Lombok Post
Headline Politika

Ali BD Serap Aspirasi Warga Bayan

MAJU BERSAMA RAKYAT: Calon Gubernur Independen Ali BD saat foto bersama dengan sejumlah warga Bayan Lombok Utara kemarin (25/2).

CALON Gubernur NTB Independen Ali BD nyaris setiap hari menghadiri undangan silaturahmi dengan masyarakat. Mulai dari wilayah Sape Bima, Dompu, Sumbawa, Lombok Timur, Lombok Tengah, Kota Mataram hingga kemarin (25/2) giliran masyarakat Lombok Utara. Ribuan warga Kecamatan berkumpul di Desa Anyar mengundang Ali BD untuk silaturahmi dan menyampaikan aspirasinya. Mereka siap memberikan dukungan dan berharap Ali BD mewujudkan harapan mereka ketika terpilih menjadi Gubernur NTB mendatang.

Dalam pertemuan yang berlangsung sederhana di area lapangan futsal tersebut, Ali BD dihujani sejumlah pertanyaan dari warga. Mulai dari persoalan sosial, ekonomi, hingga persoalan visinya untuk membangun NTB ke depan.

Salah satu aspirasi warga Desa Anyar kepada Ali BD yakni perhatian kepada para guru ngaji dan pemuka agama di desa-desa. Selama ini, warga menilai hal ini luput dari perhatian pemerintah daerah. Lalu Mawardi, warga Karang Tunggul menanyakan komitmen Ali BD meperhatikan nasib para guru ngaji yang ada di desa-desa jika terpilih menjadi Gubernur NTB.

“Kepada guru ngaji, TPQ, Musala maupun Ponpes, anda bisa tanyakan di Lombok Timur. Biarpun guru ngaji tidak di kasih per bulan, kami gaji per tahun dengan memberikan dana bantuan sosial,” terang Ali BD menjawab pertanyaan warga.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”192″ order=”desc”]

Selain itu, para guru ngaji juga mendapat paket tahunan Ramadan. Mulai dari bahan pangan, sarung, hingga bantuan lainnya menjadi bantuan wajib yang diberikan pemerintah daerah kepada guru ngaji. Tidak hanya guru ngaji tetapi juga marbot dan pengurus sejumlah Ponpes lainnya. Dengan adanya Bansos ini, Ali BD menyatakan komitmennya untuk meperhatikan mereka yang selama ini terabaikan.

“Kalau pemerintah tidak mau memberi bantuan pada guru ngaji, majelis ilmu, Musala, Ponpes atau sekolah swasta, saya minta semua dibubarkan. Pikiran saya negara ini akan gelap gulita. Negara ini akan hancur,” tegas Ali BD.

Karena peran para guru ngaji yang sepenuh hati dan tulus ikhlas mengajar, menurutnya sangat berperan membangun pondasi bangsa. Begitu juga dengan pengasuh ponpes serta guru honorer sekolah swasta. Tanpa kehadiran mereka, negara menurut Ali BD tidak ada apa-apanya.

Sehingga, ia menegaskan bahwa perhatian terhadap guru ngaji, Ponpes atau sekolah swasta memang harus menjadi perhatian pemerintah. Karena, perhatian terhadap sejumlah hal ini juga menjadi salah satu indikator negara sejahtera.

“Negara sejahtera akan memperhatikan hal seperti ini, warga yang berprestasi di bidang agama, olahraga atau yang lainnya. Di Lotim, saya hadiahkan haji bagi yang juara I MTQ, beberapa orang sudah berangkat. Atlet saya janjikan bonus Rp 25 juta jika meraih medali emas di ajang Provinsi,” beber Ali BD.

Ini sebagai salah satu cara untuk mengapresiasi dan memotivasi. Tidak diartikan lain, murni untuk penghargaan kepada masyarakat yang telah berjuang. Sebagai seorang pemimpin, Ali BD menegaskan tidak boleh berbohong kepada masyarakat. Karena, dampaknya akan kembali kepada pemimpin tersebut. Pemimpin yang terlau sering berjanji kepada masyarakat namun tidak menepatinya akan membuat kepercayaan masyarakat luntur.

Ia juga meminta untuk kepala daerah yang ingin terlibat politik untuk mengampanyekan calon tertentu, harus mengambil cuti. Agar tidak mempengaruhi pikiran rakyat terhadapnya. “Kepala daerah itu harus jadi contoh membela seluruh rakyatnya. Pemimpin harus adil,” tegas pria berkacamata hitam tersebut.

Lantas sejumlah warga menanyakan apa dasar memilih pemimpin? Ali BD menegaskan, rakyat tidak harus memilih seorang pemimpin lantaran gelar atau organisasi yang dimilikinya. “Apakah dia doktor, tuan guru, raden kanjeng atau jabatan lainnya. Ini harus ditegaskan terlebih dulu oleh masyarakat apa yang menjadi dasar. Tidak apa-apa kalian tidak memilih saya, tapi pilihlan pemimpin yang bisa menegakkan keadilan dan kesejahteraan rakyat,” ungkap pria yang dipercaya menjabat Bupati Lotim dua periode tersebut.

Sejumlah warga juga menyinggung masalah banyaknya pengangguran yang ada di Bayan. Lantas mereka menanyakan apa yang akan dilakukan Ali BD menghadapi persoalan ini. Menanggapi ini, Ali BD memaparkan, laporan pemerintah menyatakan pertumbuhan ekonomi NTB sangat bagus. Namun jika justru pengangguran bertambah, orang miskin bertambah berarti angka pertumbuhan dinyatakannya kurang akurat.

“Kuncinya di APBD Provinsi NTB. Ada Rp 5,5 triliun APBD NTB yang hanya untuk dua hal, pembangunan dan belanja pegawai. Inilah yang harus digunakan dengan bijak,” terangnya.

Untuk memaksimalkan anggaran pembangunan, otomatis belanja pegawai harus ditekan. Agar, APBD lebih banyak untuk pembangunan atau pelaksanaan program yang nantinya akan berdampak pada terciptanya lapangan kerja.

Di Lotim, Ali BD telah melakukan berbagai upaya penghematan dan pemaksimalan APBD. Misalnya saja perjalanan dinas yang semula Rp 38 miliar per tahun dipotong Rp 18 miliar. APBD juga tidak boleh dibagi oleh dinas-dinas. “Itu yang membuat dana Bansos Lotim lebih besar dari Bansos Provinsi. Karena kita melakukan penghematan. Bansos Provinsi untuk masyarakat hanya Rp 35 miliar tapi Bansos kami di Lotim mencapai Rp 80 miliar,” bebernya.

Selain itu, untuk mendorong lapangan kerja, Ali BD menegaskan dibutuhkan adanya pabrik atau industri. Dengan adanya pabrik, lapangan kerja bakal tersedia. Sehingga aktivitas ekonomi terus hidup dan berkembang. Tidak seperti saat ini. “Karena nggak ada pabrik, mal akhirnya tutup,” sindirnya.

Ia juga meminta masyarakat untuk tidak memiliki maindset bahwa bekerja harus menjadi seorang pegawai. Ia meminta masyarakat untuk tidak senang berpakaian seragam dinas. Tidak memiliki cita-cita menjadi pejabat. “Pola pikir ini harus diubah. Meski tidak mudah,” cetusnya.

Sementara ditanya terkait alasannya tidak menggunakan branding Wisata Halal yang telah dirintis sebelumnya, Ali BD memberi penjelasan. Ia menjelaskan, pariwisata adalah industri sama seperti bidang yang lainnya. Ia hanya tidak ingin Branding Wisata Halal digunakan di NTB namun pengamalannya tidak sesuai.

“Pak gubernur (TGB, Red) kemungkinan khawatir pariwisata membawa dampak negatif terhadap NTB. Makanya beliau jaga dengan kata halal. Mudah-mudahan itu yang menjadi cita-cita beliau,” ucap Ali BD menduga.

“Namun bangsa yang kuat adalah bangsa yang kuat menjalankan nilai budaya dan agamanya tidak mesti dengan label atau embel-embel halal. Bali kuat menjaga nilai adat dan agamanya meski hanya menggunakan kata pariwisata. Lantas apakah kita kuat? Kalau belum, kita harus kuat,” sambungnya mengajak warga Bayan Lombok Utara.

Tak hanya sampai di sana, warga Bayan juga menanyakan komitmen Ali BD untuk mewujudkan global hub atau pelabuhan internasional di Lombok Utara. Ali BD menegaskan ide tersebut sangat bagus. Ia juga selalu tertarik dengan ide-ide besar. “Hanya saja jangan sampai ini hanya sebatas omongan atau wacana belaka. Saya paling bangga kalau betul ada investor yang mau membangun global hub,” jelasnya.

Namun ia mengingatkan pemerintah harus hati-hati dengan investor. Karena, saat ini banyak investor yang tidak kompeten mengaku siap membangun di daerah. Sehingga, pemerintah harus teliti menyeleksi investor yang akan berinvestasi di NTB. “Pemerintah harus cerdas jagan merasa cemoh (senang) sendiri. Kalau dia mau berivestasi di NTB, dia harus punya bukti dan komitmen dengan memberikan jaminan menyimpan uangnya di Bank NTB,” tegas Ali BD.

Sementara terkait keluhan pupuk petani, pesoalan ini dikatakan Ali BD selalu diungkapkan dari ujung NTB hingga KLU. Ini dikatakannya akibat tata kelola yang kurang baik. Koordinasi antara pemerintah dan pengeloal pupuk serta pihak terkait kurang terbangun maksimal. “Makanya tidak boleh saling menyalahkan menyelesaikan persoalan ini. Mereka yang suka saling menyalahkan itu manusia yang tidak berbudaya karena tidak mengakui kekurangannya. Selesaikan persoalan masyarakat bukan saling menyalahkan,” ujarnya.

Jika ada pemimpin yang saling menyalahkan dengan persoalan pupuk yang dihadapi petani, maka Ali BD menegaskan mereka tidak boleh jadi pemimpin. (ton/r5)

Berita Lainnya

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost