Lombok Post
Headline Metropolis

Demam Homeschooling Menjangkiti Mataram

ASYIK BELAJAR: Seorang anak di Mataram, asyik belajar bersama sang ibu di dalam rumahnya, kemarin (3/4). IVAN/LOMBOK POST

MATARAM-Zaman kian berubah. Pola pikir masyarakat pun secara otomatis, menjadi semakin berkembang. Salah satunya pada sistem pendidikan.

Jika beberapa tahun silam, dunia pendidikan hanya mengenal sekolah, les, atau les private. Kini sistem pendidikan rumahan atau yang lebih dikenal homeschooling kian terkenal dan menjamur. Termasuk di Kota Mataram sendiri.

Para siswanya pun sangat beragam, mulai dari anak pejabat, pengusaha, hingga masyarakat biasa.

Pola pembelajaran homeschooling hampir serupa dengan sekolah umum. Namun, yang membedakan hanya lokasi belajarnya saja. Homeschooling menerapkannya di dalam rumah sang anak.

Memilih pendidikan homeschooling memang gampang-gampang susah. Apalagi di zaman milenial ini. Anak tak perlu repot bangun pagi dan buru-buru berangkat ke sekolah. Orang tua juga tak perlu mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli seragam dan transportasi anak.

Selain itu, jam belajar anak juga dinilai lebih fleksibel dan bisa diatur sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Terdengar menyenangkan bukan?

Tapi tunggu dulu. Tidak semua keluarga memilih pola pendidikan homeschooling. Ada yang lebih nyaman menyekolahkan anak-anaknya di dalam sekolah formal, dikarenakan ingin anaknya bersosialisasi dengan orang banyak. Namun, ada juga yang ingin anaknya homeschooling di rumah saja, dikarenakan sejumlah alasan.

Seperti yang dihadapi oleh Nuniks Indah Gayatri, salah satu warga Pejeruk, Ampenan, Mataram. Sebab, satu tahun belakangan ini, ia lebih memilih mengajar tiga anak-anaknya di dalam rumah dari pada di sekolah formal.

a�?Ya, mereka ikut homeschooling,a�? kata Nuniks.

Alasan Nuniks lebih memilih pola pembelajaran ini, karena sang anak merasa nyaman saat diajari dirinya. Owner Bandini Koffie tersebut juga mengaku biaya pendidikan yang kian mahal menjadi alasannya memilih metode homeschooling untuk ketiga anaknya.

a�?Dulu awalnya mau cari sekolah yang bagus, tapi kok mahal-mahal,a�? ujarnya.

Ibu tiga anak ini sebelumnya mengaku telah menyekolahkan anak pertamanya di salah satu sekolah di Mataram. Namun, sang anak merasa tidak betah saat menimba ilmu di dalam sekolah. Lambat laun, sang anak merasa terbebani.

a�?Kebetulan saat itu saya sedang ikut workshop homeschooling, dan jadilah seperti sekarang,a�? tuturnya.

Menurutnya, pola homeschooling ini hampir serupa dengan pola belajar di dalam sekolah. Yang membedakan hanya tempat. Ruang dalam rumah menjadi kelas bagi anak-anak ini.

Selain itu, siswa homeschooling juga dinilai lebih santai, baju yang dikenakan pun baju rumahan namun tetap rapi dan bersih. Buktinya, di Kota Mataram sendiri, sudah ada 15 keluarga yang menjalani pola pendidikan seperti ini.

a�?Tapi tetap ada tugas yang harus dikerjakan dan ada sanksinya. Misalnya kalau tidak mengerjakan tugas, waktu bermain smartphone akan saya kurangi,a�? ujar Koordinatur Simpul Mataram PHI Hme Sculer Indonesia itu.

Menjadi guru sekaligus ibu homeschooling, diakui Nuniks harus ada aturan yang berlaku. a�?Semua orang tua bisa kok jadi guru untuk anak-anaknya, baik itu lulusan SMA hingga strata bisa mengajarkan anak-anaknya,a�? jelas alumni Psikologi Unpad tersebut.

Berbeda dengan Nuniks, Rahmayanti, salah satu warga Kampung Jawa, Kelurahan Mataram Barat, Mataram mengaku lebih nyaman menyekolahkan anak-anaknya di sekolah formal. Sebab, sekolah umum dinilainya bisa mengajarkan anaknya bersosialisasi dengan banyak orang.

a�?Sekolah biasa saja,a�? kata Yanti sapaan akrabnya, kemarin.

Jika Nuniks mengaku bisa menjadi guru bagi tiga anak-anaknya. Yanti lebih memilih menjadi orang tua di rumah saja. Hal itu dikarenakan, ia tidak pede jika mengajarkan anak-anaknya di rumah.

a�?Kalau orang-orang di luaran sana bisa menjadi guru homeschooling, saya belum tentu bisa. Bisa saja, tapi keterampilan untuk mengajar saya tidak seprofesional para guru,a�? tuturnya.

Meskipun ada keluarga yang lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah formal atau umum, Yanti menghormati pilihan keluarga untuk menyekolahkan anaknya di rumah (homeschooling).

a�?Yang penting belajar, semua pola sama saja, yang penting anak nyaman,a�? pungkasnya. (tea/r5)

Berita Lainnya

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost