Lombok Post
Feature

Hidup Tak Bisa Hanya Diukur dengan Akal

AKRAB: Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi (kiri) berbincang bersama pendiri Ponpes Progresif Bumi Shalawat KH Agoes Ali Masyhuri saat silaturahmi Minggu (11/2). HUMAS NTB FOR LOMBOK POST

Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi mendapat undangan berbagai kegiatan dari Pulau Madura. Dalam agenda super padat itu, Gubernur NTB menyempatkan untuk mendatangi kiai sepuh di Sidoarjo.

***

SETELAH melalui jalur macet, akhirnya kendaraan tiba di Desa Lebo, Sidoarjo, Minggu (11/2). Tertulis di gerbang pintu masuk, Pondok Pesantren Progresif Bumi Shalawat. Sejatinya rombongan ini sudah mulai bergerak semenjak sebelum Subuh. Rombongan ikut mendampingi pengajian Subuh di Masjid Al Falah, Surabaya.

Pria berkacamata bersarung coklat turun dari mobil hitam. Senyum mengembang menyapa sejumlah orang di sekitar pondok. Sosok ini adalah Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi.

“Selamat datang Tuan Guru Majdi, saya kemarin ke Lombok saat Munas Alim Ulama, tapi gak sempat ke sana,” sapa lelaki paruh baya berkopiah putih.

Dengan reflek, TGB langsung mengambil tangan pria sepuh ini dan menciumnya. Mereka berpelukan akrab. Pria paruh baya ini tak lain muassis (pendiri) Ponpes Progresif Bumi Shalawat KH Agoes Ali Masyhuri. Tangan TGB langsung digandeng dan diajak masuk.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ order=”desc”]

“Ayo Tuan Guru makan dulu, ini ada rawon enak. Rawon internasional namanya,” ajaknya.

“Sudah, sudah kiai. Kami sudah makan,” jawab TGB.

Jawaban TGB itu langsung direspon dengan panggilan ke dalam rumah. Dan seorang pria langsung membawa piring dan bungkusan. Tak lama menyusul mangkok-mangkok besar berisi rawon. Bukan hanya TGB, rombongan yang menyertai pun diminta untuk ikut makan.

Baru beberapa suap nasi masuk, Abah Ali begitu biasa disapa, bercerita soal kesannya yang beberapa waktu lalu datang di Lombok. Makanan yang membuatnya kaget adalah ares, sayur dari bagian dalam gedebong pisang.

“Nek kene gak kanggo, kok malah di Lombok dimasak. Tapi rasane yo enak. (Disini tidak dipakai, kok malah di Lombok dimasak. Tapi rasanya ya enak),” cerita Abah Ali ke sejumlah tamunya.

“Iku bumbune opo yo?(itu bumbunya apa ya?,” tanya Abah Ali.

Belum selesai cerita ares, Abah Ali langsung mengungkapkan soal warga Lombok yang religius. Banyak masjid dan kerap berkumandang pengajian. Hal yang membuat siapa pun berada di Lombok tenang dan bahagia. Mendengar cerita ini TGB menanggapi dengan senyum.

Obrolan dua ulama beda generasi ini kian menarik saat Abah Ali berkisah perjalanan pendirian ponpes. Tak bisa diduga, sekarang bisa memiliki bangunan megah. Yang membuatnya cukup bahagia, di antara santrinya bisa membuat drone. Meski harus berulangkali gagal dan butuh biaya tinggi, santrinya itu pantang menyerah.

“Wah, bisa buat drone, hebat sekali,” puji TGB.

Gubernur dua periode NTB ini menilai pembuatan drone butuh teknologi mumpuni. Bila dari ponpes bisa mewujudkan, tentu ini luar biasa.

“Bukti bila ponpes tak kalah,” lanjutnya.

Bicara mengenai ponpes, Abah Ali menyebut, selalu ada barokah tersendiri yang didapat. Dahulu ia ngaji di Mbah Mad, Sarang, Kabupaten Rembang. Meski acara mengajinya menurutnya kurang jelas, nyatanya akhirnya begitu leluar pesantren bisa mengaji.

“Seng penting ojo sampek nduwe niat elek. Urip iku ora iso diukur mung karo akal. (Yang penting jangan sampai punya niat buruk. Hidup tidak bisa hanya diukur dengan akal),” terang Abah Ali.

Kiai 66 tahun ini melanjutkan, hasil didikan ponpes di Indonesia pun terbukti melahirkan ulama yang disegani di luar negeri. Sebut sajaA�Syekh Ihsan, Jampes. Secara gramatikal karyanya nyaris sama dengan Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali.

“Padahal itu beda tahun sangat jauh. Namun bisa menghasilkan karya luar biasa, saya kagum betul,” imbuhnya.

Hal-hal tersebut menurut Abah Ali, segala sesuatu tak bisa diukur dengan akal. Termasuk ketika ia membangun pondok. Semua berjalan mengalir tanpa manajemen yang njelimet. Hasilnya ponpes berkembang dan bangunannya kian besar.

“Ya sudah yakin saja sama barokah itu,” tandasnya.

TGB sempat menyinggung bila Abah Ali memiliki kekerabatan dengan KH Maimoen Zubair. Dikatakan, jalurnya sama berasal dari Mbah Mukhdor. Meski usia Abah Ali lebih muda, ia dipanggil paman oleh KH Maimoen Zubair.

Obrolan Abah Ali dan TGB terbilang cukup cair. Sesekali Abah Ali menepuk lutut TGB. Abah Ali pun sempat memuji TGB sebagai pemimpin yang lengkap, tak hanya umara namun juga ulama.

Terlihat beberapa kali TGB juga tertawa dengan bahasa Abah Ali yang blak-blakan. Sebelum melepas TGB pamit, Abah Ali mengungkapkan, akan datang ke Lombok membahas banyak hal dengan TGB. (FEBRIAN PUTRA, Madura/r8/bersambung)

Berita Lainnya

Bilik Bercinta di Tempat Pengungsian yang Tinggal Cerita

Redaksi Lombok Post

Pengalaman Dramatis Pendaki Terjebak Gempa di Gunung Rinjani (1)

Redaksi Lombok Post

Mereka yang Tetap Tegar Menghadapi Gempa di Sambelia

Nasihat Mendiang Ayah Menjadi Pegangan Hidup Zohri

Mengunjungi Lalu Muhammad Zohri, Sang Juara Dunia

Lalu Muhammad Zohri, Sprinter Muda NTB yang Sabet Juara Dunia

Melihat Festival Layang-Layang Raksasa di Pantai Loang Baloq

Kisah Penambang yang Lolos dari Lubang Maut Sekotong (1)

Festival Seribu Bedug di Pulau Seribu Masjid

Redaksi Lombok Post