu pun, penuturnya sangat sedikit,a�? kata Kepala Kantor Bahasa Provinsi NTB Syarifuddin kepada Lombok Post.

Karena penuturnya sangat sedikit itu pula, maka kerap ada yang malu manakala penutur bahasa ini berbincang dengan dialek A-O. Apalagi jika sedang berada di tengah-tengah komunitas dengan varian dialek bahasa yang dominan. Sekonyong-konyong keberanian para penuturnya pun seakan lenyap.

Bukan apa-apa. Tampaknya yang maryotiras memang tidak ingin mengayomi. Alhasil, kalau para penutur dialek A-O berbicara dengan Bahasa Ibu mereka, maka olok-oloklah yang bakal didapat.

Mereka kerap diejek dengan kata-kata yang meniru dialek A-O. Misalnya “Piram dateng sido?” Atau dengan kata-kata yang langsung menuding. “Dengan Gelogor Tio”.

Bahkan ada olok-olokan yang sangat khas. Katanya cukup panjang. Namun menohok. Misalnya, “Bau nangko jojok siq penggalo, kelak siq tain lalo, tekolok leq semparo, jari siq satuk kepalo deso”. Kata-kata yang lazim digunakan sebagai olok-olokan tersebut.

Awal mula sih sekadar bercanda. Cuma itu. Kalau intonasinya biasa-biasa saja sih gak masalah. Tapi karena niatnya memang buat olok-olok, maka intonasinya itu macam kata-kata yang diucapkan untuk ngenyek.

Itu mengapa, kata Nasai, jadilah dialek A-O ini akhirnya cuma lestari di kalangan generasi tua. Imbasnya bisa ditebak. Jam terbang bahasa A-O ini pun menjadi amat terbatas.

Munculnya pun kerap di ruang-ruang yang intim. Tidak go public. Meminjam istilah rating acara televisi, bahasa ini tidak muncul pada saat jam tayang utama.

Nasai sendiri mengalami sendiri kalau bahasa yang kerap dipakainya dijadikan bahan olok-olok. Dia tak akan pernah lupa akan hal itu. Candaan kerap diterima Nasai, terutama tatkala dia bertandang ke rumah mertuanya di Kediri, Lombok Barat. Istrinya memang berasal dari Kota Santri itu.

Setiap berkunjung ke rumah mertua, dia selalu disambut dengan kata meniru-niru. “Piran dateng sido?” kata Nasai menirukan kata-kata yang kerap sampai di indra dengarnya. Dia tahu pertanyaan itu untuk mengolok-olok. Sebab, pertanyaan macam itu pun bisa diulang-ulang. Kurang kerjaan banget kan?

Itu sebabnya, pada anak-anaknya, Nasai kini sudah tidak lagi mengajarkannya dialek A-O. Jadilah anaknya tidak menggunakan Bahasa Ibu. Melainkan menggunakan bahasa dengan dialek yang penuturnya mayoritas.

Tentu saja tak cuma Nasai yang begitu. Lombok Post pun bertandang ke Dusun Montong Belok di Desa Bujak. Juga ke Dusun Kuranji di Desa Peresak. Keduanya masih di Kecamatan Batukliang.

Di dua desa yang semenjak dulu menjadi tempat dialek A-O begitu mekar, nasibnya kini serupa seperti di Dusun Gelogor. Minim penutur.

Bahkan, para leluhur dari dua desa ini yang sudah pindah dan beranak pinak di Dusun Ronggolawe di Desa Aik Bukak, masih di Kecamatan Batukliang, atau Dusun Penjangik di Desa Pejanggik, Kecamatan Praya Tengah, juga di Dusun Langko Desa Langko, dan Dusun Tuban di Desa Kawo, Kecamatan Pujut, nasibnya pun sama.

a�?Sudah jarang sekali dipakai sekarang,a�? kata H Sahwan, sesepuh Desa Bujak.

Dulu, kata dia, seluruh warga Desa Bujak menggunakan bahasa dengan dialek A-O. Total ada dua puluh dusun di sana. Namun kini kata Sahwan, yang masih menggunakan dialek A-O hanya sembilan dusun saja.

Sahwan termasuk salah satu dari sedikit keluarga yang masih mempertahankan dialek A-O untuk para keturunannya. Saat koran ini berkunjung ke rumahnya, keluarganya pun berbincang menggunakan dialek A-O dengan fasih.

Bahkan, cucunya, Anggun Azka Dina, yang baru berumur 2 tahun, juga menggunakan dialek A-O dalam bicaranya yang sudah lancar khas bocah batita.

Desa Bujak sendiri merupakan desa pemekaran dari Barabali. Tapi mekarnya sudah lama. Semenjak tahun 1968 silam.

a�?Aneh pinaq kopi tio,a�? kata pria kelahiran 1962 silam itu kepada istrinya Hj Siti Hairunisa.

Sembari meneguk segelas kopi susu, Sahwan dan istrinya pun berceloteh dengan dialek A-O menuturkan banyak hal. Untuk Anda yang baru mendengarnya, mungkin serasa aneh.

Tak hanya variannya yang berbeda. Intonasi berbicaranya pun tidak datar. Kata di ujungnya biasanya diucapkan dengan intonasi yang lebih panjang. Intonasi suara meninggi sedikit, lalu menukik setelahnya. Kadang, sekali waktu juga intonasinya terdengar begitu mendayu. Macam kata-kata yang punya notasi lagu gitu.

Merasa Kehilangan

Baik Nasai dan Sahwan sendiri mengaku kehilangan. Kendati begitu, dia mengaku, belum pernah ada orang yang mencoba membahasnya. Terutama terkait kian menyusutnya para penutur bahasa A-O tersebut.

Dialek A-O sebenarnya mudah dimengerti. Cuma bedanya pada kata-kata dengan akhiran E, diganti menjadi O. Hal itu membuat penyebutannya terasa unik. Misalnya kata a�?dedarea�? menjadi a�?dedaroa�? kata a�?terunea�? menjadi a�?terunoa�?. Kata a�?dadaa�? menjadi a�?dadoa�?, buah a�?nangkea�? jadi a�?nangkoa�? dan seterusnya.

Supardi, salah seorang pemuda di Gelogor kepada Lombok Post mengatakan, mereka masih berusaha mempertahankan dialek tersebut dengan teman sekampung. Tetapi jika ke luar desa, mereka biasanya menyesuaikan diri dengan bahasa setempat.

Terutama mereka yang merantau ke Malaysia. Pulang-pulang sudah tidak menggunakan dialek A-O lagi. Tapi kadang-kadang mereka masih memakainya.

“Kalau sudah ke Malaysia biasanya berubah,” katanya.

Salah satu dusun yang juga menggunakan dialek A-O adalah Dusun Kuranji, masih satu desa dengan Gelogor. Jaraknya sekitar satu kilometer. Di sini, warganya lebih kental menggunakan A-O. Saat Lombok Post nongkrong di warung Marni, salah seorang warga. Mereka yang lalu lalang di jalan terdengar menggunakan dialek A-O.

“Sai jual bato no?” kata seseorang bertanya kepada rekannya. Dijawab pula dengan dialek yang sama.

Marni, sang pemilik warung mengatakan, mereka memang masih menggunakan dialek A-O. Sampai saat ini tidak pernah ditinggalkan.

Marni misalnya mengaku kalau ke pasar kerap diolok. Tapi, dia juga tak peduli. “Memang bahasa kita seperti itu mau bilang apa,” katanya.

Amaq Turki, warga Kuranji lainnya yang sedang ada di warung Marni menimpali. “Memang inilah bahasa kita sejak nenek moyang,” ujarnya.

Cuma itu. Kalau sudah urusan anak-anak, mereka akhirnya mengalah. Ketimbang anak-anaknya jadi bahan olokan teman-teman terutama di sekolah.

Harus Dilestarikan

Tentu saja, saat ini dialek A-O ini belum punah dari Gumi Sasak. Namun, tanda-tanda ke arah itu sudah menggejala. Tentu saja ini mengkhawatirkan.

Kepala Kantor Bahasa NTB Syarifuddin mengungkapkan, bahasa akan punah apabila tidak digunakan lagi penuturnya. Itu berarti ditinggalkan penuturnya. Misalnya, penutur dialek A-O keluar dari kampung halamannya dan tidak lagi menggunakan dialeknya sendiri. Memilih menggunakan dialek yang lebih dominan ketimbang dialek bahasanya.

Atau juga lantaran perkembangan teknologi. Penuturnya bekerja keluar daerah maka tidak lagi menggunakan dialeknya.

a�?Bahasa ini akan punah apabila penuturnya tidak lagi menggunakannya,a�? tandas dia.

Selain itu, doktor linguistik ini mengungkapkan ada beberapa faktor lain. Seperti, orang tua tidak lagi mentrasnfer bahasa ke generasi penerusnya atau ke anaknya. Lebih memilih menggunakan Bahasa Indonesia atau bahasa yang dominan penuturnya.

Karena itu, kata pria asal Sumbawa ini, jika ingin bahasa ini kuat, maka harus tetap digunakan. Lihat saja Inggris dimana tempatnya menjajah harus menggunakan bahasanya sendiri. Bahkan daerah yang dijajah juga diharuskan menggunakan bahasa Inggris. Dengan begitu bahasa mereka semakin kuat.

Terkait dialek A-O sendiri, Syarifuddin menegaskan dialek ini tidak ada hubungannya dengan bahasa Jawa. Ia mengatakan, bahasa ini murni bahasa Sasak. Namun, yang tidak berkembang seperti dialek lainnya yang tetap digunakan penuturnya.

a�?Ini bahasa Sasak murni. Kita tidak pernah dijajah oleh Jawa. Beda dengan dialek A-E yang ada hubungannya dengan bahasa Bali karena di Mataram dulu masuk Kerajaan Karang Asem,a�? katanya.

Namun, beda halnya diungkapkan Prof Mahsun. Guru Besar Lingustik Universitas Mataram ini pada 2005 silam pernah melakukan penelitian terkait bahasa Sasak dialek A-O. Dialek ini kata dia, erat kaitannya dengan bahasa Jawa.

Hal ini bermula saat abad ke-8, Kerajaan Majapahit masuk wilayah Lombok seiring dengan langkah kerajaan tersebut menancapkan kekuasaannya di Bumi Nusantara. Sehingga setiap kata yang disebutkan dalam dialekA� A-O diakhiri dengan huruf O pula seperti kerap ditemukan dalam bahasa Jawa.

Prof Mahsun mengungkapkan, pengaruh dialek di Lombok erat kaitannya dengan kerajaan yang masuk. Manakala kerajaan Karang Asem Bali berkuasa di Lombok, maka dialek Bahasa Sasak menjadi sangat kental dengan A-E.

a�?Pergerakan kerajaan dulu dari barat ke timur,a�? ungkapnya.

Kini kata dia, peran pemerintah amat sangat ditunggu menjaga dialek A-O yang sudah mengalami gejala kepunahan.

Bisa saja kata Prof Mahsun, dilakukan dengan cara mengadakan lomba pidato dengan dialek A-O. Atau bisa masuk sekolah dengan mengadakan berbagai lomba dengan dialek A-O.

a�?Kekayaan budaya ini harus dijaga,a�? tandas dia.

Kini yang menjadi tantangan kata prof Mahsun, punahnya bahasaA� ini tidak lepas dari perkembangan pariwisata. Orang Sasak kerap terpengaruh budaya luar. Lihat saja sekarang ini bahasa Inggris begitu diidolakan, sementara bahasa daerah sendiri ditinggalkan. Kata kata bahasa Inggris kerap difamiliarkan. Sehingga menjadi bahasa Indonesia.

a�?Mestinya kita menggaungkan bahasa daerah, bukan bahasa luar,a�? tukasnya. (ili/dss/jay/r8)

Berita Lainnya

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Ayo, Keruk Sungai Ancar!

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Harus Nabung Stok Sabar

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost