Lombok Post
Metropolis

Potret Pondok Pesantren di Tengah Kota, Sepi Peminat karena Banyak Godaan

MENIKMATI ISTIRAHAT SIANG: Beberapa Santri Pondok Pesantren Ittihadil Ummah Karang Anyar sedang menikmati istirahat siang dengan duduk di berugak pondoknya, kemarin (5/2). Fatih/Lombok Post

MATARAM-Di Pulau Lombok, Kota Mataram merupakan tempat yang paling sedikit memiliki Pondok pesantren. Menurut data yang dihimpun oleh Forum Kerja Sama Pondok Pesantren (FKSPP) NTB, Mataram hanya memiliki 32 Pondok Pesantren.

Menurut sekretaris FKSPP HL Istana Taufik, jumlah tersebut sangat jauh bila dibandingkan dengan daerah lainnya. Semisal Lotim dengan 184 Ponpes, Lobar dengan 111 ponpes, dan Lombok Utara dengan 49 ponpes. Apalagi jika dibandingkan dengan Loteng yang memiliki jumlah ponpes terbanyak. Yakni 225 ponpes.

Tak hanya sedikit jumlah ponpesnya, tapi jumlah santrinya juga tak terlalu membanggakan. Hanya beberapa ponpes yang memiliki santri banyak. a�?Ya sedikit. Salah satunya di Ponpes Darul Falah Pagutan (yang masih memiliki santri banyak),a�? kata H Taufik.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Kendala yang dihadapi menurut H Taufik memang terlihat dari sudah adanya ponpes-ponpes besar di daerah lain. Hal itu seperti Ponpes Nurul Haramain di Narmada dan Nurul Hakim di Kediri, Lombok Barat.

Selain itu, ia tidak bisa menjelaskan lebih detail tentang kehidupan ponpes yang ada di Mataram. Namun ia juga mengingatkan bahwa kemungkinan pergaulan anak-anak di kotaA� juga menjadi salah satu penyebabnya.

Salah satu pondok pesantren yang terbilang sepi santri di Kota Mataram adalah ponpes Ittihadil Ummah Karang Anyar, Sekarbela. Selain baru berdiri beberapa tahun, Ustad Saimi, pengurus ponpes tersebut mengatakan, kehidupan kota sangat mempengaruhi minat anak-anak untuk menjadi santri di ponpes.

a�?Di Mataram juga sudah banyak sekali sekolah formal. Itu merupakan saingan terberat kita,a�? terang Ustad Saimi.

Dari itu, ia sendiriA� membuat program-program unggulan yang tidak dimiliki sekolah formal. Salah satunya adalah ngaji kitab kuning, tahfizul quran dan ekstrakulikuler lainnya yang tidak dimiliki sekolah formal.

Adapun untuk menjaga santri agar tak terpengaruh godaan dari luar, Saimi mengatakan pihaknya memanfaatkan perayaan hari-hari besar Islam.

Pada saat itu, ia akan memberikan santri berkreasi sesuka hati. Mengembangkan bakat dan minat mereka. Meskipun semua itu tetap dalam aturan, bahwa santri tak boleh pulang tanpa izin dari ponpes.

a�?Kita sudah menerapkan aturan mondok. Memang hal itu tak jarang membuat beberapa santri tak betah dan minta pulang,a�? terangnya.

Akan tetapi, itulah konsekuensi dari peraturan yang diterapkan sebuah pondok pesantren. Apalagi berada di tengah Kota Mataram. Rasanya, sangat sulit untuk melihatnya besar. Kalau pun besar, bisa jadi para santrinya berasal dari luar Kota Mataram.

Sementara itu, Ketua Organisasi Santri Pesantren Ittihadul Ummah M Ramdan Al Kadri mengatakan, tidak banyak dari mereka yang akhirnya memilih kabur dari pondok. Santri yang berasal dari Pagesangan Timur itu sendiri telah bertahan selama tiga tiga tahun. Baginya, satu hal yang membuatnya betah menjadi santri adalah panca jiwa santri yang selalu dipegangnya. a�?Keihklasan, kebijaksanaan, kebersamaan, kemandirian, dan kelima keteguhan hati,a�? kata Ramdan.

Ia menerangkan, jika seorang santri mampu memegang panca jiwa santri tersebut, maka ia akan berhasil terhindar dari berbagai godaan yang ada di luar pondok. Fathurrahman, santri yang masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah (Mts) atau setara SMP mengatakan satu hal yang selalu membuatnya betah di ponpes adalah panca jiwa santri yang ketiga. a�?Di sini saya bahagia karena semua kita lakukan bersama-sama,a�? terang Fathurrahman.

Makan, tidur, ngaji, belajar, dan semua hal dilakukan bersama. Itulah yang membuat Fathurrahman merasa betah. Ia sendiri mengaku pernah kabur ketika baru beberapa hari berada di pondok tersebut. Namun lama kelamaan ia pun terbiasa.

Ditanya mengenai keinginannya melihat berbagai permainan di luar sana, ia mengatakan sudah tidak tertarik lagi mencobanya. Meskipun begitu, para santri juga sadar, bahwa tidak mudah untuk merasa betah berada di pondok pesantren. Apalagi ponpes tersebut berada di tengah kota. (tih/r5)

Berita Lainnya

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost