Lombok Post
Headline Metropolis

Setahun, Enam Paus Terdampar dan Mati

TERDAMPAR: Seekor Paus Sperma (physeter macropelus) terdampar di pantai Tabuan Dusun Kwang Rundun, Desa Kwang Rundun, Kecamatan Jerowaru, Lotim (29/3) lalu. Paus Sperma malang tersebut merupakan paus ke enam yang sudah terdampar di pesisir daerah NTB dalam setahun terakhir. Fatih/Lombok Post

Ikan-ikan ini berstatus dilindungi. Bila ditangkap, mereka bisa menyeret nelayan ke dalam bui. Meskipun ia menepi sendiri. Bahkan dalam keadaan mati.

———————–

Akhir Maret lalu, warga pesisir Dusun Kwang Rundun, Desa Kwang Rundun, Kecamatan Jerowaru Lotim dikejutkan oleh kehadiran seekor paus sperma (physeter macropelus). Mamalia perairan yang dikenal dengan sebutan paus kepala kotak tersebut ditemukan dalam keadaan mati di radius 500 meter dari pesisir pantai.

Warga pesisir yang tak mengetahui bahwa ikan bertulang belakang tersebut dilindungi segera mengambil alat pemotong untuk mengambil gigi dan ekornya. Gigi sepanjang 1 meter dan ekor 1,5 meter itu pun lenyap seketika.

Lalu Adrajatun, staf respon cepat balai pengelolaan sumber daya pesisir dan laut (BPSPL) Denpasar wilayah kerja (Wilker) NTB mengatakan, paus sudah ditemukan dalam kondisi kode 4 atau mati. a�?Kondisinya pun sudah tak bergigi dan ekornya terpotong,a�? kata Drajat.

Baca Juga :[su_posts template=”templates/list-loop.php” taxonomy=”post_tag” tax_term=”218″ order=”desc”]

Setelah mengidentifikasi paus, bersama tim dari PSDKP NTB, Kamtibmas Jerowaru,A� dan perangkat Desa Kwang Rundun, Paus malang itu pun dikuburkan di pesisir. Menggunakan escavator, proses penguburan paus dilakukan sampai jelang pukul 22.00 Wita.

Paus Sperma yang diduga berasal dari perairan Australia tersebut bukan merupakan ikan dilindungi yang pertama kali menepi sendiri. Sebelumnya, menurut data dari BPSPL Denpasar Wilker NTB, sejak tahun 2017 lalu, sudah ada enam ikan dilindungi yang terdampar di perairan NTB.

a�?Paus dengan ukuran yang terpanjang itu di Sumbawa. 16, 5 meter,a�? terang Drajat.

Belum lama ini, dikabarkan ada sekitar 150 paus yang terdampar di perairan Australia. Dari kejadian tersebut, Drajat menduga bahwa Paus Sperma yang terdampar di pantai Tabuan, Kwang Rundun berasal dari Australia.

Ia menjelaskan, paus terdampar karena terpisah dari koloninya saat melakukan migrasi. Adapun migrasi Paus Sperma yang terdampar tersebut diperkirakan mengikuti arus yang menuju selat Bali-Lombok, kemudian memanjang ke Makasar.

a�?Kalau berkaca pada kejadian tahun sebelumnya, kalau sudah ada satu yang terdampar, biasanya akan ada lagi kejadian serupa,a�? terang Drajat.

Melihat kemungkinan besar ikan-ikan yang dilindungi tersebut menyerahkan diri ke warga pesisir, kekhawatiran akan warga yang belum teredukasi pun muncul. Padahal, menurut Drajat, berdasarkan hukum yang berlaku, mengambil daging hewan dilindungi dalam keadaan mati pun, tetap bisa dikenakan sanksi.

a�?Makanya kemarin itu saya mencari tahu warga yang mengambil gigi dan ekor paus tersebut,a�? kata Drajat.

Selama ini, BPSPL Denpasar Wilker NTB telah membuat kelompok masyarakat pengawas kelautan dan perikanan (Pokwasmas) di setiap Kabupaten/Kota. Pokwasmas bertugas untuk segera melaporkan ke tim respons cepat ketika hewan dilindungi ditemukan terdampar, atau tak sengaja tertangkap jaring nelayan.

Kejadian seperti itu pernah terjadi pada 25 Februari 2017 lalu. Seorang nelayan tak sengaja menjaring Hiu Paus atau Hiu Tutul. Tak tahu bahwa ikan tersebut dilindungi penuh oleh Negara, nelayan itu pun menawarkannya kepada seseorang yang pernah dibui karena persoalan yang sama. Namun begitu diberi kabar, hiu itu pun dilepas di pantai Ampenan.

a�?Dari sanalah kita dapat informasi.A� Beruntung, warga tidak menjualnya. Kabarnya pun jadi terdampar,a�? terang Drajat.

Persoalan tangkap menangkap ikan dilindungi ini memang rumit bagi nelayan. Drajat mengatakan, kebanyakan warga pesisir menaruh kepercayaan tersendiri tentang terdamparnya ikan yang dilindungi. Seperti paus, hiu, pari, lumba-lumba dan yang dilindungi lainnya, bila mereka menepi, artinya mereka sudah menyerahkan diri untuk disantap warga pesisir.

a�?Ikan dianggap punya naluri. Warga percaya, bahwa ketika mereka tak sanggup lagi melanjutkan perjalanan ketika migrasi, maka mereka sengaja ke tepi,a�? terang Drajat.

Drajat pun menguatkan anggapan masyarakat dengan menceritakan delapan ekor paus yang terdampar di Sumbawa Barat. Dari delapan paus tersebut, ada satu ekor yang terluka. Dari keadaan tersebut, Drajat menduga, tujuh ekor paus lainnya berenang ke tepi untuk mengantarkan temannya yang sudah terluka.

a�?Tapi kita kembali ke hukum. Di sinilah kita harus mengedukasi masyarakat,a�? kata Drajat.

Secara umum, semua jenis paus dan lumba-lumba dilindungi. Berbeda dengan hiu dan pari. Dua jenis ikan tersebut ada yang dilindungi terbatas, ada juga yang berstatus dilindungi penuh. Selain itu, ikan-ikan yang berpotensi membawa nelayan ke jeruji adalah beberapa jenis tertentu dari penyu, kima, lobster, kepiting, dan juga rajungan.

Mitos Minyak Paus

Jika dilindungi, lalu bagaimana dengan minyak paus mati? Rahman, seorang warga Jerowaru mengaku minyak paus sangat ampuh mengobati segala jenis penyakit. Tak hanya penyakit, ia juga bisa menyembuhkan luka, dan konon dipercaya jadi ramuan yang membuat hati wanita jatuh cinta selamanya.

Siang itu, Rahman membawa puluhan botol mineral ke hadapan bangkai Paus Sperma yang terdampar di pesisir pantai Tabuan. Dari pukul 14.00 sampai 17.00 wita, ia duduk di sana. Mengambil minyak paus yang keluar dari kulitnya yang sudah mengeluarkan bau busuk.

a�?Saya dikenal banyak orang pandai mengobati karena minyak paus ini,a�? kata Rahman.

Minyak yang membuatnya terkenal adalah minyak Paus Sperma (physeter macropelus) yang terdampar di Siriwe, Jerowaru, 12 Januari tahun lalu. Ia mengatakan bahwa khasiat minyak dari Paus Sperma sangat ampuh untuk mengobati banyak penyakit.

a�?Kalau dipakai oles-oles, ini juga bisa jadi obat kuat bagi pria,a�? kata Rahman.

Entah karena namanya Paus Sperma, tapi hari itu Rahman dengan semangat menampung berbotol-botol minyak paus. Ia mengatakan, minyak dari bangkai paus tersebut akan dicampur dengan minyak buatannya. Dengan begitu, campuran minyak Paus Sperma dengan minyak buatannya akan menghasilkan hasiat sempurna.

a�?Makanya saya tunggu-tunggu lagi paus ini terdampar,a�? kata Rahman.

Berbeda dengan Rahman yang cukup bahagia melihat seekor paus terdampar, Uken seorang petani dari Kwang Rundun mengatakan sedih melihat kondisi paus tersebut.

a�?Saya prihatin melihat kondisi paus yang dipotong gigi dan ekornya oleh warga. Saya berharap warga bisa dikasi masukan tentang pentingnya menjaga hewan yang dilindungi Negara,a�? kata petani muda itu.

Apa yang dirasakan Uken bukan hanya persoalan iba, tapi yang lebih penting lagi adalah soal pidana. (tih/r5)

Berita Lainnya

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost

BPBD Tunggu Perintah Perkim

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Sudah Lama Ambles, tapi Dicuekin!

Redaksi LombokPost

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

169 Formasi Gagal Terisi

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

Redaksi LombokPost