Headline Metropolis

Akhir Manis Gubernur TGB

MATARAM-Gubernur NTB TGB HM Zainul Majdi kemarin (23/4) menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) akhir masa jabatan (2013-2018) di hadapan sidang paripurna DPRD NTB.

Satu dasawarsa memimpin NTB, TGB telah membawa NTB menjadi daerah yang diperhitungkan di Indonesia. Meski memang, dari 31 indikator RPJMD NTB 2013-2018 sebanyak 25 indikator yang sudah tercapai atau 80,65 persen. Itu berarti, masih ada enam indikator RPJMD yang belum tercapai.

A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A� Penyampaian LKPJ akhir masa jabatan Gubernur TGB tersebut berbarengan dengan penyampaian LKPJ akhir tahun Anggaran 2017. Gubernur TGB hadir sendiri di DPRD NTB. Sebab, Wakil Gubernur NTB H Muhammad Amin, saat bersamaan tengah cuti di luar tanggungan negara sebagai wakil gubernur, menyusul keikutsertaannya bertarung dalam Pilgub NTB 2018.

Dalam pidato pengantarnya, TGB mengaku dirinya sungguh bangga dan terharu bisa menunaikan amanah jabatan memimpin NTB selama dua periode berturut-turut.

a�?Sungguh tidak ada kata yang pantas saya ucapkan kecuali alhamdulillah,a�? katanya.

Dia pun menyampaikan rasa syukur yang mendalam serta apresiasi, terima kasih, dan ucapan penghargaan kepada seluruh masyarakat dan pemangku kepentingan pembangunan di NTB.

TGB pun menguraikan kemajuan di segala bidang yang dicapai NTB. Hal yang disebutnya sungguh luar biasa. Hal ini dapat dilihat terutama pada kondisi ekonomi makro NTB yang terus mengalami perubahan yang signifikan. Antara lain pertumbuhan ekonomi tanpa tambang yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan mencapai angka 7,10 persen pada tahun 2017.

Dalam lima tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan ekonomi dalam 5 tahun terakhir dengan memperhitungkan sektor tambang sebesar 7,60 persen. Sedangkan pertumbuhan ekonomi tanpa tambang rata-rata nilainya 6,25 persen. Dan angka itu di atas rata-rata nasional 5,11 persen.

Pengangguran di NTB juga mengalami penurunan yang cukup signifikan. Pada periode memimpin NTB tahun 2013, saat itu angka pengangguran di NTB sebesar 5,38 persen. Dan di tahun 2017, turun menjadi 3,32 persen.

Selain pertumbuhan ekonomi yang terus membaik, diiringi juga dengan menurunnya tingkat kesenjangan pendapatan antar penduduk dan pembangunan antarwilayah. Tahun 2017 tingkat kesenjangan pendapatan yang diukur dengan gini ratio kata TGB sebesar 0,378. Menurun dari kondisi tahun 2013 sebesar 0,396. Begitu juga kesenjangan antarwilayah yang diukur dengan indeks williamson, menunjukkan angka sebesar 0,281 (katagori rendah) pada tahun 2017.

a�?Secara umum, tingkat kesenjangan pendapatan antar penduduk dan pembangunan antar wilayah di NTB lebih rendah dibandingkan dengan nasional,a�? tandasnya.

Namun begitu, TGB sendiri mengakui bahwa banyak target pembangunan yang masih harus dituntaskan. Beberapa bahkan tidak akan tercapai tahun ini sesuai target RPJMD. Dan tentu mesti menjadi perhatian bagi kepemimpinan mendatang.

Salah satunya yakni penurunan angka kemiskinan. Tahun ini ditargetkan angka kemiskinan di NTB harusnya 13,25 persen. Dan hal itu sudah dipastikan mustahil bisa dicapai. Masa jabatan TGB sendiri akan berakhir pada 17 September 2017. Itu berarti kurang lima bulan dari sekarang.

Dikonfirmasi usai menyampaikan LKPJ akhir masa jabatan, TGB menyebutkan, di sisa waktu lima bulan mendatang dia telah meminta seluruh jajaran Pemprov NTB tetap fokus bekerja, mengejar target-target pembangunan yang belum tercapai. Jajaran birokrasi diingatkan jangan sampai mereka kehilangan fokus karena hal-hal lain, yang membuat target pembangunan melenceng.

a�?Tetap bekerja fokus,a�? tandas TGB.

Khusus terkait penurunan angka kemiskinan yang belum tercapai, sebenarnya kata TGB sudah bagus. Hanya saja ia memulai dengan peresentase sangat tinggi di awal pemerintahannya. Setelah digenjot dengan berbagai program, saat ini persentase kemiskinan turun hingga 15,07 persen, sementara target di 2018 sebesar 13,25 persen. Tapi itulah capaian yang bisa diraih dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

a�?Itu maksimal yang bisa kita lakukan,a�? katanya.

TGB merasa bersyukur dengan capaian pembangunan yang sudah dicapai hingga saat ini. Tapi ia menyadari masih banyak kekurangan yang menjadi tugas bersama. Apa yang dikerjakannya bersama birokrasi selama ini tidak ada artinya tanpa semua masyarakat NTB. Semangat membangun saat ini sedang luar biasa, itu harus terus dijaga.

TGB berharap gubernur terpilih mendatang bisa bekerja lebih cepat lagi. Mereka bisa melanjutkan pembangunan yang sudah dimulai, dan bisa bekerja lebih baik dari pemerintahannya.

a�?Mudah-mudahan pemimpin yang akan datang lebih cepat lagi,a�? harapnya.

Selain kemiskinan, masalah lain yang harus terus dibenahi adalah pernikahan usia dini. Persoalan tersebut menurutnya merupakan persoalan kultural. Salah satu cara yang bisa dilakukan daerah dengan mengeluarkan surat edaran, sebab tidak mungkin mengelurkan Perda karena bertentangan dengan Undang-undang Perkawinan. NTB sebenarnya mendukung uji materi terhadap UU Perkawinan ke Mahkamah Konstitusi. Harapannya agar usia pernikahan menjadi 21 tahun untuk perempuan.

Meski pada akhirnya itu ditolak MK, namun upaya lain terus dilakukan. Pendekatan kultural juga ditempuh, melibatkan tokoh masyarakat, tuan guru, pemuda dan sebagainya untuk mengkampanyekan pendewasaan usia pernikahan.

Menurutnya, pendewasaan usia pernikahan sangat penting, sebab pernikahan usia anak menyebabkan banyak permasalahan sosial. Mulai dari tingginya angka kematian bayi, kematian ibu melahirkan, hingga anak kurang gizi, salah satu akan masalahnya adalah pernikahan dini. Alat reproduksinya masih belum siap, sehingga berbahaya bagi ibu dan bayinya. Seorang anak yang diberikan menikah, kemudian melahirkan anak. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana seorang anakA� mendidik anaknya. a�?Menurut saya ini betul-betul panggilan untuk kita semua,a�? katanya.

Dalam LKPJ 26 halaman yang dibacakan dalam rapat paripurna, TGB memaparkan, NTB di bawah kepemimpinannya mengalami kemajuan di berbagai bidang. Di antaranya pertumbuhan ekonomi tanpa tambang yang mencapai 7,10 persen tahun 2017. Hal itu diiringi menurunnya tingkat kesenjangan pendapatan tahun 2017 sebesar 0,378 turun dibandingkan sebelumnya 0,396. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) NTB juga meningkat dari 63,79 di 2013 menjadi 66,58 tahun 2017, atau tumbuh 2,79 poin. (ili/kus/r8)

Related posts

MTQ Nasional, NTB Rajai Tiga Cabang

Redaksi Lombok post

Polak Senduk Jadi Isyarat Makanan Penutup

Redaksi Lombok post

Ingat, Gak Boleh Dibagi Rata!

Redaksi Lombok post