Lombok Post
Headline Metropolis

Orang Tua Makin Sibuk, Tempat Penitipan Anak Jadi Pilihan

RIANG: Beberapa anak tengah bermain di Tempat Penitipan Anak (TPA) Kumara Asih, Mataram Timur, beberapa waktu lalu. FURQONITA/LOMBOK POST

Keadaan yang membuat bayi-bayi itu harus jauh dari kasih sayang Ibunya. Lalu, harus berbagi cinta pengasuh dan puluhan anak seusianya. Di tempat yang jauh dari rumahnya.

A�

—————–

KOTA telah menjadi gelanggang sengit pertarungan ekonomi. Siapa yang lambat, hidupnya bakal kena sikat. Siapa yang malas, hidupnya akan tergilas. Para orang tua bekerja bekerja nyaris tak menyisakan waktu berleha-leha.

Baik karena kemauan sendiri atau kondisi tempat bekerja yang mengharuskan mereka mengikuti aturan kantor, membuat para orang tua tak ada pilihan. Waktu bermain bersama putra-putri belahan jiwa pun tak seluas mereka yang dipelosok-pelosok desa.

Tapi pekerjaan begitu terlihat a�?otoritera�� ketika menyangkut seorang ibu yang baru saja melahirkan. Mereka yang bekerja di instansi swasta atau lembaga negeri, tidak bisa leluasa memperhatikan tumbuh kembang anak-anaknya.

Sri Hasanah, seorang ibu rumah tangga yang juga karyawan perusahaan finance di Kota Mataram juga harus menghadapi situasi pelik ini. a�?Keluarga besar saya ada di Lombok Timur, saya dan suami saya tinggal berdua di sebuah perumahan,a�? tutur Sri.

Selama ia cuti hamil dan melahirkan Sri diberi waktu selama tiga bulan. Setelah itu ia harus kembali bekerja ke perusahaan di mana ia menggantungkan nasibnya. Meninggalkan bayinya yang masih kecil untuk menyambung roda ekonomi keluarga. Ia pun tak punya pilihan banyak menitipkan bayinya. Sebab suaminya, juga bekerja di sebuah biro ekspedisi barang.

a�?Saya tidak mungkin menitipkan anak di tetangga, karena mereka juga sibuk. Tidak mungkin juga saya minta orang tua (dan mertua) menjaga anak saya selama saya kerja, karena mereka juga punya kesibukan sendiri,a�? tuturnya.

Maka banyinya pun dititip di Tempat Penitipan Anak (TPA). Ia tak punya pilihan lain, kecuali mencarikan bayinya tempat yang terpercaya dan punya integritas dalam menjaga bayi-bayi yang masih belia.

a�?Iya sering saya dengar ada cerita tempat penitipan anak yang katanya para babysitter-nya ternyat tidak bertanggung jawab, mencubit bayi-bayi yang tak bisa didiamkan, dan cerita-cerita lain. Tapi saya berusaha mencarikan bayi saya tempat terpercaya,a�? tuturnya dengan raut wajah sedih.

Soal kebutuhan ASI, Sri memilih menyedotkan air susunya lalu memasukannya ke dalam botol-botol kecil. Sekali waktu, di jam istirahat ia menyempatkan diri mengunjungi bayinya di TPA. Lalu menyusui dan membelai bayinya dengan kasih sayang.

a�?Berat rasanya berpisah, walau hanya hitungan jam. Tapi hampir setiap hari, kecuali Minggu dan hari libur. Tapi bagi ibu beberapa jam itu rasanya bisa sangat lama,a�? ujarnya sembari menghela nafas panjang.

Sri adalah potret dari banyak wanita di Kota Mataram yang harus menghadapi situasi sulit ini. Ibu-ibu yang dilema karena situasi yang memang dituntut harus mengikuti aturan perusahaan dan persaingan ekonomi yang sengit. Orang tua-orang tua kota memang mudah dihadapkan pada dilema besar. Apakah harus bekerja atau merawat anak di rumah.

Di Mataram sendiri ada beberapa tempat yang menawarkan jasa penitipan anak. Salah satunya yang cukup dipercaya adalah TPA Kumara Asih di Mataram Timur. TPA ini selain menjadi tempat penitipan anak, juga sekaligus menjadi PAUD, Kelompok Bermain, dan TK.

Kepala TPA Ni Luh Sri Suarti mengatakan kebanyakan dari anak-anak yang dititipkan, orang tuanya sibuk bekerja. Ia menghitung ada 95 anak di TPA-nya.

a�?Anak yang dititipkan sebanyak 10 orang,a�? tutur Suarti.

TPA Kumara Asih sendiri berupaya menjadikan tempat ini sebagai tempat yang ideal untuk penitipan anak. Anak-anak tidak hanya sekadar dijaga. Tetapi juga dilatih otaknya agar memiliki kecerdasan yang cukup.

a�?Mulanya kita kumpulkan paginya, agar anak-anak terbiasa bersosialisasi,a�? tuturnya.

Anak yang dibarukan mulai dari usia 1,5 tahun hingga 6 tahun. Tujuan sederhananya agar mereka saling kenal. Sehingga sekat-sekat kelompok, golongan, dan umur bisa disingkirkan.

Selain diajar bersosialisasi, anak-anak di sana juga diajari makan dengan peralatannya sendiri. Lebih mengajarkan anak-anak mandiri. Kemudian mengajari nilai-nilai kesopanan. Dengan mengajarkan bahasa dan tutur kata yang baik.

a�?Tak kalah penting adalah toilet training,a�? terangnya.

Menurutnya hal ini harus dibiasakan. Salah satu toilet tranning yakni dengan membiasakan anak-anak agar mau bercerita pada pengasuhnya kebutuhan biologisnya.

a�?Misalnya rasa mau pup atau pipis,a�? terangnya.

Membiasakan sesuatu merupakan cara yang efektif mengajari hal yang baik baik pada anak. Karena sesungguhnya anak akan terus merekam perkataan dari orang-orang terdekatnya.

Ia selalu mengawasi agar para pengasuh bekerja dengan hati. Hal ini untuk menghindari kekerasan niatan melakukan kekerasan fisik. Mengurus anak, sangat membutuhkan kesabaran yang tinggi. Sehingga pada masa training para pengasuh benar-benar diperhatikan kerjanya.

a�?Kami melarang ada hal itu terjadi, semenjak 11 tahun berdiri belum ada yang komplain anaknya diapain sama pengasuh dan lain sebagainya,a�? ujarnya penuh syukur.

Untuk biaya penitipan anak terbilang pas di kantong. Berkisar antara Rp 365 ribu-Rp 496 ribu. Hal ini tergantung pada jam penjemputan dari anak.

Desak Made salah satu pengasuh mengaku tidak terlalu sulit merawat anak. Ia sudah bekerja selama 6 tahun di bidang ini. Hanya awalnya saja yang sulit, dimana anak-anak masih susah lepas dari orang tua. Ataupun jika sudah lepas, tidak bisa lepas dari pengasuhnya. Pola asuh yang baik pada anak, nantinya akan berdampak baik pula pada anak.

Ia kerap membiasakan anak asuhnya untuk menggambar, mewarnai, melihat gambar pada buku cerita, bermain balok kayu kemudian disusun menjadi bangunan.

a�?Segala hal yang mengasah motorik anak,a�? terang Desak.

Hal ini juga diterapkan pada anak-anak 1,5 tahun. Dimana anak-anak itu diajari memegang pensil dan mulai mencoret-coret kertas. Lalu diajari mengenali barangnya sendiri.

Pada anak usia 1,5 tahun pergantian popok dilakukan tiap dua jam sekali. Waktu tersebut bisa lebih cepat tergantung dari sang anak. Jam anak-anak ini pun diatur dengan baik. Dari mulai bermain hingga istirahat, ditata rapi. Pada jam 12 setelah makan siang, anak-anak diarahkan istirahat.

a�?Memang ada yang susah tidur siang, tapi disini kita biasakan, jadi sebelum tidur semua kita bacakan cerita, nanti pas bangun mereka nonton tv,a�? imbuhnya.

Tontonan televisi diperbolehkan. Tentu saja yang memberi nilai edukasi pada anak. Namun kebanyakan, anak lebih memilih bermain dibanding menonton tv.

a�?Dijadwalkan nonton tv hanya sejam, habis itu mandi baru tunggu dijemput orang tuanya,a�? ceritanya.

Lebih jauh ia menceritakan, orang tua sangat puas melihat anak-anaknya sudah bisa melakukan segala hal sendiri. Tidak terlalu bergantung pada orang tuanya dan lebih berani.

Sementara itu, Pemerintah Kota Mataram sendiri belum begitu fokus memberikan regulasi dan perhatian pada tempat penitipan anak yang dititipkan. Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram Dr H Usaman Hadi, mengatakan tempat penitipan anak saat ini memang tengah banyak dibutuhkan warga.

a�?Karena memang kondisi pekerjaan orang tua yang mengharuskan mereka menitipkan anak-anaknya,a�? kata Usman.

Usman mengatakan pihanya memang belum begitu dalam masuk memberi pengawasan. Terutama bagaimana agar para babysitter punya keterampilan dalam merawat dan mengobati anak, selama dititipkan.

a�?Nah dari segi peratawan kesehatan itu yang bisa kami (Dinas Kesehatan) bisa masuki,a�? terangnya.

Keterampilan itu bisa diminta langsung trainning dan pendampingannya ke Dikes. Supaya para babysitter mereka lebih tahu cara, menangani anak dengan berbagai karakter. Selebihnya terkait keberadaan TPA sendiri, Usman melihat ini lebih menjadi porsi Dinas Tenaga Kerja yang paling tepat untuk bicara soal keberadaan lembaganya.

a�?Mungkin Dinas Tenaga Kerja ya, tanyakan coba di sana,a�? sarannya.

Sementara itu Pihak Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Mataram, belum bisa dikonfirmasi tentang TPA, hingga berita ini diturunkan. Kepala Disnaker Saiful Muslim, belum menjawab, saat dihubungi via handphone. (zad/cr-eya/r3)

Berita Lainnya

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost

Ahyar Bakal Evaluasi Muslim

Redaksi LombokPost

UMK Jadi Pertimbangan Kenaikan Upah Honorer

Redaksi LombokPost

Hindari Berkendara Saat Hujan Lebat

Redaksi LombokPost

Polres Loteng Siap Bersinergi Dengan Media

Redaksi LombokPost

PDIP Panaskan Mesin Partai

Redaksi LombokPost

Bangun Tidur, Begal Dicokok Polisi

Redaksi LombokPost

Pembuatan RISHA Kini Masalahnya Kekurangan Tukang

Redaksi LombokPost