Lombok Post
Headline Opini

DIPLOMASI KEMANUSIAAN LEMBAGA ZAKAT

Bambang Suherman
Oleh: Bambang SuhermanA�
[Direktur Mobilisasi ZIS Dompet Dhuafa & Sekjen FOZ 2012-2015]
****
a�?Jika kita memilih tidak peduli, lebih sibuk dengan urusan masing-masing, nasib negeri ini persis seperti sekeranjang telur di ujung tanduk, hanya soal waktu akan pecah berantakan.a�?
a�� Tere Liye, Negeri Di Ujung Tanduk
Dunia hari ini tidak pernah sepi dari kisah pilu. Peristiwa bencana alam dan persoalan kemanusiaan terjadi di hampir setiap belahan dunia.Selain gempa bumi, tsunami, longsor, peristiwa demi peristiwa yang terjadi di Suriah, Palestina, hingga Myanmar akibat konflik, meninggalkan nestapa yang luar biasa. Korban jiwa berjatuhan, kehilangan keluarga, harta, tempat tinggal, dan meraba masa depan yang semakin suram. Kenestapaan yang terjadi di negara dan belahan bumi lain itu akhirnya mendorong solidaritas negara lain untuk mengulurkan bantuannya, termasuk Indonesia.
Indonesia berperan aktif dalam berbagai misi kemanusiaan di wilayah-wilayah yang dilanda bencana, baik bencana alam maupun bencana kemanusiaan yang dipicu oleh konflik berkepanjangan. Peran aktif Indonesia, selain respons aktif pemerintahnya sendiri terhadap berbagai bencana, juga datang dari warga Indonesia itu sendiri. Sebagai contoh, aksi kolektif untuk menggalang bantuan bagi etnis Rohingnya di Myanmar, warga Palestina, atau korban perang Suriah, berlangsung begitu masif.
Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”116″ tax_operator=”0″ order=”desc”]
Respons Indonesia ini tidak lepas dari modal sosial yang dimiliki sejak lama, yaitu gotong royong dan rasa toleransi yang besar. Modal sosial inilah yang nantinya banyak berpengaruh pada bagaimana bangsa ini merespons berbagai isu-isu kemanusiaan, khususnya di wilayah luar Indonesia. Negara Indonesia memiliki rekam jejak sejarah yang sangat positif dalam hal mengulurkan bantuan kepada negara sahabat yang sedang dilanda kesusahan, baik akibat konflik kemanusiaan hingga bencana alam. Sebagai contoh, Perang Bosnia 1992-1995, Indonesia aktif dalam menyalurkan bantuan atas dasar kemanusiaan dan solidaritas sesama muslim. Begitu pula dalam bencana kelaparan hebat yang melanda Etiopia pada 1983-1985 yang merenggut korban hingga jutaan jiwa penduduknya.
Selama ini, jika terjadi konflik kemanusiaan di sebuah negara, maka, lembaga-lembaga kemanusiaan seperti Palang Merah Internasional, Bulan Sabit Merah, dan UNHCR jauh lebih dikenal oleh masyarakat dunia. Masyarakat internasional belum akrab dengan eksistensi lembaga-lemabag amil zakat sebagai unsur yang potensial turut berperan dalam proses pemulihan bencana.Sejatinya, kehadiran lembaga-lembaga amil zakat ini kian menambah sumberdaya untuk menyelesaikan persoalan kemanusiaan di negara lain. Selain itu, kehadiran lembaga zakat di titik-titik konflik berbagai belahan dunia juga merepresentasikan kehadiran umat Islam Indonesia untuk membantu meringankan penderitaan korban konflik kemanusiaan.
Jika terjadi bencana kemanusiaan di luar negeri, lembaga zakat dalam hal ini bisa meresponsnya dengan dua langkah strategis. Pertama, lembaga amil zakat menunggu langkah yang diambil oleh pemerintah Indonesia untuk ikut serta dalam penanganan bencana kemanusiaan dari negara lain. Langkah pertama ini merupakan bentuk relasi government to governmentatau antarpemerintah.Apabila lembaga zakat ingin turut serta dengan mekanisme ini, maka ada standar alur birokrasi yang harus ditaati.
Kedua, lembaga amil zakat dapat berperan aktif secara langsung. Lembaga dapat terjun atas nama rakyat Indonesia untuk menyalurkan donasi yang sudah dititipkan oleh publik tanah air. Langkah kedua ini bisa dikatakan sebagai a�?panggilana�? terhadap nilai-nilai lembaga amil zakat, untuk lekas membantu dan menyalurkan bantuan kepada pihak-pihak yang sangat membutuhkan. Dengan begitu, lembaga amil zakat telah bekerja untuk dua hal, yaitu membantu korban kemanusiaan. Kedua, mewakili dan membawa bendera negaranya untuk hadir di negara lain atas nama kemanusiaan.
Langkah kedua inilah, di mana lembaga menjadi representasi kehadiran negaranya, yang kemudian disebut dengan diplomasi kemanusiaan. Apa yang dilakukan oleh lembaga amil zakat ini bisa dikatakan lebih cepat, sederhana alurnya, dan akurat dalam menyelesaikan kebutuhan-kebutuhan bersifat pragmatis dan darurat. Kasus banjir Pakistan pada 2013 bisa dijadikan contoh bagaimana respons lembaga amil zakat di tanah air.A� Ketika itu lembaga amil zakat memutuskan terjun ke wilayah bencana, di mana Pemerintah Republik Indonesia kurang memberikan perhatian ke sana. Namun, ketika tiba di wilayah Pakistan, lembaga amil zakat menghadap ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di sana. Kedatangan ini adalah bagian dari a�?izina�? lembaga kepada perwakilan pemerintah negara asal lembaga bahwa ada misi dan respons kemanusiaan berupa penyaluran bantuan yang akan dilakukan di kawasan bencana.
Setelah difasilitasi, lembaga kemanusiaan dapat terjun untuk melakukan respons kebencanaan sekaligus menyalurkan bantuan yang dititipkan donatur asal Indonesia. Proses ini terbilang sukses menekan jumlah korban serta mempercepat proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana banjir bandang di Pakistan. Setelah semua kegiatan yang berkaitan dengan respons kemanusiaan tersebut selesai, Pakistan sebagai negara yang terpapar bencana memberikan apresiasi berupa ucapan terima kasih kepada pemerintah Indonesia. Ucapan itu ditujukan atas sumbangsih Indonesiamelalui lembaga amil zakat yang telah membantu penanganan bencana di negaranya tersebut.
Studi kasus banjir bandang di Pakistan tadi telah menegaskan betapa peran lembaga amil zakat mampu mendongkrak nama Indonesia, meski pemerintah Indonesia secara resmi tidak ikut dalam penanganan bencana tersebut. Inilah yang disebut sebagai diplomasi kemanusiaan. DI sinilah lembaga-lembaga amil zakat memiliki peran untuk membangun dan menyambung diplomasi antarnegara melalui aksi-aksi kemanusiaan.
Diplomasi Kemanusiaan di Pusaran Konflik Negara Lain
Diplomasi kemanusiaan untuk negara yang mengalami konflik antarkelompok bisa dikatakan jauh lebih sulit dibandingkan dengan aksi kemanusiaan untuk korban bencana alam. Jika kondisi ini, di mana lembaga kemanusiaan, termasuk lembaga amil zakat, harus turun membantu korban konflik kemanusiaan tadi, maka yang harus dilakukan adalah melakukan pemetaan (mapping) konflik di kawasan tersebut. Somalia adalah salah satu kawasan konflik yang bisa dijadikan contoh. Konflik yang terjadi di wilayah a�?tanduk Afrikaa�? ini bisa dikatakan telah berlangsung sejak dekade 80-an dan masih berlangsung hingga hari ini. Apa yang terjadi di Somalia adalah pertarungan antarklan yang menegasikan negara karena dianggap tidak mampu.
Di tengah pusaran konflik inilah, terdapat rakyat yang menjadi korban. Ratusan ribu bahkan jutaan orang inilah yang harus menanggung derita selama konflik berlangsung. Maka, ketika Indonesia melalu lembaga kemanusiaan, termasuk lembaga amil zakat di dalamnya, hadir untuk mengulurkan bantuannya, maka fokusnya adalah merespons para korban tadi. Merekalahyang menjadi obyek kelola lembaga kemanusiaan. Lembaga kemanusiaan tidak boleh terlibat dalam konflik elite di kawasan tersebut apalagi menunjukkan keberpihakan. Selain itu, jangan dilupakan, bahwa kehadiran lembaga kemanusiaan, termasuk lembaga amil zakat, merupakan representasi dari bendera Indonesia di kawasan Somalia.
Persoalan yang lebih rumit dapat kita lihat dalam konflik Suriah. Kompleksitas konflik di tingkat elite dan akar rumput menyebabkan korban berkelindan dalam lingkaran konflik yang besar. Prinsip kerja lembaga kemanusiaan adalah imparsial dan mendorong rekonsiliasi antar pihak yang berkonflik. Alhasil, berdasarkan kajian dan pemetaan yang mendalam, maka strategi terbaik untuk menyalurkan bantuan kepada korban adalah selain menggunakan jaringan lembaga sendiri, juga melibatkan entitas berwenang negara di tempat konflik berlangsung, agar bantuan bisa tersalurkan dengan baik.
Diplomasi kemanusiaan yang dilakukan oleh lembaga amil zakat dan lembaga kemanusiaan lagi sangatlah berbeda dengan pendekatan militer dan politik. Dalam diplomasi kemanusiaan, logika perang dan senjata dibuang jauh-jauh. Semua piranti yang berkaitan dengan perang digantikan oleh alat-alat produksi, seperti cangkul, sekop, dan keterampilan produksi. Semua itu bertujuan untuk menggeser kompetensi kombatan menjadi kompetensi memenuhi kebutuhan dasar kehidupan individu.A� Selain itu, lembaga amil zakat juga dapat mengumpulkan sumberdaya manusia terbaik, berupa kader-kader muda sebagai juru kampanye perdamaian. Langkah pembentukan kader ini dilakukan oleh Dompet Dhuafa melalui wadah Youth for Peace. Wadah ini terdiri dari kaum cendekia muda asal daerah konflik di Asia Tenggara. Mereka inilah yang duduk bersama mengupayakan perdamaian, khususnya di daerah asal mereka seperti Myanmar dan Filipina Selatan, hingga umumnya kawasan Asia Tenggara.
Bicara diplomasi kemanusiaan, tentu kita tidak bisa melepaskan diri dari apa yang terjadi dengan etnis Rohingya di Myanmar. Konflik yang terjadi pada saudara sesama muslim di kawasan Asia Tenggara itu mampu menggerakkan solidaritas publik di tanah air sedemikian rupa. Pemerintah Indonesia juga memberikan respons cepat melalui pemberian bantuan kepada etnis Rohingnya, hingga pembentukan wadah solidaritas aksi kemanusiaan yang diberi nama Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar disingkat AKIM. Aliansi ini sendiri terdiri dari 11 organisasi kemanusiaan, termasuk di dalam lembaga amil zakat.
Kasus Myanmar mampu memperkuat posisi lembaga amil zakat dalam peran diplomasi kemanusiaan. Kita dapat melihat bagaimana antarlembaga menempatkan diri pada posisi yang setara dalam mencari solusi bersama bagi saudara kita etnis Rohingya, juga berbagi sumberdaya dan pengetahuan masing-masing agar penyaluran bantuan dan rehabilitasi korban berlangsung cepat, hingga saling berkolaborasi melalui pembentukan aliansi bersama tadi. Berbagai peristiwa konflik yang terjadi seakan menegaskan bahwa diplomasi kemanusiaan adalah salah satu jalan terbaik yang bisa ditempuh untuk memperkuat eksistensi lembaga amil zakat dalam isu-isu internasional.***

Berita Lainnya

Jasad Bayi Membusuk di Bukit Korea

Redaksi LombokPost

Polda NTB Berikan Data Penyidikan ke Bareskrim

Redaksi LombokPost

Waspada Banjir Kiriman!

Redaksi LombokPost

Dinas Pendidikan Loteng Gelar Latihan Dasar Kepemimpinan

Redaksi LombokPost

Waspada Calo PNS !

Redaksi LombokPost

Sosialisasikan Migrasi Aman Dengan Drama Rudat

Redaksi LombokPost

Sukiman Ungkap Kekecawaan di Hari Pahlawan

Redaksi LombokPost

Bank Mandiri-Hiswana Migas-Pertamina Jalin Kerjasama

Redaksi Lombok Post

Baru Satu Kabupaten Ajukan UMK

Redaksi LombokPost