Lombok Post
Metropolis

Nyaris Bentrok Gara-gara Lahan 6,28 Are

WAS-WAS: Sejumlah pekerja memasang pagar untuk sepetak lahan di jalan Subak, Kelurahan Sapta Marga, Cakranegara, di bawah pengamanan aparat Kepolisian dan TNI, Selasa (3/4). LALU MOHAMMAD/LOMBOK POST

MATARAM-Wayan Wenten atau Yan Tu nekat menduduki lahan seluas 6,28 are. Tanah itu terletak di jalan Subak IV Kelurahan Sapta Marga, Cakranegara. Sebuah gubuk di bangun di dalam area lahan itu.

Bahkan pada Selasa pagi kemarin, sekitar pukul 08.00 Wita, ketegangan nyaris pecah jadi bentrok. Ia bersama beberapa keluarganya nekat bersitegang dengan aparat yang mengawal sejumlah pekerja yang akan memasang pagar. Pekerja itu dapat perintah dari pemilik lahan yang memegang sertifikat atas lahan seluas 6,28 are.

a�?Tanah ini milik Ayah saya,a�? klaim Yan Tu.

Ia menunjukan foto copy sertifikat tanah atas nama Ketut Gadang yang ia klaim sebagai ayahnya. Untuk membuktikan itu, Yan Tu memperkuat klaimnya dengan selembar kertas terlaminating yang bersisi silsilah keluarga yang menghubungkan ia sebagai anak semata wayang Ketut Gadang.

a�?Dari silsilah ini jelas saya pemilik hak warisnya,a�? terangnya.

Tapi karut marut soal tanah 6,28 are itu disebutnya mulai bermasalah sekitar tahun 2013. Adalah Wayan Reme dan Nengah Durme orang yang dipercaya ayahnya, menjaga sepetak lahan itu, dituding telah melakukan balik nama dan menjual lahan diam-diam.

a�?Buktinya tidak ada tanda tangan saya di sana yang seharunya jadi ahli waris yang paling berhak dari ayah saya,a�? sebutnya.

Karena itu ia ngotot menduduki lahan itu. Dan merasa berhak atas tanah seluas 6,28 are. Ia menilai persoalan belum selesai. Sekalipun sudah ada keputusan pengadilan yang memenangkan lahan atas nama seseorang yang disebut namanya sebagai Veronica Surhayati.

a�?Saya pergi merantau ke Sumbawa beberapa waktu lalu, tiba-tiba lahan ini katanya ada yang dijual,a�? terangnya.

Sayangnya selain foto copy-an dan silsilah keluarga, Yan Tu tidak punya bukti lain yang menunjukan bukti sah ia memiliki lahan itu. Sekalipun demikian, Yan Tu rupanya sudah sangat siap menghadapi segala konsekwensi hukum atas klaimnya. Termasuk menjalani proses hukum. Dengan menyiapkan seorang pengacara.

a�?Saya sudah siapkan pengacara. Sekalipun saya orang bodo pak, tapi saya tidak mau dibodohi,a�? cetusnya kesal.

Ia pun mengaku sudah mengadu pada Ketua Komisi I DPRD Kota Mataram I Gede Sugiartha. Berharap dapat dukungan atas upayanya mengakui lahan itu. a�?Ya dia memang mengadu ke saya,a�? kata Gede.

Gede mengatakan peresoalan ini memang bukan ranahnya. Hanya saja sebagai pihak yang diharapkan dapat menyuarakan aspirasi masyarakat, ia berharap aparat penegak hukum bersama lembaga Yudikatif dapat memberikan rasa keadilan pada masyarakat. a�?Ya sekedar mengimbau agar lebih persentatif, memberikan keadilan bagi seluruh masyarakat Kota Mataram,a�? harapnya.

Tidak hanya itu, pada aparat pemerintah Gede meminta supaya lebih berhati-hati dalam menagani kasus perkara tanah. Mengingat persoalan ini sangat sensitif dan harus mengedepankan semua pihak yang terlihat secara langsung dalam persoalan tanah.

a�?Soal silsilah misalnya tolong lakukan pengkajian karena ini sangat riskan menimbulkan permasalahan,a�? tekannya.

Namun ia yakin aparat penegak hukum dan lembaga yudikatif dapat memberikan penyelesaian baik. Sehingga para pihak yang bersengketa bisa menemukan titik temu dalam persoalan ini.

Sementara itu, Lurah Sapta Marga I Wayan Suarditha mengatakan dirinya sudah berupaya melakukan mediasi pada para pihak. Baik pihak pemilik lahan sesuai nama sertifikat yakni Veronica dengan pihak yang menduduki lahan yakni Yan Tu.

a�?Tapi pihak yang menduduki saat itu (Yan Tu) mau melepaskan lahan dengan catatan ada kompensasi sekitar Rp 400 juta setelah bicara-bicara jadi Rp 100 juta, tapi itu masih dinilai terlalu tinggi,a�? tutur Suarditha.

Pertemuan itu akhirnya, gagal menemui kata sepakat. Ia kemudian mendengar para pihak mengambil ancang-ancang untuk menempuh jalur hukum dan saling melaporkan. a�?Kalau sudah seperti ini saya mau menengahi bagaimana? Kecuali kalau mereka yang minta ditengahi mungkin saya bisa, tapi ini kan sudah siapkan pengacara masing-masing,a�? keluhnya.

Ia pun mempersilakan para pihak menempuh jalur hukum. Jika memang tidak mau lagi dimediasi. Sebelumnya, Sudiartha juga menceritakan selain Yan Tu, ada tiga pihak lain juga pernah mengakui lahan 6,28 are di jalan subak IV itu sebagai warisan keluarganya.

a�?Orangnya berasal dari Pagutan tapi di MK kalah, nah pak Yan Tu ini juga orang berikutnya yang mengakui,a�? jelasnya.

Semua mengaku punya silsilah dengan Ketut Gadang. Tapi saat di pengadilan dinyatakan kalah dan yang berhak atas lahan itu yakni nama yang tertera dalam sertifikat yang sah. Sudiartha menduga, banyaknya pihak yang mengakui lahan itu tidak lepas dari panjang dan banyaknya silsilah keluarga dalam tradisi masyarkat Bali.

a�?Jadi bersayap-sayap hingga ke atas,a�? jelasnya.

Lombok Post meminta bantuan Sudiartha untuk dihubungkan dengan Veronica, sebagai pemilik sertifikat lahan. Guna mendapat cerita lebih utuh. Sayangnya, Sudiartha mengaku tidak punya kontaknya. a�?Ndak punya saya, coba nanti saya carikan,a�? tutupnya.

Sementara itu, dalam pantauan Lombok Post para pekerja pemasang pagar atas suruhan pemilik lahan, baru kembali bekerja pada sore hari. Setelah sempat tertahan oleh aksi Yan Tu besama keluarganya yang berupaya menghalangi pemasangan pagar besi. Pemasangan langsung di bawah pengawalan aparat dari TNI dan Polisi. (zad/r5)

Berita Lainnya

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost

Modal Awal Rp 800 Ribu, Kini Omzetnya Rp 2,5 Juta Sehari

Redaksi LombokPost

Hujan Deras, PDAM Tetap Ngadat

Redaksi LombokPost

Penyakit Menular Serang Anak Pengungsi

Redaksi LombokPost

Waspada ! Semua Pohon Berpotensi Tumbang!

Redaksi LombokPost

Lahan Menyempit, Petani Terjepit

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost