Lombok Post
Headline Politika

Ali BD: Menjadi Pemimpin Bukan untuk Mencari Kekayaan

MAJU BERSAMA RAKYAT: Calon Gubernur Independen Ali BD saat bersilaturahmi dengan masyarakat Desa Sakra, Lombok Timur, kemarin (8/3). TONI/LOMBOK POST

SELONG-Calon gubernur NTB independen Ali BD kemarin mendapat pertanyaan yang menarik dari salah seorang warga ketika dirinya bersilaturahmi ke Dusun Peroa, Desa Sakra, Kecamatan Sakra.

Nurlali Ulfah, salah seorang warga Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Sakra dengan polos menanyakan apa alasan Ali BD mau menjadi calon gubernur. Karena dari sepengetahuannya, pria yang akrab disapa Amaq Asrul ini merupakan orang yang terbilang cukup kaya. Dimana ia memiliki perusahaan dan usaha yang tersebar di beberapa wilayah yang ada di NTB.

a�?Kenapa Anda mau jadi gubernur padahal Anda sudah kaya raya? Kenapa Anda tidak santai saja menikmati kekayaan Anda yang sudah sangat melimpah,a�? tanya perempuan tersebut kepada Amaq Asrul, sapaan Ali BD.

Mendengar pertanyaan tersebut Ali BD yang juga Bupati Lombok Timur tersebut langsung tersenyum. Ia mengapresiasi pertanyaan tersebut karena menilai itu adalah pertanyaan yang tulus dari rasa penasaran masyarakat. Belum sempat menjawab, Ulfah juga melontarkan pertanyaan kedua terkait apa yang akan dilakukan Ali BD untuk menyejahterakan masyarakat kecil.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”192″ order=”desc”]

Misalnya seperti buruh tani atau kelompok peternak yang sebagian besar menjadi mata pencaharain warga di Desa Sakra.

Menjawab pertanyaan tersebut Ali BD menjelaskan ada beberapa jenis orang kaya dan calon pemimpin. Diterangkannya, ada orang kaya yang memiliki harta melimpah dan perusahaan yang maju. Ia kemudian memilih agar perusahaan tersebut dilanjutkan anak cucunya dan ia beristirahat menikmati hasilnya.

Kemudian ada juga jenis orang kaya yang memilih maju dalam dunia politik maju menjadi pemimpin karena ingin mengamalkan ilmu dan membagi pengalamannya untuk membangun daerahnya.

Sehingga, anggapan masyarakat yang selama ini berpikir bahwa para calon pemimpin ingin menjadi bupati atau gubernur untuk mencari kekayaan ditegaskannya sebagai sesuatu yang keliru.

Meskipun pada kenyataannya nanti ditemukan kondisi tersebut, itu dikatakan Ali BD bukanlah sosok pemimpin yang sesungguhnya.

a�?Donald Trump adalah salah satu orang terkaya di dunia. Jusuf Kalla juga begitu. Salah satu orang terkaya di Indonesia. Mereka maju menjadi pemimpin untuk membagi ilmu dan pengalamannya untuk bangsanya,a�? jelas Ali BD.

Orang kaya yang maju untuk membangun daerah seperti ini menurutnya banyak sekali ditemukan di dunia ini. Mereka ingin nama mereka tercatat sejarah karena telah berjuang membangun peradaban yang maju di eranya.

Mereka menyumbangkan segenap ilmu, pemikiran dan ide-idenya agar bermanfaat mengangkat kesejahteraan masyarakat yang dipimpinnya.

a�?Tapi kalau ada bupati atau gubernur yang sebelum menjabat rumahnya hanya satu tapi setelah menjabat rumahnya tiga, itu namanya dia menjadi bupati untuk mencari rumah,a�? sindir Ali BD.

Begitu juga dengan pemimpin yang ingin mencari kemewahan dan pujian. Ali BD menegaskan itu bukanlah sosok pemimpin yang sesungguhnya. Mereka hanyalah segelintir orang yang memanfaatkan simpati masyarakat dan jabatan yang diembannya hanya untuk memperkaya dirinya.

a�?Makanya harus diluruskan niat dulu. Karena jabatan bupati atau gubernur ini adalah perintah Tuhan. Nggak perlu takut tidak terpilih, karena niat kita utuk kebaikan. Saya beberapa kali tidak terpilih jadi bupati dan wali kota saya selalu tersenyum,a�? aku Ali BD.

Karena, jabatan kepala daerah dijelaskannya hanya salah satu cara untuk meraih kekuasaan dan kewenangan. Dengan kekuasaan tersebutlah, seorang pemimpin bisa berbuat untuk masyarakatnya. Bukan untuk dirinya, kelompok atau golongannya.

Terkait upaya untuk memberdayakan petani dan peternak, Ali BD menjelaskan bahwa kondisi petani yang ada di Indonesia jauh berbeda dengan yang ada di luar negeri. Dimana, pengelolaan pertanian di Indonesia masih menggunakan cara tradisional. Berbeda dengan petani luar negeri yang mengelola hasil pertanian dengan teknologi.

Ini akibat kepala keluarga yang memiliki lahan pertanian di Indonesia dijelaskan Ali BD sebanyak 42 persen. Dengan rata-rata setiap kepala keluarga memiliki setengah hektare. Berbeda dengan di luar negeri yang jumlah petaninya hanya 2,5 persen dari jumlah penduduknya.

Dengan lahan pertanian yang mereka miliki mencapai ratusan hingga ribuan hektare. a�?Inilah yang membuat perbedaan kondisi petani di luar negeri dan kita di sini. Bahkan kita di sini banyak petani yang hanya jadi buruh menggarap lahan orang karena tidak punya sawah,a�? jelasnya.

Sehingga, kesejahteraan para petani di NTB sulit terbangun. Akibat lahan yang mereka garap terlalu sempit. Untuk itulah pemerintah hadir membantu para petani mengatasi kemiskinan yang selama ini bersahabat dengan mereka.

a�?Program pemerintah sudah sangat banyak, mulai dari pemberian bantuan modal KUR bagi petani, bantuan bibit hingga program lainnya,a�? jelas Ali BD.

Hanya saja, sejumlah program itu belum bisa mengangkat kesejahteraan nasib para petani. Lantaran nilai jual hasil pertanian yang masih rendah. Begitu halnya dengan peternakan yang masih dikelola dengan cara tradisional. a�?Inilah pentingnya keberadaaan industri pertanian dan peternakan. Dengan adanya industri pertanian yang menyerap hasil petani, maka nilai jual akan lebih tinggi. Lapangan kerja juga akan terserap,a�? paparnya.

Dimana, selama ini industri ini belum terbangun maksimal di NTB. Sehingga, tugas pemimpin berikutnyalah yang dikatakan Ali BD harus mendorong hadirnya industri di NTB.

a�?Misalnya kita mau bangun industri pabrik pakan. Ya ini otomatis akan berdampak mendorong adanya industri peternakan sapi yang butuh pakan,a�? terangnya. Begitu juga dengan kehadiran pabrik lain yang menyerap hasil pertanian petani. Dengan adanya pabrik, nilai jual hasil pertanian akan lebih tinggi dan terserap oleh perusahaan.

Misalnya saja seperti keberadaan pasar tradisional yang menjadi pusat aktivitas ekonomi, infrastruktur jalan hingga bantuan modal dan program lainnya.

a�?Pemerintah itu tugasnya untuk mengatasi kemiskinan. Setiap hari dia harus berpikir seperti itu. Kalau nggak mau mikir bagaimana mengatasi kemiskinan, jangan pernah jadi pemerintah,a�? tegas pria yang identik dengan kacamata hitam tersebut. (ton/r8/*)

Berita Lainnya

Korban Gempa Tagih Janji Jokowi

Redaksi LombokPost

Bantuan Air Bersih Dihentikan

Redaksi LombokPost

Pembangunan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi LombokPost

Pilkades Serentak Harus Dievaluasi

Redaksi LombokPost

4564 Honorer Lotim Akan Dievaluasi

Redaksi LombokPost

Akhirnya Darmaga Labuhan Haji Dikeruk Juga!

Redaksi LombokPost

7.000 Petisi Penolakan Juknis Bantuan Gempa

Redaksi LombokPost

Pendaftaran Calon Angota KPU Diperpanjang

Redaksi LombokPost

Target Diprediksi Meleset!

Redaksi LombokPost