Metropolis

Operator Kembalikan Motor Sampah

MATARAM-Operator Motor Roda Tiga (baca: motor sampah) untuk lingkungan ramai-ramai mengembalikan motor roda tiga ke kecamatan. Ini buntut dari kekecewaan para operator karena selama empat bulan mereka tidak pernah diberikan uang bensin.

Azami, Kepala Lingkungan Lendang Kelor, Kelurahan Sayang-Sayang mengaku tak bisa mencegah aksi operator sampah di lingkungannya. a�?Harusnya kan 50 liter per bulan, tapi selama empat bulan ini tidak pernah dibayarkan,a�? kata Azami.

Karena itu, saat operator sampah untuk lingkungan Lendang Kelor bersama beberapa lingkungan lain berniat mengembalikan motor roda tiga, ia pun mempersilakan. Ia memahami rasa kecewa para operator sampah.

a�?Mereka kan dapat honor Rp 500 ribu, tidak mungkin itu dipakai untuk bayar BBM, terus mereka dapat apa?a�? terangnya.

Protes dilakukan para operator motor roda tiga sejak Jumat pekan lalu. Para operator setelah mengangkut sampah dari lingkungan seperti biasanya, tidak membawa sampah ke depo. Melainkan berbelok ke arah kantor camat memarkirkan di sana, lalu meninggalkannya pergi.

a�?Bahkan katanya ganti oli satu tahun sekali. Masa sih harus ganti oli satu tahun sekali?a�? cetusnya.

Pelayanan motor sampah roda tiga sempat lumpuh di lingkungannya. Masyarakat kesulitan membuang sampah seperti biasanya. Lingkungan yang selama ini cukup terbantu dengan hadirnya motor itu, mulai tak nyaman lagi.

a�?Katanya sejak Januari sampai sekarang belum dikasih,a�? terangnya.

Camat Cakranegara M Salman Rusdi dikonfirmasi lewat sambungan telepon mengatakan persoalan ini hanya kesalahan administrasi. Ia menegaskan tak ada yang menyalahgunakan dana BBM untuk motor roda tiga.

“Saya sudah data, tidak semua lingkungan yang protes. Dari 73 lingkungan hanya 7 lingkungan yang demo,a�? kata Salman.

Ia lalu menuturkan pada minggu lalu Kecamatan Cakranegara bersama Sandubaya mengajukan pembayaran Langsung (LS). Sandubaya sendiri langsung cair, mengingat platform anggaran mereka di bawah Rp 50 juta.

a�?Sedangkan Cakranegara tidak bisa LS, karena platformnya di atas Rp 50 juta,a�? jelasnya.

Oleh Badan Keuangan Daerah (BKD), Cakranegara diminta untuk membuat Surat Perintah Kerja (SPK) Sederhana. Karena adanya permintaan mengubah pencairan anggaran dari LS ke SPK, maka pembayaran pun sedikit terlambat. a�?Tapi sudah kita perbaiki dan sudah kita bawa ke BKD,a�? ujarnya.

Permintaan SPK Sederhana sudah diajukan ke BKD, dan Salman merasa pencairan sudah bisa didapatkan kemarin. Dan rencananya pada hari ini anggaran akan diserahkan pada operator motor sampah roda tiga. a�?Itu saja persoalannya,a�? terangnya.

Adanya rapel pembayaran dari bulan Januari-Maret, membuat platform pengajuan untuk anggaran BBM membengkak menjadi sekitar Rp 70 juta. Sedangkan bulan April seharusnya belum termasuk bulan yang harus dibayar.

a�?Mereka kan harus kerja dulu, jadi Insya Allah persoalan ini selesai,a�? jaminnya. (zad/tea/r5)

Related posts

Rp 23 M untuk Gili Gede

Redaksi Lombok post

Dishub Abaikan Pelanggaran Parkir

Redaksi Lombok post

Hipertensi, Si Pembunuh Diam-diam!

Redaksi Lombok Post