Lombok Post
Headline Metropolis

Jutawan dari Lautan : Kisah Sukses Nelayan Menjaring Rupiah dari Laut NTB

Nelayan tradisional yang menangkap ikan dengan perahu kecil di Bendungan Batujai, Lombok Tengah, beberapa waktu lalu.

Jumat pekan lalu, Indonesia memeringati Hari Nelayan Nasional. Di Bumi Gora, cerita tentang nelayan tidak melulu soal yang hidupnya melarat. NTB, ternyata punya nelayan-nelayan konglomerat. Memulai hidup dari bawah, mereka membalikkan nasib dan kini bisa hidup melimpah. Dengan ikhtiar dan doa, merekalah nelayan-nelayan yang pandai mengelola sumber daya laut yang penuh berkah.

———————————————————————————

RUMAH bercat merah muda itu begitu mentereng. Semua yang melintas di jalan raya Labuhan Lombok, dapat melihatnya. Rumah gedong itu tepatnya berada di Desa Seruni Mumbul, Pringgabaya, Lombok Timur.

Dikelilingi pagar tembok batako dengan gerbang cokelat keemasan, rumah itu nampak mencolok dibandingkan rumah-rumah jirannya. Rumah rimbun yang dipayungi pohon mangga itu juga berhias pot-pot bunga indah. Terutama di teras rumah. Pada kusen pintu terpasang bel. Jika hendak bertandang, tetamu mestilah memencet bel tersebut.

Halaman depan rumah tidak terlalu luas, tapi ditata rapi. Saat Lombok Post bertamu siang itu, pintunya terbuka, namun rumah nampak sepi. Ucapan salam dan bunyi bel berulang kali tidak dijawab. Rupanya, penjaga berada di belakang rumah. Halaman belakang rupanya sangat luas. Di sana ada berugak dan dua unit mobil terparkir di bagasi.

Jelas Anda bertanya. Itu rumah siapa? Rumah itu milik seorang nelayan Labuhan Lombok. Namanya H Mustari. Dibandingkan rumah nelayan pada umumnya, rumah H Mustari memang mewah. Apalagi ada mobil mejeng di rumah itu. Jauh dari rumah nelayan yang ada dalam benak.

Apakah H Mustari nelayan tajir semenjak dulu? Tidak. Jika Anda bertanya Mustari 20 tahun lalu, maka jawabannya adalah Mustari adalah seorang nelayan biasa di Labuhan Lombok. Saban hari, kala itu dia hidup hanya dari mengandalkan upah pergi melaut. Tapi kini hidup Mustari berubah 180 derajat. Dia sangat mapan dengan semua yang dimilikinya.

Semua yang dimiliki saat ini dapatkan dari hasil laut. Hanya bedanya, jika dahulu ia harus pergi melaut berhari-hari menggunakan kapal orang untuk menangkap ikan. Kini H Mustari tidak perlu bersusah payah. Ia memiliki tiga kapal ikan dengan kapasitas angkut di bawah 30 ton ikan. Satu unit kapal harganya hingga Rp 300 juta.

Kapal-kapalnya itu dijalankan para nelayan mitranya. Satu kapal berisi tujuh orang nelayan. Mustari memodali para nelayan untuk melaut. Masing-masing kapal bisa sampai Rp 10 juta. Jika sedang mujur 3-4 ton ikan seharga Rp 40 juta bisa didapatkan dalam satu kapal. a�?Kita bagi hasil dengan nelayan,a�? katanya.

Mustari mengaku sangat bersyukur dengan apa yang dimiliki saat ini. Tapi semua itu tidak diraihnya dalam satu malam. Kerja keras dan jatuh bangun sudah dilaluinya sebelum menjadi seperti saat ini.

Ia mulai menjadi nelayan sejak tahun 1989, kala itu Mustari mudah masih berusia 20 tahun. Bersama kelompoknya, setiap hari hidup di laut mencari ikan. Hantaman gelombang sudah menjadi makanan sehari-hari, di laut ia belajar tentang kesabaran dan pantang menyerah. Sebab, hasil tangkapannya kadang sedikit, tidak sebanding dengan modal dan tenaga yang dikeluarkan. Tapi nelayan tidak pernah berhenti melaut.

Tidak Foya-foya

A�Tapi tahun 2000, Mustari memutuskan berhenti melaut. Itu karena ia ingin mengubah nasibnya. Di samping tenaga sudah berkurang, Mustari ingin menjadi saudagar ikan seperti bos-bosanya terdahulu. Namun, menjadi saudagar ikan tidak mudah. Butuh modal banyak, bahkan di awal-awal ia sempat menjadi tukang ojek untuk mengumpulkan uang. Sampai akhirnya ia memutuskan meminjam uang di bank sebagai modal awal sebesar Rp 5 juta.

a�?Untuk usaha kecil-kecilan. Beli ikan kemudian pergi jual,a�? tuturnya.

Dari hasil berjualan ikan itu, ia bisa menyisihkan keuntungan sedikit demi sedikit. Hasilnya dia tabung. Lalu dipakai sebagai modal usaha lagi. Meski awalnya tertatih-tatih, namun Mustari tidak pernah menyerah. Ia selalu bisa bangkit, meski harus berhutang di bank itu tidak masalah yang penting usaha bisa jalan.

Selain itu, sudah menjadi kebiasaan sajak masih melaut. Mustari tidak pernah boros dan memakai uang untuk foya-foya. Apalagi berjudi. Ia tidak pernah tergoda meski banyak rekannya yang menganggap itu sebagai hiburan.

Menurutnya penghasilan nelayan cukup banyak ketika hasil tangkapan bagus. Hanya saja, selama ini manajeman keuangan yang masih sangat kurang. Mereka tidak bisa menyisihkan sebagian hasil melautnya. a�?Biasanya nelayan ini ketika dapat banyak dihambur-hamburkan. Kalau Musim Barat seperti ini susah sudah,a�? katanya.

Ibarat air laut, pengasilan nelayan pasang surut. Tinggal nelayan harus pandai-pandai mengatur keuangan. Ketika dapat untung banyak, harusnya disisihkan untuk ditabung, sehingga ketika tangkapan sedikit mereka tidak terlalu susah.

Di Lombok Timur, keluarga nelayan sukses tak hanya Mustari. Ada juga Susanti. Saat para pria pergi melaut, dia memulainya sebagai seorang pembakul ikan. Merangkak dari modal nol rupiah sebagai peantara ia kini punya omzet hingga ratusan juta. Tidak jauh beda dengan Mustari, wanita yang memiliki UD Cahaya Laut itu sukses sebagai saudagar ikan. Beberapa mobil pun kini parkir di garasi rumahnya yang megah pula.

Tapi semua itu ia dapatkan dengan kerja keras. Usaha jatuh bangun dan meminjam uang di bank. a�?Intinya jangan mudah menyerah dan tidak boros,a�? kata ibu empat anak yang memulai usahanya sejak 1990 itu.

Nelayan Loteng

Tentu sajaA� cerita tentang nelayan sukses tak melulu milik nelayan di Lombok Timur semata. Datanglah ke Dusun Awang, Balak di Desa Mertak, Kecamatan Pujut. Di sana ada nama Sayid Kadir Al Idrus. Dia nelayan tulen. Namun, hidupnya jauh dari kata susah.

Tak melulu pergi menangkap ikan. Dia memutar otak. Di laut pula, dia membudidayakan ikan. Budidaya yang kemudian berkembang dan kini dia menjadi salah satu pembudidaya lobster.

Dulu, Sayid adalah nelayan kere pula. Dengan ketekunan, kerja keras dan doa, dia kini memiliki rumah megah dua lantai di Dusun Awang Balak. Dia kini memiliki perahu dan memodali nelayan-nelayan yang bekerja padanya untuk menangkap ikan.

a�?Alhamdulillah,a�? katanya singkat, kepada Lombok Post, Senin (9/4) lalu soal pencapaian dalam hidupnya kini.

Masa-masa kejayaan, cerita Kadir-panggilan akrabnya- dimulai tahun 2000-2014. Pada masa itu, ia memutuskan tidak lagi menjadi nelayan tangkap ikan. Melainkan, nelayan tangkap lobster. Ketika menangkap benih lobster itu terlarang, dia beralih sebagai pembudidaya.

Roda ekonomi memang sempat goyah. Namun, lama kelamaan pulih dan lebih baik lagi. Apalagi, ikan hasil tangkap dan budidayanya dicari para pengusaha perikanan. Kini, ia sudah memiliki mobil, motor, aset tanah dan rumah. Bagi Kadir, menjadi nelayan harus banyak-banyak sabar dan ikhtiar. a�?Itu saja,a�? ujarnya soal resep bagaimana dirinya bisa membalikkan nasib.

Potensi NTB Melimpah

H Mustari, Susanti, Kadir, merupakan contoh bagaimana laut benar-benar menyimpan potensi yang melimpah. Dan asal mau, nelayan sebetulnya bisa hidup makmur dari sana.

NTB sendiri memiliki panjang pantai 2.333 km dengan luas areal laut 29.159 km. Sementara potensi lestari ikan 129.863 ton per tahun, dari potensi 185.518 ton per tahun.

Dinas Kelautan dan Perikanan NTB mencatat produksi ikan menunjukkan statistik yang fluktuatif. Tahun 2013 sebanyak 145,762 ton, naik pada 2014 menjadi 230.644 ton, tahun 2015 menjadi 211.747 ton, tahun 2016 menjadi 173.654 ton, data sementara 2017 menunjukkan produksi ikan 168.956 ton. Jika dirupiahkan, nilai transaksi ikan tahun 2016 saja mencapai Rp 1,8 triliun.

Sedangkan jumlah nelayan di NTB sebanyak 68.432 orang. Mereka tersebar di seluruh kabupaten/kota, terbanyak Lombok Timur dengan 16.371 orang nelayan, Bima 14.201 orang, Sumbawa 10.956 orag, Lombok Tengah 10.620 orang, Lombok Barat 5.53 orang.

Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB H Lalu Hamdi, dari sekian banyak nelayan, memang baru sebagian yang mampu sukses. Salah satu indikatornya adalah kepemilikan kapal skala besar dan kecil.

Dari 23.863 kapal nelayan, hanya 316 kapal tergolong besar dengan spesifikasi 10-20 GT, dan 25 kapal 20-50 GT. Sementara sisanya kapal-kapal kecil milik nelayan antara 5-10 GT. a�?Kepemilikan kapal ini menunjukkan baru sebagai kecil nelayan yang punya kapal skala besar,a�? kata Hamdi.

Dengan kapal 20 GT, tentu nelayan bisa menangkap ikan lebih banyak dan jangkauannya lebih jauh. Sehingga dia bisa menangkap ikan dengan kualitas ekspor, dan produktivitasnya lebih tinggi. Mereka juga tidak perlu bolak balik ke darat menjual ikan, karena mereka bisa seminggu di atas kapal.

a�?Sehingga irit bahan bakar,a�? katanya.

Selain itu, kapal-kapal dengan spesifikasi 20 GT biasanya sudah memiliki rumpon yang menjadi lokasi tetap penangkapan ikan. Mereka membuat sarang ikan di tengah laut sehingga mudah mencari ikan. Tidak perlu lagi keliling mencari ikan.

a�?Ketika sudah punya rumpon, maka tujuan melaut hanya rumpon itu,a�? katanya.

A�Kunci Sukses

Menurut Hamdi, nelayan sebenarnya sangat bisa hidup mapan dan sukses. Tapi kuncinya adalah mental. Mereka tidak boleh mudah menyerah. Jika tidak mendapatkan ikan, mereka jangan cepat mau pulang. Kemudian manajemen keuangan juga harus benar-benar baik, tidak boros.

Pemerintah sendiri selama ini sudah banyak menggelontorkan program untuk kemandirian nelayan. Mulai dari pelatihan manajemen usaha hingga bantuan yang rutin diberikan setiap tahun. Nelayan dibina berbasis kelompok, baik itu budidaya maupun nelayan tangkap.

a�?Kita dorong agar ada perbaikan manajemen usaha,a�? katanya.

Setiap tahun DKP sendiri menggelontorkan dana bantuan bagi nelayan antara Rp 3-4 miliar. Bantuan diberikan dalam bentuk peralatan melaut. Selain itu juga ada bantuan dari pemerintah pusat. Khusus untuk perahu kecil pemerintah daerah tetap memberikan bantuan stimulan, misalnya jika ada perahu belum ada mesinya, pemerintah bantu membelikan mesinnya. a�?Kalau untuk kapal besar kita minta bantuan pusat,a�? katanya.

Sementara itu, Ketua Prodi Budidaya Perairan Universitas Mataram Dr Junaedi mengungkapkan, garis kemiskinan nelayan tidak lepas dari gaya hidup. Jika ada uang tak tanggung-tanggung nelayan akan membeli apa yang diinginkan meski tidak urgent.

a�?Kalau ada uang nelayan jor-joran belanja. Jarang ada yang menabung,a�? kata dia.

Sebaliknya, jika hasil tangkapan minim jelas nelayan akan merana. Tidak ada uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Bahkan, apa yang sudah dibeli kadang dijual kembali dengan harga murah atau pun menggadainya.

Menurut Junaedi, para nelayan harus bisa menabung. Jenjang pendidikan rendah membuat para nelayan tidak memikirkan hari esok atau selanjutnya. Ada uang langsung belanja. Dalam kondisi ini, manajemen keluarga harus diperbaiki para nelayan. Jangan sampai hasil tangkapan banyak langsung dipakai semaunya. Tak ada sisa.

Diungkapkan, ikan yang ada di laut bisa habis. Penangkapan besar-besaran akan membuat ikan habis. Apalagi, jika ikan kecil saja ditangkap jelas membuat populasi ikan berkurang. Belum lagi kata dia, dari informasi didapatkan, penangkapan ikan di Lotim ada juga yang masih menggunakan bom. Hal ini tentunya akan membuat ikan punah. Ekosistem dibawah lautA� tempat berkembangbiak akan rusak.

a�?Jangankan ikan. Isi hutan seperti harimau dan orang utan saja akan turun ke jalan mencari makan jika hutan gundul,a�? sindirnya.

Diungkapkan, tidak setiap hari hasil tangkapanA� nelayan akan banyak. Apalagi, cara-cara dilakukan untuk memprediksi lokasi keberdaan ikan masih tradisional. Beda dengan nelayan Jepang yangA� ikan tangkapannnya pasti melimpah. Karena mereka menggunakan satelit untuk melihat lokasi keberadaan ikan.

a�?Nelayan kita mana tahu tempat ikan banyak,a�? sindirnya. Selain itu, nelayan juga harus melihat cuaca. Jika cuaca ekstrem nelayan tidak bisa melaut.

Hal senada jugaA� diungkapkan Didit Hariadi. Pria yang pernah menjadi penyuluh nelayan ini mengaku, gaya hidup nelayan kadang tidak bisa dibendung. Jika hasil tangkapan banyak maka mereka akan membeli apa yang diinginkan. a�?Padahal apa yang dibeli tidak menjadi prioritas,a�? terang alumni prodi Budidaya Perairan Unram ini.

Ia menuturkan, tingkat pendidikan nelayan di Lotim sebagian besar rendah. Sehingga untuk menabung agak susah. a�?Hasil tangkapan yang diuangkan cepat habis,a�? ujarnya.

Kini,A� regulasi Kementerian Kelautan dan Perikanan para nelayan harus memiliki surat izin usaha perikanan (SIUP) dan surat izin penangkapan ikan (SIPI). a�?Ini harus dimiliki nelayan,a�? tuturnya.

A�DiLotim sebagian besar nelayan kini gali lubang tutup lubang. Ketika melaut, para nelayan ini ngutang dulu untuk mrembeli kebutuhan logistik melaut. Setelah pulang melaut baru dilunasi. a�?Begitu seterusnya,a�? singkatnya.

Selain itu, ada juga nelayan yang tidak memiliki perahu atau pun kapal. Tapi, ada pihak ketiga menyediakan perahu dan kapal beserta logistik. Dengan perjanjian bagi hasil. a�?Ada nelayan yang hanya melaut saja. Semuanya disediakan pihak ketiga dengan sistem bagi hasil,a�? sebutnya.

Begitu juga dengan nelayan yang memiliki kesepakatan kerja sama dengan pengepul. Hasil nelayan akan dijual ke pengepul. Tidak boleh ke orang lain. a�?Kalau seperti ini nelayan tidak bisa berbuat banyak. Karena udah ada kontrak,a�? ujarnya.

Beda dengan nelayan yang tidak memiliki kontrak. Mereka bebas menjajakan hasil tangkapannya. Biasanya, nelayan seperti ini akan keliling mencari hargaA� paling tinggi untuk memasarkan ikannya.

Diakuinya, pada bisnis perikanan ini yang kaya bukan nelayan, melainkan para pengepul. Para pengepul biasanya memiliki jaringanA� keluar daerah untuk memasarkan ikan. Bahkan ia bisa memainkan harga. Jika ikannya limit maka harga ikan tinggi. Sebaliknya jika ikannya melimpah harganya akan murah. (ili/dss/jay/puj/r8)

Berita Lainnya

Belum Satu pun Rumah Tahan Gempa yang Terbangun

Redaksi LombokPost

BPBD Tunggu Perintah Perkim

Redaksi LombokPost

Jembatan Sungai Jangkuk Sudah Lama Ambles, tapi Dicuekin!

Redaksi LombokPost

Anak Muda sampai Pengusaha Berebut Buat Karikatur

Redaksi LombokPost

Kartu Nikah Sebatas Wacana

Redaksi LombokPost

169 Formasi Gagal Terisi

Redaksi LombokPost

Dewan Pertanyakan Penyedia Panel RISHA

Redaksi LombokPost

Sepakat, UMK Mataram Rp 2.013.000

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Bangun Pendeteksi Tsunami

Redaksi LombokPost