Lombok Post
Headline Metropolis

Ketika Sawah Tak Lagi Menguntungkan : Petani NTB Gagal Regenerasi, Warga Pilih Jadi TKI

Seorang petani bertugas untuk menggaris sawah agar ditanam lurus di kawasan Jempong, Kota Mataram, kemarin 30/1). IVAN/ LOMBOK POST

Ditinggal anak muda, petani Bumi Gora kini hanya didominasi para orang tua. Lekat dengan image kotor, berbahaya, dan sulit, menjadikan petani tak menarik minat generasi masa kini. Sebagai daerah penyangga pangan nasional, NTB patut risau. Sebab, penyegaran petani telah mandek. Pemerintah wajib bin harus turun tangan. Kecuali memang sengaja ingin para petani Bumi Gora punah dan hanya tinggal sejarah.

——————————————————

KARI, 50 tahun, terduduk lesu di gubuk reot yang berdiri seadanya di pinggir sawah. Dari kulit legamnya, keringat mengucur deras. Dikipas-kipasnya wajah dengan tangan. Wajah yang tak bisa menyembunyikan gurat lelah.

Dari balik kantong baju yang lusuh yang tak lagi jelas warnanya, warga Dasan Kolo, Kelurahan Jempong, Kota Mataram ini mengelurkan sebungkus rokok filter yang murah meriah. Sambil memandangi hamparan padi yang menghijau, rokok disulut lalu diisap dalam-dalam. Asap mengebul-ngebul, meliuk-liuk, seakan turut membawa sebagian penat pada tubuh Kari.

Kari adalah petani penggarap. Sawah yang membentang di hadapannya bukan miliknya. Itu sawah orang, dan Kari hanya bertugas menggarapnya. Lalu dia menerima upah atas pekerjaannya itu.

Upah diberikan setiap kali panen. Sekali tiga bulan. Dari sawah tersebut, dia mendapat empat kuintal gabah kering giling. Kalau harga lagi bagus, satu kuintal gabah kering giling nilainya bisa tembus Rp 500 ribu. Jadi paling banter, dalam tiga bulan, Kari bisa mendulang upah Rp 2 juta.

a�?Sedikit, tapi hanya itu jalan hidup,a�? katanya tersenyum pada Lombok Post yang menyapanya di gubuk tengah sawat tempatnya istirahat. Sebuah senyum yang getir.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ tax_operator=”0″ order=”desc”]

Kari tidak tahu persis, sudah berapa lama dia melakoni hidup menjadi petani. Yang dia ingat, semenjak kecil, dia telah berada di sawah. Bekerja dan membanting tulang di sana. Sampai kemudian dia berkeluarga, lalu punya dua anak, hingga kini usianya yang telah 50 tahun, dia masih melakukan hal yang serupa.

Dulu, betapa bangganya Kari bisa bekerja membantu orang tuanya bekerja di sawah. Karena kebanggaannya itu pula, Kari meninggalkan bangku sekolah.

a�?Kelas III SD saya putus sekolah. Sejak saat itu selalu pergi ikut ngerampek,a�? kenangnya. Dari aktivitasnya itu dia mendapat upah, lalu bisa berbelanja dan membeli sesuatu. Senang bukan kepalang dirinya kala itu.

Namun, jika dulu Kari begitu girang membantu orang tuanya di sawah, kini dia tak mendapatkan hal yang sama dari dua buah hatinya. Junaedi, anak sulungnya tak tertarik menjadi petani. Syariah, sang adik yang kini masih duduk di bangku salah satu SMK negeri di Mataram, juga begitu.

Jadilah Kari di sawah seorang diri. Kalaupun ada teman, adalah istri tercintanya Sutiah, yang datang mengantarkan makanan, atau di lain waktu ikut turun tangan pula bahu membahu bersamanya.

Sementara sang anak, Junaedi, yang menamatkan pendidikan menengah, lebih memilih bekerja di SPBU di Jempong Baru. a�?Takut sama panas,a�? kata Kari terkekeh, menirukan anak-anaknya yang tak tertarik menjadi petani seperti dirinya.

Kari, adalah gambaran betapa rentanya sektor pertanian di Bumi Gora saat ini. Anak-anak Kari, adalah gambaran pula bagi anak-anak muda masa kini. Sekarang, sulit bukan main mencari para petani penggarap. Sekarang, sulit bukan main pula mencari para tenaga di sektor pertanian.

Banyak sawah yang telat panen, lantaran minimnya tenaga yang ngerampek. Banyak tanaman yang telat disemai, lantaran minimnya tenaga perempuan untuk nowong. Banyak tanaman padi yang telat dipupuk, lantaran minimnya orang yang bisa diupah untuk menebar pupuk. Juga banyak padi yang tak berdaya diserang hama, lantaran minimnya tenaga yang bisa dengan tepat waktu memberi semprot pembasmi hama.

A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A� Data Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB menyebutkan, dari 17.486 kelompok tani se-NTB saat ini, dengan rata-rata 30 orang petani per kelompok, maka total ada 547.493 orang petani di seluruh NTB. Kalau memasukkan petani yang tak punya kelompok, Dinas Pertanian NTB mencatat sedikitnya ada 1,5 juta penduduk NTB yang bekerja sebagai petani. Dan bisa dipastikan rata-rata mereka adalah orang tua.

A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A� Kementerian Pertanian mencatat, tiap tahun, rata-rata 2 persen keluarga petani punah, lantaran mereka beralih profesi ke sektor lain. Sementara Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia memprediksi, rata-rata umur petani di Indonesia saat ini, termasuk NTB di dalamnya, menginjak usia 52 tahun.

LIPI bahkan berpandangan minimnya regenerasi petani, telah menjadikan profesi petani sebagai salah satu profesi yang bakal tinggal nama. Ramalan LIPI, jika tak ada tindakan luar biasa dari pemerintah, bisa jadi profesi petani dalam 25 tahun mendatang di Indonesia sudah tak ada lagi. Nauzubillah.

Jika itu kejadian, jelaslah itu malapetaka. Sebab, berkurangnya jumlah petani akan berimplikasi pada menurunnya ketersediaan produk pangan. Mimpi swasembada dan kedaulatan pangan, juga sudah bisa dipastikan hanya isapan jempol belaka.

A�Dianggap Kurang Keren

Bagi anak-anak muda NTB, menjadi petani memang tidak keren. Mereka bahkan tak pernah menghitung sektor pertanian sebagai salah satu bidang pekerjaan dalam daftar mereka. Petani, bagi anak muda adalah pekerjaan tanpa masa depan.

Fitri Ramadhaningsih misalnya. Remaja putri lulusan Fakultas Teknologi Pangan Universitas Mataram itu memilih menjauhi sawah dengan bekerja di sebuah perusahaan dengan area kerja di Pulau Sumbawa. Bukan kembali ke sawah bersama petani selepas menamatkan pendidikan.

A�Fitri tentu punya alasan. a�?Kebijakan pemerintah belum memihak petani sekarang,a�? katanya.

Kebijakan yang tak memihak itu antara lain menurut dia yang terkait dengan perlindungan harga. Bukan hal asing, ketika musim panen tiba, harga komoditas pertanian tiba-tiba anjlok. Menjadikan para petani sulit meraih untung.

Belum lagi soal ketersediaan pupuk yang kerap saat dibutuhkan justru malah sulit didapat. Alhasil, menjadi petani banyakan stresnya ketimbang senangnya. Apalagi kalau sudah datang serangan hama. Hmmmma�� kalau yang ini, kerugian sudah pasti ada di tangan.

Sebagai lulusan perguruan tinggi di sektor pangan, Fitri sebetulnya ingin bekerj asesuai disiplin ilmu yang dimilikinya. Namun, pilihan yang tak menjanjikan di sektor pertanian, membuatnya memilih banting stir.

Hal senada diungkapkan Rifda A, warga Desa Perampuan, Kecamatan Labuapi lainnya. Dia menggambarkan petani adalah korban hal-hal yang sulit. Misalnya sulitnya mengakses lahan pertanian, sulitnya akses pembiayaan sektor pertanian. Termasuk sulitnya mendapat benih berkualitas, pupuk dengan harga terjangkau dan tepat waktu. Serta, ketidakpastian harga jual komoditas.

Tak akrab dengan pertanian semenjak kecil juga menjadikan anak-anak muda nyaris minim keterampilan soal pertanian. Dalam benak mereka juga sudah terekam betapa menjadi petani berarti penghasilan harus tak menentu.

Karena itu, Zulkifli, warga Kecamatan Gerung mengaku tak heran kalau kemudian ana-anak muda seperti dirinya memilih beralih ke sektor lain di luar pertanian.

Di Lombok Tengah, minimnya regenerasi para petani juga terjadi. Amaq Atre misalnya. Petani Dusun Petak Desa Batujai, Kecamatan Praya Barat pada Lombok Post menuturkan betapa minat anak muda menjadi petnai di tempat tinggalnya sangat minim.

Dia menyebut, di tempat tinggalnya saat ini sedikitnya ada 70 orang pemuda. Namun, sebanyak 60 orang di antaranya lebih memilih mencari pekerjaan lain. Itu artinya, hanya 10 orang saja yang mau mewarisi pekerjaan leluhurnya sebagai petani.

a�?Kalau anak-anak kami sudah mengenyam pendidikan, maka pasti mereka menolak turun ke sawah,a�? kata Sahirudin, petani asal Desa Ganti Praya Timur menambahkan.

Setelah menamatkan pendidikan, mereka yang tak mau menggarap sawah justru mengusulkan kepada orang tua mereka agar sawah tersebut dijual saja. Lalu, uangnya dijadikan modal usaha atau ongkos ke luar negeri untuk mencari pekerjaan di sana.

a�?Selalu ada anggapan, kalau petani itu menjauhkan dari kesejahteraan,a�? katanya.

Perguruan Tinggi Belum Berhasil

Di tengah minimnya minat anak-anak muda menjadi petani ini, menjadikan banyak pihakn kini menoleh ke perguruan tinggi. Kampus sebetulnya diharapkan mampu membuat sektor pertanian punya daya tarik lagi. Namun, jalan ke arah sana rupanya harus menghadapi lorong-lorong terjal.

Di Universitas Mataram misalnya. Di perguruan tinggi negeri terbesar di NTB ini, sejak tahun 2000 hingga akhir 2010, lulusan SMA/SMK yang memilih melanjutkan pendidikan ke Fakultas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan atau rumpun agro komplek terus menurun.

Wakil Rektor Unram Prof Lalu Wiresapta Karyadi mengakui hal tersebut. Setelah gencar sosialisasi, baru pada 2011 terjadi peningkatan jumlah mahasiswa. Tapi hanya di program studi agribisnis dan teknologi pertanian.

Sementara program studi lainnya yang menyangkut hulu pertanian masih minim. Artinya kata Wiresapta, semua kegiatan pertanian di hulu yang berkaitan dengan proses produksi minatnya kurang.

Hal yang sama juga dialami Sekolah Pertanian Pembangunan Mataram yang bergerak di sektor hulu pertanian. Juga kurang diminati. Sementara di sisi lain, pertanian di sektor tengah seperti agribisnis pertanian, pengolahan pertanian, hingga pemasaran mulai diminati.

a�?Ini dulu yang nampak,a�? terang guru besar Fakultas Pertanian Unram ini, pada Lombok Post Senin (29/1).

Menurutnya, bidang pertanian kalah saing dengan bidang yang bergerak dalam bidang industri, jasa, dan perdagangan.

Orang bercocok tanam atau petani identik dengan bergelimang lumpur dan bau. Sehingga dinilai kurang prestisius di mata masyarakat. Kata Wire, pertanian itu tidak boleh di skat-skat berdasarkan produk. Namun harus dilihat secara keseluruhan mulai dari hulu hingga hilir. Dengan seperti ini akan memberikan dampak terhadap kesejahteraan petani.

a�?Jika masih di skat, jangan harap ekonomi petani akan meningkat,a�? cetusnya.

Wire mengaku, harga hasil produksi pertanian rendah di tangan pertama atau para petani hulu. Itu sebabnya pertanian ini harus mengubah paradigma. Melihat secara keseluruhan. Pertanian ini harus dikerjakan mulai dari hulu hingga hilir. Dari bercocok tanam sampai memasarkan produk.

Di sisi lain kata Wire, perlu ada perubahan cara pandang pula. Bekerja dibidang pertanian hulu masih terkesan ada tiga D. Yakni dirty (kotor), dangerous (berbahaya), dan difficult (sulit). Dengan kondisi ini membuat pertanian kurang diminati masyarakat.

a�?Kesan petani masih inferior. Sekarang ini orang ingin dilihat sebagai masyarakat yang modern,a�? tuturnya.

Wire menegaskan, sektor pertanian jelaslah punya masa depan yang cerah. Dia sangat yakin, masih banyak anak-anak muda yang memandang mereka terlahir hingga besar menjadi petani.

Ini terbukti dari anak-anak muda yang memilih meninggalkan NTB untuk bekerja di luar negeri. Sebab, di sana juga ternyata mereka bekerja di sektor pertanian. Di Malaysia misalnya, mereka bercocok tanam sawit dan sayur. Selain tentu yang bekerja di industri, bangunan, dan sektor jasa.

Tapi kata dia, sebagian besar bekerja di sektor pertanian. Dan tidak ada perbedaan signifikan antara pertanian Indonesia dengan Malaysia. Bedanya pada kepastian upah, lapangan kerja, dan kontinyuitas para petani.

Tidak seperti di sini di mana petani NTB tidak memiliki kepastian upah, kapan cocok tanam, kapan pembibitan, hinggaA� produksi. a�?Kalau berhenti musim rampek (panen) berhenti mereka dipakai. Tunggu lagi musim rampek berikutnya. Ini kan tidak ada kepastian,a�? ujar Wire.

Tentu saja, dia tak menampik ada degradasi. Terutama dari sisi gengsi dan tidak. Misalnya di daerah sendiri gengsi, tapi di daerah lain tidak. Tentu ini juga harus dicarikan jalan keluar.

Dan jelas kata Wire, pemerintah harus melihat secara arif. Harus turun tangan. Tak boleh lepas tangan.

Buat Petani Punya Prestise

Pertanian kata dia harus dilihat dari hulu, tengah, hingga hilir. Petani harus dikenalkan dengan pasar, punya kenalan lembaga keuangan, peka terhadap perkembangan pasar. a�?Kalau seperti ini maka petani akan menjadi superior,a�? imbuhnya.

Kini kata dia, minimnya tenaga petani terjadi ketidaksesuaian nilai. Kebutuhan rumah tangga pada keluarga semakin tinggi. Dulu kata dia, banyak anak putus SD dan SMP menjadi petani. Tapi sekarang ini tidak ada.

a�?Sekarang ini kita pada generasi ketiga,a�? ujarnya.

Pendidikan tinggi seperti D1 hingga sarjana atau master tidak mau menjadi petani. Mereka yang bersekolah tinggi ini memiliki ambang pretise. Jika dilihat dari status pendidikan mereka merasa tidak cocok menjadi petani. Sehingga masyarakat memburu sektor lain seperti menjadi karyawan di bidang jasa, industri dan perdagangan.

a�?Masyarakat akan memilih menjadi karyawan diluar bidang pertanian,a�? ujarnya. Padahal gaji didapatkan akan jauh lebih besar jika mengembangkan hasil pertanian.

a�?Kalau pendidikannya tinggi maka akan gengsi menjadi petani,a�? tuturnya.

Untuk itu ia memandang agar petani ini memiliki prestise perlu diberikan seragam dan mengenakan sepatu seperti di luar negeri. Sehingga nantinya ada penilaian kepada masyarakat untuk profesi petani.

Kini fenomena ongkos tenaga kerja pertanian mulai tinggi, sementara permintaan tinggi. Kondisi ini akan berbahaya jika tenaga mahal. Jika harga tenaga kerja meningkat maka pupuk dan hasil produksi otomatis juga akan tinggi.

a�?Ini akan membayakan masyarakat kecil,a�? tutupnya.

Secara terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan NTB H Husnul Fauzi mengatakan, pihaknya terus berupaya agar mendorong lebih banyak warga menjadi petani.

Bila regulasi tentang posisi tawar petani bagus, maka ia yakin ke depan akan banyak orang beralih profesi sebagai petani.

Misalnya harga produk pertanian tinggi, tentu akan semakin banyak orang yang mau menjadi petani. Hanya saja jika harga produk pertanian terlalu tinggi, dampaknya tidak bagus bagi konsumen. Sehingga pemerintah mengaturnya dengan prinsip berkeadilan.

a�?Namun yang perlu juga adalah memproteksi lahan pertanian, itu kuncinya,a�? tandas Husnul.

Gandrung Tanaman Hortikultura

Hanya saja, minimnya minat generasi muda Bumi Gora terjun ke sektor pertanian, tampaknya khusus untuk tanaman pertanian utama seperti padi, kedelai dan jagung. Sebab, di sektor pertanian tanaman hortikultura, para petani muda justru terlihat banyak yang terlibat.

Boleh jadi, karena tanaman hortikultura dinilai lebih menjanjikan. Derajatnya juga dipandang lebih gengsi. Sebab, umumnya tidak bergelut dengan lumpur macam orang hendak menanam padi. Bisa dibilang, sektor tanaman hortikultura ini sudah banyak digeluti petani-petani muda dan belia yang berhasil. Bahkan mereka adalah lulusah perguruan tinggi jurusan pertanian pula.

Tanaman horti yang digemari mulai dari cabai, bawang putih, bawang merah hingga tanaman buah-buahan seperti strawberi dan apel. Contoh paling nyata untuk tanaman-tanaman hortikultura ini ada di Sembalun, Lombok Timur.

Zaini, salah seorang petani muda di Sembalun kepada Lombok Post mengaku bahwa banyak petani hortikultura yang sepantaran dengan dirinya di Sembalun kini. Harga yang tinggi menyebabkan bertani horti sangat menarik.

Dia memberi contoh. Cabai rawit misalnya. Harganya saat ini Rp 20-25 ribu per kilogram. a�?Kalau dibandingkan dengan hasil tanaman pangan, tentu keuntungan petani jauh lebih besar,” jelasnya kepada Lombok Post.

Bandingkan saja misalnya. Jika satu hektare lahan hanya bisa menghasilkan padi enam ton yang nilainya paling banter Rp 20 juta. Yang berarti kalau ditanam dua kali setahun, hanya bisa maksimal Rp 40 juta. Bandingkan dengan hasil yang bisa diraih dengan bertanam hortikultura yang jauh berlipat-lipat dari itu.

Dalam satu hektare misalnya, petani cabai bisa mendapatkan hasil sekitar satu ton sekali panen. Dengan minimal 10 kali panen selama musim tanam enam bulan, maka otomatis hasil yang didapatkan petani bisa mencapai 250 juta.

“Jika harganya seperti saat ini lho ya,” cetus Zaini.

Hasil yang besar, tentu pula menuntut modal besar pula. Juga kalau sedang apes, ruginya lebih besar pula. Soal yang beginian, tentu jauh risikonya lebih besar dibandingkan ketika hanya menanam tanaman pangan.

Sehingga, jika dibandingkan dengan jumlah petani yang menanam tanaman pangan, petani yang menanam tanaman horti juga jauh jumlahnya lebih sedikit. Karena, tanaman pangan tidak terlalu membutuhkan biaya besar, perawatan tidak terlalu sulit dan hasilnya cukup menjanjikan karena harga stabil.

Pantauan Lombok Post di Sembalun, saat ini tanaman hortikultura jebis buah-buahan sedang booming. Tanaman apel misalnya. Tanaman itu kini menjadikan Sembalun sebagai pusat agrowisata di NTB. Dimana, sekali musim panen, para petani muda pemilik kebun apel di sana bisa meraup puluhan juta rupiah.

Idal Umam, salah satu petani apel Sembalun menjelaskan, dalam setahun, kebun apel di Sembalun berbuah sebanyak dua kali. Ketika sudah berbuah, nantinya kebun apel ini akan dibuka untuk wisatawan atau pengunjung yang datang. Dengan ketentuan, sekali masuk biaya yang harus dibayar Rp 30 ribu.

“Itu nanti dapat petik apel dua buah. Bisa dimakan langsung di lokasi kebun atau dibawa pulang,” terang pria 25 tahun tersebut.

Dengan banyakanya wisatawan yang berkunjung ke kebun miliknya, Umam mengaku ia berhasil mengumpulkan uang sebanyak Rp 3 juta per hari. Dimana, dengan kondisi buah yang ada, pengunjung bisa datang dan memetik buah apel ini sekitar dua minggu lebih.

Sehingga, omzet kebun apel ini sekali panen mencapai puluhan juta. Itu sebabnya, beberapa petani kini mulaiA� mengikuti jejak Idal Umam menanam apel. (ili/ewi/dss/ton/r8)

Berita Lainnya

Korban Gempa Tagih Janji Jokowi

Redaksi LombokPost

Bantuan Air Bersih Dihentikan

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

Pilkades Serentak Harus Dievaluasi

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

7.000 Petisi Penolakan Juknis Bantuan Gempa

Redaksi LombokPost

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost

Kurang Perhatian, Sungai Ancar Meluap

Redaksi LombokPost