Lombok Post
Giri Menang Headline

IPM Membaik, Kemiskinan Perlu Diintervensi

JABAT TANGAN: Pjs Bupati Lobar H Lalu Saswadi (kanan) menyerahkan isi Pidato Kepala Daerah Dalam Rangka Peringatan Hari Jadi Kabupaten Lombok Barat ke-60 Tahun 2018 kepada Ketua DPRD Lobar Imam Kafali (kiri) di ruang sidang DPRD Lobar, Beberapa waktu lalu.

GIRI MENANG-Kabupaten Lombok Barat kini genap berusia 60 tahun. Pada usia yang cukup matang ini, permasalahan pelayanan dasar, yakni kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah (PR) yang mesti diselesaikan. Sehingga fokus utama pemerintah saat ini adalah menyangkut masalah pembangunan sumber daya manusia.

Angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Lobar mulai membaik. Menjadi urutan keempat se-NTB sejak tahun 2016, dengan selisih nilai 0,01 dengan Kabupaten Dompu. Artinya, IPM Lobar memiliki selisih 0,07 poin meninggalkan Kabupaten Dompu pada ulang tahun kali ini.

a�?Pertumbuhan ekonomi kita mencapai 5,73 persen, terbaik kedua di NTB. Tingkat pengangguran terbuka masih menyisakan 3,28 persen, juga terbaik kedua di NTB,a�? ujar Penjabat Sementara (Pjs) Bupati Lobar H Lalu Saswadi dalam rapat sidang istimewa di DPRD Lobar, kemarin (16/4).

Saswadi mengatakan, pada aspek pendidikan, permasalahan yang masih dihadapi adalah angka rata-rata lama sekolah yang telah ditetapkan dalam RPJMD Lobar tahun 2014-2019. Sebagai upaya mencapai target ini, Pemda telah menganggarkan untuk Program Kejar Paket A sejumlah 6.000 orang dan akan mengikuti ujian plashment test pada tahun ini. a�?Kalau saja 50 persen yang lulus ujian, maka dipastikan akan mempengaruhi angka rata-rata lama sekolah, sehingga bisa meningkat,a�? ucapnya.

Selain angka rata-rata lama sekolah, ada indikator kinerja utama lainnya yang sudah mencapai target. Namun sangat berpotensi kembali tidak mencapai target. Yaitu angka kemiskinan, persentasi kontribusi perindustrian dan perdagangan terhadap PDRB, dan pertumbuhan ekonomi.

a�?Ketiga indikator ini, selain rata-rata lama sekolah, harus kita perhatikan dan menjadi prioritas untuk diintervensi pada tahun berikutnya,a�? katanya. a�?Dengan pendekatan kemampuan fiskal, ketepatan menyusun program (money follow program), dan sinergitas seluruh perangkat daerah,a�? tambah Saswadi.

Sementara dalam peningkatan indeks kesehatan, sambungnya, dapat disaksikan dengan meluasnya pembinaan, sosialisasi, dan penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), program inovatif Lobar berupa Gerakan Masyarakat Sadar Gizi (Gema Dazi). Kemudian, pendamping dan kader di desa yang pembiayaannya sharing dengan APBDes telah diakui dan direplikasi menjadi terobosan nasional oleh Kementerian Kesehatan.

a�?Kita juga telah siapkan Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FTKP) yang semakin baik dan memenuhi rasio pelayanan. Kita juga membangun Pustu, Puskesmas di Eyat Mayang dan Suranadi, rehabilitasi berat Puskesmas,a�? beber Kepala Dinas Koperasi dan UMKM NTB ini.

Sedangkan untuk infrastruktur, hingga awal bulan April ini, Lobar telah memiliki panjang jalan kewenangan kabupaten bertambah sebesar 67,01 kilometer (km) dari 504,87 km tahun 2015. Artinya, ada peningkatan menjadi 571,68 km. Sementara untuk peningkatan kemantapan jalan, telah mencapai 62,55 persen atau 357,50 km dari total panjang jalan.

Pemda Lobar juga tak luput mencurahkan perhatiannya pada penanggulangan kemiskinan. Pemda Lobar telah mengintervensi daya beli masyarakat. Serta memiliki pasar dan fasilitas pendukung yang semakin baik. Begitu pula produksi UMKM cukup banyak diterima oleh gerai-gerai minimarket modern. Termasuk penanganan papan masyarakat di tahun 2017, Pemda Lobar telah memperbaiki 1.225 unit rumah tidak layak huni menjadi layak huni.

a�?Produktivitas pertanian terus meningkat untuk komoditas jagung dan kedelai, seiring meningkatnya areal tanam dari 43.598 hektare (ha) menjadi 50.248 ha,a�? bebernya.

Sejalan dengan hal tersebut, Pemda Lobar menyadari kemampuan fiskal yang terbatas dan mengantisipasi kekhawatiran pemerintah pusat atas penerimaan negara yang tidak tercapai. Serta untuk mencapat target kerja 100 persen, maka Lobar harus menyusun strategi antisipatif.

a�?Kiat intervensi dengan pendekatan HITS (holistic, integrative, tematik, dan spasial), yang dapat melihat secara menyeluruh terhadap permasalahan daerah dan terintegrasi dengan perencanaan lainnya,a�? tutup Saswadi.

Ketua DPRD Lobar Imam Kafali menuturkan, setidaknya ada beberapa tantangan besar yang masih dihadapi saat ini dan akan datang. Yaitu, pertumbuhan ekonomi, penanggulangan kemiskinan, dan penciptaan lapangan kerja.

Sebagai wakil rakyat, DPRD Lobar bersama Pemda Lobar berupaya maksimal melalui optimalisasi peran dan fungsi pemerintah yang diembang masing-masing. a�?Dengan menerbitkan regulasi-regulasi berupa peraturan daerah, baik usulan eksekutif atau inisiatif DPRD. Yang fokus pada upaya pemecahan masalah dasar yang dihadapi bersama,a�? ungkap Imam.

Meski demikian, dalam konteks perkembangan Lobar, tentu tidak menutup mata terhadap keberhasilan pembangunan yang telah dicapai. Yakni, pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah. Keberhasilan ini adalah hasil kerja keras dari semua komponen masyarakat.

a�?Yang secara loyal dan profesional memberikan kontribusi dalam pembangunan di Kabupaten Lombok Barat,a�? tutup politisi Golkar ini. (ewi/r5)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Harga Kedelai dan Kacang Tanah Melonjak

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Tiga Desa dan Dua Sekolah Diaudit Khusus

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pak Jokowi, Bebaskan Baiq Nuril!

Redaksi Lombok Post

Penangan Pascagempa Lamban

Redaksi LombokPost