Lombok Post
Headline Metropolis

Kejar Asa Tuan Rumah PON 2024, Sekarang atau 25 Tahun Lagi

SERIUS: Wakil Ketua Umum KONI Pusat K Inugroho (dua dari kiri) dan Wakil Ketua DPRD NTB H Abdul Hadi (tiga dari kiri) saat membahas peluang NTB dan Bali menjadi tuan rumah PON 2024, di Jakarta, Rabu (11/4). WAHYU/LOMBOK POST

JAKARTA– Masyarakat NTB, khususnya para pelaku olahraga kini patut harap-harap cemas. Nasib jadi tidaknya NTB bersama Bali ditunjuk sebagai tuan rumah PON 2024 akan ditentukan dalam waktu kurang dari dua pekan ke depan. “Tepatnya 24 April mendatang,” kata Wakil Ketua Umum KONI Pusat K Inugroho, ditemui di Jakarta, Rabu (11/4).

Saat itu, utusan DPRD NTB memimpin rombongan yang juga terdiri dari KONI NTB, Dinas Kominfotik NTB, dan para wartawan NTB sengaja bertandang langsung ke markas KONI Pusat yang ada di kawasan Senayan. Menurut Wakil Ketua DPRD NTB H Abdul Hadi yang memimpin rombongan, kunjungan itu merupakan bukti keseriusan NTB bersama Bali yang mengajukan diri sebagai tuan rumah.

Tak hanya KONI NTB saja yang bergerak, namun semua elemen, termasuk para wakil rakyat. “Kami tegaskan, kami mendukung penuh dari sisi politik,” katanya.

Penegasan itu menjadi lampu hijau bahwa dewan siap memperjuangkan anggaran yang dibutuhkan jika NTB benar-benar ditunjuk sebagai tuan rumah bersama Bali. Para wakil rakyat Bumi Gora, lanjut Hadi, memberi atensi khusus pada proses bidding tersebut. “NTB dan Bali punya kelebihan dari segi pariwisata,” ujarnya.

Memadukan konsep olah raga dan pariwisata, diyakini politisi PKS itu menjadi kehebatan dua provinsi itu yang tak dimiliki Sumatera Utara bersama Aceh, ataupun Kalimantan Selatan. Selain itu, letak dua provinsi yang dulunya tergabung dalam Sunda Kecil itu ada di tengah. Sehingga provinsi dari timur dan barat Indonesia tak akan kesulitan mencapainya. “Saya kira saatnya kami diberi kepercayaan,” katanya meyakinkan.

Wakil Ketua Komisi V DPRD NTB H MNS Kasdiono menambahkan kini semua provinsi tengah terus dilobi. Selain oleh KONI dan Pemprov NTB, dewan dikatakannya juga tak mau ketinggalan bergerak. “Kalau kita tak dapat, kita harus tunggu 20-25 tahun lagi,” ucapnya.

Mantan ketua KONI NTB yang kini berstatus ketua dewan kehormatan KONI NTB itu mengatakan NTB dan Bali menjamin sportivitas pelaksanaan PON. Sebagai daerah yang ada pada rangking tengah, ia menegaskan NTB termasuk Bali tak akan coba berlaku curang untuk mengejar prestige juara umum. Maka satu-satunya yang dikejar adalah nama baik sebagai penyelenggara yang sukses. “Kepada daerah lain, kami menjamin PON yang penuh sportivitas,” tegasnya.

Mengenai upaya dewan, ia mengatakan komunikasi dengan dewan dan pemerintah provinsi di Bali juga intens dilakukan. Terkait sarana dan prasarana, politisi Demokrat itu memastikan PON di NTB dan Bali nantinya akan menjadi PON yang gegap gempita. Hal itu tak lepas dari kondisi dua provinsi yang sangat prima fasilitasnya saat ini. Mulai dari jalan, bandara, pelabuhan, penginapan, bahkan hingga sarana wisata dan budaya. “Hanya perlu beberapa pembenahan saja untuk venue,” imbuhnya.

Mendengar paparan itu, K Inugroho mengatakan semua bergantung cara NTB dan Bali dalam merebut hati daerah lain. Pada tanggal 24 April ituA� akan dilangsungkan Musyawarah Olahraga Nasional Luar Biasa (Musornaslub) yang salah satu agenda utamanya terkait bidding. Selain NTB bersama Bali, ada dua saingan lain yang juga berminat menjadi tuan rumah PON ke-21 tersebut, yakni Sumatera Utara bersama Aceh, dan Kalimantan Selatan. Ketiga calon tuan rumah itu harus mampu meyakinkan para pemegang suara, yakni 34 provinsi di Indonesia. “NTB dan Bali tentunya ada kelebihan, silakan manfaatkan itu,” katanya.

Saat presentasi, kelebihan itu harus dieksploitasi agar semakin meyakinkan. Misalnya dari segi sport tourism yang dikatakannya cukup menjanjikan. Sehingga peluang menjadi tuan rumah terbuka lebar. “Silakan berjuang, saya doakan yang terbaik,” tutupnya.

Konsep sport tourism and culture yang ditawarkan NTB dan Bali sejatinya mendapat respons positif. Sumber dari sejumlah petinggi KONI Pusat menegaskan, banyak dari mereka yang tertarik dengan konsep itu. Namun yang harus diingat, pemegang suara adalah KONI daerah. Sehingga konsep menarik itu seharusnya dijabarkan rinci pada 34 provinsi yang ada.

Mengenai keperluan lobi tersebut, di hari yang sama tim kemudian mendatangi DPD RI. Di rumah rakyat itu, mereka menemui salah satu Anggota DPD RI asal NTB Hj Baiq Diyah Ratu Ganefi. “Jelas saya mendukung upaya NTB,” tegas Ganefi.

Dia berjanji turut menyuarakan ikhtiar itu melalui kenalannya sesama anggota DPD RI. Dia berharap, dengan langkah tersebut, NTB dan Bali akan semakin besar peluangnya. Karena setiap anggota DPD RI tentu memiliki pengaruh di daerahnya masing-masing. “Saya akan hubungi teman-teman dari seluruh daerah,” tegasnya.

Kepada pemerintah provinsi NTB, ia meminta untuk mempersiapkan diri dengan baik. Karena pariwisata dan budaya yang ditawarkan, maka hal itu harus dibenahi maksimal. Misalnya sarana, akses, dan masyarakat. “Jangan sampai venue kita siap, tapi pariwisatanya tak memuaskan,” ucapnya.

Dia menyoroti kondisi wisata khususnya di Lombok yang kini serba berbayar. “Masuk Pantai Pink bayar, padahal toilet saja tak ada,” tekannya.

Sembari mengejar jatah tuan rumah, saat bersamaan, hal itu juga harus dibenahi. Sehingga konsep sport tourism and culture yang ditawarkan benar-benar pas. “Prinsipnya DPD RI Dapil NTB pasti mendukung,” tegasnya.

Tim lantas bergerak menuju DPR RI yang masih dalam satu komplek. Di sana, H Nanang Samodra, Anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat yang menemui. Dia juga menegaskan, 10 wakil rakyat NTB pasti mendukung penuh. “Ini langkah maju yang saya dukung, teman yang lain juga pasti dukung,” yakinnya.

Dia bahkan sudah membangun komunikasi dengan sejumlah anggota DPR RI dari daerah lain. Karena merupakan politisi Demokrat, Nanang paling banyak menghubungi sesamanya. “Dari Bali sudah, nanti Ibas (putra SBY) juga saya kontak,” ucapnya.

Setelah mendapat pemaparan komperhensif dari tim, ia berjanji melanjutkan penjabaran itu pada politisi lainnya. Harapannya, itu bisa disuarakan di daerah masing-masing. Jika benar nantinya NTB terpilih, ia juga mengaskan komitmen memperjuangkan anggaran pusat untuk penyelenggaraan PON. “Nanti kita kawal anggarannya,” tegas Nanang.

Berselang satu hari kemudian, tim lantas bergerak menuju Sumatera Selatan (Sumsel). Di Kota Palembang, dipelajari berbagai hal terkait aneka persiapan yang dilakukan. Sebagai provinsi olahraga, Sumsel adalah tempat pas untuk berguru. Di daerah yang sudah menyelenggarakan PON dan kini bersiap sebagai tuan rumah Asian Games itu aneka kebijakan dipelajari.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Sumatera Selatan H Akhmad Yusuf Wibowo didampingi Perwakilan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Sumsel, Diskominfo Sumsel, KONI Sumsel, Direktur PT Jakabaring Sport City Palembang, SIWO PWI Sumsel menerima rombongan.

Dalam pemaparannya, ia mengatakan Sumatera Selatan dinobatkan oleh kementerian Pariwisata sebagai kota tujuan wisata olahraga (Sport Tourism) di Indonesia dan juga kepercayaan dunia sebagai Tuan Rumah Penyelenggara Event Internasional Asian Games ke-18 tahun 2018 bersama DKI Jakarta. Dia menuturkan bukanlah hal yang mudah untuk dapat menjadi tuan rumah event international Asian Games. Semua itu direbut karena Provinsi Sumsel memiliki pengalaman menyelenggarakan event-event olahraga international sekelas Asia, Asia Pacifik bahkan dunia.

“Penyelenggaraan event dimulai dari PON 2004, Sea Games 2011, Islamic Solidarity Games 2013 dengan peserta 52 negara, 17th Association of South East Asian Nations (ASEAN) University Games pada 2014. Sejak saat itu 42 event olahraga bertaraf Asia, Asia Pacifik bahkan dunia bermain di sini,” ungkapnya

Apa yang didapat dari kegiatan olahraga? Dia menjelaskan, banyak uang pusat digelontorkan kedaerah itu. Olahraga membuat Sumsel mendapat berkah pembangunan aneka proyek fisik. “Yang Paling fenomenal adalah Light Rail TransitA� (LRT) yang menyebrangi sungai yakni Sungai Musi, untuk Asian Games,” tuturnya.

Karena itu ia meminta NTB tak ragu jika benar mengejar jatah tuan rumah. Dia memastikan banyak manfaat diperoleh bagi rakyat. Dalam kesempatan mempelajari berbagai hal terkait olahraga itu, tak lupa NTB meminta dukungan Sumsel. M Nur Haedin, utusan KONI NTB meminta langsung agar Sumsel mau memberi suara untuk NTB-Bali. “Pak Akhmad ini kan wakil ketua KONI Sumsel juga, bolehlah suara untuk kami,” rayunya.

Tak lupa ia memaparkan aneka potensi NTB terkait olah raga, pariwisata, dan budaya. Mendapat pemaparan itu, ia berjanji menyampaikannya pada Ketua KONI Sumsel yang tak lain Gubernur H Alex Noerdin. “Insya Allah Provinsi Sumatera Selatan akan memberikan support agar PON XXI tahun 2024 bisa terselenggara dengan sukses baik sukses prestasi maupun sukses penyelenggaraan di NTB, nanti saya sampaikan pak ketua,” ucapnya yang mengaku sangat kagum dengan keindahan Lombok dan Bali. (yuk/r5)

Berita Lainnya

SMPN 3 Jonggat Terapkan Pembelajaran Berbasis Siswa

Redaksi LombokPost

Pemkab Loteng Siapkan Nikah Massal Gratis

Redaksi LombokPost

Hati-Hati, Pohon Mulai Bertumbangan!

Redaksi LombokPost

Bikin Menu Nasiq Lobi Hingga Manuq Sebur Saus Lebui

Redaksi LombokPost

Jaksa Kumpulkan 96 Kades Terpilih

Redaksi LombokPost

Ayo, Keruk Sungai Ancar!

Redaksi LombokPost

Korban Gempa Harus Nabung Stok Sabar

Redaksi LombokPost

Memahami Potensi Pemuda

Redaksi LombokPost

IGI Pertanyakan Kebijakan Sukiman

Redaksi LombokPost