Lombok Post
Headline Metropolis

PEREMPUAN-PEREMPUAN BERDAYA

Hj Dora Aredaeni Sofiastuty

April adalah bulannya para wanita. Sebab, setiap 21 April, kaum hawa di seluruh negeri memeringati Hari Kartini, sang pahlawan emansipasi. Dari sekarang, itu dua hari lagi. Untuk Bumi Gora, kami menyajikan laporan tentang kiprah para perempuan-perempuan yang mungkin terlihat biasa, tapi sedungguhnya sangat berdaya. Mereka adalah perempuan pebisnis, perempuan aktivis, perempuan politisi, dan perempuan pendidik.

—————————————–

MENJALANKAN bisnis bersamaan dengan mengurus keluargaA� bagi seorang perempuan bukanlah hal mudah. Tak jarang membuat mereka kelabakan dalam membagi waktu. Bahkan, ada juga yang sampai mengganggu kehidupan rumah tangga sehingga menimbulkan cekcok dengan belahan jiwa.

Tapi, menengoklah pada Rahma Yani. Ibu tiga anak itu sukses menjalankan dua peran sekaligus. Yakni sebagai pebisnis dan juga ibu rumah tangga. Yang menarik, emansipasi sebagai perempuan itu tak diwujudkan Rahma Yani dengan meninggalkan rumah. Dia justru berdikari dari dalam rumah sendiri. Kok bisa?

Rahma Yani mulai merintis bisnisnya semenjak 2009 lalu. Saat tu dia masih kuliah di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mataram. Awalnya kecil-kecil. Mulai dari jualan pulsa. Lalu beranjak pada berbisnis online berupa jam tangan. Sebagai pemula, saat itu ia masih dalam tahap coba-coba. Belum seserius seperti saat ini.

Tapi, lama-lama dia malah kecantol. Seiring waktu, bisnisnya mulai melebar. Jualannya pun tak hanya jam tangan. Merambah pula asesoris lainnya. Macam tas dan baju. Dari sanalah ia mendapatkan uang tambahan biaya kuliah sekaligus uang saku setiap bulannya.

Dua bulan sebelum wisuda, tepatnya Desember 2012, Rahma Yani menikah. Mohammad Aziz Saufan meminang perempuan alumni jurusan Pendidikan Bahasa InggrisA� tersebut.

Berjualan, bukan karena Rahma tidak punya kesibukan. Sebab, dua bulan sebelum wisuda, dia sudah mengajar di dua sekolah. Yakni di Raudatul Atfal dekat rumahnya di Desa Batujai Lombok Tengah dan di SMP Islam Al Maa��rif Semarang Praya. Meski mengajar di dua sekolah, ia tetap menjalankan bisnis onlinenya.

Namun, niatnya berbisnis mulai mantap manakala dia melahirkan buah hati pertamanya. Rahma total tak mengajar selama 1,5 bulan lantaran cuti melahirkan. Terjadi pergolakan batin pada Rahma. Dia ingin tetap mengajar. Namun, di satu sisi, dia ingin merawat buah hatinya dengan sepenuh jiwa. Sepenuh waktu pula. Mertuanya bahkan memintanya tetap mengajar. Sementara soal anak, bisa dititip pada sang nenek.

Akhirnya, Rahma mengambil keputusan bulat. Dia memilih berhenti mengajar. Demi sang buah hati. Dia memilih memantapkan usahanya. Dan agar tak jauh dari anak, usaha itu dia jalankan dari rumah.

Mulai dari jualan tas lokal seharga Rp 70 ribuan, hingga jualan songket yang harganya ratusan ribu rupiah. Total kini sudah tiga tahun Rahma menjalani usahanya dari rumah tersebut. Pada April 2016, saat dia melahirkan anak kedua, dia beralih berjualan produk skincare. Masih dengan cara online.

Maka, jadilah Rahma memanfaatkan ponsel pintarnya sebagai toko jualannya. Rahma mengatakan dirinya harus pandai membagi waktu agar pekerjaan rumah tangga beres ketika ia membuka tokonya (ponsel). Meski begitu, tidak melemahkan tekad dirinya untuk sebagai ibu rumah tangga bagi keluarga kecilnya.

Hingga 2018 ini perkembangan bisnis yang dijalaninya cukup signifikan. Ia bahkan berhasil lulus promo trip ke luar negeri belum lama ini. Ia berhasil menjadi salah satu member Amoorea yang mendapatkan promo jalan-jalan ke Malaysia. Sementara untuk penghasilan, Yani memberitahukan jika ia bisa memperoleh penghasilan bersih hingga Rp 4 juta per bulan.

Penghasilannya dari berjualan online ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan untuk kebutuhan anak-anaknya. Kebutuhan sang anak belum terlalu besar dikarenakan anaknya masih bersekolah di TK. Sementara sang suami bekerja sebagai driver travel. Sebelumnya sang mertua membelikan suaminya sebuah mobil secara kredit, mobil itu digunakan untk mengantar tamu yang berlibur di Lombok.

a�?Jadi saya gak terlalu minta ke suami,a�? katanya. Perempuan berhijab ini merengkuh manisnya bisnis yang lancar, namun tetap tak mengurangi sedikitpun perhatian bagi buah hatinya.

Enggan Berjauhan

Di bagian lain, ada Hj Fatichotun Nayiroh. Dia adalah Direktur Utama Aliston Buana Wisata, perusahaan travel umrah. Tidak bekerja pada orang lain, membuat Fatichotun bisa membawa buah hatinya saat bekerja. Tidak pula melupakan kodratnya sebagai seorang istri. Maka, jadilah, dia bisa berkarir gemilang, namun di satu sisi juga tetap ada untuk suami dan anak-anaknya.

Sebagai pemimpin tertinggi sebuah biro perjalanan umrah, Fatichotun sangatlah sibuk. Namun, sesibuk apa pun, meski telah dikaruniai empat buah hati, dia sama sekali tak melepaskan kontrol pengasuhan buah hatinya tersebut pada orang lain. Mengasuh anak-anaknya dilakukannya langsung.

a�?Saya kerja fleksibel karena keluarga bagi saya adalah terpenting,a�? kata istri dari Sahlan Nursalam pada Lombok Post. Saat ini, buah hatinya yang paling kecil bahkan masih berusia kurang dari satu tahun.

a�?Anak-anak sangat dekat dengan saya, namun juga bisa memahami kalau kondisi sibuk bekerja dalam mengurus jamaah haji dan umrah,a�? tuturnya. Karena itu, kadang anak-anak diboyong pula saat dia bekerja.

a�?Karena saya orang yang tidak mau meninggalkan tugas utama saya sebagai ibu dan istri dalam keluarga kecil saya,a�? tambahnya.

Apalagi anak-anak sangat membutuhkan dirinya karena masih dalam masa pertumbuhan. Ia juga tidak ingin kehilangan moment tumbuh kembang buah hatinya karena pekerjaan.

Baginya quality time bersama keluarga selalu yang utama. Ini untuk menambah kedekatan dengan anak-anak dan suaminya. Kadang ia bersama keluarga kecilnya menyempat diri untuk jalan-jalan tanpa mengganggu pekerjaannya. Ia pun berusaha untuk selalu membantu anak-anaknya yang sudah masuk dunia pendidikan dalam pekerjaan tugas sekolah dan keperluan akan sekolahnya.

Ada pula bloger Muslifa Aseani. Dia bekerja di rumah, sehingga setiap hari selalu dekat dengan keluarga. Memang ada kalanya dia harus berjauhan. Terutama manakala dia sedang ada pekerjaan ke luar daerah. Tapi, hal tersebut tak mengurangi tanggung jawab untuk keluarga.

Tanggung jawab dalam mengurus anak-anak dia upayakan selalu dalam kontrolnya walaupun harus keluar daerah beberapa waktu. Hal ini untuk memastikan kebutuhan anak-anak dan suami tetap terpenuhi walaupun ada tanggung jawab dalam pekerjaan dirinya sebagai blogger.

Kalau sedang di luar daerah, Muslifa Aseani juga berusaha untuk tetap menjaga komunikasi baik dengan suami dan anak-anaknya. Biasanya pagi hari melakukan telepon maupun video call. Di sini biasanya bertukar informasi kegiatan yang lagi dikerjakan.

a�?Yang terpenting jangan pernah putus komunikasi dengan anak-anak dan suami paling penting,a�? ujar istri dari Arinto Setiyadi ini.

Sejauh ini pekerjaan yang telah dilakoni bertahun-tahun ini tidak mengganggu hubungan dalam rumah tangga. Karena pekerjaan yang fleksibel membuat dirinya tidak harus kehilangan moment kebersamaan keluarga. Ia bahkan berupaya seminggu sekali jalan-jalan bersama keluarga kecilnya biasanya dilakoni akhir pekan bersama.

a�?Saya bersyukur kedua anak-anak saya tidak terlalu banyak complain dan selalu mendukung ibunya,a�? jelasnya.

Ia mengatakan dukungan anak-anak dan suami juga menjadi salah satu hal yang bisa membuat ia menjalankan dua peran sekaligus. Baik sebagai ibu rumah tangga maupun seorang blogger yang menghabiskan waktu untuk online. a�?Dukungan keluarga kekuatan tiada duanya,a�? tandasnya.

Perempuan Aktivis

Dari kalangan aktivis, ada Suharti. Dia kini adalah Direktur Yayasan Tunas Alam Indonesia (SANTAI). Lembaga yang konsen mengadvokasi masalah-masalah yang membelit anak-anak di NTB.

Atik, begitu Suharti karib disapa, adalah seorang aktivis perempuan yang beken di Mataram. Dia sungguh sibuk. Ibu dua anak ini memang punya prinsip.

a�?Wanita juga harus berdaya di atas kekuatan yang dimilikinya,a�? kata Atik, kemarin (17/4).

Itu mengapa, dia mendorong para perempuan Bumi Gora bisa mengisi ruang-rang publik dan menciptakan ruang-ruang itu dengan keberadaanya. Bahkan, mereka juga harus mengambil bagian dalam kegiatan sosial kemasyarakatan. Dari situ, mereka bisa turut serta menyuarakan suara-suara kaum hawa yang termarginalkan.

a�?Perempuan zaman now tidak harus terkungkung dalam ruang domestik. Tapi perempuan harus terlibat dalam setiap proses pembangunan,a�? jawab warga Gatep, Ampenan, Mataram itu.

Sebab, bicara masalah, terlalu banyak yang membelit para perempuan di daerah ini. Misalnya, masih ada perempuan yang belum bisa mendapatkan pendidikan. Ada yang harus menikah di usia mua. Bahkan banyak yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Dan itulah yang juga diadvokasi oleh Atik.

Dan di balik kesibukannya tersebut, Atik tetap bisa membagi waktunya bersama suami dan kedua anaknya. Dimana, untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dengan keluarga, Atik selalu mengandalkan komunikasi dan dialog terutama dengan dua anaknya dan suami tercintanya. Termasuk menyiapkan kebutuhan mereka.

a�?Terlepas dari semua, kami selalu berusaha membangun keluarga dengan saling percaya, menghargai. Dan tak lupa memberikan penjelasan bagi anak-anak tentang pekerjaan yang selama ini kami kerjakan,a�? katanya.

Aktivis lain Endang Susilowati pun begitu. Ketua Dewan Perkumpulan Panca Karsa ini juga tak melupakan keluarga, di tengah seabrek kegiatannya mengadvokasi permasalahan yang membelit para tenaga kerja wanita asal NTB di luar negeri.

a�?Kekerasan yang mengenai perempuan dan anak-anak harus kami bantu, mereka tidak boleh luput dari pandangan kami,a�? tegas ibu dua anak tersebut.

Seperti halnya para perempuan aktivis. Perempuan pendidik ini juga tak pernah melupakan keluarga di tengah kesibukannya mengajar di Universitas Islam Negeri Mataram. Dia adalah Atun Wardatun.

Itu mengapa, manakala dua hari akhir pekan, Atun hanya menyiapkan waktu untuk keluarganya. Pekerjaan tambahan apa pun yang datang padanya di akhir pekan, akan ditolaknya.

Bagi Atun, identitas seseorang memang selalu beragam. Namun, bukan berarti harus ada yang dipinggirkan. Malah sebaliknya, identitas tersebut harus diberi tempat dan waktu untuk dimaksimalkan.

Maka jadilah dia menjalankan perannya sebagai pendidik, ibu rumah tangga dan juga seorang istri. Dia punya resep soal membagi waktu. Memang penuh dinamika. Namun, dia akan berupaya mematuhi pembagian waktu tersebut.

Sebagai seorang aparatur sipil negara, Atun memang harus memenuhi kewajibannya bekerja 40 jam sepekan. Itu berarti ia mengalokasikan waktu 8 jam sehari selama 5 hari.

a�?Jika sudah lebih dari 8 jam, sudah overload. Saya udah nggak mau kerja lagi,a�? ujarnya.

Ia merinci kesibukannya. Biasanya dia mengajar selama 2 jam SKS, yang artinya 2 x 90 menit sehingga sisa 5 jam bisa dilakukan untuk pekerjaan lain misalnya menjadi pembicara pada sebuah kegiatan, atau membimbing mahasiswa tingkat akhir.

Dosen Fakultas Syariah UIN Mataram ini mengajar di 12 kelas pada hari senin dan selasa. Kemudian Rabu dilakukan untuk membimbing mahasiswa dan hari kamis, ia tidak memiliki jadwal wajib di kampus namun ia gunakan waktu 8 jam dalam sehari itu untuk penelitian, menulis, baca buku atau melakukan pengabdian pada masyarakat.

a�?Begitu juga dengan hari Juma��at, jadi sabtu dan minggu sebisa mungkin tidak saya gunakan untuk bekerja, tetapi jika itu tidak bisa diwakilkan misalnya jadi pembicara pada hari sabtu maka weekday saya akan kurangi pekerjaan demi berkumpul dengan keluarga,a�? ungkapnya.

Berbicara mengenai kontrol terhadap anak, ia menuturkan jika pada awal ia melahirkan anak pertama tidak menggunakan jasa babysitter sehingga ia membawa anaknya ke kampus. Bahkan dibawa ke dalam kelas, menemaninya mengajar sampai ia tidurkan di perpustakaan.

a�?Pokoknya mengikuti saya kemana-mana, sampai dikenal saya bawa anak ke kampus,a�? ujarnya.

Kemudian pada anak keduanya yang kini sudah berusia 15 tahun dan anak ketiga yang kini sudah 10 tahun, masih tak ada babysister pula. Bahkan hingga anaknya yang keempat yang kini sudah berusia 17 bulan, meski dibantu oleh sang nenek dalam mengasuhnya, tetaplah dirinya yang kerap membawa buah hatinya itu ke kampus.

Itu sebagai bentuk tanggung jawabnya, meski dirinya adalah civitas akademika namun perannya sebagai seorang ibu tetap yang utama.

a�?Saya ngajar, saya bawa loh. Saya pernah gendong anak saya sambil ngajar,a�? akunya pada Lombok Post.

Berbicara sebagai ibu rumah tangga, tetap juga memerlukan bantuan termasuk bantuan dari keluarga. Apalagi suami harus mengerti kesibukan sang istri, sehingga semua pihak harus ikut terlibat didalam urusan rumah tangga. Atun mengaku beruntung memiliki suami yang berprofesi yang sama dengan dirinya. Sehingga lebih mudah untuk saling mengerti satu sama lain.

Itulah mengapa, Atun juga bisa aktif sebagai pekerja sosial dalam Komunitas Kalikuma yang berkiprah dalam memajukan budaya literasi. a�?Disana ada perpustakaan, mahasiswa datang kesana untuk belajar. Di situ banyak juga kesibukan,a�? ungkapnya.

Dan saat datang waktu luang, maka waktu itu sepenuhnya memang diperuntukkan untuk anak-anak. Dari segala kesibukan yang ada, ia tetap memikirkan tentang waktu untuk berkumpul bersama keluarga, dalam arti tumbuh kembang anak harus tetap menjadi perhatian serius.

a�?Kalau ke Posyandu, saya sendiri yang datang, nggak diwakilkan. Untuk urusan anak-anak di sekolah, tidak bisa diwakilkan, saya biasa jemput. Saya selalu mengutamakan itu daripada yang lain,a�? ujarnya.

Sampai urusan pendidikan dalam mencari sekolah misalnya. Ia bersama suami selalu melibatkan anak. Ia bercerita saat itu salah satu anaknya akan melanjutkan pendidikan di pondok pesantren. Ia memboyong anaknya ke Pulau Jawa untuk melihat pondok pesantren mana yang ia sukai dan dalam memutuskan dan memilih pun diserahkan kepada anaknya sendiri. Sehingga ia melihat jika hal-hal seperti itu, tidak bisa diwakilkan.

Sering kali jika ia memiliki waktu senggang, A�ia akan memanfaatkan waktu tersebut juga mengajak anak-anak untuk jalan-jalan. Diselipkan untuk memberi nasehat sekaligus mendengarkan cerita mereka.

a�?Bahkan, jika ada momen-momen yang penting misalnya ulang tahun, kami sekeluarga harus berkumpul,a�? jelasnya.

Karena anak-anaknya memang sudah terbiasa dengan kesibukan dirinya dengan sang suami jadi Atun sendiri tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bercengkrama dengan mereka. Meski demikian, anak-anaknya selalu bisa menyampaikan segala keluh kesahnya, bercerita apa yang mereka alami di sekolah, apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan, semuanya ia lakukan agar menjadi pendengar yang baik bagi anak-anaknya di tengah kesibukannya sebagai pengajar dan yang lainnya.

a�?Anak saya yang kedua saya sekolah di pondok pesantren di Gunungsari. Jadi setiap hari Juma��at kami berkunjung ke sana,a�? ujarnya.

Ia melanjutkan jika dirinya selalu meluangkan waktu bersama suami untuk pergi berkunjung, jika tidak bisa pada hari Jumat maka ia mengambil hari sebelumnya. Perlu diperhatikan, banyak dari orang tua menganggap jika anak-anak harus selalu bersama orang tua padahal anak-anak juga memiliki ruang privasi. Jika anak-anaknya memiliki masalah atau ada yang menganggu pikiran mereka, Atun langsung bisa merasakan dan bisa menangkap perubahannya.

Ia berujar karena memiliki anak-anak yang ketiganya adalah laki-laki, maka ia mengambil sikap untuk masalah yang hanya dialami oleh laki-laki ditangani oleh suaminya.

Toh, meski begitu. Atun hanya manusia biasa. Ia juga pernah merasakan kesulitan dalam membagi waktu. Sehingga, dia harus memilih mana hal-hal yang sangat prioritas untuk dilakukan apalagi kalau sudah berada pada hari Sabtu dan Minggu. Dia sudah cukup tega untuk membatalkan kegiatan agar bisa meluangkan waktunya untuk bersama keluarga.

Perempuan Politisi

Bagi Hj Nurul Adha, posisi perempuan sebagai ibu rumah tangga tak akan tergantikan. Itu sebabnya, bagi anggota DPRD Lombok Barat ini, posisi apapun yang kini dipegang para perempuan,A� maka hendaknya hal tersebut tidak melupakan posisinya sebagai ibu rumah tangga.

Itu sebabnya, di sela kesibukannya sebagai wakil rakyat, Nurul Ahda tak pernah melupakan keluarga. Padahal, dia punya kesibukan yang seabrek. Antara lain bertemu konstituen. Atau juga melakukan kunjungan kerja.

Ia menuturkan, kehadirannya dalam berpolitik tidak sim salabim begitu saja. Nurul Ahda sudah berkiprah lama di tengah masyarakat. Dan atas kiprahnya itu, kemudian para pemilih mempercayakan dukungan pada dirinya.

a�?Investasi sosial yang sudah ditanam, membuahkan hasil dengan masyarakat memilih kita sebagai wakil rakyat,a�? ucapnya.

Maka, setelah duduk di lembaga perewakilan rakyat, Nurul Ahda menjalankan perannya dengan baik dan seimbang. a�?Hak anak-anak, hak suami, hak masyarakat yang kita wakili, harus kami berikan,a�? tandas ibu dari lima anak ini.

Memang diakui politisi Partai Keadilan Sejahtera ini, langkahnya yang terjun dalam politik dipertanyakan anak-anaknya. Mereka selalu bertanya kenapa sang ibu selalu sering bepergian ke luar daerah. Di sinilah peran suami menjelaskan kepada anak-anak, bahwa apa yang dilakukannya adalah tanggung jawab kepada masayarakat.

Hj Dora Aredaeni Sofiastuty, srikandi politik lainnya di NTB pun begitu. Dora kini menjabat sebagai Ketua DPW Partai Berkarya NTB. Memimpin sebuah partai di level provinsi, Dora amat sibuk. Belum lagi dia juga adalah perempuan yang memimpin sejumlah perusahaan. PT Global Internasional yang bergerak di bidang properti, industri, dan agrobisnis.

Namun, kesibukannya tak menjauhkan dirinya dari keluarga. Memimpin partai, memimpin perusahaan, dan mengasuh anak, bernar-banar mampu dijalaninya dengan beriringan. Sebagai pemimpin partai, Dora saat ini tengah disibukkan oleh penginputan data bakal calon legislatif. Lalu pemantapan Partai Anak Cabang hingga tingkat ranting. Sementara sebagai direktur utama di perusahaan, ia selalu memeriksa laporan atas keuangan. Kemudian mengecek perkembangan di lapangan.

a�?Seperti finishing rumah, saya ngecek di lapangan langsung,a�? ujarnya.

Namun, tak sekalipun kesibukan itu membuatnya melupakan kebutuhan keluarga. Dora punya dua anak. Anak sulungnya saat ini masih duduk di bangku SD. Sedangkan anak bungsunya masih berusia 3 tahun.

a�?Mengurus anak dan keluarga itu sudah merupakan kodrat serta kewajiban kita jadi seorang ibu dan istri,a�? ucapnya.

Maka, mulai dari memasak, membersihkan rumah, mengantar anak ke sekolah, dilakukan Dora. Semuanya dengan penuh keikhlasan.

Dia bahkan rela bangun lebih pagi dari anggota keluarga yang lain. Saban hari, Dora sudah bangun pada pukul 04.30 Wita. Selain beribadah, dia harus memulai memasak untuk keluarganya. Untuk suami dan anak-anaknya, dan tentu dirinya.

a�?Kalau anak saya yang bungsu ini kan harus saya yang mandikan kalau pagi, terus suapin sarapan,a�? tuturnya.

Saat sarapan tak jarang ada sedikit percakapan saling menyemangati di keluarganya. Setelah sarapan ia bersama sang suami bersiap mengantar anaknya ke sekolah. Sementara anak yang paling bunsu akan bersama ibunda.

a�?Saya tidak terlalu nyaman dengan babysister. Ini juga menghindari kasih sayang anak malah ke babysister bukan ke saya,a�? ucapnya soal mengapa dia ditak mempekerjakan babysister di rumahnya.

Dirinya tidak ingin anaknya tumbuh besar bersama dengan kasih sayang bukan dari orang tuanya. Rutinitas pagi yang kemudian ia lanjutkan dengan berolahraga baru setelah itu mengurusi pekerjaannya di kantor.

Di sela-sela pekerjaanya pun, ia kerap menyempatkan diri untuk bermain dengan anaknya.

a�?Kalau anak saya pengen main sama saya, ya saya ajak jalan-jalan dulu, main sama saya, bercanda jadi dia juga tidak kehilangan sosok ibunya,a�? imbuhnya.

SetelahA� pukul 15.00 wita, Dora kemudian rutin menjemput anak yang sudah sekolah. Sementara selepas itu, dia menghabiskan waktu dengan bercengkrama dengan keluarga kemudian dilanjutkan dengan bersih-bersih rumah.

a�?Kalau saya itu bersih-bersih rumahnya malam, jadi besok paginya sudah bersih, kegiatan yang lain tidak terganggu,a�? ujarnya.

Meski dirasa kurang istirahat, selama ini dirinya tidak terganggu bahkan sangat menikmati perannya sebagai ibu, istri dan ketua partai.

Pada saat dirinya terpilih menjadi ketua salah satu partai, ia kerap pulang pergi Lombok-Jakarta. Saat seperti ini, ada sedikit dilema yang ia rasakan. Akhirnya ia memutuskan membawa seluruh keluarganya juga ke Jakarta. Termasuk sang ibunda.

a�?Kalau sampai lama-lama, kadang saya ajak mereka, jadi pertanggungjawaban saya tetap terlaksana. Karena kebetulan juga suami wakil partai juga,a�? tambahnya.

Biasanya sebelum melakukan perjalanan jauh tanpa membawa keluarga. Anak-anaknya selalu diberi pengertian bahwa dirinya akan pergi sementara.

a�?Anak-anak harus diberi pengertian kalau saya mau pergi gitu, makanya saya maksimal harus pergi dua hari saja, lebih dari itu kadang saya boyong mereka semua,a�? ujarnya. (fer/nur/tea/ewi/cr-yun/cr-eya/r8)

Berita Lainnya

Kekayaan Tersembunyi Pantai Penghulu Agung Ampenan

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Jalan di Tempat

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost