Lombok Post
Headline NASIONAL

Wakapolres Loteng Pasti Dipecat

Ilustrasi Pembunuhan (http://www.radarmadura.jawapos.com)

JAKARTA-Aksi Wakapolres Lombok tengah Kompol Fahrizal yang menembak mati adik iparnya dengan senjata dinas benar-benar membuat Wakapolri Komjen Syafruddin geram. Wakapolri pun memastikan Fahrizal bakal dipecat dari Polri. Termasuk dipenjara pula.

“Oh iya, Kompol Fahrizal pasti kita pecat dan kami penjara,” kata Wakapolri kepada wartawan di Masjid Al-Markas Al-Islami, Jalan Mesjid Raya Makassar, kemarin (6/4).

Dia menegaskan, penggunaan senjata api bagi anggota Polri memiliki prosedur. Karena itu, dia mengingatkan setiap anggota Polri yang memegang senjata api dan telah menyalahgunakannya, akan berhadapan dengan pidana dan penjara.

“Gampang-gampang aja. Menyalahgunakannya, dipidana dan dipenjara,” tandasnya.

Sementara itu dari Jakarta, Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto memastikan, Fahrizal melanggar aturan dengan membawa senjata api pada saat sedang cuti.

“Dia sudah melanggar. Kalau sedang cuti, tidak dinas, nggak boleh bawa senjata api,” kata Setyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, kemarin (6/4).

Setyo menerangkan seharusnya Kompol Fahrizal menitipkan senjata di kesatuannya bila memang sedang lepas dinas. Setyo menegaskan senjata api hanya dibawa untuk dinas.

“Kecuali dia ditugaskan di suatu daerah, penangkapan, tugas ke daerah konflik, memang personel harus dilengkapi senjata,” sambung dia.

Sementara itu, pemeriksaan terhadap Fahrizal hingga kemarin masih sulit dilakukan. Pasalnya, pria yang baru saja menembak mati adik iparnya dengan senjata dinas miliknya ini, kondisinya masih linglung. Bahkan, Kompol Fahrizal sempat menjalani pemeriksaan psikologis. Hal itu dilakukan untuk mengetahui, apakah ia mengalami gangguan kejiwaan atau tidak.

Kabid Humas Polda Sumut Kombes Pol Rina Sari Ginting mengatakan, penyidik masih kesulitan merinci hasil penyidikan terkait motif penembak iparnya hingga meninggal dunia. “Tadi pagi (kemarin, Red) kita ada menghadirkan dokter spesialis forensik kejiwaan. Hal ini untuk mengetahui, apakah yang bersangkutan ada mengalami gangguan jiwa,” ungkapnya.

Selain itu, Rina juga menyebutkan, pemeriksaan yang dilakukan Polda Sumut terhadap Kompol Fahrizal baru kemarin dilakukan. Sebab usai ditangkap, Farizal belum dapat dimintai keterangan terkait tindakan yang diperbuatnya.

“Soalnya setelah ditangkap, ia terlihat labil. Jadi pemeriksaan terhadapnya baru bisa dimulai hari ini (kemarin, Red),” jelasnya.

Disinggung soal motif, Rina juga mengaku, pihaknya masih dalam tahap pengungkapan. Namun menurut dia, dari penembakan yang dilakukan Fahrizal sampai berkali-kali, terlihat jelas ia sedang sangat marah.

“Jadi sampai sejuah ini belum bisa terjawab motifnya. Untuk isu yang ada, tim kita masih melakukan pencarian fakta-fakta,” jelasnya.

Sedangkan untuk hukuman, Rina mengatakan, ancaman yang bisa diperoleh Fahrizal akan lebih berat dari masyarakat umum. Sebab, selain dijerat dengan pidana umum, Fahrizal juga akan dikenakan sanksi kode etik. “Secara internal juga akan terlibat dalam kode etik. Tapi hal itu masih lama. Masih menunggu keputusan inkrah,” pungkasnya.

Sementara Kasubbid Penmas Polda Sumut AKBP MP Nainggolan menambahkan, Polda Sumut secara tegas memastikan, Kompol Fahrizal akan diproses sesuai hukum yang berlaku.

“Kita bakal pastikan jika dia akan diproses dengan hukum yang berlaku seperti masyarakat umum. Jadi biar pun perwira polisi, kita tidak akan membeda-bedakan,” ungkapnya kepada wartawan.

Namun, sejauh ini, MP Nainggolan mengaku, Polda Sumut masih melakukan penyidikan lebih lanjut terhadap penembakan yang dilakukan oleh Wakapolres Lombok Tengah itu kepada adik iparnya, Jumingan (33), di kediaman orangtuanya di Jalan Tirtosari, Gang Keluarga, No 14, Kelurahan Bantan, Kecamatan Medan Tembung, Rabu (3/4) malam lalu.

“Saksi yang diperiksa masih tiga orang. Yakni ibu dan istri Fahrizal, serta istri korban,” sebutnya. Disinggung soal motif dari pelaku sampai menembak adik iparnya, MP Nainggolan, enggan untuk memberikan tanggapannya. Ia hanya mengatakan, jika untuk motif sejauh ini masih dalam penyelidikan.

“Seperti apa pun informasi yang ada di lapangan, tapi dari Polisi sejauh ini motifnya masih dalam tahap pendalaman,” pungkasnya.

Masih belum jelasnya motif penembakan yang dilakukan Kompol Fahrizal itu membuat kasus ini masih simpang siur. Pengamat hukum Julheri Sinaga pun mendesak kepolisian untuk membuka kasus ini. “Saya minta jangan ada yang ditutup-tutupi, karena ini sudah menjadi konsumsi publik. Semua pada umumnya sama dimata hukum, mau dia polisi, tukang becak sama,” katanya saat dihubungi via ponselnya.

Kasus yang menimpa Kompol Fahrizal ini kata dia, seharusnya menjadi pelajaran bagi institusi kepolisian dalam penggunaan senjata api (senpi) di kalangan anggota. Sebab kata dia, setiap personel yang ingin menggunakan senpi terlebih dahulu harus melakukan tes psikologi.

“Setiap anggota kepolisian yang ingin menggunakan senjata api, harus melakukan tes kejiwaan. Pegang senjata itu risikonya kan besar. Bila dalam keadaan tertekan dan terganggu kejiwaannya, bisa-bisa banyak orang jadi korban,” katanya.

Dia pun mengkritisi metode pendidikan di kepolisian, yang menurutnya ada yang salah. “Bisa saja kondisinya selama menjalani kedinasan dalam keadaan tertekan, apalagi dia kan masih bawahan. Setiap hari makan perintah dari atasan. Jadi ada yang salah sebenarnya metode pendidikan di kepolisian,” tukasnya. (mag/JPG/r8)

Berita Lainnya

Janji Manis Jadup Bernilai Rp 4,58 M

Redaksi LombokPost

2.368 Formasi CPNS Bakal Lowong

Redaksi Lombok Post

EMAS HITAM DARI NTB

Redaksi Lombok Post

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost