Lombok Post
Headline Metropolis

Antara Ilmu dan Jabatan, Kuliah S2 Mulai Jadi Kebutuhan Warga Kota

KAJI TESIS: Habib (tengah dari kanan) Mahasiswa Pascasarjana Magister Kenoktariatan Fakultas Hukum Universitas Mataram (Unram) terlihat sedang mendiskusikan penelitian akhirnya di halaman kampus FH Unram, kemarin (12/3). Fatih/Lombok Post

MATARAM-Secara rata-rata, mereka tidak semuda mahasiswa biasa. Kebanyakan di antara mereka sudah bekerja dan berkeluarga. Ya, mereka adalah mahasiswa pascasarjana atau S2. Para penuntut ilmu yang sudah menyandang gelar sarjana.

“Tuntutlah ilmu sejak dari buaian sampai ke liang lahat.” Hadis Rasulullah SAW itu nampaknya begitu dihayati oleh mereka yang tak pernah lelah menuntut ilmu di bangku pendidikan. 6 Tahun SD, 3 Tahun SMP, 3 Tahun SMA, dan 4 Tahun Sarjana tak membuat para Mahasiswa S2 merasa jenuh dengan tempat belajar bernama kelas.

Rahmat Bayu Ikang, seorang Mahasiswa Pascasarjana Magister Kenoktariatan FH Unram bahkan mempunyai dua gelar sarjana. Ekonomi dan Hukum. Dua jurusan itu ia tuntaskan dalam kurun waktu kurang lebih 7 tahun. Ditanya mengenai hal itu, ia mengatakan semua itu karena tuntutan pekerjaan.

a�?Karena saya bekerja jadi notaris di sebuah perusahaan, maka hal itu menuntut saya menyandang gelas sarjana Hukum,a�? katanya pada Lombok Post, senin (12/2).

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Setelah bekerja, tak lama kemudian ia pun memilih meraih gelar master kenotariatan. Karena bekerja, ia memilih kuliah sore dengan biaya Rp 12 juta per semester. Biaya itu lebih mahal Rp 2 juta dengan bayaran mereka yang mengambil kuliah pagi, yakni Rp 10 juta per semester.

Dengan dua gelar sarjana dan sebuah pekerjaan, Ikang tetap ingin menambah ilmu dan kemampuannya. Gelar master pun dirasa penting. Menurutnya, waktu tidak begitu menjadi persoalan. Pagi kerja, sore kuliah. Apalagi kalau pekerjaannya juga lebih banyak di lapangan.

a�?Kalau saya bergelar master, saya tidak perlu lagi bekerja di orang lain. Saya bisa membuat kantor notaris sendiri,a�? kata Ikang.

Adapun soal biaya, Ikang mengatakan dengan jujur, kalau hal itu masih dibantu orang tua. Karena meskipun ia sudah bekerja, biaya kuliah yang cukup tinggiA� masih butuh bantuan orang tuanya.

“Saya tidak akan seperti ini tanpa dukungan penuh dari orang tua,a�? tambahnya. Karena itu pulalah Ikang merasa sangat bersyukur karena bantuan dan support yang selama ini diberikan oleh orang tuanya.

Namun berbeda dengan Ikang yang sudah bekerja, Habibillah, teman kelas Ikang yang siang itu sedang mengurus tugas akhirnya memiliki kondisi berbeda. Ia tak bekerja, melainkan langsung melanjutkan kuliah. Hanya beberapa bulan setelah ia meraih gelar sarjana.

Ditanya mengenai alasannya menuntut ilmu lagi, Habib justru memberikan jawaban yang dikutip dari teman di sampingnya, Resti Ramadiniyaty. a�?Rata-rata ya, mereka yang mengambil program pascasarjana ini merupakan sarjana yang tak dapat kerjaan,a�? kata Resti dengan blak-blakan.

Habib pun mengiyakan kata Resti. Akan tetapi ia juga menjelaskan bagaimana tidak mudahnya untuk menjadi seorang notaris yang memiliki kantor sendiri. Di mana semua itu tidak cukup dengan gelar master yang ditempuh selama 2 tahun.

a�?Setelah 2 tahun meraih gelas master, kita harus magang 2 tahun lagi. Baru tes uji kompetensi,a�? terang Habib.

Dani Alkohar, teman sekelas Habib mengatakan, pada dasarnya, mengambil program pascasarjana akan lebih enak bagi yang sudah bekerja. Sebab dengan itu mereka sudah melakukan praktek langsung.

Terkadang, ia menjelaskan, akan mengangkat permasalahan-permasalahan dalam dunia kerja pada saat jam kuliah sedang berlangsung. “Sebenarnya jika ditanya antara ilmu atau pekerjaan, dua-duanya menyatu. Kita mencari ilmu agar dapat pekerjaan. Begitu juga bagi yang sudah bekerja,a�? terang Dani.

Tentu begitu banyak jawaban yang bisa ditemukan dari banyaknya mahasiswa pascasarjana lainnya. Tidak muluk-muluk. Keinginan mendapatkan gelar agar lapangan pekerjaan semakin terbuka lebar tentu menjadi salah satu pemicu. Jika tidak begitu, lalu mengapa Rp 12 juta keluar setiap satu semester?

Di luar itu semua, Ikang dan kawan-kawannya terlihat menikmati kuliah sore di Magister Kenoktariatan FK Unram. Mereka yang memilih kuliah sore sebagian besar merupakan mahasiswa S2 yang saat ini sudah memiliki pekerjaan tetap. Mungkin kata jangan pernah puas ada tepatnya bila disematkan pada mereka. (tih/r5)

Berita Lainnya

Gerbang Kota Ikut Terseok-Seok!

Redaksi Lombok Post

Spa Abal-Abal Kembali Tersenyum

Redaksi Lombok Post

Usia 16 Tahun Terlarang Menikah

Redaksi Lombok Post

330 Tukang RISHA Minggat, Rumah Korban Gempa Baru Jadi 85 Unit

Redaksi Lombok Post

Ogah Berniaga di Jalan Niaga

Redaksi LombokPost

Masih Banyak Warga Loteng Buang Air Besar Sembarangan

Redaksi LombokPost

Pemkab dan ITDC Raih Penghargaan ISTA

Redaksi LombokPost

Ahli: Penangkapan Muhir Bukan OTT

Redaksi LombokPost

Pola Prabowo-Sandi dan Jokowi-Ma’ruf Serupa

Redaksi LombokPost