Lombok Post
Feature Headline

Kelapa Maulanasyeikh Melahirkan Satu Pondok

MENYAMBUNG SILATURAHMI : Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi (kopiah hitam) bersama cucu dari Mbah Ma'soem Lasem, Minggu (18/2) di Ponpes Al Hidayat. FEBRI/LOMBOK POST

Pendiri Nahdlatul Wathan TGKH M Zainuddin Abdul Madjid memiliki ikatan emosional dengan ulama Lasem. Hubungan tersebut terjaga hingga KH Ma’soem Lasem tiada. Kisah dua ulama ini pun terjaga hingga kini.

***

CERAMAH subuh Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi di Masjid Jami Lasem cukup menyita perhatian. Jamaah serius mendengarkan tiap untaian kalimat dari gubernur dua periode NTB ini. Di penghujung kuliah subuh, sesepuh Masjid Jami Lasem yang juga cucu KH Ma’soem Lasem, KH Syihabuddin Ahmad Nadzir diberi kesempatan untuk memberi sambutan. Kiai sepuh ini berkisah, bila hubungan Lasem dan Lombok sudah terjalin puluhan tahun silam. Bila di Jawa ulama dikenal dengan kiai, maka di Lombok disebut tuan guru. Dan tuan guru yang cukup dikenal baik oleh KH Ma’soem Lasem atau Mbah Ma’soem adalah TGKH M Zainuddin Abdul Madjid yang merupakan pendiri Nahdlatul Wathan (NW).

“TGKH M Zainuddin Abdul Madjid ini baru ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Kakek saya (Mbah Ma’soem) dahulu pernah datang ke ponpes beliau,” ceritanya.

Meski bila merunut usia, Mbah Ma’soem lebih sepuh, tak menghalangi niat pendiri Ponpes Al Hidayat ini silaturahmi ke Selong, Lombok Timur. Kedatangan kala ity mendapat sambutan luar biasa.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”313″ order=”desc”]

“Mbah Ma’soem datang kesana bersama Abah saya. Pulang kesini diberi oleh-oleh berupa kelapa,” sambungnya.

Soal cerita hubungan ulama Lasem dan Lombok ini diakui TGB pernah disampaikan oleh TGKH M Zainuddin Abdul Madjid yang tak lain kakeknya. Ulama kharismatik Lombok yang akrab disapa Maulanasyeikh ini menyebut, wilayah Lasem begitu religius. Ulama disana dikenal akan kealiman dan keshalehannya.

Beberapa waktu sebelumnya, salah satu warga Lasem, Abdullah Hamid menceritakan dengan detail kedekatan Mbah Ma’soem dan Maulanasyeikh. Itu juga yang membuat warga Lasem berduyun-duyun dan bersemangat ingin melihat penerus Maulanasyeikh. Kedekatan Mbah Ma’soem dan Maulanasyeikh dari cerita yang didapat, sudah berlangsung saat keduanya menimba ilmu di Makkah. Meski memiliki latar belakang organisasi berbeda, kedua ulama ini saling mengagumi dan menghormati.

“Saya tertarik melihat Lasem dan Lombok kembali tersambung,” kata pria asal Madura ini.

Dalam silaturahmi TGB ke Ponpes Al Hidayat, cerita hubungan Mbah Ma’soem dan Maulanasyeikh kian terang. Gubernur santri ini datang ke ponpes asli peninggalan Kiai Ma’soem. Bangunannya sederhana. Warna hijau mendominasi. Dinding ponpes masih menggunakan papan. Terpajang foto Mbah Ma’soem dan keturunannya. Termasuk foto Roisul Akbar Nahdlatul Ulama Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari.
Pengasuh Ponpes Al Hidayat KH M Zaim Ahmad Ma’soem langsung menjemput TGB dari mobil. Sementara di dalam ponpea berkumpul santri dan santriwati.

“Ini saudara-saudara saya, cucu Mbah Ma’soem,” kata Gus Zaim memperkenalkan.

TGB pun menyapa dan melempar senyum. Bincang-bincang ringan terjadi antara keturunan dua ulama besar ini. Gus Zaim kembali membuka cerita soal Mbah Ma’soem yang datang ke Selong, Lombok Timur.

“Mbah itu diberi kelapa. Tapi, tidak biasa bunyinya klutuk-klutuk dan kelapanya berat,” ceritanya.

Gus Zaim menyebut, kisah detail ini di dapat langsung dari ayahnya KH Ahmad Syakir Ma’soem. Ayahnya yang menemani ke Lombok. Kunjungan itu diperkirakan di tahun 1960 an. Kisahnya kental dengan nilai spiritual. Ulama dahulu dikenal memiliki kemampuan membaca jarak jauh. Begitulah saat Mbah Ma’soem mendarat di Pelabuhan Ampenan.

“Tidak mengabari tapi waktu itu yang menjemput di pelabuhan begitu banyak,” lanjutnya.

TGB dengan seksama mendengarkan kisah dari Gus Zaim ini, selanjutnya ayah Gus Zaim dan Mbah Ma’soem menuju Selong. Tiba disana, mendapat penghormatan luar biasa dari Maulanasyeikh. Beragam menu disiapkan menyambut tamu.

“Kondisinya masih mengebul dan hangat semua,” lanjutnya.

Gus Zaim menyebut, jangan bayangkan seperti sekarang yang erat dengan alat telekomunikasi. Jadi setiap gerakan bisa terpantau pasti. Sementara zaman dahulu, antara Mbah Ma’soem dengan Maulanasyeikh bertemu dalam kondisi serba tepat. Kapal saat itu hanya muncul sekali seminggu. Kendaraan darat juga belum banyak.

“Ini luar biasanya ulama zaman dulu,” ucapnya.

Tiba di Selong, Mbah Ma’soem berbincang akrab dengan Maulanasyeikh. Pondok saat itu begitu ramai dan banyak santri. Hal ini kemudian membuat Mbah Ma’soem bertanya, berasal dari mana saja santri Maulanasyeikh. Jawaban Maulanasyeikh, justru membuat Mbah Ma’soem ingin segera pulang ke Jawa.

“Dijawab kalau santri yang banyak itu dari bangsa jin. Kalau santri yang manusia sedikit,” ujarnya.

“Seketika mbah takut. Mbah paling takut dengan jin, saat itu langsung minta pulang,” sambungnya.

Keistimewaan pun kembali muncul saat tiba di Pelabuhan Ampenan. Kapal yang harusnya seminggu sekali, sore itu ada kapal. Sehingga Mbah Ma’soem bisa pulang ke Jawa. Baik Maulanasyeikh maupun Mbah Ma’soem disebut memiliki kelebihan yang tak dimiliki manusia lain. Saat pulang ke Jawa itu, Maulanasyeikh memberi buah tangan berupa kelapa. Pesan dari Maulanasyeikh, bila ada orang Lombok datang ke Lasem berikan serabutnya. Dan benar saja, setelah itu banyak sekali orang Lombok yang mondok di Lasem.

“Tiap minta serabut, awal dikasih banyak-banyak. Dan kalau sudah dikasih serabut, biasa orang itu memberi uang,” ceritanya.

Kelapa Maulanasyeikh itu, lanjutnya, sampai mulus tanpa serabut. Tinggal batok kelapa saja. Dan uang dari sabut kelapa itu menghasilkan salah satu bangunan pondok.

“Kelapa itu masih ada. Salah satu santri membawanya, tidak dibelah masih utuh batoknya,” imbuhnya.

Beberapa santri Lombok yang masih diingat nyantri di pondok Mbah Ma’soem adalah HL Muhyi Abidin saudara dari TGB. Dan ada beberapa lagi berasal dari Lombok Barat. Kisah ini cukup membuat TGB kagum. Bahkan, bapak 45 tahun ini secara khusus menceritakan kisah dari Lasem ini kepada Sekjen Ikatan Alumni Al Azhar Indonesia Dr Mukhlis Hanafi.

“Kisah itu betul-betul terjaga secara mutawatir semua menceritakannya,” kata TGB pada Dr Mukhlis Hanafi.

Dalam silaturahmi di pantai utara (pantura), TGB juga bertandang ke Ponpes Al Anwar, Sarang. Ponpes dari kiai sepuh NU, Haji Maimoen Zubair. Kedatangan TGB disambut dengan drum band pondok. Putra kiai sepuh yang akrab disapa Mbah Moen menjemput diujung gang ponpes. Diantara putra Mbah Moen itu adalah KH Ghofur Maemoen serta KH Kamil Maimoen.

Tak sekadar silaturahmi biasa, TGB bahkan ikut pengajian mingguan di ponpes. Pengajian Tafsir Jalalain bersama ribuan masyarakat. Tak ingin dibedakan, TGB pun duduk lesehan dan memegang kitab kuning bersama santri yang lain. Ayat yang dibahas adalah Al Maidah 27-31. Meski telah sepuh, suara Mbah Moen menterjemahkan kitab dengan bahasa Jawa masih begitu jelas.

“Ojo sampek menungso kuwi sombong. Soale menungso sombong iku koyok kelakuane iblis neng Nabi Adam, rumongso luwih apik. (jangan sampai manusia itu sombong, karena manusia sombong itu seperti kelakuan iblis pada Nabi Adam, merasa lebih baik,” pesan Mbah Moen.

Sebelum TGB berpamitan dari kediaman Mbah Moen, secara khusus Mustasyar PBNU ini meminta TGB mendengarkan drum band Ya Lal Wathon. Tak sekali, sampai tiga kali.

“Ayo ndelok disek drum band ku, rungokke lagune.(Ayo lihat dahulu drum band saya, dengarkan lagunya),” ajak Mbah Moen.(FEBRIAN PUTRA, Rembang/r8)

Berita Lainnya

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost