Lombok Post
Headline Metropolis

Lampaui Capaian Nasional, Ekonomi NTB Tumbuh 7,01 Persen

TUMBUH SIGNIFIKAN: Kepala BPS NTB Endang Tri Wahyuningsih menjelaskan pertumbuhan ekonomi NTB 2017, kemarin (5/2) FERIAL/LOMBOK POST

MATARAM-NTB terus menunjukkan diri sebagai salah satu daerah dengan ekonomi yang bergairah. Sepanjang 2017, NTB mencatatkan pertumbuhan ekonomi hingga 7,01 persen tanpa sektor pertambangan. Capaian pertumbuhan NTB ini jauh melebihi capaian pertumbuhan ekonomiA� nasional yang berada pada angka 5,07 persen.

Pertumbuhan ekonomi NTB tersebut dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) NTB kemarin (5/2). Tumbuhnya perekonomian NTB tanpa sektor pertambangan ini tercermin dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Seperti diketahui, PDRB adalah indikator penting untuk mengetahui kondisi ekonomi di suatu daerah dalam suatu periode tertentu, baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan.

PDRB sendiri menggambarkan jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu daerah, atau merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi pada suatu daerah.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Kepala BPS NTB Endang Tri Wahyuningsih di kantornya kemarin menuturkan, PDRB NTB atas dasar harga berlaku pada 2017 mencapai Rp 123,9 triliun. Meningkat pesat dibanding PDRB NTB atas dasar harga berlaku pada 2016A� yang mencapai Rp 116,5 triliun.

Sedangkan PDRB NTB 2017 atas dasar harga konstan mencapai Rp 94,6 triliun, terkoreksi tipis dari PDRB NTB atas dasar harga konstan yang mencapai Rp 94,5 triliun. Terus tumbuhnya sektor perekonomian di daerah diakui sebagai imbas program-program pemerintah yang berkaitan dengan upaya-upaya menggerakkan ekonomi NTB berjalan on the track.

Endang mengatakan, sektor pertanian masih menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi NTB.A� Sektor ini begitu bergairah, terutama saat sektor pertambangan dengan komoditas konsentrat yang diekspor ke luar negeri menunjukkan kinerja yang menurun.

a�?Lapangan usaha pertanian, perdagangan, konstruksi, transportasi dan jasa keuangan mampu tumbuh meyakinkan,a�? tandas Endang.

Pertumbuhan tersebut antara lain disumbangkan oleh pertanian sebesar 1,37 poin, diikuti oleh lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 1,02 poin dan lapangan usaha konstruksi sebesar 0,68 poin.

Sementara jika lebih dirinci, pertumbuhan tertinggi berturut-turut terjadi pada lapangan usaha jasa perantara keuangan sebesar 9,98 persen, lapangan usaha informasi dan komunikasi 8,66 persen dan lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, reparasi mobil dan sepeda motor yang tumbuh 8,64 persen.

Endang melanjutkan, ekonomi NTB selama 2017 masih didominasi oleh sektor primer.A� Share tertinggi terhadap PDRB NTB berturut-turut adalah lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 21,97 persen. Setelah itu diikuti oleh lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar 19,45 persen, dan lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 13,22 persen.

Terkait ekonomi NTB yang tumbuh 7,01 persen tanpa sektor tambang ini, Kepala Biro Humas dan Protokol NTB H Irnadi Kusuma mengungkapkan, kalau hal tersebut merupakan progres yang memuaskan. Dia menegaskan, hal tersebut mengonfirmasi upaya yang telah dilakukan Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi bersama Wakil Gubernur H Muhammad Amin dalam hal meningkatkan perekonomian NTB telah berjalan baik.

a�?Ini patut diapresiasi. Itu adalah usaha yang sangat maksimal di akhir masa kepemimpinan TGB-Amin,a�? tandas Irnadi.

Apalagi kata dia, tumbuhnya NTB hingga 7,01 persen sudah sangat tinggi. Mengingat pada tahun sebelumnya, pada posisi yang sama, NTB hanya tumbuh tanpa tambang mencapai 5 persen.

a�?Ke depan, tantangan tentu akan terus ada. Dan Pak Gubernur telah menginstruksikan pentingnya sinergi Organisasi Perangkat Daerah untuk terus menjaga pertumbuhan ekonomi daerah,a�? tandas Irnadi.

Sektor Tambang Menurun

Pada saat yang sama, dalam rilis pertumbuhan ekonomi kemarin, BPS mengungkapkan betapa sepanjang 2017 sektor pertambangan begitu menurun. Di NTB, sektor ini sangat dipengaruhi kinerja PT Amman Mineral Nusa Tenggara yang dulu dikenal sebagai PT Newmont Nusa Tenggara.

Karena kinerja sektor pertambangan sedang tidak bergairah, jika sektor ini dimasukkan dalam penghitungan pertumbuhan ekonomi, membuat pertumbuhan ekonomi NTB tergerus. Dan sepanjang 2017 menjadi hanya tumbuh 0,11 persen dibanding capaian tahun 2016.

Tentu saja, menurunnya kinerja sektor pertambangan ini bukan disebabkan kinerja pemerintah. Mengingat, fluktuasinya harga komoditas tambang, sangat dipengaruhi perekonomian dunia, dan fase penambangan yang diatur oleh internal perusahaan yakni manajemen AMNT.

BPS mencatat bahwa sepanjang 2017, sektor usaha pertambangan dan penggalian menjadi sumber kontraksi sebesar -5,15 poin dalam pertumbuhan ekonomi NTB. Karena itu, kata Endang, jika memasukkan sektor pertambangan, menjadikan pertumbuhan ekonomi NTB itu bisa fluktuatif.

Dia memberi contoh. Pada triwulan IV 2017 misalnya, perekonomian NTB dengan memasukkan sektor pertambangan hanya tumbuh sebesar 0,58 jika dibandingkan periode yang sama pada triwulan IV 2016. Penyebabnya adalah kinerja ekonomi pada lapangan usaha pertambangan yang tumbuh negatif selama triwulan IV 2017 sebesar -22,20 persen.

a�?Beruntungnya, ekonomi NTB di lapangan usaha lainnya cukup kuat menopang,a�? tandasnya.

Lapangan usaha yang dimaksud yakni lapangan usaha administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib tumbuh sebesar 12,65 persen. Diikuti pengadaan listrik, gas sebesar 11,20 persen dan lapangan usaha jasa perantara keuangan sebesar 10,71 persen.

Padahal, jika mengeliminir sektor pertambangan, maka pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan IV 2017 tumbuh sebesar 8,30 persen.

Sementara pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2017 dibandingkan triwulan III 2017 masih fluktuatif. Hal tersebut masih sangat dipengaruhi oleh faktor musim. Seperti panen raya padi, jagung, tembakau pada triwulan IV-2017 tidak ada. Sehingga bila dibandingkan dengan triwulan 2017 mengalami kontraksi sebesar -11,28 persen.

Endang mengatakan, triwulan IV merupakan masa berakhirnya panen raya daun tembakau. Hal ini berdampak pada penurunan kinerja lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan dengan kontraksi sebesar 17,67 persen. Lapangan usaha industri pengolahan mengalami kontraksi sebesar 23,28 persen. Dominasi lapangan usaha pertambangan dan penggalian dan lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan pada PDRB NTB memberikan kontraksi yang cukup tinggi. Ini mengakibatkan kedua lapangan usaha ini menjadi sumber kontraksi utama yaitu masing-masing -6,35 poin dan -3,85 poin.

Ia menambahkan, dari sisi PDRB pengeluaran, pertumbuhan ekonomi NTB tahun 2017 masih mampu tumbuh positif. YakniA� sebesar 0,11 persen jika dibandingkan dengan tahun 2016. Laju pertumbuhan ekonomi tahun 2017 dari sisi PDRB Pengeluaran sangat dipengaruhi oleh komponen net ekspor antar daerah dengan sumbangan sebesar 3,0 poin. Selanjutnya komponen konsumsi rumah tangga dengan sumbangan sebesar 1,03 poin, diikuti komponen PMTB sebesar 0,91 poin. Komponen pengeluaran konsumsi pemerintah berada sedikit di bawah komponen PMTB dengan sumbangan sebesar 0,70 poin.

a�?Komponen ekspor luar negeri sering kali mengakibatkan pertumbuhan ekonomi di NTB fluktuatif. Pada tahun 2017 memberikan sumbangan -5,58 poin,a�? akunya. Seperti diketahui, beroperasinya PTAMNT menjadikan konsentrat sebagai komoditas ekspor tertinggi NTB yang mencapai 99 persen.

Sehingga tatkala ekspor konsentra menurun, turut pula secara hitung-hitungan kinerja perekonomian pada tahun tersebut juga kena imbas. Padahal, di saat yang sama, komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit Rumah Tangga, yakni berbagai pengeluaran oleh lembaga untuk pengadaan barang dan jasa yang secara prinsip melayani rumah tangga, mampu tumbuh 6,14 persen dengan share terhadap total PDRB sebesar 1,46 persen.

Kinerja positif ini diikuti komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah dan Pembentukan Modal Tetap Bruto, yakni pengeluaran untuk barang modal yang mempunyai umur pemakaian lebih dari satu tahun dan tidak merupakan barang konsumsi, masing-masing tercatat tumbuh 5,75 persen dan 3,11 persen. (fer/r8)

 

Berita Lainnya

Jabatan Muslim Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Janji Manis Jadup Bernilai Rp 4,58 M

Redaksi LombokPost

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post