Headline Politika

Ali BD: Jangan Biarkan Blusukan Merusak Kemurnian Jiwa

SELONG-Matahari belum bersinar, calon gubernur independen Ali BD sudah berada di lorong Hotel Mantika, Kecamatan Sape, Bima. Ia Nampak sudah segar meskipun perjalanan panjang baru saja dilakukan malam harinya.

Ali BD tak mau membiarkan waktunya terbuang percuma satu detik pun. Ia berjalan kaki menuju Pelabuhan Sape. Ya, pria ini tengah bersiap melakukan apa yang biasa dikenal saat ini dengan istilah blusukan.

Lokasi Pelabuhan Sape hanya puluhan meter dari Hotel Mantika tempatnya menginap. Menatap tajam ke arah Pelabuhan, sorotan Ali BD menyimpan ribuan makna pada gerbang NTB bagian timur ini. Maklum, pelabuhan selalu mendapat perhatian Ali BD karena ia menilai pelabuhan adalah gerbang pusat aktivitas ekonomi daerah. Kemajuan suatu daerah bisa diukur dengan kehadiran pelabuhan yang dimiliki daerah tersebut.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”192″ order=”desc”]

Sayangnya, ketidakpuasan tersirat dari wajah Ali BD. Karena melihat kondisi Pelabuhan Sape tidak maksimal. Tidak terkelola dengan baik padahal peran pelabuhan ini sangat vital. Terlebih, pelabuhan ini merupakan pelabuhan yang menjadi kewenangan langsung pemerintah pusat lantaran menghubungkan dua provinsi yakni NTB dan NTT.

Tatkala matahari pagi mulai bersinar terang, Ali BD melanjutkan perjalanannya ke sudut-sudut pelabuhan. Perhatiannya tersita pada kondisi dermaga rakyat yang ada di sekitar area Pelabuhan Sape. Salah satu pelabuhan rakyat dibuat sangat sederhana. Ali BD diam seribu bahasa tanpa banyak kata melihatnya.

Mentari kian meninggi, Ali BD kembali ke hotel. Ia bersiap untuk menghadiri undangan warga Sape. Setelah bersiap beberapa menit, ia pun dijemput oleh kendaraan. Namun, saat bersiap melangkahkan kaki menuju lokasi acara, sekelompok orang menghampirinya.

Mereka mengaku berasal dari kelompok pemuda peduli masyarakat Bima. Mereka memberitahu Ali BD ada warga yang terkena tumor. Ia butuh biaya untuk dirujuk ke RS Sanglah Bali.

Seolah paham maksud para pemuda ini, Ali BD pun mengeluarkan sejumlah uang di kantongnya. Ia memberi bantuan dan mengatakan itu tak seberapa. Yang terpenting dikatakannya adalah niatnya membantu sambil mendoakan warga yang menderita tumor segera lekas sembuh. Spontanitas.

Ali BD kemudian menuju lokasi acara pertemuan dengan warga. Belum sampai di lokasi ia tiba-tiba meminta sopir kendaraan berhenti terlebih dulu. Sopir seolah paham maksud Ali BD yang memintanya berhenti tepat di depan pasar tradisional. Ya, Pasar Sape adalah pasar yang biasa dikunjungi Ali BD ketika bertandang ke Bima.

a�?Beliau di sini suka beli ketupat dan jajan tradisional,a�? kata sopir sekaligus pegawai di salah satu perusahaan milik Ali BD di Bima, Lalu Suparlan seolah sudah paham.

Berbaur dengan masyarakat kecil, Ali BD ingin menyambangi kondisi para pedagang saat itu. Bukan untuk sekadar bagi-bagi uang, tetapi membagi rezeki dengan membeli barang jualan mereka.

Ali BD berusaha menyembunyikan identitasnya. Ia meminta tak dikawal oleh petugas kepolisian. Agar tidak menimbulkan kecurigaan masyarakat kalau ia merupakan calon gubernur. a�?Anda tolong jauhan ya. Nggak enak dilihat masyarakat dikawal-kawal,a�? bisik Ali BD kepada petugas kepolisian dari Polda NTB yang mendampinginya.

Meski berusaha menyembunyikan identitasnya, namun banyak juga pedagang yang ternyata menyadari pria ini merupakan calon pemimpin NTB. Sambil berbisik bersama pedagag di sebelahnya, barulah para pedagang menyadari kalau pria di depannya adalah calon gubernur independen.

a�?Nah sekarang ayo beli dagangan kita bapak,a�? kata para pedagang histeris.

Ya, menyambangi pedagang kecil di pasar menjadi kebiasaan Ali BD. Tidak hanya di Bima, tetapi juga ketika dirinya berada di Kecamatan Pelampang, Kabupaten Sumbawa. Ali BD mengunjungi pasar untuk mengetahui bagaimana kondisi perekonomian di suatu daerah. Pasar menjadi tolok ukur perekonomian dari informasi yang diserap dari para pedagang.

Jika jual beli lancar, otomatis geliat ekonomi bagus. Namun, belakang ini kondisi ekonomi di Sumbawa diketahuinya sedang musim sepi. Akibat masyarakat yang sebagian besar menjadi petani belum panen.

Masuk ke gang-gang pasar, bertemu pedagang kecil. Masuk ke gang-gang perkampungan, bertemu masyarakat langsung. Hingga menyusuri ladang dan sawah adalah kebiasaan Ali BD yang tak pernah hilang. Ini yang beberapa tahun terakhir kemudian dikenal dengan istilah blusukan.

a�?Ini istilah baru yang kadang digunakan orang untuk membuat pencitraan. Tapi ini sebenarnya sudah lama kita lakukan,a�? kata Ali BD.

Jelang Pilkada, semua calon berlomba-lomba untuk blusukan. Untuk meraih simpati masyarakat dan menaikkan pamor atau citranya masing-masing. Namun, ketika ada orang yang blusukan, Ali BD mengaku ia justru sebaliknya.

a�?Ketika orang kemudian ramai-ramai blusukan, kita rem blusukan itu,a�? aku Ali BD.

Dalam artian ia mengaku jangan sampai niat baik untuk blusukan kemudian ditunggangi oleh niat lainnya. Jika itu dilakukan, calon pemimpin dijelaskannya tidak ubahnya bagaikan seorang penjilat. Ini juga akhirnya berdampak kepada orang lain yang memiliki kebiasaan blusukan.

Sekarang ini orang blusukan dimana-mana. Akibatnya orang yang sudah biasa blusukan ini jadi malu. a�?Orang-orang yang punya rasa malu, dia akan malu melakukan blusukan untuk pencitraan. Akibat banyak orang yang blusukan untuk pencitraan, banyak pemimpin yang biasanya blusukan akhirnya kini merasa malu blusukan karena dianggap pencitraan,a�? ujar Ali BD.

Ali BD pun mengaku meski secara politis langkahnya untuk mengerem bluskan kurang bagus, namun itu baik bagi pribadi dan ketulusan jiwanya.

a�?Saya harus mempertahankan kemurnian jiwa saya meskipun secara politik ini kurang bagus. Jangan kita biarkan blusukan merusak kemurnian jiwa kita,a�? sambungnya.

Blusukan dijelaskan Ali BD hakikatnya adalah menyambangi masyarakat. Itu dilakukan dan dibutuhkan oleh seorang pemimpin atau siapapun untuk menyerap aspirasi masyarakat. Tidak mesti harus ke pasar, tetapi juga ke sawah ke sekolah terpencil, pesisir atau yang lainnya. Sehingga niat blusukan tidak boleh ditunggangi kepentingan apapun.

a�?Blusukan itu untuk mencari tahu persoalan yang dihadapi masyarakat. Masalah pupuk, kalau anda tidak ketemu petani Anda tidak tahu persoalan yang mereka hadapi,a�? jelasnya.

Sehingga, ia berharap kepada semua calon pemimpin kepala daerah untuk mempertahankan kebiasaan ini. Tidak hanya sekadar untuk mencari popularitas atau simpati masyarakat. Tetapi utuk mencari tahu masalah yang dihadapi masyarakatnya untuk kemudian mencari solusinya. Tidak dibuat-buat hanya sekadar untuk membuat kesan merakyat. (ton/r8)

Related posts

Fauzan: Surat Penangkapan Dari KPK Itu Hoax!

Haji Karim Cari a�?Jodoha�?

Redaksi Lombok Post

Penjualan Emas Tumbuh Delapan Persen

Redaksi Lombok Post