Lombok Post
Headline Metropolis

Melawan Takdir Punahnya Buku

BACA BUKU: Seorang mahasiswa nampak serius memilih buku diantara rak buku di Perpustakaan Daerah NTB, di Kota Mataram, kemarin (13/2). IVAN/ LOMBOK POST

Tak bisa dianggap sepele. Teknologi telah merampas segala kejayaan buku-buku di rak-rak besi yang kini mulai berdebu nan lapuk. a�?Bukua�� baru hadir dari kaca, dengan gradasi warna dan cahaya dari manipulasi komponen elektronik yang super canggih!

—————

JANGAN mengelak. Teknologi memang sudah sangat telak menghantam masa emas buku-buku dari serat kayu. Lihat saja perpustakaan yang sudah mulai lengang. Jauh berbeda dengan tahun 90-an bahkan jauh ke belakang.

Ya. Mungkin ini waktunya. Buku dari serat kayu akan jadi naskah kuno. Sekuno melihat tulisan di atas lontar. Dan suatu saat nanti buku mungkin akan membuat anak, cucu atau cicit, terheran-heran melihatnya. Layaknya umat manusia saat ini yang terkagum-kagum melihat catatan sejarah di atas kulit domba.

“Main ke perpus sensasinya kayak di film Hary Potter,” kata Aqila Anggraeni, Mahasiswi IKIP Mataram yang tengah melihat-lihat buku di Perpustakaan Daerah (Perpusda).

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Buku memang belum benar-benar ditinggalkan. Ia masih menyisakan segenggam pamor. Aqila misalnya, mengaku terpaksa harus ke perpustakaan karena butuh referensi untuk menyelsaikan tugas dari dosennya.

“Dosen minta aku cari referensinya di buku, ya coba cari ke sini,a�? jelasnya.

Tapi bukan karena tidak ada jawaban di internet. Aqila bisa lebih hemat waktu dan tenaga dengan mencari di smartphone atau nge-net. Buku referensinya pun bisa dengan mudah ditemukan, tanpa harus menyisir rak buku seperti di perpustakaan dengan jumlah yang mencapai ribuan. a�?Tapi masih harus bayar, karena bentuk PDF-nya gak ada yang free,a�? jelasnya.

Suatu saat, ketika internet telah menghadirkan informasi tanpa batas, Aqila dengan nada sangat yakin, membayangkan perustakaan akan benar-benar sunyi senyap. Hanya akan ada suara lembar buku, lemari, dan rak yang tertiup angin, lalu menimbulkan bunyi berderit-derit.

“Dan mungkin berhantua��,a�? celetuknya bergidik.

Tebakan Aqila sepertinya akan menjadi kenyataan. Jika para pengelola perpustakaan kehabisan ide untuk membuatnya lebih menarik dari pada tampilan simpel dan gampangnya memegang smartphone. Inovasi yang remah-remah pun percuma. Hanya akan menghabiskan anggaran.

a�?Ya kecuali di perpustakaan ini, ada apa gitu yang gak bisa diliat di hape. Mungkin akan banyak orang datang ke sini. Misalnya taruh roller coaster, kerangka dinosaurus asli, kepala manusia purba atau apa gitu, biar orang tertarik dan reality-nya dapet,a�? sarannya.

Tapi jika idenya masih sederhana, menurut Aqila sebaiknya tidak perlu. Pada akhirnya tuntutan zaman telah menghendaki perubahan. Sebagaimana kulit domba pun tak bisa dipertahankan oleh generasi pemakainya kala itu.A� Mereka pun menerima dengan tangan terbuka, kehadiran alat tulis yang baru dari serat kayu yang disebut buku.

a�?Ya sekarang mungkin udah mulai habis zamannya pakai buku kertas, tapi buku baru dari kaca (smartphone, Red) yang tinggal sentuh doang apa yang pengen dilakuin semua bisa,a�? terangnya.

Bagi Aqila, ia tetap memandang positif perubahan peradaban. Menghadang perubahan tentu mustahil, karena manusia selalu bergerak dinamis. Yang terpenting masyarakat saat ini tetap gemar membaca, belajar, dan menggali informasi.

a�?Kalau soal media, mau pake tulang, kulit domba, batu, kayu, dan sekarang kaca, lalu kelak di atas awan, aku rasa gak masalah lah,a�? cetusnya.

Berbeda dengan Aqila, pengunjung perpustakaan lainnya Heri Suharyo justru merasa sedih dengan keadaan perpustakaan saat ini. Ia pun terkenang saat masih duduk di SMP dan menikmati masa-masa indah di perpustakaan.

a�?Dulu saat masih SMP kenalan sama cewek ya di perpustakaan, walau sambil bisik-bisik,a�? ujar Heri dengan wajah tersipu.

Tapi itu dulu. Kini ia tak bisa berharap kejadian serupa, terulang lagi saat ia sudah kuliah. Mahasisiwa yang suka main ke perpustakaan tak sebanyak anak SMP yang bejibun menyerbu perpustakaan sekolah dulu. Situasinya jauh lebih sepi dan lengang. “Juga lebih serius,a�? celetuknya.

Soal harapan, Heri juga bingung. Ia tak punya ide yang bisa disumbangkan untuk membuat orang lebih tertarik datang ke perpustakaan dari pada mencari informasi semudah menjentikan jari di smartphone.

Tapi menurutnya, satu-satunya yang bisa dilakukan pemerintah yakni dengan memaksa anak didik datang ke perpustakaan dengan jadwal yang diatur secara berkala. Agar perpustakaan kembali ramai, seperti waktu-waktu yang dulu.

a�?Entahlah saya tidak yakin apa mereka mau baca, kalau misalnya diwajibkan masuk perpustakaan. Paling lebih banyak yang main hape ketimbang cari buku yang bermanfaat,a�? tandasnya.

Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kota Mataram Hj Siti Miftahayatun, juga menyadari tantangan luar biasa yang harus ia hadapi. Ia bahkan mengatakan pihaknya saat ini telah memasang bendera perang melawan media online. “Kita perangi online-online itu,a�? kata Miftah.

Perang di sini tentu bukan dalam konotasi membrangus smartphone. Apalagi mencoba hal gila dengan menghentikan perusahaan yang menyediakan situs online. Bukan, seperti itu. Miftah mengisyarakatan perang yang dimaksud dengan adu kreativitas dan strategi.

“Kita perang lawan online, (kami akui tantangannya lebih sulut) orang lebih gampang cari bahan lewat online,a�? jelas Miftah.

Tapi wanita berkaca mata ini rupanya belum mau menyerah. Ia berjanji tahun 2018 ini akan banyak kejutan. Agar minat orang-orang ke perpustakaan kembali lagi seperti dulu. Cara pertama yakni dengan memaksa anak-anak agar wajib datang ke perpustakaan.

a�?Istilahnya jemput bola, kita lakukan kerja sama dengan sekolah-sekolah agar menjadwalkan secara kolektif anak-anak datang ke perpustakaan,a�? bebernya.

Ia mengakui sudah tidak mungkin lagi mengharapkan anak-anak datang dengan suka rela ke perpustakaan. Angka kunjungan sudah jauh terjun bebas, sebelum ada inovasi. a�?Tapi setelah ada inovasi ini, sekarang jumlah kunjungan kembali meningkat,a�? ujarnya yakin.

Setelah anak-anak dipaksa datang ke perpustakaan, agar rasa terpaksa tidak menjadi-jadi, langkah selanjutnya yakni dengan merombak dekorasi perpustakaan. Miftah sangat yakin perubahan dekorasi dengan mengusung tema baca alam, tidak akan membuat siswa kecewa. “Jadi, nanti nuansanya seperti hutan bambu,a�? terangnya.

Ia menjanjikan, ide ini akan direaliasikan pada triwulan ke dua tahun 2018 ini. Tidak hanya dekorasi, tetapi rak buku yang sudah berdebu dan karatan, akan diganti dengan warna-warni. Dengan harapan anak-anak bisa lebih tertarik untuk menjamah buku yang ada di sana.

a�?Ke tiga kami tidak hanya akan menyediakan buku pelajaran, sebagai selingan agar tidak membosankan, kami juga sediakan buku cerita bergambar (komik, Red),a�? jelasnya.

Tak tanggung-tanggung, buku cerita yang dijanjikan Miftah adalah yang terkini. Ada kemungkinan diantaranya adalah koleksi buku komik terhits sepeti Naruto, One Piece, Detective Connan, Attack on Titan, dan sederet komik terfavorit di abad ini.

a�?Ya kita cenderung pada buku bergambar yang terbitan baru,a�? janjinya.

Ia terlihat sangat yakin ide-ide ini akan banyak mendongkrak jumlah kunjungan ke perpustakaan dan mencegah takdir buku memasuki masa kuno-nya. Dari pengamatan Miftah, anak-anak kerap mengunjungi perpustakaan saat liburan. Sedangkan para pelajar dan mahasiswa jelang midle semeter, semester, dan susun skripsi.

a�?Soal angka saya harus lihat data (tidak ingat), tapi kunjungan dalam satu tahun di angka seribuan,a�? tandasnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost