Lombok Post
Headline Metropolis

Beratnya Bekerja Bergelimang Uang

KETAT: Kasir BI tengah mengitung uang lembaran baru untuk ditukarkan pada masyarakat, beberapa waktu lalu. DOK/LOMBOK POST

Siapa yang tak tergoda punya pekerjaan jadi kasir Bank Indonesia (BI). Kerja sambil bergelimang uang.

A�———–

ASAP mengepul dari bibir cangkir berisi teh. Lalu Mandra Kamajaya dan Budi Suryawan duduk santai di sofa kantor nan empuk. Siang itu baru saja mereka lepas dari jam istirahat. Duo kasir senior Bank Indonesia (BI) Perwakilan NTB ini duduk tenang menghadap ruang kosong di depannya.

Dahi Mandra sempat berkernyit. Pria berkaca mata asal Lombok Timur itu terlihat mengukur pertanyaan Lombok Post. a�?Terkesan bergelimang duit ya?a�? kelakar Mandra lalu terkekeh.

Setiap hari ia berkawan dengan uang kertas dan logam. Total nilai uang bisa mencapai miliaran hingga triliunan rupiah. Silih berganti mampir dan pergi dari meja dengan kaki-kaki besi yang kuat untuk menopang beban.

Duit di sana berseliweran, menggunung, dan bertumpuk-tumpuk. Wajar jika BI dijaga super ketat dan berlapis. Dari scurity, polisi, hingga CCTV terpasang di banyak sudut.

Jika akhirnya muncul adigum BI adalah tempat yang angker oleh penjagaan super, rasanya memang tak berlebihan. Uang triliunan rupiah berputar di bank sentral ini.

a�?Bekerja di sini dibilang menyenangkan, ya kadang mumet (pusing, Red),a�? ujarnya kemudian.

Sebagai bank sentral dengan pengawalan super ketat, tak hanya tamu yang susah masuk ke dalam dan harus patuh terhadap standar operasional prosedur (SOP). Orang dalam pun, yakni para pegawai BI, termasuk kasir diikat oleh aturan super ketat. Harus dipatuhi.

Soal pekerjaan, diakui Mandra, memang terkesan monoton dan kadang membosankan. Namun Mandra mengatakan ini soal hati. Kalau hati ikhlas dan menyukai tantangan yang diberikan, maka pekerjaan ini tentu menyenangkan. Apalagi gajinya di atas rata-rata.

a�?Semakin tinggi resiko kerja, tentu disesuaikan dengan kesejahteraan,a�? tuturnya.

Soal besaran gaji Mandra dan Budi tidak bercerita spesifik. Ini privasi yang menurut mereka tak boleh orang tahu. Mandra hanya mengisyaratkan angkanya di atas 10 juta perbulan.

a�?Itu masih tergantung lamanya bekerja. Ada juga yang di bawah kok,a�? bocornya, irit.

Namun sudah lumrah. Apapun pekerjaan pasti ada resiko. Orang tetap akan mengidam-idamkan kerja sebagai karyawan bank sentral. Citra kerja bergelimang uang, salary di atas rata-rata, ruangan yang nyaman, dan image BI sendiri sebagai pusat rupiah, selalu jadi penggoda yang sukses membuat para pemburu kerja, ramai-ramai memasukan lamaran ke BI.

Bagi yang ngebet kerja di sini, anda harus tahu seperti apa rasanya kerja di tempat ini. Mandra bercerita pertama kali masuk kerja di BI pada tahun 2004 lalu. Selayaknya melamar kerja dia harus mengikuti serangkaian tes.

a�?BI punya standar SDM yang harus dipenuhi,a�? terangnya.

Tapi dari semua itu yang paling penting adalah integritas. Mandra mengatakan ini tak bisa ditawar-tawar. a�?Karena spesialisasi kerja kita bergelimang uang, maka integritas itu dijunjung setinggi-tingginya,a�? tegasnya.

Integritas yang dimaksud yakni bagaimana agar bisa bekerja dengan kepercayaan penuh dari pimpinan. Selain itu bagaimana agar semua pekerjaan seberat apapun bisa dituntaskan dengan baik.

a�?Jadi sebenarnya masuk kerja BI itu gampang-gampang, ya kadang mumet juga,a�? celetuknya sembari terkekeh.

Tumpukan uang di depan mata, selalu menggoda. Setiap orang yang bekerja di sana bisa saja digoda oleh pikiran jahat. Mencomot beberapa lembar uang memang tidak akan membuat perubahan berarti dari tumpukan uang miliaran bahkan triliunan itu. Tapi sekali lagi, Mandra menyebut ini soal integritas.

Bahkan sekalipun sudah punya integritas yang baik, bukan berarti pengawasan dan pengawalan mengendur. Inilah yang disebut kehati-hatian dan pengamanan berlapis.

a�?Sebelum mulai bekerja di dalam ruangan, seorang kasir tidak boleh pakai pakaian yang ada sakunya,a�? terangnya kemudian.

Mandra dan Budi lalu memperlihatkan baju batik yang kebetulan mereka kenakan hari itu. Ternyata tak ada sakunya sama sekali. Begitu juga dengan celana, juga tanpa saku. Tak ada ruang sdikitpun yang bisa jadi tempat menyelipkan beberapa lembar uang kertas.

a�?Sebelum masuk ke tempat kerja, sepatu juga harus dilepas, lalu security akan menggeledah seluruh pakaian,a�? terangnya.

Jadi jangan harap bisa keluar masuk seenak ke kamar mandi. Penjagaan ekstra ketat setiap hari tanpa kompromi. Dompet di letakan di loker khusus bersamaan dengan tas kantor. Tidak boleh di bawa masuk ke ruangan kasir.

a�?Kita baru bisa lihat panggilan atau telpon setelah jam istirahat atau setelah selesai kerja,a�? ulasnya.

Panggilan darurat dari keluraga hanya bisa dilakukan melalui telpon kantor. Baru selanjutnya security atau pimpinan yang akan menginformasikan pada pegawai yang bersangkutan. Saat keluar ruangan, security akan kembali menggeledah. Sekalipun pakaian sudah tidak ada ruang untuk saku.

a�?Itupun masih ada CCTV yang terus mengintai dengan sensor khusus di pakaian yang akan bergerak secara otomatis, mengawasi kemanapun anda bergerak selama bekerja tanpa henti,a�? bebernya.

Rekaman CCTV pun akan disimpan dalam waktu 10 tahun. Secara berkala gerak gerik para kasir akan diperiksa. Sekalipun seorang kasir sudah punya reputasi integritas yang baik di mata pemimpin. Tetap saja mereka diperlakukan sama. Tetap diperiksa.

Bahkan ada propaganda yang khas yang ditanamkan pada benak para kasir. Sekali lagi untuk memantapkan soal integritas dan memperkecil peluang melakukan praktik nakal. Mereka harus menganggap uang-uang di meja mereka itu adalah sesuatu yang tak berguna.

a�?Ini bukan uang (tapi) ini sampah,a�? terangnya.

Ruangan itu menjadi ruangan yang sangat steril. Tidak ada yang boleh masuk ke dalamnya kecuali para kasir. Tak ada pilihan kecuali harus bekerja dengan hati yang bersih dan niat tinggi untuk melayani.

a�?Rasanya tak ubahnya seperti bekerja dalam akuarium kaca,a�? ujarnya.

Di mana satu ruangan bisa saling mengawasi dengan ruangan kasir yang lain. Jadi sama sekali tak ada kesempatan untuk bermain-main. Bahkan sekelas cleanning service pun tak boleh coba-coba menjejakan kaki di dalam ruangan kasir. Mereka hanya boleh bekerja, selain di tempat itu.

Kebersihan ruangan kasir justru jadi tanggung jawab para kasir.

a�?Jadi setelah diperiksa ketat dan masuk yang ngepel ya kita (para kasir) yang ngangkat-ngangkat duit dengan nilai Rp 100 miliar, Rp 250 miliar, dan lain-lain ya kita-kita,a�? jelasnya.

Karena itulah satu fakta penting kenapa BI tidak mempekerjakan kasir seorang wanita karena alasan pekerjaan yang berat ini. Bukan hanya berat dalam arti menjaga akuntabilitas laporan. Tetapi berat dalam arti harfiah, seperti mengangkat bobot uang kertas dengan jumlah miliaran hingga triliunan yang sangat berat.

Ancaman hukuman bagi seorang kasir apabila berani coba-coba melanggar integiritas dan SOP pun tak main-main. Jika dalam pengawasan CCTV dan hasil evaluasi ternyata seorang kasir terbukti dengan sengaja kedapatan mencuri uang, berapapun nilainya maka akan penjara dan dikenakan denda berlipat-lipat.

a�?Karir bisa hancur, nama baik keluarga rusak, sekalipun uang yang diambil kecil, tetap saja penjara dan denda siap menanti,a�? terang Mandra.

Karena itu, wajar jika integritas tak ada nilai tawar di BI. Belum lagi soal beratnya pekerjaan lapangan kasir BI. Mereka harus, terjun ke masyarakat mensosialisasikan uang-uang cetakan baru. Dengan narasi yang sama, berulang-ulang di banyak tempat yang berbeda.

a�?Saat ada terbitan baru uang rupiah, sosialisasi dalam sehari bisa ke berpuluh-puluh tempat,a�? jelasnya.

Tentu ini bukan pekerjaan mudah. Menjelaskan tentang bentuk dan gambar uang baru. Apalagi seperti kemarin saat bagian rectoverso uang difitnah sebagai lambang terlarang. Tetapi karena uang adalah simbol kedaulatan ekonomi yang harus dipertahankan, maka BI pun habis-habisan berjibaku meyakinkan masyarakat. Jika uang terbitan baru bukanlah seperti fitnah yang beredar.

a�?Proses penerbitan uang itu tidak mudah, mulai dari pemilihan warna tidak boleh sama atau mirip dengan warna salah satu partai di Indonesia. BI sangat hati-hati dalam menerbitkan uang,a�? tegasnya.

Tapi meyakinkan masyarakat yang sudah kadung terhasut fitnah memang tidak mudah. Maka Mandra pun menyebut ini adalah bagian dari perjuangan bank sentral.

a�?Jika TNI mempertahankan NKRI dengan fisik, maka kami mempertahankan dengan argumentasi,a�? terangnya.

Budi menambahkan, soal rectoverso uang adalah bagian dari scurity fiture yang paling sulit untuk dipalsukan. Jadi sekalipun ada serangan fitnah yang mengarah ke BI dengan menyebut bagian rectoverso uang saat itu menyerupai lambang partai terlarang, mereka pun sekuat tenaga melawan fitnah dengan argumentasi yang masuk akal.

a�?Jadi pekerjaan sebagai kasir BI memang tidak mudah, karena saat masyarakat menanyakan soal ini di lapangan kita harus siap menjelaskan. Seberapapun banyak orang yang bertanya,a�? terangnya.

Semua harus dikerjakan dengan sabar dan penuh dedikasi. Semarah dan sekesal apapun perasaan karena lelah menlawan terjangan isu miring.

a�?Uang adalah lambang negara, maka kami harus mempertahankan itu,a�? tegasnya.

Mandra kembali bertutur, suatu ketika rupiah pernah diterjang isu uang Rp 100 dan Rp 200 yang tak berlaku. Isu itu cukup kencang sehingga berdampak pada kesetabilan ekonomi rakyat.

Kekhawatiran muncul di tengah masyarakat. Takut jika uang yang mereka simpan tak bisa digunakan.

a�?Sebagai kasir kami harus siap diterjunkan lagi meyakinkan masyarakat bahwa uang itu masih berlaku,a�? terangnya.

Tentu bahaya jika masyarakat sampai tak percaya pada mata uang rupiah. Ini dapat menggoncangkan perekonomian pada akhirnya menimbulkan kegaduhan yang merembet ke mana-mana. Maka sekali ragi seorang kasir BI atau siapapun yang bercita-cita menjadi kasir BI harus punya kemampuan verbal yang baik untuk menangkal berbagai isu.

a�?Karena itulah kampanye kami yakni cintai rupiah,a�? jelasnya.

Seorang kasir BI juga harus siap ditugaskan ke wilayah-wilayah pelosok. Meyakinkan masyarakat di pedalaman bahwa mata uang yang berlaku di negeri ini adalah rupiah. Lalu harus mampu juga menjelaskan pada mayarakat mata uang seperti apa yang berlaku saat ini.

a�?Bahkan hingga pulau terluar terpencil dan terdepan,a�? timpal Budi kembali.

Kasir BI adalah garda terdepan. Selelah apapun tugas mereka di daerah terpencil mensosialisasikan rupiah wajah harus tetap terlihat ramah dan menyenangkan. Masyarakat harus merasa nyaman dan dekat dengan para petugas BI.

a�?Selelah apapun, walau saat sedang puasa,a�? tuturnya.

Memang di waktu itu permintaan masyarkat sangat tinggi untuk penukaran uang. Para kasir tak hanya disibukan saat melayani penukaran dengan karakter masyarakat yang berbeda dalam level kesabaran untuk menanti. Tetapi para kasir sudah disibukan mulai dari penyiapan uang di kantor.

Mereka harus mengisi berbagai isian administrasi. Menyiapakan berbagai variasi pecahan rupiah, sehingga masyarkat yang datang tidak kecewa. Karena gagal mendapatkan pecahan nominal yang dimaui.

a�?Tapi selelah-lelahnya saat menyiapkan penukaran uang, senyum nenek-nenek mampu mengobati rasa capek yang kami rasakan,a�? tutup Mandra, mengakhiri obrolan kami siang itu sembari, menyeruput sisa air teh di cangkir masing-masing. (zad/r3)

Berita Lainnya

Kekayaan Tersembunyi Pantai Penghulu Agung Ampenan

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Jalan di Tempat

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost