Lombok Post
Headline Metropolis

Kami Bukan Ekstremis!

NYAMAN DAN TENANG: Sejumlah wanita bercadar berkumpul di kawasan Lawata, Kota Mataram, kemarin (8/3). IVAN/LOMBOK POST

Niqab atau cadar itu hanya sebagian kecil dari ekspresi cinta pada ajaran Islam. Karena itu, jangan larang siapa pun yang tengah jatuh cinta pada ajaran agamanya a��

————————–

KEPUTUSAN UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bikin geger. Rektornya dengan tegas melarang mahasiswi mengenakan Niqab atau Cadar. Jika larangan itu untuk pria, mungkin tak jadi soal. Tapi tak bisa dipungkiri, perbedaan pandangan ulama telah melahirkan satu cara pandang yang melihat cadar adalah kewajiban di dalam agama.

Lantas bagaimana Mahsiswi Universitas Mataram (Unram) menyikapi persoalan pro kontra cadar di dalam kampus belakangan ini?

Adalah Roaetun Nabiya, mahasiswi Jurusan Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram ikut bicara. Mahasiswi semester 6 ini yang telah lama berniqab ini mencoba jernih melihat peresoalan. “Berbeda pendapat itu wajar,a�? kata Nabiya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Baginya, cadar hanya soal keyakinan dan pilihan. Tapi ia tak berharap perbedaan ini lalu menjadi benih-benih persoalan. Pada akhirnya menyudutkan pilihan orang lain. a�?Tapi jangan sampai mendeskreditkan pengguna (cadar),a�? harapnya.

Para pengguna cadar berada pada posisi minoritas. Sehingga rentan untuk ditekan secara psikologis. Nabiya secara terbuka mengakui ia acap kali mendapat serangan psikologis atas pilihannya. Salah satunya disebut sebagai hantu ala jepang. a�?Saya disebut Ninja Hatori,a�? sesalnya.

Tapi sejauh ini ia memang bisa mengendalikan diri. Ia tak pernah mau ambil pusing jika pada akhirnya ada beberapa orang yang tak senang dengan penampilannya. a�?Nanti juga bosan,a�? celetuknya santai.

A�Tapi ada satu hal yang tak bisa ia terima. Saat para pengguna cadar disebut sebagai golongan garis keras atau ekstrimis. “Nggak setuju!a�? tegasnya.

Bagi Nabiya tak ada alasan apa pun yang lebih kuat untuk melarang cadar, selain hanya menduga-duga saja. Saat menyebut para wanita yang memilih bercadar pasti seorang ekstrimis adalah kesalahan besar.

Faktanya ia bercadar pun bukan karena ia merasa golongan garis keras dan melihat keputusan yang diambil orang lain keliru. “Wajib cadar masih pro dan kontra. Ada ulama yang mewajibkan ada pula yang tidak. Tapi ada pula yang melihat ini sebagai sunnah saja. Jadi saya nggak berani bilang wajib atau gak wajib,a�? terangnya.

Ia pun memilih bercadar lebih banyak oleh alasan kebutuhan saja. Ia mengaku lebih merasa nyaman saat menggunakan cadar dari pada sebelum menggunakan itu. “Nggak perlu repot-repot pake make up,a�? celetuknya.

Belum lagi manfaat dari cadar yang bisa menghindari muka, hidung, dan mulutnya dari seragan debu. Apalagi ia punya masalah dengan kesehatan kalau terlalu sering terpapar debu.

Lebih jauh ia menilai setiap orang yang pakai cadar belum tentu menjamin ia seorang muslim yang kaffah. Sepanjang yang ia ketahui saat menutup wajah dan menggunakan pakaian yang longgar ada rasa nyaman yang tak tergantikan. Meski tak bisa dipungkiri banyak juga yang akhirnya bercadar karena merasa diperintah oleh agama.

a�?Apa terus yang nggak pakai cadar, nggak pakai jilbab, pakai baju seksi di bilang Islam garis lemah gitu?a�? tanyanya balik.

Karena itu pada kasus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Nabiya melihat persoalan ini terkesan mendeskreditkan teman-temannya yang akhirnya memutuskan untuk bercadar. Serangannya terlalu menohok ke persoalan keyakinan perorangan. Jika harus cadar dilarang, ia bahkan menyarankan agar mahasiswa juga jangan pakai masker.

a�?Soal pandangan takut ada ajaran liberal, radikalisme, atau terorisme itu sebaiknya kampus yang melarang minta tolong saja adakan pelatihan duta damai oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme RI,a�? sarannya.

Nabiya pun mengatakan mengenakan cadar hanya sebagaian kecil dari ekspresi cinta seorang muslimah pada ajaran agamanya yang ia pahami. Meski ia mengaku masih banyak hal-hal yang bisa dilakukan untuk menggambarkan rasa cinta pada ajaran agama, tapi tentu tak elok melarang orang untuk mengekspresikan cintanya pada ajaran agamanya. “Jangan larang orang jatuh cinta,a�? sarannya.

Karena itu, ia tegaskan tidak semua orang yang bercadar itu memiliki pemikiran radikal. Bahkan ada pula yang berhati Unyu dan Helo Kitty seperti halnya dirinya.

Bahkan secara terbuka Nabiya mengatakan dirinya sama dengan wanita yang tak bercadar. Termasuk dalam hal jatuh cinta. “Jatuh cinta itu fitrah, karena dakwah adalah cinta,a�? ujarnya puitis penuh makna.

Meski a�?bersembunyia�� di balik niqab, Nabiya juga wanita yang mudah runtuh bila berhadapan dengan cinta. Jadi bercadar tak membuat ia lalu berubah jadi wanita yang kebas dan kurang sensitif pada perasaan.

Jika pun takdir harus mempertemukan ia dengan seseorang yang ia cintai, maka seperti kebanyakan wanita lain yang pandai menyembunyikan rasa cinta, Nabiya pun tak akan merasa cukup hanya dengan menutup cintanya dengan cadar. “(Kalau bertemu pujaan hati) saya akan pergi,a�? jawabnya pendek.

Ketua Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Universitas Mataram Sholeh, meminta persoalan cadar dilihat secara jernih. Tidak boleh ada asumsi berlebihan sebelum ada bukti yang kuat atas tuduhan di balik cadar. Seperti mengklaim setiap orang yang bercadar pasti kelompok garis keras atau radikal.

a�?Saya rasa cadar itu nilainya sama seperti hak untuk makan minum, mengeluarkan pendapat,a�? ujar Sholeh.

Sekalipun di dalam agama persoalan cadar juga masih dalam ikhtilaf atau perbedaan dikalangan para ulama. Tapi sepantasnya tidak ada yang boleh melarang orang mengambil keputusan mengikuti ulama manapun. Termasuk dalam hal ini akhirnya memilih untuk mengikuti ulama yang mewajibkan cadar.

a�?Saya rasa apa pun keputusannya kita harus menghormati pilihannya, bukan malah membully atau sampai membenci mahasiswi yang bercadar,a�? tegasnya.

Jika kemudian alasan melarang cadar salah satunya adalah kekhawatirkan pihak kampus akan ada join ketika ujian, menyembunyikan jawaban ujian, tentu pilihannya bukan dengan melarang. Sebab pilihan melarang sangat resisten dengan melarang mereka menjalankan syari’at Islam yang diyakininya.

a�?Apa ada yang bisa menjamin bahwa, mahasiswa yang tidak bercadar dan berhijab itu bebas dari nyontek?a�? tekannya.

A�MUI Setuju Cadar Dilepas, Asala��

Sementara itu, Ketua MUI Provinsi NTB Professor Saiful Muslim menegaskan pada dasarnya cadar masuk dalam hak asasi. Setiap orang berhak mementukan kebebasannya dalam beribadah pada Tuhannya. “Ya keputusan itu harus kita hargai,a�? kata Saiful.

Tapi apa yang diresahkan pemerintah juga layak untuk dijadikan perhatian. Sebab tidak menutup kemungkinan para pengguna cadar memang punya itikad yang bertentangan dengan pilar-pilar negara.

a�?Misalnya cadar itu digunakan untuk menyembunyikan diri supaya tidak dilihat orang saat menyebar paham radikal, ya saya setuju cadarnya harus dilepas,a�? tegas Saiful.

Apalagi jika ajarannya beraroma khas untuk merong-rong pilar-pilar bangsa. Karena yang bercadar berafiliasi pada organisasai transinternasional. Visi mereka bercadar cenderung melawan pilar-pilar NKRI, maka harus ditindak.

a�?Karena itu semua tuduhan harus ada bukti yang kuat terlebih dahulu,a�? sarannya.

Seorang mahasiswi yang terlihat bercadar, tidak serta merta bisa diklaim ia kontraproduktif dengan NKRI. Tapi memang belum bisa juga dijamin bahwa ia setia pada Pancasila, UUD 45, dan Bhineka Tunggal Ika. “Ya saran saya sebaiknya mahasiswa itu harus ditanya, apa tujuannya bercadar, jika pada akhirnya terbukti menyebarkan paham anti NKRI ya harus ditindak,a�? tegasnya.

Jangan sampai sikap institusi pendidikan lalu membuat banyak umat dalam hal ini umat Islam tersinggung. Semua harus jelas, sebelum akhirnya memutuskan untuk melarang atau membiarkan. a�?Kalau pada kasus UIN itu kan belum ada bukti, ya harus buktikan dulu dong dugaannya,a�? tandasnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost