Lombok Post
Headline Metropolis

Virus Desa Wisata Hidupkan Pariwisata Bumi Gora

Sejumlah wisatawan bersepeda melintasi jalan di tengah persawahan Desa Wisata Bilebante, Lombok Tengah, kemarin (24/4). Bersepeda merupakan salah satu paket wisata andalan Desa Bilebante.

NTB sedang diserang virus baru. Ini virus baik. Namanya virus desa wisata. Virus ini telah menyulap desa yang tadinya terlampau biasa-biasa saja, menjadi desa yang ramai dikunjungi turis nusantara dan turis mancanegara. Kedatangan mereka adalah berkah. Sebab, menjadikan ekonomi warga begitu bergairah. Inilah bukti, bahwa pariwisata, adalah jalan masa kini dan juga masa depan bagi Bumi Gora.

——————————————-

AHAD pagi di Desa Setanggor, Lombok Tengah. Hamparan sawah di kiri kanan jalan menyambut setiap yang datang. Hijaunya padi yang baru tumbuh membuat terik matahari terasa menepi. Memasuki permukiman penduduk, tidak ada yang menonjol dari desa ini. Seperti kampung lain di Pulau Lombok. Tidak ada gerbang selamat datang, plang, atau rumah-rumah tradisional seperti kebanyakan desa wisata. Hanya umbul-umbul dan spanduk terpasang di sepanjang jalan, menandakan desa itu baru saja kedatangan tamu istimewa.

Lombok Post pun langsung mencari spot utama di desa wisata itu. Seperti desa pada umumnya, tidak ada yang menonjol dari segi bangunan. Memasuki salah satu gang, A�spanduk bertuliskan a�?cash for worka�? tertempel di beberapa sudut jalan. Jalan desa itu memang sedang diperbaiki warga dengan sistem padat karya. Jalan itu menghubungkan spot-spot yang bisa dikunjungi para wisatawan nantinya.

Sampai di pertigaan jalan terdapat Balai Ekonomi Desa Setanggor. Bangunan itu A�paling tidak memberikan petunjuk sebagai desa wisata. Bangunan semi permanen itu dipagari anyaman bambu dan atap ilalang yang memberi kesan tradisional. Rencananya tempat itu akan dijadikan ruang pameran berbagai kerajinan tangan dan kain tenun warga Desa Setanggor.

Tapi balai itu bukan spot utama. Lokasi penyambutan ada di bagian atas kampung. Di salah satu sanggar gendang beleq. Untuk sampai ke tempat itu, jalan agak menanjak. Kiri kanan jalan adalah kebun warga dengan rumah penduduk terpencar-pencar. Jika baru pertama kali datang mungkin agak bingung, dimana spot utama desa wisata Setanggor? Tidak ada air terjun, tidak ada bukit tinggi, tidak ada rumah-rumah tradisional seperti Desa Sade. Lalu kok bisa desa ini banyak dikunjungi wisatawan asing?

Setanggor kini memang sedang naik daun. Pekan lalu, Menteri BUMN Rini Soemarno bertandang ke desa wisata tersebut. Setanggor adalah bukti, bahwa semua desa di NTB punya potensi menjadi desa wisata dan menikmati kemakmuran dari predikat itu.

Sebetulnya, jika mau merunut, dulu juga warga desa setempat kebingungan juga manakala ada ide menjadikan Setanggor sebagai desa wisata. Banyak banget warga yang skeptis. Mereka bertanya-tanya apa yang mau dikembangkan di desa itu? Sebagian warga merasa tidak ada yang unik di desa mereka. Alamnya pun biasa-biasa.

Mereka hanya punya sawah, grup musik Gendang Beleq, dan ibu rumah tangga yang membuat kain tenun. Tidak pernah terpikir olehnya semua bahwa hal yang dianggap biasa itu ternyata menjadi luar biasa di mata wisatawan.

a�?Baru sekarang kami sadar,a�? kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Setanggor Mahrup kepada Lombok Post.

Setelah konsep desa wisata dikembangkan, sedikit demi sedikit perubahan terlihat di desa tersebut. Semakin banyak orang datang berkunjung A�ke desa yang ada di wilayah Kecamatan Praya Barat itu. Mulai dari wisatawan asing hingga para pejabat penting.

Inilah yang dijual di Setanggor untuk wisatawan. Setanggor unggul karena menyediakan paket wisata yang tak biasa bagi wisatawan. Para turis asing diberikan kesempatan merasakan jadi warga desa. Turis-turis itu diinapkan di rumah-rumah penduduk, mengikuti aktivitas warga seharian penuh, seperti panen padi, menanam padi, menenun kain tenun, bermain musik gamelan, permainan tradisional, bahkan pergi memancing belut pun mereka ikut. Turis akan diantar menggunakan cidomo, untuk makan mereka dijamu di tengah sawah dengan masakan khas Sasak.

a�?Mereka foto-foto di sawah dan sangat senang,a�? katanya.

Setanggor juga mengembangkan konsep wisata halal. Para turis yang datang disambut dengan musik gendang beleq yang amat tersohor di desa itu, setelah itu mereka harus ganti baju ala penduduk setempat, karena turis tidak boleh berpakaian terbuka. Mereka pun dilarang membawa minuman beralkohol ke desa. Bagi pasangan bukan suami istri mereka diinapkan di rumah yang berbeda. Awik-awik itu tidak boleh dilanggar.

a�?Ada turis yang balik, tapi tidak apa-apa, itulah wisata halal,a�? katanya.

Toh, terbukti. Hal tersebut tidak membuat turis berhenti datang. Justru nama Setanggor semakin terangkat. Kunjungan pun semakin ramai. Dampaknya kini luar biasa, warga desa benar-benar bergairah. Hampir semua warga sangat antusias untuk berpartisipasi, mulai dari menjaga kebersihan dan keamanan. Warga pun sangat ramah terhadap turis-turis asing. Sebab, mereka sudah merasakan manfaatkannya sebagai desa wisata, rumah-rumah mereka disewa turis untuk menginap dan mendapatkan uang.

Maklum di kampung itu tidak ada hotel, maka jadilah rumah-rumah penduduk sebagai tempat menginap. Saat ini sudah ada 30 rumah penduduk dijadikan homestay, per malam tarifnya Rp 175 ribu. Dengan semakin berkembangnya Setanggor, kini semakin banyak warga meminta rumahnya dijadikan homestay.

a�?Tapi kami harus pastikan kebersihannya. Kamar mandinya bagus,a�? kata Mahrup.

Alhasil, warga pun berlomba-lomba memperbaiki rumahnya agar bisa memenuhi syarat minimal menjadi homestay bagi para turis. Padahal awalnya warga sangat khawatir rumahnya dijadikan tempat menginap para turis. Terutama ibu rumah tangga sangat khawatir rumahnya kedatangan tamu, bagaimana cara melayani dan kamar seperti apa yang disiapkan.

a�?Warga takut dan bingung, tapi sekarang anak-anak sudah bisa berinteaksi dengan turis,a�? ujarnya.

Dan kini, status desa wisata benar-benar membawa berkah. Dari desa yang bukan apa-apa, kini Setanggor menjadi salah satu desa yang dikenal banyak orang.

Hj Fatmawati, salah seorang warga yang menyewakan rumahnya pada turis mengaku sangat senang dengan majunya desa wisata Setanggor. Ia bahkan rela a�?mengungsia�? dan memilih menyewakan tiga kamar rumahnya menjadi kamar wisatawan. Semakin banyak turis datang, semakin banyak pula uang yang didapatkan.

a�?Senanglah, setiap bulan kita dikasi dari hasil penyewaan kamar,a�? katanya. Soal berapa yang didapatnya, dia menyebut pokoknya banyak.

Masih di Gumi Tatas Tuhu Trasna. Di sana ada juga Desa Wisata Bilebante. Usianya belum lama. Desa wisata itu baru terlahir pada 2015. Namun, dalam tiga tahun, namanya sudah menjulang pula. Wisatawan nusantara dan mancanegara berkunjung ke sana.

Ada tujuh dusun di sana. Dan semua dusun itu memiliki objek wisata dengan ciri khas berbeda-beda. Dusun Tapon Timur misalnya. Di tempat ini, terdapat berbagai pilihan objek wisata. Suasananya pun asri, dingin, dan sejuk. Dusun ini memang rindang dengan pepohonan. Warganya dilarang menebang pohon.

Objek desa wisata yang bisa dinikmati di Bilebante adalah areal pancingan, kuliner, spot-spot swafoto, bersepeda menyusuri jalan desa. Ada pula spot foto seperti terowongan bambu, areal panahan, rumah pohon, panjat pinang tindok, perahu angin dan lintas alam.

Dan kini, ratusan orang berkunjung dalam sehari. Perputaran uang bisa mencapai Rp 13 juta sehari. Itu diperoleh dari biaya parkir, mancing ikan, kuliner, sewa sepeda dan sewa panahan. Salah satu contoh, sewa sepeda saja dikenai biaya sebesar Rp 180 ribu per orang. Itu sudah termasuk pemandu, foto kenang-kenangan, makan dan minum hingga kopi atau kelapa muda.

Mereka akan diajak keliling di enam dusun. Lalu di Dusun Pelabu wisatawan akan diajak ke Gong Geres atau sejenis gua dari aliran sungai Kalibabak. Lalu, di dusun Karang Kubu ada Lingsar Kelot atau pure tertua di Pulau Lombok. Ditambah pohon beringin yang berumur 300 tahun.

a�?Itu berdasarkan hasil penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB),a�? cetus Abdul Khalid, sekretaris desa wisata Bilebante pada Lombok Post, Sabtu (21/4).

Bagi wisatawan yang ingin menginap, jangan khawatir. Karena, pengurus desa wisata dan pemerintah desa, telah menyediakan penginapan di rumah-rumah warga. Tentu dengan harga sewa yang terjangkau.

Oh ya. Wisatawan yang menginap di sini harus bawa jaket. Karena kalau malam, desa Bilebante memang dingin.

Jalan Memperbaiki Alam

A�Virus desa wisata juga merambah Lombok Utara. Di sana ada Dusun Kerujuk, Desa Pemenang Barat. Ini dikenal sebagai Kampung Ekowisata Kerujuk. Yang kini terus berkembang. Digagas sejak tahun 2014, keberadaan Kampung Ekowisata Kerujuk kini sangat dirasakan manfaatnya bagi warga sekitar.

Siapa bayangkan. Bahwa kampung ini sebetulnya dulu adalah kawasan yang rusak. Pembabatan hutan menjadikan dusun ini kering. Lalu, dusun yang berada di pinggir sungai ini juga diterjang longsor. Dan ternyata, kerusakan-kerusakan itu punya jalan keluar yang bernama Desa Wisata.

a�?Beberapa hektare lahan yang tidak produktif disulap menjadi arena ekowisata,a�? ujar salah seorang pengurus Pokdarwis Kerujuk Lestari Lukmanul Hakim.

Pemudalah yang menginisiasi lahirnya desa wisata di sana. Pada saat dibentuk, pemuda dan masyarakat terlebih dulu membangun kolam pemancingan ikan pada 2014. Selanjutnya terus berkembang menjadi area outbond.

Melihat antusiasme pengunjung yang datang ke area outbond cukup tinggi, Kampung Ekowisata Kerujuk terus ditingkatkan dengan menambah sejumlah fasilitas baru seperti jembatan bambu dan spot foto pada 2016.

a�?Yang dipakai ini lahan kosong milik masyarakat dibuat menjadi area outbond dan bisa dinikmati wisatawan yang datang,a�? katanya.

Menurut Lukman, dengan menjadi kampung ekowisata ini perekonomian masyarakat di Dusun Kerujuk terdongkrak. Karena warga juga ikut aktif dalam beberapa hal misalnya saja ada warga yang menjual kuliner, menjual kerajinan tangan dengan bahan baku lokal, menjual panganan khas, dan lainnya.

Bahkan ada beberapa warga yang kini juga sudah memulai usaha homestay untuk menunjang keberadaan Kampung Ekowisata Kerujuk. Saat ini sudah ada 10 homestay milik warga yang dibuka untuk umum.

Di Kerujuk, paket wisata outbond diisi dengan permainan tradisional, olahraga, dan river tubing. Pokdarwis sengaja menawarkan paket permainan tradisional ini dengan maksud untuk melestarikan permainan yang lamban laun digerus permainan modern.

Selanjutnya ada paket edukasi budaya yakni jalan-jalan menyusuri pedesaan dan ikut beraktivitas di rumah-rumah penduduk yang mempunyai kebiasaan khas seperti membuat gula nira, kerajinan bambu atau mengurus sawah.

A�Warga Berdaya Sendiri

A�Di Lombok Timur, ada puluhan desa yang sudah menyandang status sebagai desa wisata. Desa-desa itu tersebar hampir di seluruh kecamatan. Pun begitu, ada 10 desa yang sangat diunggulkan. Sebagian sudah punya nama mentereng. Sebut saja Sembalun dan Tete Batu. Ini adalah desa wisata dengan pengunjung paling banyak di Lotim.

Belakangan menyusul Desa Wisata Kembang Kuning, Desa Wisata Sembalun Lawang, Desa Wisata Perigi dengan rumah adat Limbungan, Desa Wisata Pesanggrahan dengan andalan air terjun Joben, Desa Wisata di Dusun Pelambik Jerowaru, Desa Wisata Sapit, Desa Prian hingga Desa Ramban Biak.

Semua desa ini berkembang menjadi desa wisata dengan menawarkan destinasi wisata yang berbeda beda. Mulai dari keindahan pantainya di wilayah selatan Jerowaru, keindahan pegunungan di Sembalun, hingga keindahan air terjun dan persawahan di wilayah Tete Batu dan Desa Kembang Kuning. Kesadaran masyarakat untuk memajukan pariwisata begitu besar di desa wisata ini. Ini pula yang membuat Dinas Pariwisata ikut mendukung pertumbuhannya.

Keberadaan desa wisata itu menjadi pintu bagi desa memperbaiki infastruktur. Pintu bagi desa memberdayakan ekonomi warganya. Sebagai contoh, tahun ini misalnya, Dinas Pariwisata Lotim menyiapkan bantuan anggaran hingga Rp 500 juta untuk pembangunan home stay di Desa Kembang Kuning. Dimana Home stay ini nantinya akan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa. Ada juga bantuan membenahi fasilitas MCK.

Tentu saja tak cuma mengandalkan bantuan pemerintah. Banyak pula warga yang

tumbuh dan berkembang dengan upayanya sendiri. Seiring kesadaran dan antusias masyarakatnya yang begitu besar. Desa Wisata Pelambik contohnya. Mengandalkan rimbun hutan di Dusun Pelambik, Desa Jerowaru, potensi ini kini menjadi berkah bagi masyarakat sekitarnya. Kampung itu pun kini menyulap diri menjadi menjadi kampung wisata alam. Kini, hutan yang disebut kampung wisata alam itu ramai di kunjungi.

Tentu butuh perjuangan mewujudkan hal itu. Hal itu dikisahkan tokoh pemuda Syaa��banul Amin. Maklum, selama puluhan tahun hutan yang berada di dekat jantung kecamatan jerowaru hanya penuhi oleh kera dan bianatang lainya.

Di dalam kampung wisata ini daya tarik yang bisa ditemukan diantaranya sungai yang diyakini memiliki kekuatan magis, kemudian ada rumah pohon, ada angkringan di atas batu hingga air terjun batu berlubang.

Sama halnya dengan Desa Wisata Pelambik, para pemuda di Desa Sembalun Lawang juga tak kalah kreatif. Memanfaatkan situs peninggalan sejarah yang berharga, jadilah mereka sulap desanya menjadi desa wisata. Didukung pemandangan alam yang memesona, siapa yang kini tak kenal keindahan Rumah Adat Tujuh atau Bale Pituq dan Bukit Selong Sembalun. Perpaduan nilai historis yang berharga dan keindahan alam luar biasa menjadi perpaduan daya tarik desa wisata ini.

Di sini, pengunjung bisa menikmati hamparan sawah yang luas dengan dinding tembong kaki-kaki pegunungan Rinjani. a�?Alhamdulillah sejak menggeliatnya pariwisata Sembalun, kunjungan hampir tak pernah sepi. Apalagi setelah pendakian Rinjani dibuka,a�? ujar Maman, salah serang pemuda Desa Sembalun Lawang.

Dengan keberadaan desa wisata Sembalun Lawang, para pemuda menuai berkah. Mulai dari biaya parkir hingga tiket masuk desa yang ditarik Rp 5 ribu di hari biasa hingga Rp 10 ribu ketika weekend. Hasilnya, jutaan rupiah bisa didapat dalam sehari. Dengan estimasi hasil tersebut dibagi tiga untuk simpanan desa, sumbangan masjid dan bagi pengelola sendiri.

a�?Kami berencana akan terus mengembangkan desa wisata ini. Misalnya dengan banyak menambah spot foto di rumah pohon dan yang lainnya ke depan,a�? aku Maman.

A�Ekonomi Warga Menggeliat

A�Di Lombok Barat, desa wisata juga berkembang. Sejauh ini, hingga 2017, sudah ada 16 desa wisata yang telah diberikan Surat Keputusan (SK) oleh Bupati Lobar. Dan di sana, destinasi wisata tak melulu soal pemandangan alam. Namun juga soal kreativitas masyarakat yang ternyata terbukti sangat menarik menjadi atraksi wisata.

Orang mungkin tak asing dengan Senggigi, Sesaot atau Banyumulek. Tiga desa itu memang semenjak dulu sudah kesohor. Namun, kini muncul desa wisata seperti Desa Cemara di Lembar yang tersohor dengan hutan mangrove. Atau juga Langko dan Kekait yang menyajikan atraksi gula aren bagi para wisatawan.

Kepala Dinas Pariwisata Lombok Barat Ispan Junaidi mengatakan, sektor pariwisata kini memang sedang bergeser. Menyasar desa-desa wisata karena tak dipungkiri telah muncul pesaing-pesaing baru. Lobar diakui Ispan, tidak bisa selamanya hanya mengandalkan pariwisata di Senggigi saja. Namun, Lobar juga memiliki pengalaman-pengalamn hidup yang bisa ditawarkan pada wisatawan.

a�?Namun ini semua harus didukung dengan keamanan, kenyamanan, dan kebersihan sesuai standar,a�? katanya.

a�?Wisatawan yang biasa hidup individualis, melihat lingkungan yang penuh kekerabatan, keramahan adalah hal unik di mata mereka,a�? tambah Ispan.

Baginya, perjalanan wisata ini tidak akan pernah habis. Selalu saja ada nuansa-nuansa baru yang dapat digali, berpotensi, serta memberikan multi efek kepada masyarakat lokal dan daerah.

a�?Memang sekarang belum kita rasakan, tapi nanti lihat saja,a�? katanya.

Lombok Post bertandang ke Sekotong. Di sini ada lokasi wisata di Batu Kijuk, Desa Sekotong Barat. Desa wisata ini sedang naik daun. Desa ini adalah pintu bagi penikmat pantai dan gili-gili yang indah di Sekotong.

Dan kulinernya juga yahud. Wisatawan bisa menikmati bersantap di tengah pemandangan yang sangat indah. Sahnil, pegiat wisata setempat mengatakan, saat ini terdapat sembilan titik wisata kuliner di Batu Kijuk. Dengan kunjungan yang tinggi, rata-rata para pengelola warung menghabiskan ikan hingga lima kuintal. Ikan ini pun didatangkan dari hasil tangkapan nelayan sekitar. Selain itu, bahan baku ikan selama ini tidak pernah terkendala, kecuali pada cuaca buruk.

Sahnil mengalkulasikan, jika kondisi ramai, para pedagang bisa mendapatkan hasil jualan kuliner Rp 3 juta pada hari libur. Kalau hari biasa, berkisar Rp 600 ribu sampai Rp 1 juta. Artinya, usaha ini telah mampu mengangkat perekonomian masyarakat. Sebab, satu warung bisa mempekerjakan empat keluarga khususnya para ibu rumah tangga.

Sayangnya, sejumlah kendala tengah dihadapi pedagang selama ini. Di mana lapak jualan mereka yang belum standar. Di samping itu, toilet khusus untuk pengunjung juga belum representatif. Saat begini, pemerintah diharap turun tangan.

Tak cuma dari kuliner. Warga juga menyiapkan jasa transportasi pelayanan penyeberangan ke gili-gili. Tarif penyeberangan ini sendiri diatur rata-rata Rp 250 ribu per hari. Ini sudah mendapat fasilitas mengelilingi empat Gili. Yakni, Gili Nanggu, Tangkong, Sudak dan Gili Kedis. Warga juga menyewakan alat-alat untuk penyeberangan serta menyelam.

Kota Tak Ketinggalan

Tentu saja virus desa wisata tak dinikmati desa semata. Kota Mataram juga merasakan dampaknya. Bertandanglah ke Lingkungan Karang Jangkong, di Cakra Barat. Di sana ada kampung wisata. Ini adalah Kampung Wisata Halal pertama di Kota Mataram. Sebutannya adalah Kangkong, mengambil kependekan nama Karang Jangkong.

Lokasi lingkungan ini tepat di depan pusat perbelanjaan Mataram Mall. Di bagian depan, setiap orang yang akan berkunjung akan disambut dengan gapura berdesain tradisional. Masuk ke dalam, susananya akan berubah total. Benar-benar kampung wisata yang cukup membuat Anda tergoda untuk berkeliling.

a�?Ini Kampung Wisata Halal yang pertama di Mataram, bahkan di NTB,a�? kata Ida Wahyuni Sahabudin, penggagas Kampung Halal itu pada Lombok Post.

Selain diakui sebagai kampung wisata dan halal pertama di Mataram dan NTB. Perempuan 29 tahun itu mengaku, Kangkong merupakan kampung halal tourism town pertama di NTB yang telah diakui. Tak hanya itu, Kangkong juga dinilai sebagai kampung wisata unik yang berbeda dari kampung lainnya di Mataram.

Wisatawan yang ke sini bisa menikmati aneka kuliner. Di sana ada pula fasilitas seperti bale pintar, English Fun, produk asli UKM, cooking class bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara.

Kepala Lingkungan Karang Jangkong H Mohammad Najamudin juga menjelaskan bahwa Kangkong juga memiliki ciri khas dan unik lainnya. Bahkan sangat berbeda dibandingkan, dengan kampung, desa, atau lingkungan lainnya yang ada di NTB. Dimana, para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara diwajibkan mengenakan sarung. Bukan hanya laki-laki saja, perempuan juga diwajibkan menggunakan sarung saat berwisata di Kangkong.

a�?Itu adalah syarat! Mereka tidak boleh pakai celana pendek, ini kan konsepnya kampung wisata halal,a�? kata Najamudin pada Lombok Post.

Menurut Najamudin, wisatawan yang ingin berkunjung ke kampung ini, bisa memesan secara online lewat beberapa travel agent yang sudah bekerja sama dengan pengelola Kampung Wisata Halal ini.

Wisatawan juga bisa menginap di rumah-rumah warga setempat. Soal harga, tentunya sangat murah. Permalamnya hanya Rp 100 ribu, di 41 rumah warga. Mulai dari rumah warga di RT 1 hingga RT 7.

Tak hanya itu saja, bagi para wisatawan mancanegara, tak perlu bingung untuk berbahasa sasak atau bahasa Indonesia. Sebab, akan ada banyak pemuda-pemudi yang fasih berbahasa Inggris dan bahasa asing lainnya.

a�?Hampir semua remaja di sini pandai berbahasa asing. Insya Allah, wisatawan tidak ragu untuk menggunakan mereka sebagai guide,a�? ungkapnya.

Satu lagi, di kampung ini juga ada car free night setiap hari. Waktunya mulai pukul 17.00-00.00 Wita. a�?Dijamin, wisatawan yang berkunjung ke kampung ini tidak akan kecewa,a�? jawabnya sambil tersenyum.

Siapa sangka, dulu kampung ini dikenal sebagai kampung zona merah. Badan Narkotika Nasional yang menjulukinya begitu. Dan Kampung Wisata, ternyata telah menjadi jalan keluar bagi desa ini untuk terbebas dari status zona merah BNN tersebut.

Di sana, bermukim 674 kepala keluarga. Dan seluruhnya bahu membahu turut serta membangun kampung yang dulunya dikenal kumuh, dan jauh dari keramaian menjadi Kampung Wisata Halal.

Melihat antusiasme masyarakat di desa-desa wisata tersebut, tak pelak, desa wisata menjadi oase yang membangkitkan gairah ekonomi masyarakat desa. Jangan heran, kalau kemudian kini satu per satu desa wisata lahir di berbagai daerah dengan berbagai keunikannya.

Strategi ini pun dipercaya akan menjadi salah satu jalan keluar yang ampuh menekan angka kemiskinan karena memberikan dampak yang luas bagi perekonomian warga.A� Tahun 2019 ditargetkan 50 desa wisata di NTB yang tumbuh dan berkembang dengan mapan.

Kepala Dinas Pariwisata NTB H Lalu Mohammad Faozal mengatakan, pemerintah terus mendorong agar desa-desa wisata terus berkembang. Jumlahnya saat ini mencapai ratusan, tapi desa yang mampu ditangani hanya 40 setiap tahun.

Bahkan di Lombok Tengah, saking antusiasnya, pemkab setempat berencana menciptakan 114 desa wisata dari 127 desa dan 15 desa persiapan yang ada di sana. Sejauh ini, di Loteng sudah ada 58 desa.

Inilah bukti, bahwa pariwisata adalah masa kini dan masa depan bagi Bumi Gora. (ili/dss/ewi/puj/ton/van/tea/r8)

Berita Lainnya

Liburan ke Pantai Penghulu Agung Ampenan Juga Asyik Loo..!!

Redaksi LombokPost

Hasil Produksi Langsung Dibeli Pengusaha

Redaksi LombokPost

DBD Bisa Jadi Ancaman Serius Pengungsi

Redaksi Lombok Post

Ahyar Tidak Puas dengan Hasil CPNS

Redaksi Lombok Post

PLN Luncurkan Layanan Satu Pintu

Redaksi Lombok Post

Hanya Ngebut di Depan Jokowi, Perbaikan Rumah Korban Gempa Lamban

Redaksi Lombok Post

Nuril pun Menangis, Aksi Bela Nuril Terus Mengalir

Redaksi Lombok Post

Kematian Bayi Lotim Menurun

Redaksi LombokPost

Penyeberangan di Pelabuhan Lembar Molor

Redaksi LombokPost