Lombok Post
Headline Metropolis

Hisab dan Rukyat Nyale

Seorang warga mencari nyale di Pantai Seger, Kuta, Lombok Tengah, beberapa waktu lalu IVAN/ LOMBOK POST

Pada 4 Februari 2018, pesta bau Nyale sudah digelar masyarakat di pesisir selatan Pulau Lombok. Ada di Lombok Tengah. Ada pula di Lombok Timur. Dan dini hari tadi, di Pantai Seger, KEK Mandalika, masyarakat juga berpesta lagi untuk bau Nyale. Mendadak muncul pertanyaan, mengapa hitung-hitungan datangnya sosok penjelmaan Putri Mandalika ini bisa berbeda? Rupanya macam menentukan datangnya Lebaran, nyale juga punya hitungan hisab dan rukyat. Beginilah rupanya hitung-hitungan tersebut.

————————————————-

SAAT berita ini ditulis, belum diketahui seberapa banyak Nyale yang datang di Pantai Seger, tempat turun temurun pesta bau Nyale digelar masyarakat Suku Sasak, dini hari tadi. Namun, budayawan Sasak Lombok Lalu Sara��i Bayan memberi garansi, Nyale akan datang banyak. Banyak banget bahkan.

Memang pada pesta Bau Nyale tiga tahun terakhir, banyak yang zonk. Maksudnya, Nyalenya gak ada muncul. Atau muncul, tapi sedikit sekali. Itu kata Mamiq Bayan, karena perhitungan-perhitungan yang dijadikan dasar dan acuan pemerintah meleset.

a�?Untuk tahun ini tidak lagi,a�? kata Mamiq Bayan sekali lagi memberi garansi. Dia sendiri terlibat dalam menentukan puncak pesta Bau Nyale 6-7 Maret 2018 yang kemudian menjadi acuan pemerintah.

Pemilihan tanggal 6-7 Maret sesuai tanggal 20 bulan 10, penanggalan Sasak. Keputusan pun dibuat dalam sangkep warige atau duduk bersama di pantai Seger Desa Kuta, Pujut.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Juga sudah dilakukan pula sejumlah ritual gaib. Antara lain ritual geni atau api. Ritual itu dilakukan untuk menghindari bencana kebakaran, saat pelaksanaan Bau Nyale di lokasi acara. Kemudian, ritual samudra yaitu, menenangkan air laut dari empasan ombak keras. Lalu, terakhir ritual marute atau angin, agar terhindar dari angin kencang hingga petir.

Ritual-ritual itu ada kemenyan dibakar, ada bawang putih, bawang merah, sabut kelapa, dicampur beras kuning. Ada pula beras putih dan kain putih berurukan satu meter. Ritual dilakukan para tetua di Pantai Seger.

Soal benar apakah Nyale keluar banyak, Anda mungkin sudah mengetahuinya pagi ini. Namun, untuk yang tanggal 4 Februari 2018 lalu, sudah pasti kala itu, Nyale memang datang. Masyarakat yang ikut pesta Bau Nyale secara mandiri waktu itu memperlihatkan tangkapan Nyale yang mereka dapat.

Apakah Nyale akan datang dua kali? Dari dulu juga kerap begitu. Sehingga muncul pandangan ada yang disebut Nyale Tunggak dan Nyale Poto. Kapan Nyale datangnya lebih banyak? Berdasarkan pengalaman, Nyale kadang bisa banyak pada saat Nyale Tunggak. Kadang juga datang banyak saat Nyale Poto.

Banyak yang menyebut, bahwa pada 4 Februari itu adalah Nyale Tunggak. Sementara pada 6-7 Februari ini adalah Nyale Poto.

Dan beginilah masyarakat menghitungnya. Lombok Post mendatangi warga dusun Batu Rintang, Desa Ganti, Kecamatan Praya Timur. Masyarakat di Dusun ini adalah salah satu yang berpesata Bau Nyale pada 4 Februari lalu.

Rupanya, masyarakat di sana telah mewarisi tradisi bau nyale sejak ratusan tahun silam. Turun-temurun dari leluhur. Diwarisi setiap generasi, tanpa menyisakan pertanyaan berarti. Pesta Bau Nyale warga di sini biasanya digelar di Tampaq Boleq atau Kaliantan, Lombok Timur, bukan ke tempat atau pantai lain.

Tradisi ini diterima begitu saja dari para tetua ke genarasi-generasi berikutnya. Tanpa pertanyaan siapa pertama kali Bau Nyale, kenapa harus Bau Nyale, kenapa warga di sana lebih memilih ke ke lokasi lain. Namun, soal legendanya, tetap sama. Masyarakat di sini juga meyakini, Nyale itu adalah penjelmaan Putri Mandalika.

a�?Para sepuh selalu menjaga Papan setiap hari, tidak hanya untuk menghitung tanggalan, tapi juga untuk mencari kearifan waktu,a�? kata Amaq Merti, sosok sepuh di Dusun Batu Rintang.

Papan yang dimaksud adalah papan Urige. Sebuah papan persegi yang dipercaya punya kemampuan untuk menjawab banyak pertanyaan eksata dan gaib. Dari waktu tanggalan, peruntungan, rizki, nasib, hingga jodoh.

Semacam Hisab dan Rukyat

Warga di dusun ini lebih simpel menyebutnya sebagai Papan saja. Walau menggunakan papan, masyarakat juga tetap mengacu pada pada tanggalan bulan atas. Atau karib disebut penanggalan lunar.

Antara papan urige dengan lunar, kasusnya mirip seperti istilah hisab dan rukyat ala umat Islam menentukan kapan jatuhnya hari Lebaran. Patokan tanggalan di papan urige tetap jadi rujukan utama. Sedangkan hasil pengamatan kondisi bulan hanya untuk menambah keyakinan, bahwa tanggalan memang telah sesuai.

a�?Di urige itu ada lantok, itu semacam penunjuk waktu yang harus geser setiap hari, tak boleh abai,a�? terangnya.

Karena itu Urige selalu jadi urusan para sepuh. Mereka yang setia mendengar hitungan dan ramalan dari kotak persegi itu setiap hari. Hasil perhitungan Urige dengan hitung tanggalan menggunakan sistem lunar, selalu akan menghasilkan jumlah hari yang sama di akhir tahun.

a�?Ada kalanya tanggalan di papan sudah menunjuk tanggal 4 penanggalan Sasak, tapi bulan terlihat masih muda, dan baru seperti tanggal 2,a�? terangnya.

Hal ini terjadi, karena umur bulan tak selamanya 30 hari secara kasat mata. Kadang hanya 29,5 hari. Tergantung situasi cuaca di langit. Tapi, papan urige selalu menghitung sampai 30 hari. Setiap bulan. Hingga akhir tahun.

a�?Tapi ujung-ujungnya pasti sama, sebab ada kalanya tanggal 1 itu dihitung ketika hari jelang siang,a�? katanya mengulas.

Karena itulah pada kasus bau nyale, hitungan papan urige jadi patokan. Meski kemudian, masyarakat juga akan tetap melihat bulan untuk menyempurnakan keyakinanya.

a�?Pada tahun 70-an, warga di sini saat jelang bau nyale sudah sibuk oleh berbagai kegiatan untuk menyiapkan bekal,a�? tuturnya.

Di tahun itu, kendaraan masih sulit. Warga berjalan berpuluh-puluh kilo menyusuri jalan setapak, semak belukar, hutan, hingga akhirnya sampai di Tampaq Boleq atau ada yang ke Kaliantan. Tidak ada ritual khasnya. Yang ada hanya ibu-ibu di dapur yang mulai sibuk menyiapkan, bekal perjalanan suami, anak, dan sanak keluarga lain yang hendak bau nyale.

a�?Ada bekal, seperti topat, tiken (bantalan ketan), ragi, dan lain sebagainya dan itu dibawa dengan cara dipikul,a�? kenangnya.

Tidak seperti saat ini yang semua sudah tersedia di lokasi pantai. Dulu, warga ke Kaliantan atau Tampaq Boleq, benar-benar hanya untuk menangkap nyale. Bukan untuk berpesta seperti yang banyak disaksikan saat ini.

a�?Dulu ada istilah lampaq enem, lampaq lime, atau lampaq empat,a�? ungkanya.

Lampaq enem adalah warga akan berjalan dengan memperkirakan waktu penangkapan enam 6 hari lagi, sebelum hari H-nya. Begitu juga untuk lime dan empat yang masing-masing artinya lima dan empat hari. Karena perjalanan memang cukup jauh memakan waktu berjalan sampai satu hari penuh.

a�?Kalau sekarang kan cukup pakai motor, sudah sampai tapi kalau dulu, sebelum hari H, warga sudah membuat tenda-tenda pemukiman di sana,a�? terangnya.

Warga memang sengaja tidak datang hari H-nya. Hari H yang dimaksud yakni tanggal 20 tanggalan sasak. Hal ini untuk menghindari kekeliruan dalam melakukan hisab atau penghitungan dengan papan urige.

a�?Ya bisa saja, kan meleset satu dua hari, karena itulah dalam Bau Nyale ada istilah pemboyaq (waktu untuk mencari) biasanya dari tanggal 18 dan 19 kalender sasak dan penumpah (puncaknya) tanggal 20 kalender Sasak,a�? jelasnya.

Tokoh sepuh lainnya di dusun Batu Rintang yakni Papuq Ite bertutur sekitar tahun 70-an, saat tanggal 19-20 kalender Sasak, air di Tampaq Boleq dan Kaliantan benar-benar surut, hingga kering kerontang.

a�?Tapi sekitar tahun 80-an, air sekarang bahkan masih menggenang, hingga seleher, bahkan lebih,a�? kenang Papuq Ite.

Di tahun 70-an itu, warga yang ingin menangkap nyale, tidak perlu susah payah seperti saat ini harus berenang ke tengah laut, dengan air seleher bahkan lebih. Warga pun tinggal menangkap di sela-sela batu, dengan tangan atau jaring.

a�?Tapi saya tidak tahu kenapa sekarang airnya, tetap menggenang, kecuali yang dideret dekat bukit itu sedikit lebih kering,a�? ujarnya.

Papuq Ite mengatakan, ada empat tanda alam yang sangat lekat dengan Bau Nyale di Tampaq Boleq dan Kaliantan. Empat tanda alam ini selalu diyakini sebagai pertanda Nyale telah tiba.

a�?Tanda pertama adalah hujan angin,a�? terangnya.

Hujan angin, sebenarnya lebih pada tanda bahwa bulan 9 kalender Sasak telah tua. Jelang masuk bulan 10 kalender Sasak di mana tradisi Bau Nyale akan digelar. Tapi setidaknya ini sebagai penambah keyakinan masyarkat, hitungan mereka tak meleset jauh.

a�?Tanda yang kedua adalah tendek (gemuruh, Red),a�? jelasnya.

Tendek ini memang unik. Ia menjadi ciri khas yang paling identik bahwa telah tiba saatnya untuk bau nyale. Lombok Post sendiri yang datang ke tampak Boleq saat Bau Nyale pada 4 Februari lalu, memang mendapati bunyi gemuruh ini akan terdengar di atas jam 12 malam. Hingga jelang pukul 4 dini hari bunyi ini akan terdengar. Bunyi ini datang dariA� arah laut lepas di sebelah selatan laut Tampaq Boleq dan Kaliantan.

a�?Padahal tidak ada awan di sana, atau tanda-tanda akan turun hujan sebagaimana gemuruh kerap terdengar jelang akan turun hujan atau ada awan,a�? tuturnya.

Tendek itu dulu sekitar tahun 70-an bak alarm bagi masyarakat yang akan Bau Nyale. Jika gemuruh itu terdengar mereka, akan segera bangun dari tenda-tendanya. Lalu bersiap-siap menyongsong sang cacing legenda.

a�?Saat gemuruh akan terdengar warga akan berteriak Jabuuuuuuut!a�? kisahnya.

Meski kata Jabut punya konotasi negatif, tapi di tempat Bau Nyale, kata ini ibarat mantra. Warga percaya, semakin semangat dan kerat berteriak dengan kata ini, Nyale akan semakin banyak menepi ke pantai.

a�?Tanda yang ketiga adalah kelam (kilat, Red),a�? terangnya.

Tanda ini pun sama uniknya dengan gemuruh. Ada atau tidak ada mendung di langit, sebuah kilatan akan terlihat dari arah selatan laut beberapa kali. Tak jauh sebelum tendek berbunyi. Jika dua tanda ini terlihat, maka keyakinan masyarakat bahwa nyale akan banyak datang berlipat ganda.

a�?Tanda berikutnya yakni Nyale Aiq,a�? jelasnya.

Nyale Aiq adalah cacing laut dengan ukuran lebih pendek dari Nyale yang diburu masyarakat. Meski rasanya juga enak, tapi tak terlalu difavoritkan warga, karena cenderung cepat lebur dan hancur.

a�?Kalau di pemboyaq Nyale Aiq banyak yang mengapung di laut, biasanya di penumpah (di hari berikutnya) pasti Nyale yang diburu warga akan datang,a�? tuturnya.

Soal istilah Nyale Tunggak (nyale awal) pada bulan 10 kalender sasak dan Nyale Poto (nyale akhir) pada bulan 11 kalender sasak, menurut Budayawan Sasak Lalu Muksin, sebenarnya mengacu pada tangkapan. Warga akan mencari Nyale Poto, ketika Nyale Tunggak tangkapannya nihil atau sedikit.

a�?Jadi kalau Nyale Tunggak sedikit dapatnya biasanya warga akan mencari di Nyale Poto,a�? terangnya.

Begitu juga sebaliknya, jika di Nyale Tunggak hasil tangkapan sudah sangat banyak, warga yang mencari Nyale di waktu Nyale Poto relatif lebih sedikit. Karena biasanya jumlahnya memang tidak akan pernah sama-sama banyak.

Muksin pernah mendengar, dari buyutnya bahwa orang yang pertama kali Bau Nyale di Tampa Boleq dan Kaliantan dulu kala, adalah orang-orang dari Suradadi, Lombok Timur.

a�?Memang tidak ada catatan sejarah yang menguatkan ini, tapi setidaknya inilah warisan sejarah dari mulut ke mulut yang kami dengar dan warisi,a�? ujarnya.

Sepulang Bau Nyale, masyarakat selanjutnya akan membawa sedikit Nyale mereka, ke mbang-mbang sawahnya. Lalu menanam sedikit Nyale, dengan harapan doa, agar hasil pertanian bisa melimpah subur.

Sedangkan anak-anak kecil, akan disembeq keningnya, agar tidak ketemuq (kesambet, Red) sang Putri Mandalika. Selain itu terselip juga, harapan kelak jika tumbuh besar bisa secantik Putri Mandalika, dan sebijaksana putri yang namanya melegenda sepanjang zaman itu.

Bisa dengan Kalender Rowot

A�Menentukan datangnya bulan Nyale juga rupanya bisa menggunakan Kalender Rowot. Kalender tradisional Suku Sasak. Direktur Lembaga Rowot Nusantara Lombok Lalu Ari Irawan membenarkan hal itu.

Pria yang kini sudah menyandang gelar Doktor ini mengemukakan, tanggal 20 bulan mangse 10 menjadi acuan menentukan waktu pencarian Nyale bagi masyarakat Sasak. Namun, dalam perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini, menunjukkan bahwa kemunculan Nyale pada dasarnya merupakan pola migrasi hewan yang biasa dilakukan berbagai jenis hewan akibat perubahan musim.

Banyak pola migrasi yang dicatat pengamat fauna. Misalnya pola migrasi ikan paus di perairan dekat Australia menuju perairan NTT setiap tahunnya, akibat suhu yang meningkat di benua Australia. Berbagai jenis burung juga dicatat melakukan migrasi besar-besaran pada waktu tertentu.

Pola migrasi hewan ini pada dasarnya sangat bergantung pada perubahan yang terjadi di berbagai belahan bumi. Misalnya naiknya suhu permukaan laut, perubahan arah angin, posisi matahari terhadap suatu wilayah tertentu, dan sebagainya. Dengan alasan itu, maka dapat diasumsikan bahwa akan dapat terjadi perubahan masa migrasi hewan bila terjadi perubahan masa peralihan komponen-komponen perubahan lingkungan tersebut.

Di sisi lain, masyarakat Sasak mengenal sistem penanggalan tradisional sendiri. Sistem itu selama ini dikembangkan dan dipedomani masyarakat Sasak. Penanggalan yang bersumber dari catatan papan wariga itu menjadi acuan dalam berbagai aktivitas, seperti penentuan hari untuk penyelenggaraanA�gawe (hajatan), beteletanA�(bercocok tanam), membangun rumah, memulai usaha, pembagian musim, arah naga, danA�wukuA�atau pengaruh posisi rasi bintang terhadap persitiwa-peristiwa di permukaan bumi.

Ari menjelaskan, sistem kerja kalender Rowot adalah dengan cara melihat gejala alam dan pengamatan fenomena astronomi. Fenomena astronomi yang dimaksud adalah pengamatan terhadap peredaran gugus bintang Pleiades atau gugus bintang Seven Sister yang kemudian dikenal oleh masyarakat Sasak sebagai bintang Rowot.

a�?Ini menunjukkan masyarakat Sasak telah memaknai kebesaran Sang Maha Pencipta dalam ilmu astronomi secara pragmatis,a�? katanya.

Sebagai sistem perhitungan musim, penanggalan Rowot menggunakan kemunculan bintang Rowot secara pandangan dalam satu masa tertentu setiap tahunnya. Rasi bintang Rowot memiliki peran besar bagi masyarakat Sasak. Rasi bintang ini memiliki keunikan tersendiri jika disandingkan dengan rasi bintang lainnya, yaitu digunakan sebagai penanda awal dan akhir mangse dalam penanggalan Rowot Sasak.

Kalender Rowot Sasak dalam menentukan awal tahunnya juga memiliki pola hisabnya yang cukup unik. Jika penanggalan pada umumnya menetapkan awal tahun dengan tanggal satu, maka Kalender Rowot Sasak menandai awal penanggalannya dengan kembalinya bintang Pleiades pada posisi semula, serta diiringi pula denganA� pola 5 a�� 15 a�� 25. Pola ini diperoleh melalui observasi terhadap garis edar gugus Bintang Pleiades (Rowot) tahunan.

Kembalinya bintang Pleiades (Rowot) di arah timur pada saat pagi hari menjelang subuh yang dihitung dengan pola 5-15-25 inilah yang kemudian dianggap sebagai awal mangse penanggalan Sasak. Kejadian inilah yang kemudian dikenal dengan istilah a�?ngandang rowota�?. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Sasak memiliki kemampuan pengamatan dan pencatatan terhadap pergerakan pola edar rasi bintang yang mumpuni.

Kalender Rowot Sasak selayaknya kalender pada umunya memiliki jumlah bulan sebanyak dua belas bulan. Nama-nama bulan dalam Kalender Rowot Sasak menyesuaikan dengan nama-nama bulan pada penanggalan Hijriah, namun kemudian disesuaikan dengan peristiwa serta keadaan bulan pada masa itu.

Muharam-Bubur Puteq, Safar-Bubur Beaq, Rabia��ul Awal-Mulud,Rabia��ul Akhir-Suwung Penembeq,Jumadil Awal-Suwung Penengaq, Jumadil Akhir-Suwung Penutuq, Rajab-Mia��rat, Saa��ban-Rowah, Ramadhan-Puase, Syawal-LebaranNine, Zulkaidah-Lalang, dan Zulhijjah-Lebaran Mame.

Bila dikaitkan dengan fenomena nyale, pada dasarnya pola migrasi ini hanyalah salah satu tanda yang digunakan oleh para leluhur Sasak untuk memudahkan melakukan perhitungan. Bila kemunculan Rowot diposisikan sebagai penanda awal tahun (mangse ke-1), maka mangse ke-10 sejak itu adalah mangse Nyale.

Dalam hal ini, menurut Ari sistem kalender Rowot tetap berpatokan kepada janji Putri Mandalika sebagai penentuan kapan sebenarnya Nyale seharusnya dirayakan oleh masyarakat Sasak, bukan pada kemunculan Nyale yang dianggap sebagai penjelmaannya.

Lembaga Rowot sendiri sampai saat ini tidak fokus pada memperhitungkan kapan Nyale akan muncul, ataupun volume kemunculannya. Tapi menitikberatkan pada keinginan menjemput janji sang putri yang menyebutkan tanggal 20 bulan (mangse) 10.

Untuk itu, beberapa hal yang harus diperhatikan terkait penanggalan dalam kalender Rowot Sasak, yakni dihitung adalah jatuhnya tanggal 20 bulan 10, tidak berfokus pada kemunculan Nyale maupun volume kemunculannya. Menggabungkan perhitungan tradisional dengan sistem hisab Urfi Mahzam Mansyuriah.

a�?Nyale adalah nama mangse (bulan) bukan nama hari dan bukan satu-satunya pananda mangse yang digunakan. Ciri masuknya mangsenyaleA� juga dikaitkan dengan penanda alam lainnya,a�? jelas Ari.

Untuk memahami pola migrasi hewan tersebut, lembaga Rowot memberikan rekomendasi untuk dilakukan kajian lebih lanjut bersifat lintas-disiplin dengan melibatkan berbagai pakar terkait, yaitu bidang iklim, laut, ekositem, biologi, fisika, flora dan fauna, vegetasi, dan sebagainya

Hasil Kajian Ilmiah

Tentu saja, kemunculan Nyale bisa dideteksi secara ilmiah. Akademisi Universitas Mataram Imam Bachtiar memastikan hal tersebut.

a�?Kalau belum matang mengeluarkan telur atau sperma. Maka nyale tidak akan keluar,a�? kata doktor ahli biologi tersebut.

Dia menyebutkan, Nyale yang keluar dan ditangkap masyarakat ini sebetulnya bukan nyale atau cacing laut. Tapi itu merupakan sperma dan telur dari cacing nyale yang terlepas dari cacing tersebut.

Namun, kadangkala pula Nyale biasanya menyatu dengan sperma dan telurnya. Tapi kalau sudah matang biasanya mereka akan keluar dari Nyale. Biasanya warna hijau merupakan telur Nyale. Sedangkan yang warna cokelat sperma Nyale.

Memang kata dia, muncul tidaknya nyale kerap salah diprediksi menggunakan kalender nasional. Karena lebih tepat memang harus menggunakan kalender lunar (bulan atas). Dimana, masyarakat akan tahu kapan akan pergantian musim atau ada tanda-tanda dalam kalender lunar.

a�?Ini kadang tepat untuk memprediksi Nyale akan keluar,a�? sebut dosen Pendidikan Biologi Unram ini.

Ia menjelaskan, proses bertelur Nyale membutuhkan waktu lima bulan. Mereka tidak akan bertelur secara sendiri-sendiri. Namun secara berkelompok atau masal. Biasanya kata dia, Nyale ini akan bertelur dengan cara janjian dalam kelompok yang cukup besar. Waktunya pun dibilang cukup panjang. Lima bulan.

a�?September sudah mulai bertelur dan Februari sudah matang,a�? tuturnya.

Biasanya lanjut dia, cacing laut dan karang waktu bertelurnya hampir sama. Sehingga ia menyimpulkan Nyale dan karang membutuhkan waktu lima bulan untuk bertelur. Jika melihat dari sisi akademis, pada September atau awal Oktober suhu laut rendah. Biasanya 23 derajat celcius. Dalam bulan ini awal bertelur para Nyale karena suhu laut rendah.

Kini kata dia, kebanyakan metode memprediksi keluarnya Nyale masih banyak yang tradisional. Padahal kata dia, metode keluarnya Nyale tidak sulit dan semua orang bisa memprediksi. Namun apakah akurat atau tidak belum bisa dipastikan. Ia mengatakan, pada setiap bulan pasti ada purnama. Biasanya setelah lima hari setelah purnama pada Februari muncul Nyale.

a�?Kalau ada Nyale keluar pada 7 sampai 14 Februari maka Nyale belum semuanya matang. Jadi akan keluar lagi nantinya pada Maret,a�? sebutnya.

Ia juga meyakini pendapat orang tua yang menggunakan kalender lunar untuk memprediksi Nyale akan keluar. Karena pada bulan itu terjadi tanda-tanda alam yang bisa dipastikan untuk dipastikan keluarnya Nyale. Cacing Nyale ini bukan hanya ada di Pulau Lombok, namun ada di semua daerah yang pantainya bebatuan kapur.

a�?Kalau pantainya bebatuan vulkanik nyale tidak bisa berkembang. Nyale ini akan hidup di pantai bebatuan kapur,a�? terangnya.

Umur nyale paling lama lima tahun. Namun jika terus dilakukan penangkapan secara masal bisaA� berkurang. Apalagi sampai melakukan pengerusakan kepadaA� tempat tinggalnya akan membuat Nyale punah. (zad/ili/dss/jay/r8)

Berita Lainnya

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost