Lombok Post
Headline Metropolis

Kenali, Ini Dia Jenis-jenis Durian Khas Lombok

Penjaga kebun milik Haji Komarudin memegang buah durian gundul yang baru berkembang di desa Batu Mekar, Lombok Barat, kemarin (4/3). IVAN/ LOMBOK POST

Hanya sedikit yang tahu, ternyata NTB kaya dengan varietas durian unggul dan melegenda. Soal rasa, dijamin tak kalah nikmat dengan durian-durian yang sudah punya nama besar lantaran telah lebih dulu mejeng di gerai-gerai pasar modern. Padahal, di sini, ada segudang durian yang rasanya super menggelegar pula. Kami sajikan hikayat durian Bumi Gora yang paling diburu?

———————————————————

A�NAMANYA banyak. Dari nama tempatnya berasal, yang umum orang tahu adalah Durian Peresak dari Narmada. Dari wujudnya, yang mungkin khalayak pernah dengan adalah Durian Gundul. Durian yang memang tanpa duri. Macam buah sukun.

Tapi di luar itu, ada pula Durian Kane. Ada Durian Tong Medaye. Ada Durian Gula Gaet, Durian Raja, Durian Sidapir, dan Durian Kepala Gajah. Semuanya enak. Semuanya maknyus. Semuanya super nikmat.

Lalu ada pula durian yang dinamakan sesuai dengan nama pemburunya. Ini adalah Durian Pak Wei. Mengapa dinamakan begitu, sebab dikhususkan untuk durian-durian yang memang diburu oleh Pak Wei. Dan durian-durian ini sudah digaransi, rasanya pasti memang dahsyat.

Kami datang secara khusus ke Selelos, Desa Bentek, Lombok Utara. Selelos adalah daerah di mana Durian Kane berasal. Entah bagaimana asal mula penamaan durian Selelos ini sehingga disebut Durian Kane. Konon, lantaran yang pertama kali menanam durian jenis ini bernama Komang Kane. Makanya, durian ini pun dinamakan begitu.

Tapi, soal sejarah penamaan itu kita kesampingkan dulu saja. Kita fokus pada durian yang memang rasanya yahud ini. Durian Kane punya bentuk yang mirip dengan Durian Montong. Buah-buahnya besar. Daging duriannya tebal. Bijinya kecil. Rasanya jangan ditanya. Super lezat.

Durian ini sangat diburu para penikmat durian. Ada yang sampai bela-belain datang ke Selelos, hanya untuk bisa menjadi penikmat pertama durian ini kala sedang musim.

Lantaran enak, harga durian ini tidak biasa. Boleh dibilang sangat mahal. Buah pertama yang jatuh, bahkan bisa dikenai harga hingga Rp 65 ribu per kilogram. Anda hitung sendiri saja berapa harganya satu biji, kalau satu biji durian beratnya bisa mencapai 5 kilogram.

Wayan Tunas, salah seorang petani Durian Kane menjelaskan, durian ini memang jenis unggul. Harga bibitnya saja bisa mencapai Rp 75 ribu.

Selain ukuran yang lebih besar dari durian lokal. Perbedaan Durian Kane dengan durian lokal yang lain kata dia, terletak pada duri pada bagian buah. Duri Durian Kane lebih pendek dan lebih rapat daripada duri durian lokal. Karena buahnya berukuran besar, kadang satu biji beratnya bisa mencapai 10 kilogram.

Di lahan miliknya seluas 60 are, Wayan Tunas menanam 60 pohon Durian Kane. Sekarang dia sudah mulai panen. Dari setiap pohon, Wayan bisa memanen 40 hingga 60 kilogram durian per harinya.

a�?Rata-rata sehari bisa panen 24 buah,a�? katanya.

Durian Kane ini dijual sesuai beratnya. Penjual akan menimbang durian tersebut. Tiap kilogram, jika musim durian sedang puncaknya, satu kilogram bisa dijual seharga Rp 35 ribu. Bayangkan berapa uang yang dipanen Wayan Tunas saban hari saat musim durian. Banyak banget. Kalau setiap pohon rata-rata menghasilkan 60 kiogram durian tiap hari, dengan harga jual Rp 35 ribu, maka satu pohon bisa menghasilkan Rp 2,1 juta. Kalau Wayan Tunas punya 60 pohon, maka itu artinya sehari saja, dia bisa mengumpulkan uang hingga Rp 120 juta.

Wayan menjelaskan, Durian Kane baru bisa mulai menghasilkan buah dan siap panen saat berusia lima tahun. Pada usia lima tahun ini, pohon Durian Kane bisa menghasilkan satu sampai dua buah setiap hari.

a�?Kalau sudah usia delapan tahun bisa dipanen banyak. Sekarang saja misalnya dari 21 pohon, saya bisa panen 240 buah,a�? ungkapnya.

Durian Kane juga tidak dipanen. Durian ini ditunggu jatuh secara alami. Sebab, rasanya akan jauh beda dibanding durian yang dipanen dari pohonnya. Oh ya. Untuk cita rasa yang wah. Sebaiknya, Durian Kane jangan langsung dikonsumsi dulu. Sebaiknya, tunggu sehari dulu setelah Durian Kane jatuh dari pohon, baru dikonsumsi.

a�?Kalau seperti itu, rasanya pasti sangat lezat,a�? katanya.

Oh ya. Karena rasanya pula, kadang mendapat Durian Kane juga tak mudah. Seperti biasa. Para pedagang dan pemburu durian-durian nikmat biasanya sudah mengkapling lebih dulu. Apalagi, jenis durian ini jumlahnya tak banyak di Bumi Gora.

Durian Gundul

Kami juga blusukan ke Karang Bayan, di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat. Karang Bayan adalah gudangnya durian. Kalau musim durian tiba, durian di sini begitu melimpah. Aneka rasa, aneka rupa, dan aneka harga tentu saja ada. Tinggal pilih. Sesuai selera. Dan umumnya adalah durian lokal yang memang ditanam oleh warga setempat.

Tapi, bicara Karang Bayan, ada salah satu durian yang diburu ke sana. Yakni Durian Gundul. Ya. Ini adalah durian yang tak ada durinya. Varietas durian ini langka dan unik. Saking uniknya, varietas durian ini bahkan sampai diboyong ke Taman Buah Mekarsari di Bogor. Varietas ini dikembangkan para ahli di sana. Dan konon telah berhasil.

Mengapa durian ini langka dan kerap tidak dilirik untuk ditanam oleh warga? Sebab, durian ini memang tidak bersahabat. Lho kok? Rupanya begini perjalanan Durian Gundul ini.

Kami mendatangi Kelompok Tani Al-Manggisi di Karang Bayan. Kelompok ini pernah mengembangkan Durian Gundul. Namun, kapok seribu kapok. Anggota Kelompok Tani ini Junaidi menuturkan, kelompoknya menanam durian ini pada 2001 silam.

Durian ini hanya bisa tumbuh di tempat yang sejuk dan rindang. Yang artinya tidak terpapar sinar matahari langsung. Semenjak mulai ditanam, durian ini biasanya baru berbuah setelah usianya enam tahun.

Dan inilah perkara utamanya. Sekali berbuah, pohonnya langsung mati. Macam pohon pisang. Yang tidak bisa berbuah dua kali. Namun, menanam pisang mungkin tak harus menggerutu. Sebab, dalam hitungan bulan, pisang bisa tumbuh besar lagi. Sementara Durian Gundul harus menunggu enam tahun lagi. Meminjam istilah ekonomi, menanam Durian Gundul memang tidak menjanjikan bagi warga.

Bandingkan dengan durian lokal. Makin tua, makin jadi. Makin tua pohon, makin produktif buahnya. Bahkan, pohon durian lokal yang sudah berusia 35 tahun pun akan menghasilkan buah yang sangat banyak. a�?Pokoknya paten sudah,a�? kata Junaidi.

Apalagi kalau selama tiga bulan musim panen tidak turun hujan lebat. Maka, rasa buah durian lokal pun akan kian manis. Kalau ini terjadi, para petani biasanya akan bertepuk tangan. Merasa diri paling bahagia dibanding seluruh isi dunia.

Tapi kalau hujan lebat kerap turun, biasanya buah dan rasa durian menjadi berubah pula. Durian yang seharusnya matangnya kuning pekat, kemudian akan berubah matangnya menjadi kuning ke putih-putihan.

a�?Itu yang membuat durian tidak enak saat ini. Apalagi, mendekati usai masa panen malah makin tidak enak,a�? beber Junaidi.

Kembali ke Durian Gundul. Karena tabiatnya yang tak bersahabat inilah, maka kini durian jenis ini menjadi langka. Pedagang durian asal Karang Bayan Amaq Dangkul kepada Lombok Post mengakui hal ini. Lelaki yang sudah berjualan durian selama 34 tahun ini menyebutkan soal susahnya mencari Durian Gundul.

Amaq Dangkul terakhir menjual Durian Gundul sekitar 6 tahun lalu. Durian ini pun laku keras. Bahkan beberapa pelanggan setianya selalu mencari durian gundul kala itu. Namun, duriannya yang terbatas membuatnya tidak lagi menjual buah tersebut.

a�?Dulu saat saya berjualan harganya Rp 125 ribu per biji,a�? katanya. Soal rasa, dia memberi garansi. Lezat tentu saja.

A�Durian Pak Wei

A�Masih di Lombok Barat, kami juga ke Kekait. Desa ini terletak di kaki gugusan pegunungan Gunung Rinjani. Tempat ini adalah juga gudang durian. Yang kami cari ke sana adalah Durian Pak Wei.

Nama durian ini memang unik. Disebut begitu, karena durian varietas ini memang hanya dibeli oleh Pak Wei. Pak Wei ini adalah pedagang durian ternama di Cakranegara. Pengalamannya melanglang buana berjualan durian berbilang tahun, menyebabkan Pak Wei tahu varietas durian yang enak tersebut. Dan begitu, tahu, Pak Wei kemudian tak akan berpaling ke lain hati. Dia akan datang ke tempat itu membeli durian yang sama, saban tahun, kala musim durian tiba.

Kami bertemu dengan Inaq Kur. Perempuan ini adalah salah satu yang punya durian varietas Pak Wei ini. Hanya satu pohon yang dia punya. Dan saban tahun, seluruh buah dari pohon tersebut dibeli Pak Wei. Saking tak mau berpindah ke lain hati, jika ada pedagang durian yang datang dengan menawarkan harga baru, Pak Wei biasanya akan bersedia membayar lebih tinggi dari yang sudah ditawarkan pedagang durian tersebut.

a�?Saya langganan Pak Wei sudah tiga tahun,a�? kata Inaq Kur.

Seperti apa Durian Pak Wei ini? A�a�?Pokoknya dagingnya kuning. Rasanya manis,a�? kata Inaq Kur yang mengaku tak mengerti soal nama-nama varietas durian.

Biasanya, kepada Pak Wei, Inaq Kur menjual satu biji durian paling rendah Rp 35 ribu untuk ukuran yang paling kecil. Makin besar, harga akan kian mahal.

Nama Pak Wei sendiri sudah sangat kesohor di Kekait. Namanya memang sudah menjadi garansi durian unggul. Jika telah jatuh cinta pada sebuah pohon durian, maka sudah bisa dipastikan, pohon durian tersebut memang menghasilkan buah yang enak.

Masih di desa yang sama, kami menjumpai Inaq Ripaah. Perempuan ini juga adalah pemasok durian untuk Pak Wei. Sudah 20 tahun, dia menjadi pemasok durian bagi Pak Wei. Soal durian yang dicari Pak Wei, Inaq Ripaah juga menyebutkan warna daging buah durian yang kuning. a�?Kayak mentega,a�? katanya.

Inaq Ripaah sendiri punya 20 pohon durian di kebunnya. Namun, dari jumlah itu, hanya tiga pohon yang buahnya selalu dibeli Pak Wei. Dia juga tidak mengerti mengapa bisa seperti itu. Padahal, semua durian yang dia tanam, varietasnya sama.

Masurah, pemilik pohon durian langganan Pak Wei juga punya cerita. Dia hanya punya satu pohon yang buahnya selalu dibeli Pak Wei. Durian ini kata dia, penampakan luarnya tidak terlalu bagus. Pokoknya butut. Tapi, jangan tanya soal rasa.

Begitu dibuka, penikmat durian akan langsung tahu kalau ini adalah durian nikmat. Warnanya kuning mentega. Terus aromanya sangat harum. Buahnya pun tidak mengadung banyak air. Rasanya juga tidak mengandung banyak gas khas durian. Dan buah ini bisa bertahan hingga 45 hari setelah dibuka.

Biasanya di pasaran, durian ini kata Masurah dijual Rp 100 ribu per bijinya. Memang ini jenis durian apa? Masurah menyebut nama. a�?Ini durian jenis Kelau,a�? katanya. Dan karena hanya dibeli Pak Wei, maka durian ini pun diberi nama Durian Pak Wei.

Satu pohon durian ini kata dia, bisa berbuah hingga 500 biji dalam sekali musim. Masurah pun mengaku pernah menanam jenis durian yang sama. Namun, buahnya tak seenak yang sekarang jadi langganan Pak Wei ini. a�?Mungkin pengaruh tanahnya,a�? kata Masurah yang sudah 10 tahun menjadi pemasok durian ke Pak Wei menebak-nebak.

A�Durian Gula Gaet Naik Daun

Posisi NTB yang punya banyak varietas durian unggulan diakui Kepala UPB Hortikultura Sedau Balai Benih Induk (BBI) NTB Suprapta Yani. Verietas-varietas tersebut pun kata dia, telah dikembangkan di UPB Hortikultura Sedau.

a�?Semua adalah varietas asli asal NTB,a�? katanya.

Selain Durian Tong Medaye, Si Gundul, Durian Raja, Durian Sidapir, dan Kepala Gajah, ada satu varietas yang sedang naik daun. Yakni Durian Gula Gaet.

a�?Ini memang baru dikembangkan. Rasanya enak sekali,a�? kata dia.

Sebagian besar varietas itu kata dia memang berasal dari Pulau Lombok. Sementara varietas dari Pulau Sumbawa adalah Durian Sidapir dan Durian Kepala Gajah. Ada ribuan bibit masing-masing varietas dikembangkan di UPB ini.

Proses pengembangan bibit durian lokal dimulai dengan penyemaian. Setelah itu dilakukan proses penyambungan atau okulasi hingga 6 bulan. Pada bulan ke-7 atau ke-8, bibit sudah siap dan bisa disalurkan. Sementara untuk proses pembuahan, Yani mengatakan durian merupakan tanaman tahunan. Dibutuhkan waktu 4 hingga 5 tahun untuk berbuah.

Ia melanjutkan, proses pembibitan juga tergantung kesiapan entres dari pohon induk. Kebanyakan orang yang ingin berbuah cepat suka sembarangan melakukan pembibitan. Padahal untuk mempercepat proses pembuahan perlu dipilih entres yang pas dan baik. Entres yang dipilih harus jelas berbuah bagus dan berkualitas.

a�?Itu yang kita sambung sebagai benih nantinya,a�? kata Yani.

Bibit yang dihasilkan di UPB Sedau bisa dibeli penangkar maupun petani. Tren pembeliannya tidak begitu signifikan. Hortikultura berbeda dengan pangan. Pangan tidak mengenal istilah tahunan melainkan per musim.

Biasanya durian varietas lokal ini, produktivtiasnya tidak tinggi. Sebuah keberuntungan kata dia, jika 50 persen bunga durian menjadi buah. Biasanya buahnya selalu dibawah 50 persen dari bunga yang dihasilkan. Kebanyakan berguguran sebelum menjadi buah.

Pesaing Mulai Merangsek

Sementara itu, meski punya durian verietas lokal yang unggul. Bukan berarti semua petani di NTB senang dengan varietas lokal. Ini terbukti, dengan mulai masuknya serbuan varietas lain dari luar NTB.

Salah satu yang moncer tentu saja adalah Durian Peresak. a�?Durian Peresak diburu karena rasanya enak,a�? kata Rektor Universitas NTB H Mashur kepada Lombok Post. Durian ini memang sudah termasyhur.

Namun kata Mashur, kini durian luar mulai masuk pasar modern. Seperti durian Montong dari Thailand dan Durian Musang King dari Malaysia. Bahkan beberapa petani mengembangkan durian luar ini karena rasa dan ukuran buahnya yang cukup besar.

a�?Di Bonjeruk Lombok Tengah sudah ada yang mengembangkan Durian Musang King,a�? kata ahli tanaman hortikultura ini.

Pada prinsipnya, rasa durian tergantung dari jenis. Misalnya, Durian Peresak ini akan tetap rasanya enak. Tidak akan berubah meski pohonnya sudah banyak diambil untuk memperbanyak.

Perbanyak bibit durian bisa dilakukan dengan dua cara. Yakni dengan biji dan okulasi atau sambung mata tunas. Cara okulasi lebih banyak dilakukan. Pada okulasi tunas dua tanaman durian yang berbeda jenis ditempelkan. Cara ini banyak dilakukan karena lebih efektif, efisien, dan tanaman yang dihasilkan seragam.

A�a�?Tingkat keberhasilan okulasi lebih tinggi,a�? terangnya.

Okulasi dapat dilakukan jika tanaman sudah berumur enam sampai delapan bulan. Tanaman durian diokulasi disebut dengan batang bawah. Batang bawah harus berasal dari induk yang sehat, subur dan akarnya kuat. Biasanya berasal dari durian varietas lokal. Sedangkan mata tunas yang akan ditempel berasal dari durian varietas unggul. Seperti Durian Peresak, Montong, dan Musang King.

Hasil okulasi tergantung dari mata tunas yang ditempel. Jika Durian Peresak yang ditempel maka rasanya akan seperti Durian Peresak. Begitu juga dengan Montong dan sebagainya. a�?Rasa akan sama seperti yang ditempel,a�? ujarnya.

Menurutnya, berhasil tidaknya okulasi juga ditentukan oleh ketepatan bahan dan kecepatan dalam mengokulasi. Kayu dari batang bawah tak boleh tersayat. Bahkan lendir licin yang menempel pada kayu induk tidak boleh hilang karena berfungsi sebagai saluran makanan dari daun ke batang tanaman. Oleh karena itu, jika kayu hilang, suplai makanan ke mata tunas yang disisipkan tidak ada dan tunas baru tidak akan tumbuh.

Dia menilai, memperbanyak varietas durian di NTB masih sulit. Jarang petani memperbanyak durian unggul karena terkendala pohon induk. Belum lagiA� izin dari pemilik.

a�?Durian Peresak ini tinggi dan besar. Jika petani memperbanyak maka harus naik ke pohon tersebut,a�? ujarnya.

a�?Kita di sini induk yang terbatas,a�? sambungnya.

Ditanya soal rasa jika memperbanyak jenis durian unggul. Mashur mengatakan, tidak ada masalah. Rasa durian akan tetap sama. Jika durian Musang King yang ditempel maka buahnya akan rasa Musang King. Begitu juga duriannya akan berwarna kuning kunyit.A� Hanya saja akan berbeda pada jumlah produktivitas dan ukuran karena iklim dan kesuburan tanah.

a�?Kalau masalah rasa akan tetap sama. Tapi belum tentu ukurannya akan besar,a�? tutupnya. (arl/dit/fer/tea/jay/cr-yun-cr-eya/r8)

Berita Lainnya

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Ayo, Keruk Sungai Ancar!

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Harus Nabung Stok Sabar

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost