Lombok Post
Headline Kriminal

Cerita Lalu Martadinata, Terdakwa Dugaan Korupsi PT LTB : Bangun Daerah, Malah Terjerat Masalah

Lalu Martadinata

Niat baik tak selamanya berakhir baik. SetidaknyaA� itu yang kini dialami Lalu Martadinata yang terseret dalam dugaan penyalahgunaan dana penyertaan modal Pemkab Lombok Tengah (Loteng) ke Perusda Lombok Tengah Bersatu (LTB). Bagaimana ceritanya sehingga Dosen FE Unram ini terseret dalam kasus tersebut, berikut wawancara Lombok Post bersama Martadinata.

== == ==

Assalamualaikum, bagaimana kabarnya Pak?

Walaikumsalam, Alhamadulillah baik.

Seperti apa awalnya hingga Anda mau bergabung dengan Perusda Loteng Bersatu?

Sebelum masuk perusda, saya bukan penggangguran. Saya dosen tetap di Unram, pengusaha yang berbisnis properti, aktif memotivasi pemuda untuk berbisnis, hingga melakukan penguatan ke desa-desa. Tahun 2012, terbuka peluang dan juga terdorong rasa ingin membangun kampung halaman.

Ada empat momentum saat itu, berjalannya bandara, ITDC yang mulai serius, aset pemda yang terbengkalai, dan Allah SWT berikan ilmu kepada saya. Saya pulang ke Loteng dengan mengambil cuti sebagai dosen dan meninggalkan semuanya. Saya bantu memajukan daerah melalui Perusda ini.

Apa fokus Perusda saat didirikan?

Fokus Perusda di bidang Agro, Pariwisata, dan Properti. Tiga hal itu yang menjadi fokus awal ketika Perusda didirikan.

Ketika didirikan, siapa saja dewan direksinya dan seperti apa seleksinya?

Ada Fit and Propert Test di awal. Saya sendiri yang lulus dalam Fit and Proper Test. Dilantik dari 13 Maret 2013, sebagai Direktur Utama Perusda.

Kapan dana penyertaan modal diberikan Pemkab Loteng?

Belum ada uang saat perusahaan didirikan dan setelah saya dilantik. Belum ada penyertaan modal. Modal itu baru dicairkan sekitar 17 bulan setelah dilantik, di akhir Agustus 2014.

Lantas bagaimana karyawan dan Anda bekerja, jika tidak ada uang untuk beroperasi?

Makanya, di awal saya mulai membangun jaringan. Di enam bulan pertama, lebih banyak menggunakan uang saya pribadi untuk segala kebutuhan operasional. Enam bulan kedua menggunakan operasional dari pinjaman PDAM sebesar Rp 200 juta.

Berapa jumlah uang pribadi yang ke luar untuk operasional perushahaan?

Saya tidak ingat persis.

Ratusan juta rupiah?

Sampai segitu. Tidak pernah saya hitung, karena niat saya saat itu untuk kemajuan daerah.

Bagaimana kerja-kerja awal Perusda?

Ada konsep segitiga dalam membangun bisnis di Perusda ini, yakni masyarakat, Perusda, dan investor. Ketiga pihak ini harus mendapatkan manfaat langsung. Itu yang kita rancang.

Karena itu, di awal kita bangun jaringan meski saat itu belum ada uang. Upaya ini membuahkan hasil. Ada beberapa investor yang mulai tertarik, mereka dari Jakarta, Dubai, Korea, dan Cina. Dua di antara mereka bahkan telah menjalin nota kesepahaman dengan Perusda. Sudah ada komitmen. Lokasinya di Gili Prigi, Selong Belanak, pesisir Pantai Kuta, Pantai Seger, termasuk lapangan bundar di Praya. Kita juga sempat mengkaji di Kawasan (Gunung) Tunak.

Setelah nota kesepahaman, kenapa tidak dilanjutkan dengan bentuk kerja sama?

Investor mundur perlahan, karena lokasi-lokasi yang kita tawarkan, yang merupakan aset daerah, ternyata belum bisa dimanfaatkan. Perusda sempat berupaya agar pemerintah segera membereskan masalah itu. Dengan pimpinan di eksekutif sudah sering kita utarakan, di DPRD juga sudah kita paparkan proses dengan calon investor.

Sempat terlontar di legislatif, bahwa masalah aset itu harus ditindaklanjuti, tapi sesudah itu tidak ada perkembangan. Di sisi lain, Perusda terus mendapat tekanan agar bisa memberikan keuntungan. Akhirnya kita menjalin kerja sama dengan Prima Graha Cemerlang (PGC) untuk usaha bata ringan.

Dalam fakta persidangan, disebutkan bahwa usaha bata ringan tersebut gagal?

Gagal seperti apa? Karena selama ini perusahaan tetap berproduksi. Beberapa pemesanan juga sudah kita layani. Cuma memang, keuntungan yang diharapkan tidak bisa cepat terealisasi, apalagi perusahaan baru beberapa bulan saja beroperasi memproduksi bata ringan.

Bagaimana dengan tuduhan aliran dana sebesar Rp 36,5 juta ke rekening pribadi Anda?

Uang itu sebenarnya untuk pembukaan rekening perusahaan Rp 15 juta. Dan, Rp 4,5 juta untuk gaji-gaji saya selama bekerja di Perusda. Untuk pembukaan rekening itu, terdapat dobel pencatatan Rp 15 juta sebanyak dua kali, sehingga totalnya menjadi Rp 30 juta.

Padahal kenyataannya, saya cuma menerima transferan senilai Rp 15 juta. Itu juga untuk pembukaan rekening atas nama perusahaan.

Fakta persidangan juga menyebutkan adanya sejumlah transfer yang dilakukan Zahrun Arbaidi kepada sejumlah orang, apakah Anda mengetahuinya?

Transfer yang dimaksudkan itu, merupakan usaha pribadinya. Saya tidak tahu menahu hal itu, meskipun Pak Zahrun sebagai Direktur Keuangan Perusda. Selain di Perusda, beliau kan punya aktivitas lain. A�Tidak mungkin bagi saya untuk mengontrol aktivitas Pak Zahrun, apakah itu bisnis pribadi atau aktivitas pribadi.

Apakah sejumlah transfer dari Zahrun menggunakan uang Perusda?

Saya tidak bisa mengatakan apakah uang Perusda yang digunakan atau tidak. Yang saya tahu, ada transfer Rp 700 juta dari Perusda ke PGC sebagai konsekuensi kerja sama produksi bata ringan. Salah satunya digunakan untuk pembelian mesin.

Itu yang saya tanda tangani. Setelah itu, alirannya ke mana, saya tidak tahu.

Setelah semua ini terjadi, bagaimana harapan Anda?

Kalau yakin saya korupsi, berikan hukuman seberat-beratnya. Tetapi, selalu saya katakan, lihatlah faktanya seperti apa. Semua orang yang mengetahui kebenarannya, mereka berani jujur. Saya yakin, jaksa juga mengetahui kebenarannya.(wahidi akbar sirinawa/r2)

Berita Lainnya

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost

26 Oven Untuk Petani Tembakau Lotim

Redaksi LombokPost

Garbi Bakal Gembosi PKS?

Redaksi LombokPost