Lombok Post
Headline Metropolis

Adipura Lepas, DLH Pasrah

SAMPAH MELUAP: Salah satu titik sampah di TPS ilegal Lingkungan Selagalas Selatan, Kecamatan Sandubaya, Mataram yang hingga kini masih saja meluap hingga ke jalan raya, beberapa waktu yang lalu. THEA/LOMBOK POST

MATARAM-Piala Adipura kembali menjauh dari Kota Mataram. Bahkan Mataram sudah tidak masuk nominasi sejak penilaian sesi Pantau 1 (P1). Kegagalan ini disebabkan oleh sistem pengelolaan sampah di daerah ini yang melempem.

Penilaian yang dilakukan pada bulan November-Desember 2017 lalu, kabarnya benar-benar membuat Mataram gagal menjaga Piala Adipura yang diraihnya tahun lalu. a�?Kalau diisukan lepas pastinya kami kecewa. Tapi untuk memastikan kami tunggu hasil evaluasi terakhir dulu,a�? kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kota Mataram Irwan Rahadi, kemarin (5/4).

Irwan terlihat pasrah. Ia mengaku dalam penilaian Adipura tahun ini, instrumennya bertambah. Ada penilaian terbaru yang disebut kementerian sebagai Tiga Bulan Bersih Sampah (TBBS). Dan, syarat ini dinilai sangat berat.

a�?Tahapan yang paling berat kali ini ada pada penerapan pengelolaan sampah perkantoran, rumah, dan lainnya,a�? tuturnya.

Mantan Camat Selaparang ini pun mengaku ikhlas melepaskan Piala Adipura. a�?Jika benar, semoga tahun depan kami bisa mengupayakan pengelolaan sampah agar lebih maksimal. Dan semoga kegagalan kali ini bisa menjadi pembelajaran bagi kami di waktu yang akan datang,a�? tutupnya.

Terpisah Plt Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mengaku belum mengetahui hasil P1 yang diisukan gagal meloloskan nama Kota Mataram. a�?Saya hanya meminta DLH untuk terus maksimal, karena secara tertulis maupun langsung, kita belum tahu hasilnya seperti itu,a�? kata Mohan.

Mohan mengaku masih optimis Mataram mampu mempertahankan Piala Adipura. a�?Jika masih ada waktu penilaian, kami pasti akan membenahi sejumlah komponen atau variabel kebersihan yang ada. Sehingga, kembali mendapatkan piala tersebut,a�? jawabnya.

Namun, jika Mataram tidak memenuhi kualitas yang diinginkan Kementerian Lingkungan Hidup, Mohan berjanji akan melakukan evaluasi. a�?Kalau di bilang kecewa, pasti kecewa. Apalagi kami baru saja mendapatkan Piala Adipura. Ke depan, masalah ini akan tetap menjadi evaluasi dan catatan kami,a�? tutupnya.

Sementara Sekretaris Komisi IV DPRD Kota Mataram Fuad Sofian Bamasaq meminta DLH memperbaiki sistem pengangkutan sampah di Kota Mataram. a�?Armada pengangkutnya juga saya rasa harus ditambah,a�? katanya singkat.

Efek Motor Roda Tiga

Sementara itu, satu langkah maju dalam penanganan sampah sebenarnya sudah dilakukan Pemkot Mataram. Sejak beroperasi motor roda tiga, sampah di lingkungan-lingkungan secara kasat mata volumenya jauh berkurang. Lingkungan lebih bersih dan masyarakat yang buang sampah ke sungai makin jarang terlihat.

Tapi bukan berarti persoalan selesai. Tugas DLH malah makin berat. Volume sampah di lingkungan memang sudah bisa tertangani dengan menggunakan motor roda tiga. Tapi kini sampah justru menggunung di Depo transfer sampah.

a�?Kami harus akui, kita kekurangan armada angkut sampah,a�? Kata Kepala DLH Kota Mataram Irwan Rahadi.

Tidak hanya dari jumlah, kendaraan angkut juga rata-rata sudah memasuki usia renta dan harus sering keluar masuk bengkel. Inilah yang membuat volume sampah makin tak tertangani dengan baik di depo-depo transfer.

Lihat saja seperti di kawasan Olah Sampah Terpadu (Osamtu) Sweta. Volume sampah di tempat ini nyaris menyerupai Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Beberapa teknik pengolahan sampah, seperti menjadikannya kompos hingga masuk ke tungku sampah untuk dibakar tak bisa mengimbangi jumlah sampah yang masuk.

Alhasil tumpukan sampah makin menggunung dan tingginya sudah menyaingi bangunan di sekitar osamtu. Bahkan lebih. Sehingga pola angkut buang dari depo ke TPA seharusnya tidak lagi dijadikan cara penanganan utama dan satu-satunya.

a�?Ya kita ada rencana aktifkan lagi Tungku Sampah di Osamtu itu,a�? imbuhnya.

Dalam kajiannya Tungku Sampah, efektif menghancurkan berton-ton sampah di kota dalam waktu hitungan jam. Tapi Persoalan masih terganjal pada hasil kajian lingkungan hidup. Di mana emisi hasil pembakaran sampah dinilai masih belum aman bagi lingkungan.

a�?Khususnya udara,a�? tekannya.

Atas dasar itulah sudah lama Tungku Sampah itu di hentikan operasinya. Sampai ada hasil kajian terbaru untuk menyempurnakan alat itu. Irwan sendiri mengaku kembali bergairah melirik Tungku Sampah. Setelah membandingkan kekuatan armada dengan volume sampah ke TPA yang tak sebanding.

a�?Memang tidak mungkin selamanya kita bertumpu pada pola angkut buang ini,a�? akunya.

Karena itu memasuki APBD perubahan 2018 ini, Ia berencana kembali mengalokasikan anggaran untuk penyempurnaan tungku sampah. Dengan harapan sisa atau emisi pembakaran tidak lagi mencemari udara.

A�a�?Ya (saya taksir) anggarannya di bawah Rp 200 juta, kita hanya perlu menyempurnakan hasil penelitian agar emisi karbon tidak ke mana-mana, dan udara tetap bersih dan sehat,a�? harapnya.

Dari hitung-hitungan yang dilakukan pihaknya, setiap hari ada sisa sekitar 30 meter kubik sampah di depo-depo yang tak bisa terangkut. Jumlah ini terakumulasi dengan hasil sampah pengangkutan di lingkungan setiap hari ke esokan harinya. Sehingga jumlahnya kerap terlihat menggunung setiap hari.

Anggota Komisi III DPRD Kota Mataram I Ketut Sugiartha pada dasarnya mengapreasiasi kerja DLH. Terutama menangani sampah di lingkungan. Catatan ini bisa dinilai sebagai kemajuan yang cukup berarti. Hanya saja persoalan berikutnya jadi PR yang tak mudah.

a�?Tungku Sampah itu kan sudah dibiayai (penelitian) dari awal, tapi masih gagal memenuhi standar lingkungan hidup,a�? kata Ketut.

Ia pun menantang DLH untuk lebih berani lagi berinovasi. salah satunya mendukung untuk menyempurnakan Tungku Sampah tersebut. a�?Harus ada perencaan jangan didiamkan,a�? dukungnya.

Saat tungku sampah itu pernah dioperasikan ia juga sempat mendengar ada beberapa warga yang memprotes. Karena emisi karbon bertebaran dan membuat lingkungan tercemar. Tugas selanjutnya tinggal melakukan penelitian dan merancang bagaimana agar sistemnya aman bagi lingkungan.

a�?Bagi saya yang lebih penting lagi sebenarnya adalah pemberdayaan masyarakat,a�? imbuhnya.

Pemberdayaan masyarakat ini akan sangat penting dalam menangani persoalan sampah. Di tengah minimnya fasilitas penanganan konvensional yakni angkut buang. Pemberdayaan itu dengan mendorong agar masyarakat mau atau terbiasa memilah sampah.

a�?Kuncinya cuma memilah, bagaimana agar sampah organik tidak dicampur dengan non organik,a�? terangnya.

Jika ini dilakukan, tidak hanya akan mengurangi jumlah residu sampah yang terbuang. Tetapi sampah berpotensi menjadi komoditi ekonomi bagi masyarakat.

a�?Plastik dikumpulkan dengan plastik, dedaunan dicampur dengan sejenisnya,a�? jelasnya.

Pemerintah hanya perlu mencari rekanan yang bisa mengakomodir sampah-smpah yang telah dipilah sendiri oleh masyarakat. Dan ia yakin akan banyak pihak rekanan yang bergerak di bidang sampah bakal tertarik mengolah itu.

Selama ini sampah dilihat tidak berguna karena bercampur dengan barang tak berguna lainnya. Tetapi esensinya berbeda jika itu dipilah oleh masyarakat dengan sadar. Karena ada potensi didaur ulang dan dimanfaatkan membuat bahan lain.

a�?Jika memilah ini dimulai dari masyarakat saya rasa sampah bisa cepat tertangani, tapi kan selama ini dibiarkan saja bercampur dari lingkungan hingga ke depo, akhirnya kesulitan untuk dipilah karena volumenya terlalu banyak,a�? tandasnya.A� (tea/zad/r5)

Berita Lainnya

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost

BPBD Tunggu Perintah Perkim

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Sudah Lama Ambles, tapi Dicuekin!

Redaksi LombokPost

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

169 Formasi Gagal Terisi

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

Redaksi LombokPost