Lombok Post
Sportivo

AS Roma Butuh Keajaiban Kedua

Liverpool's Egyptian midfielder Mohamed Salah (R) vies with Roma's Dutch midfielder Kevin Strootman during the UEFA Champions League first leg semi-final football match between Liverpool and Roma at Anfield stadium in Liverpool, north west England on April 24, 2018. / AFP PHOTO / Oli SCARFF

LIVERPOOLa��AS Roma masih bisa bermimpi. La Gazzetta dello Sport atau Il Corriere dello Sport menuliskan pada headline-nya pasca Il Lupi menelan kekalahan 2-5 (0-2) atas Liverpool, saat leg pertama semifinal Liga Champions di Anfield, Liverpool, Rabu dini hari kemarin WIB (25/4).

Lima gol dari trio SMF Mohamed Salah, Sadio Mane dan Roberto Firmino yang mampu menembus jala gawang Alisson Becker sudah diperkirakan bakal terjadi. Salah lewat brace-nyaA� masing-masing menit ke-36 dan 45, begitu pula Bobby di menit ke-61 dan 69, plus gol Mane di menit ke-56.

Sayangnya, Edin Dzeko dan Diego Perotti mengais lagi mimpi Romantada episode ke-3-nya di Liga Champions musim ini dengan golnya masing-masing pada menit ke-81 dan 85. Gol Perotti terjadi dari titik putih. Sama dengan Romantada sebelumnya, atas Shakhtar Donetsk (16A� Besar) dan Barcelona (perempat final). Gol tandang leg pertama jadi modal.

Itu alasannya kenapa Daniele De Rossi dkk tak berjalan ke lorong Anfield dengan kepala menunduk. ”Kami belum mati,” koar bek kanan Roma Alessandro Florenzi saat diwawancara diA� Mediaset Premium dan Roma TV. Ale seperti rekan setimnya yang lain, konfiden defisit tiga gol bisa mereka tebus dalam leg kedua 3 Mei mendatang.

A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A�A� Dia sudah belajar dari 90 menit di Anfield. ”Bola-bola panjangnya, sprint-sprint-nya dan bola saat dikuasai Virgil van Dijk dan Dejan Lovren. Akan kami pelajari benar-benar,” tuturnya. Walaupun, dia mengakui membalas tiga gol dari The Reds takkan semudah saat mengejutkan di depan La Blaugrana. ”Kami janji, kami akan mainkan yang berbeda pekan depan,” janjinya.

Anak buah Eusebio Di Francesco bersembunyi di balik tren clean sheet pada laga home-nya di Liga Champions. ”Kami selalu berpikir positif, karena kami pejuang dan kami bertarung sampai menit akhir demi fans,” klaim bek Federico Fazio terkait kans mengulang Romantada di leg 2 nanti, dikutip Calciomercato.

Walaupun sepanjang histori Liga Champions belum pernah ada hat-trick comeback yang beruntun dilakukan satu klub dalam semusim. AS Monaco klub terakhir yang bisa comeback di fase knockout beruntun hanya bisa melakukannya dua kali pada 2003-2004.

”Kalau kalian tidak percaya itu (Romantada), pulanglah saja ke rumah,” begitu konfidennya EDF tentang kans anak asuhnya membalas kekalahan itu, dikutip Football Italia.

Di satu sisi benar apa kata Juergen Klopp, tactician Liverpool. ”Kami bukan Barcelona,” sebut Klopp, dikutip Goal. Jordan Henderson dkk klub terganas di Liga Champions dengan 38 gol. Beda dengan Barca sebelum ditekuk Roma per laganya hanya bisa mencetak 1,5 gol.

”Saya lebih tertarik memikirkan Stoke City (Matchweek 36 Premier League, 28 April) ketimbang soal apa yang akan kami hadapi di Roma,” tambah Klopp yang selangkah lagi mencapai final kedua di Liga Champions.

”Saya sudah belajar malam ini, kami masih bisa mencetak gol ke gawang mereka saat di Roma,” ungkap Klopp. Salah, dengan dua golnya sudah melewati 42 golnya Cristiano Ronaldo. Salah 43 gol. Salah juga pemain Liverpool pertama yang mencetak 10 gol dalam semusim Liga Champions.

Nah, sukses Salah itu yang melambungkan pemain Mesir ini dan menjadi salah satu dari tiga kandidat kuat calon peraih Ballon d’Or musim ini. Dia bakal bersaing dengan Ronaldo dan MessiA� dalam prediksi bursa Eropa.

Terlepas dari modal agresivitas itu, defense Liverpool sedang rapuh. Dua laga kebobolan empat gol jadi sinyal bahayanya. Keempatnya pun terjadi di 10 menit akhir. Henderson pun waswas dengan kelemahan itu. Ingat Kostas Manolas menjebol gawang Marc-Andre ter Stegen di menit ke-82, saat jadi penentu hasil 11 April lalu.

”Dalam 20 menit akhir kami gugup, lalu tak mampu memainkan sepak bola kami. Mudahnya kami memberi Dzeko gol,” beber Henderson, ketika di dalam sesi wawancara dengan BT Sport.

Hanya, dia mengakui penalti itu tak seharusnya diberikan wasit Felix Brych. Jika dilihat dari tayangan ulang bola menyentuh lengan bagian atas James Milner. ”Saya tak mau kami saat di Roma kami kesulitan seperti Barcelona. Datang ke Roma dan cetak gol sebanyak-banyaknya itu tantangan kami,” tambah Henderson. (ren/JPG/r8)

Berita Lainnya

Selangkah Lagi Timnas U-19 Ke Piala Dunia

Redaksi Lombok Post

Huswatun Cetak Sejarah, Petinju Putri Pertama RI Raih Medali Asian Games

Redaksi Lombok Post

Zohri : Saya Nggak Percaya Bisa Juara

Prancis Fantastis! Juara Dunia setelah Tumbangkan Kroasia 4-2

Banjir Hadiah Menanti Zohri

Zohri, Sprinter Pertama Indonesia yang Menjadi Juara Dunia

Chilena Ronaldo Seindah Puisi

Redaksi Lombok Post

NTB Layak Jadi Tuan Rumah PON 2024

Redaksi Lombok Post

Modal Nekat Meminang PON 2024

Redaksi Lombok Post