Lombok Post
Headline Metropolis

Ternyata Ini Gaya Mohan!

LENGANG: Sejumlah lokal Mataram Craft Center masih sepi. DOK/LOMBOK POST

Setelah ditunjuk sebagai Plt Wali Kota Mataram, Mohan langsung menunjukkan karakter kepemimpinannya. Bersemangat, meletup-letup. Gaya ini sudah lama ditunjukkan, tapi sering tertutup karakter Ahyar Abduh yang kalem.

A�—————————

BERDASARKAN surat Gubernur bernomor GUB/26/2018, Mohan ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Mataram. Ia menggantikan H Ahyar Abduh yang cuti untuk urusan kampanye di Pilgub 2018.

Walau hanya berstatus Plt dengan keterbatasan fungsi, sepak terjang pria yang karib di sapa Bang Haji ini menarik disimak. Hanya selang satu minggu setelah ia resmi menjabat Plt, Mohan mengoprasikan Mataram Water Park (MWP) yang lama mangkrak. Di momen ini juga Mohan tampil bak super hero. Ia menyelamatkan seorang anak yang nyaris tenggelam.

a�?Ya kita tidak ingin ada aset kota ada yang mangkrak,a�? kata Mohan.

Di masa tugasnya sebagai Plt, Mohan sepertinya ingin menunjukan kemampuannya. Terbukti dari pernyataanya yang ingin menjadikan MWP sebagai contoh bagaimana seharusnya mengelola aset kota.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

a�?Saya ingin jadikan ini sebagai proyek serius, untuk mendorong menghidupkan aset yang lain,a�? yakinnya.

Belum selesai sampai disitu. Mohan sudah ancang-ancang untuk tarik kiri-kanan agar para pembantu lebih kecang lagi bekerja. Tak salah jika dalam ulasan berita beberapa waktu lalu, Lombok Post pernah menulis sepak terjang Mohan akan cukup membuat urat saraf para pejabat kota tegang. Setegang-tegangnya!

Dan terbukti. Pada sebuah kesempatan berbincang dengan media, Mohan langsung mengkepret empat OPD sekaligus. OPD yang pertama dapat sindiriran adalah Bappeda. Mohan memulai narasinya dengan persoalan pengelolaan aset.

a�?Yang jadi masalah sebenarnya kemampuan kita dalam mengelola aset,a�? cetus Mohan.

Ia kemudian menyindir soal RTRW yang tidakA� tuntas-tuntas hingga detik ini. Persoalan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) belum juga mencapai kata sepakat.

a�?Akibatnya RTRW kita belum bisa lolos,a�? sesalnya.

Seharunya persoalan RTRW sudah lama bisa tuntas. Sehingga memberi dampak dari segala sisi dengan hadirnya tata ruang yang baru. Tapi apa lacur, rencana itu harus masih dipendam dalam-dalam. RTRW belum ada kata final di kementerian.

a�?Seharusnya sudah ada dampak secara sosial, ekonomi, ekologis, menunjang kawasan dan macam-macam,a�? ujarnya.

Mohan kemudian menyindir soal aset kota yang tak bisa dikelola dengan maksimal. Mohan mengakui aset-aset ituA� memang tidak mangkrak, tapi hasilnya jauh dari harapan yang diinginkan selama ini.

a�?Entah itu MWP, MCC, Pasar Seni Sayang-sayang, dan RPH Gubug Mamben,a�? kepretnya.

Semua aset itu dikelola oleh empat OPD berbeda. MWP oleh Dispora. MCC oleh Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM. Pasar Seni Sayang-sayang oleh Dinas Pariwistasa. Sedangkan RPH Gubug Mamben oleh dinas Pertanian dan Peternakan.

Pada kasus Pasar Seni Sayang-Sayang misalnya, Mohan secara tegas mengatakan posisi pasar itu sangat strategis. Tapi secara blak-blakan ia menyebut Dinas Pariwistasa, belum memiliki terobosan apapun dalam mengelola aset potensial itu.

a�?Selama ini belum ada garapan secara khusus,a�? ujarnya.

Dinas Pariwisata dan dinas lainnya masih berperan tak ubanya kreditur. Hanya sebagai penyalur dana. Tidak ada trobosan segar untuk membuat aset-aset itu menjadi lokasi yang diminati banyak orang.

a�?Saya harapakan ada ide-ide original, langsung dari sektor (dinas) yang menangani itu. Tapi kenapa harus menunggu kritikan?a�? sesalnya.

Meski kritikan bersifat konstruktif, tetap saja itu dapat membawa perseden buruk bagi kinerja pemerintah daerah. a�?Tetap saja itu kita yang disoroti dianggap tidak mampu tangani aset sendiri,a�? cecarnya.

Karena itu pada kasus Pasar Seni Sayang-Sayang, harusnya dinas terkait punya inovasi dalam menggenjot agar lokasi itu punya magnet atau daya tarik. Tidak hanya sekadar di bangun lalu ditinggalkan begitu saja. a�?Apa sulitnya sih membangun?a�? sindirnya.

Sindiran Mohan beralih ke Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Gubug Mamben. RPH yang dibangun dengan susah payah itu saat ini memang tidak mangkrak. Tapi tak bisa dipungkiri masyarakat lebih banyak yang lebih senang memotong hewan ternak di rumah masing-masing.

a�?Itu kan setengah mati kita bebaskan lahannya dulu,a�? cetusnya.

Belum lagi resistensi yang muncul dari masyarakat. Mulai dari yang menolak karena lokasi RPH terlalu dekat dengan rumah hingga dampak lingkungan yang dikhawatirkan. Tapi rupanya jalan panjang hingga RPH itu berdiri dan siap ditempati tidak membuat, dinas terkait dalam hal ini Dinas Pertanian dan Perikanan mau memikirkan nasib jangka panjangnya.

a�?Seolah-olah kalau sudah membangun semua persoalan selesai, kan tidak begitu,a�? sesalnya.

Seharusnya ada komitmen dari OPD terkait untuk membuat RPH itu tidak hanya terhindar dari kata mangkrak. Tetapi benar-benar menjadi aset yang beroperasi dan memberi kemanfaatan bagi banyak orang.

a�?Jangan hanya orientasinya selesai dalam hal urusan fisik. Lalu setelah terbangun dibiarkan,a�? sindirnya.

Soal membangun, bagi Mohan adalah soal gampang. Karena anggarannya ada. Tetapi menyadarkan masyarakat untuk memanfaatkan aset itu adalah tantangan sebenarnya.

a�?Kalau hanya untuk membangun apa sulitnya. Duitnya sudah ada kok,a�? tandasnya.

Ia hanya ingin OPD terkait tidak membuatnya lelah bicara soal inovasi. Harus ada ide original dari masing-masing kepala dinas agar aset itu dapat dimanfaatkan sebagai mana seharusnya.

a�?Termasuk juga untuk MCC, kita tidak perlu ngomong bolak-balik, saya rasa mereka (kepala dinas) tahu persoalannya apa selama ini,a�? tegasnya.

Direktur Institute Agama dan Kebudayaan (INSAN) NTB DR Asrin ikut mencermati gaya Mohan menakhodai Mataram. Pria yang aktif mengamati politik dan pemerintahan ini, menilai gaya Mohan selama ini teredam oleh keberadaan Ahyar. Namun kini Mohan sudah lebih kelihatan karakter kepemimpinannya

a�?Jadi karakter kepemimpinannya terlihat jelas,a�? kata Asrin.

Jika Mohan terlihat lebih tegas dari pada Ahyar, saat ini tidak lepas dari hukum perbandingan saja. Menurutnya Ahyar memang selama ini memainkan peran sebagai seorang pemimpin yang tenang, lembut, dan kalem. Bahkan cendrung sangat banyak pertimbangan sehingga lebih lama mengeluarkan keputusan.

a�?Saya membaca juga Ahyar tipe pemimpin yang memilih mengawal anak buah,a�? terangnya.

Berbeda halnya dengan Mohan yang lebih memainkan peran leader. Dalam beberapa minggu memimpin kota, Mohan sudah memperlihatkan perannya sebagai seorang inisiator. Sedangkan para anak buahnya sebagai pendukung idenya.

a�?Ahyar mungkin terlihat lebih tenang dan banyak pertimbangan, sehingga membuat letupan-letupan ide Mohan tak pernah sampai ke permukaan,a�? jelasnya.

Asrin menilai dua gaya kepemimpinan ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

a�?Kalau Ahyar itu, seperti hubungan ayah-anak. Warga kota sebagai anak-anaknya dan Ahyar sebagai orang tua, ya wajar saja banyak warga kota akirnya menyebut Ahyar itu orang tua,a�? terangnya.

Jika Mohan konsisten menjaga gaya memimpinnya saat ini, setidaknya aset daerah yang selama ini mangkrak bisa difungsikan. Dan hasilnya tentu akan kembali pada masyarakat sebagai pemilik sah semua aset itu.

a�?Positifnya tentu itu, walau mungkin ada orang akan bilang ini pencitraan ala Mohan atau apapun itu, tapi yang jelas cara Mohan ini positif karena mengembalikan harapan aset kota benar-benar bermanfaat bagi masyarakat,a�? tandasnya. (zad/r3)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost