Lombok Post
Metropolis

Perintahnya Menutup Aurat

TERTUTUP: Seorang wanita menggunakan cadar, sebagai bagian dari upayanya menjalankan perintah agama, yakni menutup aurat. IVAN/LOMBOK POST

MATARAM-Sejarawan Islam dari UIN Mataram Dr Jamaluddin mencoba mendudukan soal Niqab atau cadar yang belakangan ini ramai diperbincangkan. Sejauh eksplorasinya pada literatur Islam, Jamal sampai pada kesimpulan cadar salah satu produk budaya Timur Tengah.

a�?Dan kebetulannya Islam memang saat itu turun di Arab,a�? lanjut Jamal.

Secara substansi nilai ajaran, Islam menurutnya membutuhkan a�?kendaraana�� berupa budaya untuk merefleksikan secara nyata bentuk ajarannya. Karena itu, nilai-nilai ajaran Islam yang universal saat dicontohkan oleh Nabi, disebutnya tidak lepas dari tradisi Arab. “Jadi pakaian itu ya tradisi Arab,a�? ulasnya.

Meski tidak lepas dari budaya, Jamal mengatakan konsep fashion Niqab lengkap dengan Burqa (pakaian yang menutup seluruh tubuh) cukup bagus dalam hal fungsi. Desain pakaian ini dinilai merefleksikan maksud dari perintah Islam yakni menutup aurat.

a�?Sebab di dalam Alquran tidak disebut secara spesifik harus menggunakan Burqa dan Niqab itu, perintahnya hanya menutup aurat saja,a�? jelasnya.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Niqab dan Burqa sebagai produk budaya, kasusnya sama seperti baju koko yang oleh kebanyakan masyarkat juga sering disebut baju takwa. Disadari atau tidak, persepsi baju koko itu produk ajaran Islam sangat kuat di kalangan masyarat bawah. Banyak yang tak afdol beribadah baik di rumah atau masjid, jika tidak memakai baju koko.

a�?Padahal baju koko itu awalnya baju masyarakat Tiongkok. Hanya karena oleh umat muslim dulu dinilai memenuhi standar untuk pakaian ibadah, ya jadilah baju koko. Atau ada yang menyebutnya baju takwa,a�?A� ulasnya.

Begitu juga halnya untuk jubah dan pakaian lain yang kerap diidentikan sebagai pakaian ajaran Islam. Tapi bagi Jamal, sebenarnya tidak ada salahnya, jika pada akhirnya seseorang memilih menggunakan Niqab, baju Tiongkok atau jubah khas Arab.

Sama halnya juga tidak ada salahnya seseorang memilih menggunakan sarung, kemeja, baju safari, batik, dan lain-lain. a�?Selama memenuhi syarat untuk menutup aurat, ya sama,a�? ulasnya.

Lebih jauh, Niqab terlihat asing karena sejak awal Islam masuk ke Indonesia, tidak disertai fashion Arab oleh para pedagang Islam kala itu. Tetapi nilai-nilai substantif dari ajaran Islam. Karena itu walau akhirnya banyak masyarakat nusantara tertarik memeluk agama Islam, mereka tetap berpakaian seperti yang diwariskan leluhurnya.

Hanya saja perbedaanya lebih tertutup saja. Jika awalnya hanya menggunakan kemben. Setelah Islam masuk, pakaian lebih ditutup menggunakan kain dan kerudung.

Karena itu, jika ditengok ke belakang, banyak wanita-wanita muslim di Indonesia, hanya sedikit yang menggunakan Cadar. Bahkan wanita-wanita sepuh, istri para ulama pendiri organisasi massa berbasis Islam seperti NU dan Muhammadiyah, menurut Jamal cenderung tidak ada yang menggunakan itu.

a�?Niqab muncul belakangan. Bisa di bilang baru-baru ini, sehingga wajar jika masyarakat Muslim di Indonesia melihat ini sebagai sesuatu yang asing,a�? jelasnya.

Karena itu, Jamal menyarankan yang paling baik adalah dengan memberikan hak memilih itu pada masing-masing individu. Seorang yang bercadar tidak boleh memaksa orang ikut bercadar. Begitu juga sebaliknya orang yang tidak bercadar, tak boleh memaksa orang melepas cadarnya.

a�?Menurut saya ya silakan saja yang mau bercadar, yang tidak mau bercadar silakan juga,a�? sarannya.

Yang penting hadirnya agama Islam sebagai ajaran yang rahamatan lil alamin harus bisa diwujudkan. Baik oleh yang bercadar atau tidak bercadar. Dan dalam hal ini, UIN sebagai institusi pendidikan paling tinggi mengkaji soal agama, harus bisa hadir sebagai ruang-ruang yang akomodatif melakukan kajian soal ikhtilaf-ikhtilaf dalam beragama.

Secara proporsional dan mendidik. a�?Jadi bukan dengan menolak mereka (yang bercadar) masuk dalam lingkungan kampus, tapi kita ajak berdiskusi soal ini sehingga didapat pemahaman yang paling baik dalam menjalankan agama,a�? tandasnya. (zad/r5)

Berita Lainnya

Zul-Rohmi Perlu Banyak Sosialisasi

Redaksi Lombok Post

Mengejar Mimpi Jadi Daerah Industri

Redaksi Lombok Post

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Tolong, Jangan Masuk Angin!

Redaksi LombokPost

Volume Monumen Tak Sesuai Kontrak, Rekanan Didenda Rp 1,2 Juta Perhari

Redaksi LombokPost