Lombok Post
Headline Kriminal

Berharap Gaji Besar, Malah Disiksa Majikan

DIPULANGKAN: Penyidik Subdit IV Ditreskrimum Polda NTB memutuskan memulangkan enam TKW, yang menjadi korban TPPO di Turki ke rumah mereka masing-masing, Kamis (22/2) DIDIT/LOMBOK POST

Godaan gaji besar membuat enam warga Dompu ke luar negeri untuk mencara nafkah. Kepergian mereka dibarengi dengan keinginan bisa membantu keluarga di kampung. Tetapi sayang, bukan gaji besar yang didapat mereka. Keenam perempuan ini malah menjadi korban dariA� perdagangan orang.

== == == == == ==

Sri Ainun Kamal lebih banyak terdiam ketika berada di ruangan Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polda NTB. Matanya sesekali melirik lima perempuan lain yang berada satu ruangan dengannya.

Tidak terlihat keceriaan di wajahnya. Meski di hari itu, Kamis (22/2), merupakan hari kepulangannya. Ainun, bersama Siyanti, 21 tahun; Sisi Kurniati, 19 tahun; Lilis, 19 tahun; Sri, 21 tahun; dan Junari, 21 tahun, sesuai rencana dari penyidik, dipulangkan ke keluarganya di Dompu. Bersama Ainun, lima orang tersebut merupakan korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Pemulangan ini setelah penyidik Subdit IV Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda NTB, merasa cukup atas keterangan mereka. Karena itu, hilangnya gurat kecerian dari wajah Ainun menjadi wajar. Trauma atas pengalamannya selama menjadi korban TPPO alasannya.

a�?Saya tergiur gaji Rp 10 juta sampai Rp 15 juta per bulan yang ditawarkan saat itu,a�? aku Ainun sebelum keberangkatannya menuju Dompu.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”128″ order=”desc”]

Mengenai jumlah gaji itu, kata Ainun, dilontarkan SU (inisial, Red), yang kini telah menjadi tersangka. Bukan saja gaji yang dijadikan SU sebagai alasan utama merekrut para korban. Kata Ainun, dirinya juga ditawari pekerjaan layak, yakni sesuai dengan latar pendidikan yang dia miliki. Bukan sebagai pekerja kasar maupun asisten rumah tangga.

a�?Kerjaannya bidan. Dijanjikan juga kalau sampai sana (Turki) bisa langsung kerja,a�? beber dia.

Rayuan itu mampu memikat Ainun. Dia pun mauA� menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Turki. Karena itu, di 5 November 2017, Ainun diberangkatkan bersama tiga orang lainnya menuju Jakarta. Tiga orang yang berangkat bersamanya merupakan warga Lombok. Keberadaan mereka pun diperkirakan masih berada di Turki.

a�?Empat orang dengan saya. Saya berangkat terpisah, bukan bersama lima orang itu,a�? ungkapnya.

Ainun mengatakan, proses keberangkatannya menuju Turki sama sekali tidak dipungut biasa. Segala keperluan dokumen keberangkatan, seperti paspor, diurus SU. Bukan itu saja, dia bahkan diberi uang belanja sebesar Rp 2 juta.

Hanya satu malam berada di Jakarta, Ainun langsung diterbangkan menuju Turki. Sesampainya di Turki, dia diarahkan menuju kantor agen tenaga kerja di Kota Istanbul. Tidak langsung bekerja, Ainun malah ditampung hingga empat minggu lamanya.

Selama ditampung, Ainun mengaku kerap menanyakan kapan dia akan bekerja. Tetapi, hal tersebut tidak pernah direspons pengelola. Dia justru diminta untuk bersabar. a�?Saya sudah curiga karena datang ke Turki tidak langsung bekerja. Padahal janjinya kan langsung kerja,a�? ujar dia.

Kecurigaannya semakin bertambah ketika dia bertanya mengenai surat kontrak kerja. Ainun mengatakan, dirinya sempat bekerja bersama orang Amerika. Sedikit banyak, dia mengetahui seperti apa prosedur untuk bekerja di luar negeri. Termasuk mengenai kontrak kerja itu.

a�?Tidak ada kontrak kerja. Mungkin karena saya desak terus, saya akhirnya dioper ke Mersin,a�? terang perempuan lulusan Universitas Muhammadiyah Mataram ini.

Hati Ainun girang ketika mendapat kepastian akan bekerja. Kepergiannya menuju salah satu kota di bagian selatan Turki pun dilakukan dengan senang hati.

Hanya saja kenyataan memang terkadang tidak seindah harapan. Ketika tiba di Mersin, Ainun diserahkan kepada salah seorang warga. Bukan bekerja sebagai bidan atau tenaga kesehatan. Ainun justru dijadikan asisten rumah tangga. Tugasnya mengurus segala kebutuhan tuan rumah, menyetrika baju hingga mencuci piring.

Pekerjaan itu dijalani Ainun sekitar 15 hari. Meski singkat, perlakuan yang dia terima dari majikannya, membuat keberadaannya di rumah tersebut seperti di neraka.

Ainun menuturkan, setiap hari dia hanya diberi makan satu kali saja. Tidak juga mendapat upah atas pekerjaannya. Bukan itu saja, ketika pekerjaannya dinilai tidak benar, majikannya tak segan untuk menyiksa Ainun.

a�?Saya tidak akan pernah lupa. Saya ditendang, ditampar, makan cuma satu kali sehari,a�? ungkapnya.

Tak tahan mendapat siksaan, di hari ke-16 Ainun memutuskan kabur. Dia pergi bersama lima orang lainnya, dari Mersin menuju Istanbul, tempat Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) berada.

a�?Ini yang terakhir. Lebih baik bekerja di sini, daripada di luar negeri mendapat siksaan seperti itu,a�? ujar dia.

Pengalaman buruk yang dirasakan, membuat Ainun kapok. Dia bahkan berpesan kepada Gubernur untuk lebih banyak membuka lowongan pekerjaan di NTB. a�?Kasian warga NTB ke luar negeri mau bekerja, tapi kalau mati di negara orang kan kasian. Untuk kita selamat,a�? pungkas dia.

Sementara itu, korban lainnya, yakni Sriyanti mengaku hal serupa. Proses keberangkatannya menuju Turki, sama persis dengan Ainun. Dia diiming-imingi gaji besar tanpa potongan.

a�?Memang kita mau dikasih gaji besar, tapi sampai di sana malah kena siksa,a�? katanya.

Sriyanti menambahkan, kepergiannya ke Turki merupakan kali kedua dia bekerja di luar negeri. Sebelum itu, Sri sempat bekerja di Jordania. Selama bekerja di sana, hasil yang diperoleh cukup banyak. Tanah 1,5 hektare di kampung halamannya, menjadi bukti kesuksesannya.

a�?Maunya seperti itu lagi. Apalagi ke sana (Turki, Red) tidak mengeluarkan biaya,a�? tandas dia.

(wahidi akbar sirinawa/r2)

Berita Lainnya

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost