Lombok Post
Politika

Fahri Kritik Jokowi di a�?Kandanga�? Projo

TETAP KRITIS : Wakil Ketua DPR RI H Fahri Hamzah saat orasi kebangsaan di Bandini Koffie, kemarin. Orasi yang banyak mengkritik Presiden Jokowi ini menjadi menarik lantaran dilakukan Fahri di markas ormas pendukung Presiden Jokowi, Pro Jokowi (PROJO) Ivan/Lombok Post

MATARAM– Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah mengajak kaum reformis untuk bersatu. Ajakan itu juga diserukan untuk seluruh elemen yang inginkan perubahan bangsa ini menuju arah yang lebih baik.

“Indonesia harus dibangun diatas pondasi pikiran,” kata Fahri, kemarin.

Dalam dialog bertema kebangsaan yang diadakan di Bandini Koffie Rembiga, beberapa kali pria berjuluk a�?singa parlemena�? itu menyindir kondisi pemerintahan saat ini. Ia tak ragu sedikitpun dengan apa yang diutarakannya, bahkan ketika pernyataan-pernyataan itu bernada menohok.

“Kita perlu perubahan,” katanya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”192″ order=”desc”]

Meskipun acara tersebut diadakan tepat di samping markas relawan Joko Widodo, PROJO, Fahri tetap dengan karakternya yang tegas dan lugas. Dia mengatakan 20 tahun reformasi memang banyak capaian dilakukan. Salah satunya terkait kebebasan berbicara seperti yang dilakukan kali itu.

“Sudah berhenti era polisi main tangkap, ada prosedur dan aturannya,”tegas pria asli Sumbawa itu.

Diutrakannya, masing-masing pemimpin meninggalkan warisannya. Soekarno dengan warisan narasi, Suharto dengan warisan institusi, bahkan Habibie yang sangat singkat memimpin mampu menjalankan proses transisi.

“UU otoriter diubah, pemilu berjalan baik,” katanya terkait presiden ketiga.

Gusdur dan Mega dalam tahap menulis konstitusi baru. Hasilnya empat kali amandemen UUD 1945 sebagaimana yang dipahami sekarang. Namun yang menyeramkan menurutnya, sejak mereka, termasuk era SBY dan Jokowi, ada semacam eksistensi transisi.

“Dengan kata lain memperpanjang transisi,” ucapnya.

Hal itu menyebabkan Indonesia seolah tak selesai. Padahal sudah 20 tahun reformasi berlalu. Persimpangan jalan itu membuat situasi belum ajeg.

“Kita butuh pemimpin baru, pemimpin yang waras serta mampu menyatukan,” ucapnya.

Baginya, semangat reformis harus dihadirkan lagi. Karena jika tidak, negara seperti tanpa jiwa. Karena itu, bisa mati, tercabik dan pecah.

“UNI Soviet hancur setelah berumur 80 tahun, tak ada jaminan bagi Indonesia kalau terus seperti ini,” katanya. (yuk/r4)

Berita Lainnya

Janji Korban Gempa Harus Dituntaskan

Redaksi LombokPost

Garbi Bakal Gembosi PKS?

Redaksi LombokPost

HBK Dukung Program Zul-Rohmi

Redaksi LombokPost

Pendaftaran Calon Angota KPU Diperpanjang

Redaksi LombokPost

Sembilan Sekolah Lolos Babak Penyisihan Lomba Cerdas Cermat

Redaksi LombokPost

Partisipasi Pemilih Nasional Ditarget 77,5 Persen

Redaksi Lombok Post

Pemilu Serentak 2019 Ribet

Redaksi LombokPost

Ma’ruf Amin Kampanye di Pondok?

Redaksi Lombok Post

Tiga Caleg DPRD NTB Dinyatakan TMS

Redaksi LombokPost