Headline Kriminal

Waktu Mencuri Singkat, Hasilnya Melimpah

Harga sarang burung walet yang tinggi, membuat empat orang pria berbuat nekat. Mereka membobol sejumlah gudang sarang walet di Kota Mataram. Aksi mereka membuat pembudidaya sarang walet merugi hingga puluhan juta rupiah.

== == == == ==

Di pasaran, satu kilogram sarang burung walet yang belum diolah, dengan kualitas terbaik dihargai hingga puluhan juta rupiah. Harga yang cukup tinggi itu, dikarenakan tingginya manfaat sarang walet untuk pengkonsumsinya. Sarang burung walet kaya akan protein, antioksidan, kalsium, dan kolagen.

Empat orang, yakni Iwan, Sedun, IP (inisial, Red), dan EP (inisial, Red), tidak mengetahui dengan detail manfaat sarang walet. Yang mereka ketahui adalah tingginya harga satu kilogram sarang walet di pasaran.

a�?Saya dapat satu sampai dua juta,a�? kata Iwan mengungkapkan bagian yang dia peroleh dari hasil mencuri sarang burung walet.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ order=”desc”]

Iwan bersama tiga rekannya, telah menjadi incaran polisi dari awal Januari 2017. Ini berdasarkan laporan polisi LP/K/05/I/2017/NTB/Res Mataram/Sek Ampenan, yang melaporkan pencurian sarang burung walet.

Korban saat itu melaporkan dua gudang sarang waletnya, yakni di Jalan Saleh Sungkar, Lingkungan Batu Raja dan Kampung Banjar, di Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, dibobol maling. Dalam aksi pencurian itu, korban menderita kerugian hingga Rp 42 juta.

Iwan mengaku, selama beberapa kali pencurian sarang burung walet, dirinya hanya kebagian tugas berjaga di luar. Memantau situasi sekitar, ketika rekan-rekannya beraksi.

a�?Saya cuma jaga di luar aja waktu di Ampenan itu. Tiga orang yang lain masuk,a�? aku dia.

Ketiga rekannya itu, katanya, masuk dengan memanjat tembok ruko yang menjadi lokasi sarang burung walet. Mereka naik hingga lantai dua ruko. Di sana, rekannya kemudian merusak jendela ruko untuk bisa masuk ke dalam bangunan.

Dalam aksinya, pelaku kerap membawa sejumlah potongan pipa yang difungsikan untuk mengambil sarang burung. Ada juga beberapa tali serta pengait dari besi digunakan untuk memanjat gudang sarang burung walet.

a�?Caranya manjat, terus jebol jendela sambil bawa pipa-pipa gitu,a�? kata pria 26 tahun ini.

Setelah berada di dalam, pelaku memilih beberapa sarang yang telah siap panen. Sarang itu diambil menggunakan pipa dan dimasukkan ke dalam tas. Dalam satu kali pencurian, kata Iwan, mereka bisa mengantongi satu hingga dua kilogram sarang burung walet.

Waktu pencurian mereka pun dilakukan dengan cepat. Tak kurang dari satu jam, mereka bisa mengantongi sarang burung walet dengan berat yang signifikan.

Menurut Iwan, berbeda dengan menjual motor curian, sarang burung walet tidak bisa dijual ke sembarang tempat. Tidak banyak orang yang menerima pembelian sarang burung walet. Apalagi jika mengetahui benda tersebut merupakan hasil curian.

Lantas ke siapa sarang burung dijual? Kata Iwan, barang curian dijual kepada seseorang di wilayah Cemara dan Cakranegara. Disingggung mengenai siapa pembelinya, Iwan menyebutkan nama seseorang. Kata dia, di tempat itulah, mereka kerap menjual sejumlah sarang burung walet hasil curian.

a�?Ada di Cemara,a�? aku dia.

Sarang burung walet yang dijual komplotan Iwan, nilainya tentu jauh dari harga pasaran. Iwan mengatakan, satu kilogram sarang burung dihargai sebesar Rp 5 juta. Hasil penjualan itu kemudian dibagi empat.

a�?Masing-masing dapat Rp 1 juta lebih. Ya saya pakai buat kebutuhan sehari-hari,a�? kata Iwan yang kakinya ditembak polisi ketika hendak ditangkap.

Nah, aksi pencurian kelompok ini terhenti setelah dua orang pelaku tertangkap polisi. Pelaku pertama yang ditangkap petugas adalah Sedun. Pria asal Kampung Banjar, Ampenan ini diringkus April 2017 lalu. Dia ditangkap di tempat persembunyiannya di Rarang, Lombok Timur (Lotim).

Dalam penangkapan itu, petugas mengamankan 24 sarang burung walet hasil curian. Sarang itu rencananya akan dijual Sedun ke pengepul.

Setelah Sedun, giliran Iwan yang ditangkap. Pemuda 26 tahun itu diciduk pertengahan Februari ini. Apes bagi dia, penangkapan polisi membuat istrinya mengajukan gugatan cerai. Perceraian itu terjadi karena ulahnya sendiri, karena dia melanggar janji untuk tidak mencuri kembali.

a�?Perjanjiannya kalau curi lagi, langsung jatuh talak tiga,a�? kata Iwan.

Iwan mengatakan, dia baru saja menikah pada akhir Januari tahun ini. Dalam pernikahannya itu, sang istri meminta Iwan untuk berjanji. Janjinya tak berat. Iwan diminta untuk rajin salat dan tidak melakukan perbuatan tercela, mencuri misalnya.

Janji itu rupanya tidak ditunaikan Iwan dengan baik. Sekitar pukul 18.00 Wita, Selasa (13/2), pemuda asal Kampung Banjar, Kecamatan Ampenan, Kota Mataram ini ditangkap tim Opsnal Polres Mataram. Dalam penangkapan itu, Iwan sempat kabur. Tetapi, tembakan terukur dari petugas berhasil menghentikan pria yang sebelumnya pernah juga masuk penjara.

Mengenai nasib rumah tangganya, Iwan mengaku hanya bisa pasrah. Sore saat penangkapannya, juga telah diumumkan perceraian antara dia dengan perempuan yang kini menjadi mantan istrinya.

a�?Langsung diumumkan di masjid,a�? kata Iwan.

Ada sedikit penyesalan atas perbuatan yang dia lakukan. Apalagi, akibat pencurian itu sang istri meminta cerai. a�?Nyesal saya. Itu juga karena saya mau sih diajak-ajak. Semoga yang lain cepat ketangkap,a�? pungkas dia.

Kapolres Mataram AKBP Muhammad mengatakan, pelaku merupakan spesialis pencuri sarang burung walet. Mereka menyasar setiap lokasi sarang burung walet di wilayah hukum Polres Mataram. a�?Ini spesialisnya sarang burung walet. Hampir semua tempat dia curi, terakhir di Ampenan,a�? kata Muhammad.

Aksi pencurian itu dilakukan secara berkelompok. Pelaku berjumlah 4 orang, termasuk Iwan. Salah satu dari mereka sudah ditangkap dan masih menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Mataram. Sementara tiga orang lainnya, masih dikejar polisi.

Kapolres menjelaskan, pencurian terakhir dilakukan pada Januari 2017. Pelaku menyasar sarang burung walet di Lingkungan Kampung Banjar, Kelurahan Ampenan Selatan. Dari aksi tersebut, pelaku mengambil sekitar tiga kilogram sarang burung.

Sarang burung yang mereka ambil kemudian dijual ke seseorang. Satu kilogramnya dihargai Rp 5 juta. Uang hasil penjual dibagi empat. a�?Ada tiga TKP mereka beraksi. Hasil pencurian itu dijual lagi Rp 5 juta. Padahal harga aslinya bisa mencapai Rp 15 juta. Itu yang beli sedang kita telusuri,a�? kata Kapolres. (wahidi akbar sirinawa/r2)

Related posts

Ini Jadinya Kalau Jualan Ganja ke Polisi

Redaksi Lombok post

Inspektorat Deadline Sampai 30 Desember

Redaksi Lombok post

Honorer K2, Waspadalah!

Iklan Lombok Post