Lombok Post
Headline Metropolis

Belian-Belian Sasak Ahli Reparasi Tulang

BELIAN POLAK: H Muh Saiful (kopiah putih, kiri) saat tengah mengurut salah satu pasiennya, Muhamad Nasir usai kecelakaan beberapa waktu yang lalu, Senin (5/2). THEA/LOMBOK POST

Mereka bukan dokter, tapi jangan ragukan kemampuannya mengobati. Tanpa operasi dan alat-alat medis canggih, para Belian Sasak ini namanya kesohor dan melegenda. Sebab terbukti mampu menyambung tulang-tulang tubuh yang patah. Di tengah kemajuan pesat teknologi kesehatan, mereka setia menjaga ilmu kesehatan warisan leluhur. Yang luar biasa, untuk jasanya itu, mereka dibayar seikhlasnya. Mereka adalah penyelamat bagi penderita patah tulang yang tak berpunya.

————————————————————–

MADUN, 60 tahun duduk di ruang sederhana bersama beberapa orang pasien. Tempat itu semacam ruang tunggu bagi para pasien yang hendak berobat. Kedua pergelagan tangan Madun diikat perban putih.

Tangan Madun cedera, setelah dia jatuh di Gili Air beberapa hari lalu. Seketika, tangannya menjadi sangat sakit kalau digerakkan. Bukan ke dokter, Madun memilih beribat ke Belian Sasak. Madun tengah menunggu giliran berobat, kala Lombok Post menjumpainya.

Pria asal Pemenang, Lombok Utara itu hanya diam dan memandangi orang-orang di sampingnya. Mereka sama-sama menunggu giliran dipanggil melalui pengeras suara yang digantung di atas loket antrean.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Sesekali sorot mata Madun tertuju pada petugas loket yang sedang asik memainkan telepon genggam. Ia mengharap petugas itu segera memanggil nomor urut berikutnya. Tapi panggilan itu tidak kunjung datang. Jarum jam sudah menuding angka 13.00 Wita. Tidak terasa enam jam sudah ia duduk di teras itu. Dia sudah di sana semenjak pukul 07.30 Wita. Dua orang cucu yang menemani mulai gelisah. Cucu paling kecil merajuk, mengajak sang kakek pulang. Menunggu setengah hari memang bukanlah aktivitas yang menyenangkan.

Madun berangkat pagi-pagi buta dari rumahnya dengan membonceng sepeda motor. Tadinya ia berharap akan mendapat nomor antrean awal. Tapi sesampai di lokasi, Madun mendapat nomor 22. Rupanya pasien lain dari berbagai penjuru menyemut sejak pagi untuk mendapat nomor antrean lebih awal.

Pukul 13.15 Wita, pengeras suara itu berbunyi. Petugas loket membuat pengumuman. Pasien-pasien yang telah lama menunggu khusyuk mendengar. Tapi sayang itu bukan panggilan nomor urut. Petugas mempermaklumkan bahwa jam istirahat. Pelayanan akan dibuka lagi sekitar jam 14.30 Wita. Beberapa orang pasien pun memilih pulang, dan akan mendaftar esoknya lagi.

Madun pun beringsut. Ia akhirnya pulang ke Pemenang dan balik lagi pukul 15.00 Wita. Sementara pasien yang rumahnya jauh, tetap setia menunggu sampai mendapat giliran.

a�?Mau bagaimana lagi kita harus sabar. Yang nunggu juga banyak,a�? kata Madun tersenyum.

Madun, dan para pasien itu bukan sedang menunggu dokter di rumah sakit. Tapi mereka tengah antre di rumah Inaq Sunaah, pengobatan alternatif patah tulang atau keseleo. Inaq Sunaah melayani para pasien patah tulang tersebut di rumahnya di perkampungan Dusun Lendang Berora, Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung, Lombok Utara.

Sebagai ahli a�?reparasia�? tulang, Inaq Sunaah adalah belian yang kesohor. Pasien yang membeludak setiap hari, adalah bukti. Siapa para pasien itu? Mobil-mobil mewah yang disaksikan Lombok Post di tempat a�?praktika�? Inaq Sunaah akhir pekan lalu adalah bukti, latar belakang para pasien yang datang berobat. Bahkan, beberapa mobil plat Jakarta juga kerap nangkring di sana.

Melayani pasien sendirian, menyebabkan Inaq Sunaah harus memasang plang berisi pengumuman jam pelayanan. Di sana dengan jelas tertulis, pada hari Jumat tidak menerima pelayanan kecuali pasien darurat. Pendaftaran dimulai dari pukul 07.30 a�� 17.00 Wita, dan pengobatan dimulai pukul 08.00 Wita. Bagi pasien yang datang lebih dari 17.00 Wita tidak bisa dilayani, kecuali darurat. Selain itu, Inaq Sunaah juga tidak melayani pendaftaran melalui HP.

Meski harus menunggu giliran sepanjang hari, para pasien tetap setia menunggu. Bahkan sampai malam sekalipun. Itu karena tangan Inaq Sunaah benar-benar mujarab. Mereka yang datang merasa kerasan.

Madun mengakui kehebatan Inaq Sunaah. Saat kedua tangannya masih parah dan tidak bisa digerakkan, disentuh saja sangat sakit. Tapi Inaq Sunaah dengan cekatan mengurut tanpa rasa sakit.

a�?Saya heran dipegang-pegang tangan saya tidak sakit. Pulang dari sana sudah bisa jalan dan mendingan. Setelah tiga kali kontrol, sudah mulai sembuh,a�?A� tutur Madun bahagia.

Hal yang sama juga diarasakan Inaq Masrah, 50 tahun. Warga Dusun Dias, Desa Gengelang, Kecamatan Gangga itu mendapat nomor antrean 25. Meski diperkirakan akan mendapat giliran sore hari, tapi ia tetap menunggu sejak pagi. a�?Harus sabar,a�? katanya menghibur diri.

Ia tidak meragukan kehebatan Inaq Sunaah. Satu bulan lalu tangan kirinya patah saat terjatuh di depan rumah sendiri. Hari itu juga ia langsung dibawa ke rumah Inaq Sunaah, tapi karena sudah terlalu malam ia disuruh menginap.

A�Sediakan Kamar Penginapan

Bagi pasien seperti Masrah, Inaq Sunaah menyediakan tempat menginap. Tepat di samping ruang tunggu, ada dua rumah panggung. Di sanalah pasien-pasien Inaq Sunaah diinapkan.

a�?Saya semalam saja nginap. Setelah diurut tangan saya mendingan,a�? katanya.

Karena kondisi cukup parah, tangan Inaq Masrah harus diperban dan dipasangkan potongan bambu sebagai penyangga tulang. Sekarang ia sudah enam kali kontrol, meski masih sakit tapi tangan sudah bisa digerakkan. Selama dirawat Inaq Sunaah hanya mengurut pakai minyak jelengan.

a�?Tidak ada obat lain,a�? tutur Masrah.

Ia juga bersyukur, Inaq Sunaah tidak pernah mematok biaya perawatan. Meski selama menginap dilayani dan diberikan makan minum, tetapi ia tidak pernah ditarif besaran biaya. Setiap kali pijit mereka memberikan seikhlasnya.

a�?Tapi kita yang harus mengerti sendirilah,a�? tutu Masrah.

Saat Lombok Post datang akhir pekan lalu, rumah panggung Inaq Sunaah penuh. Tiga kamar rupanya tidak cukup, sehingga satu kamar dibuatkan dengan skat kain. Termasuk berugak di depannya juga disulap menjadi kamar rawat inap.

Mereka yang rawat inap kondisi cukup parah dan rumahnya jauh. Seperti Rizkia Anisa, siswi kelas VI SD asal Karang Kelok, Kota Mataram. Dia adalah korban pohon tumbang di Jalan Udayana beberapa waktu lalu. Ia selamat sementara keponakanya meninggal di lokasi kejadian.

Awalnya Rizkia dilarikan ke RS-AD. Rencananya akan dioperasi tim dokter, tapi sang ayah Maulid menolak. Ia tidak yakin dengan penanganan medis yang baginya sangat mengecewakan. Apalagi jika tangan anaknya akan dipasangkan pen, ia tidak mau.

a�?Akhirnya saya bawa ke sini,a�? tuturnya.

A�Banyak Pasien Menghindari Operasi Dokter

Ia lebih yakin jika ditangani pengobatan tradisional.A� Sama halnya dengan Ibu Ermita, warga Lingkungan Udayana Oloh, Kelurahan Monjok Barat, Mataram. Tulung pergelangan kakinya patah saat keluar rumah, dua minggu lalu. Ia pun langsung dibawa ke Inaq Sunaah. Ermita sendiri tidak mau ke dokter karena pasti dikasi pilihan operasiA� dan dipasang pen. Pen itu sewaktu-waktu bisa kambuh.

a�?Saya ke sini biar tidak dioperasi,a�? katanya.

Ia bersyukur setelah diurut, beberapa saat kemudian mulai agak sembuh. Kakinya bisa digerakkan. Meski harus tetap kontrol tiap minggu, namun baginya tidak masalah. Sebab kesehatan baginya sangat mahal.

a�?Di sini kami membayar seikhlasnya, tidak pernah diminta,a�? katanya.

Sumiati, seorang pasien asal Karang Baru, Mataram mengaku sedang menjalnai perawatan lanjutan. Terhitung sudah 17 kali dirinya datang kontrol, semenjak tangannya patah tulang akibat jatuh dari sepeda motor.

Menurut Sumiati, sejak datang pertama kali, kondisi tangannya semakin membaik. Pada saat baru terjatuh dari motor, tangannya tidak bisa digerakkan sama sekali karena sakit. Namun begitu dipijat pertama kali, langsung ada perubahan dan tangan bisa diangkat.

a�?Kalau sekarang tinggal pemulihan saja,a�? kata perempuan berjilbab ini.

Pasien lainnya Ida Ayu Suci Windari asal Sindu, Cakranegara yang sedang menunggu giliran juga bertutur. Bocah perempuan kelas 5 SD ini ditemani orang tuanya Ida Ayu Tantri. Dengan tangan kanan dililit perban menggantung, Suci terlihat tenang menunggu giliran.

a�?Ini yang kedua ke sini. Yang pertama hari Rabu lalu, setelah anak saya jatuh dan tangannya patah langsung saya bawa kesini,a�? ungkap Ida Ayu Tantri.

Tantri memilih membawa anaknya ke Inaq Sunaah karena sudah banyak keluarganya yang pernah diobati dan hasilnya memang terlihat. Bahkan Tantri tidak membawa anaknya ke rumah sakit terlebih dulu setelah anaknya tersebut jatuh dan patah tulang.

Selain karena sudah ada bukti hidup orang yang pernah diobati Inaq Sunaah, Tantri lebih memilih membawa anaknya ke Inaq Sunaah karena dirinya takut jika anaknya harus dioperasi ataupun dipasang pen.

a�?Kasian anak saya kalau harus dioperasi dan dipasangi pen. Belum lagi nanti harus dibuka pen itu,a�? tuturnya.

Sementara itu, Suci yang ditanyai koran ini mengaku tidak merasakan sakit apa-apa saat Inaq Sunaah mengurut tangannya yang patah. Setelah diurut sekitar 15 menit, tangan kanan yang patah langsung dipasangi perban dan kayu penyangga.

Selama menjalani pengobatan, Suci juga dianjurkan untuk tidak mengkonsumsi beberapa jenis makanan seperti telur, ayam, dan kangkung.

Hakkulyakin, warga asal Bayan sudah satu bulan menginap di rumah Inaq Sunaah. Alfian, A�anaknya yang masih duduk di kelas VIII SMP harus dirawat inap setelah ditabrak kendaraan dari belakang saat pulang dari mengaji. Saat itu, sempat dibawa ke Puskesmas dan dirujuk ke RSUD NTB. Tapi sang ibu tidak mau karena takut kaki anaknya dioperasi.

Ia merasa beruntung membawa anaknya ke Inaq Sunaah. Kini lukanya sudah mau kering. Selama menginap mereka mendapat perawatan yang baik. Layaknya dokter, Inaq Sunaah akan mengontrol pasien tiga kali sehari. Meski tidak diminta, tapi setiap kali diurut, ia kadang-kadang memberikan uang antara Rp 50 ribu. Selama di rawat mereka juga dikasi makan minum.

a�?Pelayanan bagus dan setiap hari kami dikasi makan,a�? katanya.

Sama halnya dengan Inaq Amenah, asal Semayan, Praya Lombok Tengah. Setelah dua bulan sakit, ia akhirnya dibawa ke Inaq Sunaah Januari lalu. Ia memilih ke Inaq Sunaah karena tidak mau ke rumah sakit. Meski pengobatan serupa juga ada di Leneng, Praya, tetapi karena perempuan ia lebih nyaman dirawat Inaq Sunaah. Karena yang sakit adalah tulang bagian pantat dan harus buka sarung saat akan diurut.

a�?Dulu tidak bisa bangun, tidak bisa apa-apa. Tapi sekarang sudah bisa bolak balik,a�? katanya sambil terbaring.

Hingga sore hari, tidak ada tanda-tanda rumah Inaq Sunaah akan sepi. Beberapa pasien dan keluarga pengantar menunggu sambil tidur-tiduran pada berugak yang ada. Lombok Post meminta waktu kepada Inaq Sanaah, tapi hari itu ia amat sibuk, tidak hanya karena melayani pasien, tapi cucu ke tujuhnya baru saja lahir. Ia berusaha mencuri-curi waktu untuk melihat kondisi sang anak. Itu pun tidak lama, lalu ia kembali melayani hingga malam.

Beruntung Lombok Post dipersilahkan masuk sebentar melihat ruang kerja Inaq Sunaah. Ruang praktik itu tidak luas, hanya berukuran 2×2 meter dan beralaskan tikar. Di sampingnya ada ember berisi minyak urut, gulungan perban, serta rak yang berisi berbagai peralatan, serta bahan minyak urut.

Di dalam ruangan Inaq Sunaah seperti tidak sedang merawat pasien. Ia sangat humoris dan suka bercanda. Pasien-pasiennya nampak ketawa-ketawa dengan candaan, tanpa menyadari pengobatan sudah selesai. Tidak ada mantra-mantra, apalagi ritual khusus. Tangan Inaq Sunaah sudah sangat terlatih, sehingga tahu bagian tubuh mana yang harus diurut.

Beberapa kali Lombok Post diminta keluar jika pasien itu merasa tidak nyaman difoto. Bahkan Inaq Sunaah was-was jika difoto karena merasa tidak nyaman. Tapi nenek tujuh cucu itu menuturkan, kemampuannya mengobati orang sudah diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang. Ilmu itu diwariskan dari sang bapak almarhum H Muhammad Fadli.

a�?Dia tidak mewariskan saya harta. Tetapi ilmu ini,a�? tutur Inaq Sunaah.

Sejak gadis Sunaah sudah belajar menjadi tukang urut. Pertama-tama ia mengobati kaum perempuan. Mereka biasanya malu jika dipijat laki-laki sehingga ia selalu diminta tolong mengobati. Ia pun dipanggil dari rumah ke rumah. Lambat laun namanya semakin dikenal. Kini tidak hanya perempuan, laki-laki juga diobatinya.

Sunaah tidak pernah meminta imbalan apapun dari pasien, mereka boleh memberikan seikhlas dan semampunya. Kepada pasien yang dirawat pun ia tetap memberikan makanan. Karena itu dapurnya selalu mengepul setiap hari. Anak-anaknya ditugaskan memasak makanan. Masalah biaya baginya tidak jadi soal, rezeki selalu ada. Ketika pulang, pasien biasanya memberikan seikhlasnya. Kalaupun tidak memiliki uang juga tidak masalah.

Ditanya alasannya, Inaq Sunaah hanya menjawab itu merupakan wasiat dari orang tua dan nenek moyangnya. Bila mau mematok tarif, mungkin Inaq Sunaah sudah kaya raya. Tetapi hal itu tidak mungkin ia lakukan.

a�?Tidak berani saya ingkari warisan bapak saya,a�? kata ibu empat anak itu.

A�”Kamu tidak saya wariskan harta, cuma ilmu sama minyak ini saja yang menjadi warisan kamu. Tidak ada sawah,a�? tutur Sunaah mengingat wasiat sang ayah.

Tapi justru itulah yang membuat banyak orang senang. Setiap hari rumahnya tidak pernah sepi. Tidak hanya warga biasa, anggota TNI, polisi dari Jakarta pernah datang berobat ke tempatnya. Turis asing di gili-gili juga datang. Bahkan pengusaha dari Arab pun pernah memanggilnya untuk diobati. Biasanya ia meminta agar dirinya yang datang ke hotel.

a�?Tapi tidak usah saya sebut siapa-siapa. Tidak bagus,a�? katanya singkat.

Berkah Bagi Tetangga

Keberadaan Inaq Sunaah membawa berkah bagi kampungnya. Tetangga yang tinggal di sekitar rumahnya mendapat keuntungan, mereka membuka warung dan berjualan makanan. Juga ada yang membuka kos-kosan.

Hj Insyah misalnya. Dia membuka warung kecil-kecilan yang menjadi tempat belanja warga yang datang berobat. Menurutnya sejak dulu memang sudah ramai. Banyak orang datang belanja ke tempatnya.

Sementara tepat di sampingnya, Pak Syukur dan Ibu Debi membuka kos-kosan. Ada empat kamar yang disediakan dengan halaman luas. Biaya sewanya Rp 600 ribu per bulan. Keberadaan kos-kosan itu sangat membantu keluarga pasien. Terutama bila rumah Inaq Sunaah penuh. Kos-kosan itulah yang menjadi tempat menginap sementara.

Saat Lombok Post ke sana, ada Martini, warga Kota Mataram yang sedang menyawa kamar kos. Sudah hampir satu bulan dia di sana. Sang anak yang mengalami patah tulang paha harus dirawat intensif. Daripada bolak balik ke Mataram ia lebih baik tinggal di kos-kosan itu.

a�?Saya tidak mau anak saya dioperasi, makanya bawa ke sini,a�? katanya.

Sudah banyak bukti yang menunjukkan hasil pengobatan Inaq Sunaah bagus. Bahkan mereka yang dirawat di dokter juga dibawa ke Inaq Sunaah.

a�?Anak saya sekarang sudah banyak perubahan,a�? ujar Martini.

Belian Generasi Ketiga di Leneng

Tentu saja, di Gumi Sasak, tak cuma inaq Sunaah yang merupakan belian Sasak ahli reparasi tulang. Di Leneng, Praya, Lombok Tengah juga ada Belian Sasak yang juga kebanjiran pasien. Ia adalah Suharlan, yang merupakan generasi ketiga dari keturunan sebelumnya, Papuk Semah dan H Arifin. Ilmu yang didapatkannya pun turun temurun tanpa belajar.

Sejak tahun 1989 silam, Suharlan sudah mulai membantu orang tuanya H Arifin. Praktiknya pun di rumah. Setiap hari, pasti ada saja pasien yang datang. Paling sedikit lima orang dan paling banyak 20 orang. Buka 24 jam, tidak ada hari libur.

Dulu, sebelum perkembangan dunia kesehatan semaju sekarang, jumlah pasien tiap harinya kata Suharlan bisa puluhan orang. Bahkan, sampai ada daftar tunggu. Kendati demikian. Yang datang juga bukan hanya dari NTB saja. Bahkan di luar NTB seperti Bali, Jawa dan Sumatera. Ada juga, dari Australia, Malaysia dan Jerman.

a�?Mereka dapat informasi dari mulut ke mulut. Alhamdulillah,a�? ujar Suharlan pada Lombok Post, Senin sore (5/2) lalu.

Suharlan menuturkan, kemampuannya menangani pasien patah tulang tak lepas dari minyak oles. Namun, bukan sembarangan minyak. Karena, dibuat pada Maulid Nabi Muhammad SAW saja. Minyak tersebut dinamainya minyak Leneng Patah Tulang, atau hampir sama dengan minyak Sombek Desa Muncan, Kopang. Hanya saja, tidak beredar bebas atau diperjualbelikan.

Minyak yang diracik pada bulan Maulid itu, kata pria kelahiran 1969 ini disebut juga induk atau ibunya minyak. Kalau pun habis, maka ada cadangannya. Tapi, cadangan itu kategori anak-anaknya minyak. a�?Tapi, khasiatnya sama saja,a�? cetusnya.

Sudah puluhan ribu, orang yang datang ke tempat praktiknya. Dari patah tulang, salah urat, luka bakar hingga tulang remuk. Kalau kondisinya parah, terkadang pasien menginap di ruang tamu yang ia sediakan. Di sana ada satu kasur dan satu bantal. Namun, kalau pasien membeludak, ia menambah kasur dan bantal, bisa menampung empat orang.

Begitu pasien datang, biasanya Suharlan menanyakan keluhan yang diderita. Setelah itu dia masuk ke kamar keluarga guna mengambil perlengkapan kesehatan. Beberapa puluh menit kemudian, ia sudah membawa piring berisikan minyak oles dalam sebuah botol kecil. Kemudian, air putih dan plester dan perban untuk membalut luka.

Sebelum pasiennya dipijat, ia menyuguhkan air putih yang sudah didoakan kepada pasiennya. Setelah diminum, barulah ia mengoles minyak di bagian yang dikeluhkan pasien. Kemudian, kedua tangannya mulai merambah urat-urat atau tulang yang mengalami patah dan atau remuk.

Suharlan tahu tahu dimana posisi tulang yang patah. Dia tahu kalau hanya salah urat saja. Atau tulang yang remuk. a�?Kalau ketempat saya, Insya Allah tidak perlu lagi ke rumah sakit,a�? ujarnya.

Selama memijat, ia mengaku tidak boleh diajak bicara. Karena, diamnya itu membaca doa-doa dan berkonsentrasi guna menyambung tulang yang patah atau pun remuk. Begitu tugasnya selesai, barulah sesi jabat tangan pun dilakukannya.

Seperti Inaq Sunaah, dia tidak menerapkan tarif. Yang penting, pasiennya sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasanya.

a�?Itu saja,a�? katanya lagi.

A�Amaq Mustim Ternama tapi Sederhana

Sementara di Sembalun, Lombok Timur, Belian Sasak ahli patah tulang juga ada. Namanya Amaq Mustim. Saking namanya sudah kesohor, orang Sembalun punya doa yang begitu unik untuk Amaq Mustim. Berkat kehadirannya yang selalu membantu siapapun, warga Sembalun berdoa agar pria ini “Tidak Mati alias Awet”.

Jumat pekan lalu, Lombok Post menyambangi kediaman Amaq Mustim di Sembalun. Selepas dari Masjid, Amaq Mustim terlihat tengah asik menyeruput secangkir kopi di gubuk kediamannya di Sembalun Lawang.

Belum setengah gelas Amaq Mustim menyeruput kopinya, seorang tamu berpeci putih datang ke rumahnya. Dialah H Mulyono, warga Desa Sembalun Bumbung yang meminta jasa Amaq Mustim untuk mengobati anaknya. “Kebetulan anak saya lengannya keseleo. Makanya saya mau minta beliau untuk datang mengobatinya,” ucapnya.

Namun, sebelum berangkat, Amaq Mustim meminta izin terlebih dulu kepada H Mulyono untuk menghabiskan kopinya. Sambil menjawab sejumlah pertanyaan Lombok Post yang datang untuk mewawancarainya. Terkait kiprahnya menekuni dunia kepengobatan tradisional.

Amaq Mustim memiliki nama asli Martha. Namun orang lebih akrab mengenalnya Amaq Mustim. Diambil dari nama anak tertuanya. Dia mengaku lahir sekitar 70 tahun silam. Tidak tahu pasti kapan tanggal dan tahun lahirnya. Yang jelas kakek 15 cucu dan dua cicit ini mengaku usianya kini lebih dari 70 tahun.

Pilihan untuk menekuni dunia pengobatann tradisional diungkap Amaq Mustim sebenarnya bukan keinginan pribadi. Hanya saja ia mengaku beruntung mewarisi kemampuan almarhum ibunya Inaq Rayuna.

Semua bermula ketika ia berusia sekitar 15 tahun. Ia mengaku mendapat semua kemampuan pengobatannya melalui mimpi. “Ya waktu itu malam Jumat. Saya mimpi didatangi orang berbaju putih diajari segala macam jampi-jampi (Mantra, Red) untuk mengobati orang. Mulai dari yang keseleo patah tulang hingga penyakit gaib,” aku pria enam anak tersebut.

Ia pun kemudian memberitahukan hal tersebut kepada ibunya. Perlahan, ibunya yang semula biasa menangani pasien yang datang berobat memintanya untuk membantunya. Seolah naluri maupun teknis mengobati begitu saja dimiliki oleh Amaq Mustim. Tanpa bimbingan atau latihan, ia langsung mengobati sejumlah orang yang datang berobat. Mulai dari keseleo, patah tulang hingga luka-luka bisa diobatinya.

Satu per satu, warga yang datang berobat bisa disembuhkannya. Sehingga, membuat namanya pun cukup dikenal di wilayah Sembalun. Sejumlah penyakit yang cukup kesulitan ditangani tim medis dokter Puskesmas atau rumah sakit biasanya akan datang kepadanya.

Salah satu pasien yang pernah ditanganinya yakni Camat Sembalun Usman yang menjadi korban pohon tumbang. Dimana, saat itu Usman tengah mengendarai mobil ketika pohon menimpanya dan istrinya. Dalam kejadian naas itu, istri Usman meninggal dunia. Sedangkan dirinya harus mengalami patah tulang dibagian leher.

“Saat itu saya lihat kepalanya ditonggak dengan alat khusus. Saya bilang kalau itu dibiarkan seperti itu terus menerus, malah lehernya nanti nggak bisa digerakkan,” aku Mustim.

Sehingga, kepada Usman, ia pun meminta perban dan segala macam alat penonggak lehernya dilepaskan. “Saya urut kembalikan urat-urat seperti semula. Alhamdulillah tiga hari saya urut kasih jampi saya suruh jalan lehernya mulai normal,” ucap Mustim.

Benar saja, Usman yang semula terlihat kurang percaya merasa lehernya mulai membaik dan normal bisa digerakkan kembali. Padahal, kondisi sebelumnya, ia berpikir apa yang dialaminya akan sulit diobati.

a�?Makanya kalau orang Sembalun semua tahu dia. Tanya aja Amaq Mustim, semua orang tahu. Saya juga berobat di dia,” saran Usman ketika Lombok Post menanyakan alamat pria ini.

Mustim mengaku, untuk segala macam cedera otot atupun tulang ia pernah menanganinya. Mulai dari tulang yang patah, tulang yang keluar dari kulit, tulang busuk dan berbau hingga yang lainnya.

“Beberpa tulang yang rusak juga banyak yang saya tanam di tanah, karena memang lebih baik dilepas. Tetapi setelah ditangani seperti itu justru kondisi pasien lebih baik,” bebernya menunjukkan pekarangan rumah tempatnya menanam sisa tulang pasien yang membusuk.

Semua penyakit cedera otot dan tulang diyakini Amaq Mustim bisa diobati. Hanya saja, ia mengaku tak bisa menangani pasien yang sudah menggunakan pen atau pelat besi di dalam tubuhnya. Sehingga, jika sudah ditanami pen pengganti tulang, biasanya Amaq Mustim akan menolak pasien tersebut. Kalau pun menerima, ia mengaku tidak menjamin bisa mengobati pasien tersebut sama seperti pasien lainnya.

Untuk itu pula Amaq Mustim menjadi tenaga pengobatan tradisional binaan Puskesmas Sembalun.

Kini namanya begitu kesohor. Tidak hanya di Sembalun tetapi juga di di luar wilayah Sembalun. Misanya seperti Selong, Suralaga hingga Pringgabaya. Bahkan beberapa kali ia harus keluar wilayah Lombok Timur untuk menangani pasien di wilayah Mataram dan Gunung Sari Lombok Barat yang meminta jasanya.

a�?Ada juga yang dari Sumbawa dan Bali kadang nginap di rumah berobat. Saya juga tidak tahu mereka dapat informasinya dari mana,” aku Amaq Mustim.

Bahkan, beberapa orang dari luar negeri datang kepadanya juga. Ada dari Eropa dan juga Timur Tengah. a�?Bahkan ada yang dari Mesir juga dulu saya tangani beberapa hari. Bisanya mereka keseleo atau cedera saat mendaki Rinjani. Porter atau guide-nya langsung membawanya kemari,” tuturnya.

Ada yang bisa ditangani dengan cepat, ada juga yang butuh waktu lebih lama. Tergantung kondisi cedera atau sakit yang dialami pasien tersebut. Yang butuh waktu lama, biasanya menginap di Gubuk Mustim yang seadanya.

Saking banyaknya yang datang berobat, dia mengaku kadang kewalahan. Apalagi, kata dia, nggak bisa satu pasien itu hanya sekali diobati. Minimal tiga kali dan kita bisa rasakan kondisinya baru berani kita lepas.

Dengan sepak terjangnya di dunia pengobatan tradisional, kondisi Amaq Mustim begitu sederhana. Ia tak bergelimang harta karena orientasi jasanya tidak untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya. Kadangkala, jasa pengobatannya dibalas dengan uang dan beras. Namun kadang juga sekadar sebungkus rokok dan ucapan terima kasih. Namun itu semua disyukuri dan dinikmati oleh Amaq Mustim.

Hanya saja, melihat banyak yang datang dan menginap di rumahnya ada yang mengganjal di hati Mustim. Gubuknya yang reot dan sangat sederhana kadang dinilainya tidak layak bagi mereka yang datang menginap tersebut. Sehingga, ia berharap ada bantuan perbaikan rumah tidak layak huni.

Kadang ndeq te semel leq temue saq dateng berobat serioq bale langgaqte. (Kadang saya malu dengan tamu yang berobat melihat rumah saya),” ucapnya.

Di luar itu, Mustim terlihat begitu tenang dan sabar. Tak pernah mengeluhkan masalah imbalan jasa atau yang lainnya dari pasiennya. Ia juga tak pernah meminta atau memaksakan tarif tertentu kepada pasiennya.

“Prinsip saya hanya satu, kalau orang sembuh pasti orang tersebut akan mendoakan yang baik bagi kita. Itu sudah cukup,” katanya.

H Saiful dari Mapak Melegenda

Di Kota Mataram, belian Sasak Patah Tulang juga ada. Ada H Muhammad Saiful. Pria setengah abad itu adalah empunya belian polak (patah tulang) asal Mapak, Kelurahan Jempong Baru, Kecamatan Sekarbela, Mataram.

Nama besarnya sudah menggema di seantero Pulau Lombok. Orang bahkan harus mengantre di rumah milik Saiful sejak pagi hari hingga malam hari untuk mendapatkan jasanya. a�?Saya datang mengobati kaki ponakan saya yang patah karena kecelakaan,a�? kata Sabri, warga Kayu Putih, Desa Tawun, Pelangan, Sekotong, Lombok Barat saat dijumpai Lombok Post, di halaman rumah Saiful sang legenda pijat itu, Senin (5/2) lalu.

Sabri mengaku kerap datang ke tempat pemijatan milik H Saiful jika keluarga dan dirinya mengalami patah tulang. Karena kerap merasakan khasiat dari pijatan Saiful, Sabri mengaku menjadi pasien setianya selama beberapa tahun belakangan.

Saiful memilih ke H Saiful karena takut akan saran dokter. Pasalnya, keponakannya yang mengalami patah tulang disarankan untuk operasi.

a�?Pasti biaya yang dibutuhkan sangat besar. Untuk menangani itu semua, kami datang ke Pak Haji,a�? tuturnya.

Serupa dengan Sabri, I Gusti Ayu Dewi Uttari Matas, salah satu warga Pagesangan, Mataram mengaku menjadi salah satu pasien Saiful. a�?Sudah lama banget saya jadi pasien pak haji (sapaan akrab H Muh Saiful). Kira-kira 20 tahunan lah,a�? kata Dewi pada Lombok Post, kemarin (6/2).

Selain Dewi, ibunya juga menjadi salah satu pasien tetap dari Saiful.

a�?Kalau keseleo sedikit, kami pasti datang ke pak haji. Seperti saat ini contohnya,a�? ujarnya.

Kedatangan mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Mataram semester dua itu untuk menemani sang ibu untuk diurut oleh Saiful. Dimana, kondisi sang ibu saat itu tengah mengalami keseleo bagian belakang punggungnya.

a�?Habis dari sini pasti ibu langsung sembuh. Pokoknya mujarap,a�? jawabnya.

Untuk mendapatkan khasiat mujarap dari H Muh Saiful, Dewi mengaku harus mengantre berjam-jam. a�?Kalau mau sembuh ya harus sabar,a�? ujarnya tersenyum.

a�?Beliau tidak mematok, mau bayar atau tidak. Pokoknya seikhlasnya,a�? tambahnya.

Soal tak ada tarif itu, H Saiful sendiri mengaku sudah cukup senang jika para pasiennya sembuh. Saking banyaknya pasie, dia sampai lupa berapa orang setiap hari yang datang berobat. a�?Berapa ya, sayaA� lupa. Tidak menghitung jumlah pasien soalnya,a�? kata Saiful sambil terus memijat pasien-pasiennya pada Lombok Post. Pasien dilayani di sebuah berugak di rumahnya. (ili/puj/dss/ton/tea/r8)

Berita Lainnya

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post