Lombok Post
Headline Kriminal

Bareskrim Polri Turun Tangan Bantu Polda NTBUngkap Jaringan TPPO Turki

Kombes Pol Kristiaji

MATARAM-Polisi mengisyaratkan tidak mengabulkan penangguhan penahanan tersangka dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Unsur kehati-hatian dan rumitnya pengungkapan kasus menjadi pertimbangan kuat untuk tidak meluluskan permohonan tersebut.

Dirreskrimum Polda NTB Kombes Pol Kristiaji mengatakan, penangguhan penahanan memang diperbolehkan dalam proses hukum. Pengajuannya bisa dilakukan pengacara atau keluarga dari tersangka.

Tetapi, keputusan dikabulkannya atau tidak, tergantung dari penyidik. “Jadi kita diskusikan ke penyidik untuk minta saran. Cuma sampai sekarang belum turun (surat permohonan),” kata Kristiaji, kemarin (14/2).

Kristiaji menyebut, ada banyak pertimbangan dalam pengajuan penangguhan penahanan. Misalnya, faktor umur, kesehatan tersangka, hingga adanya jaminan untuk tidak melarikan diri.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ order=”desc”]

Dari alasan-alasan tersebut, akan menjadi pertimbangan bagi penyidik.A�Meyakinkan mereka, jika ditangguhkan penahannya, apakah tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya, melarikan diri atau menghilangkan barang bukti.

a�?Penyidik akan meyakinkan dulu. Apalagi ini kasus TPPO, jaringannya internasional,a�? ujar dia.

Meski belum memutuskan apakah dikabulkan atau tidak, Kristiaji mengisyaratkan tidak mengabulkan permohonan tersebut. Kata dia, kasus TPPO ini bukan saja menjadi atensi dari kepolisian, baik di Polda NTB maupun Mabes Polri. Kejahatan perdagangan orang juga menarik perhatian dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).

Apalagi, awal penanganan perkara TPPO di Turki dengan tersangka UA, berdasarkan laporan dari Kemenlu. a�?Tentunya kita lebih hati-hati lagi. Ini kasusnya bukan saja menjadi atensi kita, tapi juga Kemenlu,a�? ungkapnya.

Kristiaji mengatakan, untuk jalan tengahnya, dia sudah memerintahkan penyidik untuk memproses kedua tersangka secepatnya. Mengirim berkas ke jaksa peneliti. Dan, ketika berkas dinyatakan lengkap, tersangka bisa di bawa ke pengadilan untuk diadili.

a�?Biar pengadilan yang memutuskan hukumannya berapa lama. Yang pasti, kita proses secepatnya,a�? jelas Kristiaji.

Lebih lanjut, untuk pengembangan perkara ini, akan mendapat bantuan dari Bareskrim Mabes Polri. Bantuan mabes terkait dengan penelusuran jaringan dari kedua tersangka, yang diduga berada di Jakarta.

a�?Bareskrims sudah siap memback-up. Kalau ada penambahan tersangka, ke manapun akan dikejar,a�? pungkas dia.

Sebelumnya, tersangka dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan inisial UA memohon pengalihan penahanan. Permohonan itu diajukan karena kondisi fisik tersangka yang kerap sakit-sakitan selama menjalani pemeriksaan dan penahanan di rutan Polda NTB.

Sakit yang diderita UA, membuatnya kesulitan beraktivitas. UA sering merasakan demam, pusing, dan kesemutan di beberapa bagian badan. Bukan itu saja, UA kesulitan berjalan sehingga jika ingin ke kamar mandi, yang bersangkutan harus dipapah.

Atas dasar kemanusian, pengacara tersangka, Yan Mangandar Putra, mengajukan permohonan pengalihan atau penangguhan penahanan. Status UA yang menjadi tahanan rutan Polda dialihkan menjadi tahanan kota.

Dalam permohonan tersebut, jika dikabulkan, tersangka akan tinggal di rumah keluarganya, di Lingkungan Dasan Sari, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram. “Keluarga, anak kandung korban, dan saya yang menjadi penjaminnya dalam permohonan itu,” tandas Yan.(dit/r2)

Berita Lainnya

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Buron Pembegalan Wisatawan Tertangkap di Sekotong

Redaksi LombokPost

Lagi, Pelajar di Lombok Tengah Terseret Kasus Narkoba

Redaksi LombokPost