Lombok Post
Giri Menang

Ada Aset Lobar di Loang Baloq

Seorang warga mencari sampah di sekitar kolam Pantai Loang Baloq, Kemarin (11/4). Wakil ketua DPRD Lobar, H Sultan Muchlis Ibrahim mengklaim ada aset lahan milik Lobar. IVAN/ LOMBOK POST

GIRI MENANG-Kalangan DPRD Lobar terus memantau dan mencari berbagai potensi dan persoalan aset di daerah. Salah satunya di kawasan Loang Baloq Kota Mataram. Sulhan mengklaim, pihaknya telah menemukan aset Pemda Lobar di kawasan tersebut seluas satu hektar lebih.

Melihat hal ini, kalangan dewan berharap agar Pemda Lobar dapat memaksilkan lahan tersebut. Karena sebelumnya, aset ini sempat diklaim oleh sejumlah oknum. Bahkan, Wakil Ketua III DPRD Lobar H Sulhan Muchlis Ibrahim secara pribadi berharap, agar aset ini dijual saja.

a�?Secara personal saya sarankan dijual, tentunya dijual dengan normal,a�? ungkap Sulhan, kemarin (11/4).

Alasannya, dari pada dikelola atau dialih fungsikan, lebih baik dijual. Bila dijual dengan nilai berkisar Rp 1,2 triliun, kemudian hasil ini disimpan pada Bank NTB maka pemerintah akan mendapatkan dividen. Dividen inilah yang akan dipergunakan untuk pembangunan daerah.

a�?Dari dividen ini, bisa kita manfaatkan untuk pembangunan,a�? ujarnya.

Ia menganalogikan, bila Bank NTB dapat memberikan dividen sekitar 20 hingga 25 persen per tahun dari penjualan aset ini, maka investasi pemda sekitar Rp 25 hingga Rp 30 miliar. Dengan nilai deviden yang diperoleh sekitar Rp lima hingga enam miliar per tahun. Artinya, jika dengan saham Rp 1,2 triliun di Bank NTB, maka setahun Pemda Lobar bisa memperoleh Rp 250 miliar untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD).

a�?Bayangkan yang hari ini, PAD kita Rp 250-300 miliar ditambah Rp 250 miliar dari deviden itu, bisa sampai Rp 500 miliar untuk PAD. Dan itulah yang kita pakai untuk pembangunan atau pengentasan kemiskinan,a�? papar politisi PKB ini.

Mengapa tak memilih dikerjasamakan saja? Sulhan tak ingin nasib aset ini serupa dengan Lombok City Center (LCC). Dan bila dialihfungsikan sebagai lahan pertanian, ia menilai sudah ada 88 hektar aset di Lobar yang menjadi lahan pertanian. Di mana hasilnya kurang dari Rp 2 miliar setahun.

a�?Bisa jadi kayak LCC kan, disita asetnya yang berhektar-hektaran. Kemudian bukan menjadi hak kita lagi, parahnya tidak mendapatkan nilai income lagi,a�? ucapnya.

Sehingga, solusinya adalah dijual dengan secara normal. Tanpa ada siasat untuk penurunan harga dan sebagainya, maka dirasakan Sulhan dapat meningkatkan PAD. Ia pun merasa jauh lebih bermanfaat jika aset itu dijual. a�?Menurut saya jauh lebih bermanfaat dan meningkatkan PAD, tanpa kita kehilangan nilai aset itu diangka sekitar Rp 1,2 triliun,a�? tutup Sulhan. (ewi/r5)

Berita Lainnya

Kemenag Belum Terima Edaran Terkait Kartu Nikah

Redaksi LombokPost

Harga Kedelai dan Kacang Tanah Melonjak

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Tiga Desa dan Dua Sekolah Diaudit Khusus

Redaksi LombokPost

PJU di PLTU Jeranjang Segera Dibangun

Redaksi LombokPost

Pemancing Diduga Hanyut di Perairan Labuan Poh

Redaksi LombokPost

Sinyal Mutasi Makin Menguat

Redaksi LombokPost

Sekolah Terdampak Gempa Belum Diperhatikan

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Butuh Lebih Banyak Huntara

Redaksi LombokPost