Lombok Post
Headline Politika

Dapil Berubah, Jumlah Kursi Tetap

SOSIALISASI: KPU NTB paparkan hasil penetapan dapil dan alokasi kursi DPRD provinsi dan kabupaten/kota di NTB kepada perwakilan partai politik, Sabtu (19/5).

MATARAM – Komisi pemilihan umum (KPU) NTB menyosialisasikan penetapan daerah pemilihan (dapil) dan alokasi kursi dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) provinsi dan kabupaten/kota di NTB, Sabtu (19/5). Dari hasil keputusan KPU RI, penetapan dapil serta alokasi kursi DPRD provinsi terbagi menjadi delapan dapil dan memperebutkan 65 kursi.

Untuk DPRD Provinsi NTB tak ada perubahan dapil maupun jumlah kursi.  Dapil satu yang terdiri dari Kota Mataram memperebutkan lima kursi.

”Dapil dua, Lombok Barat dan Lombok Utara mendapat alokasi kursi sebanyak 12 kursi,” kata Komisioner KPU NTB Suhardi Soud.

Dapil tiga Lombok Timur (Lotim) A mendapatkan sembilan kursi. Dapil ini meliputi  12 kecamatan, yaitu  Masbagik, Sukamulia, Selong, Pringgabaya, Aikmel, Sambelia, Pringgasela, Suralaga, Wanasaba, Sembalun, Suela dan Labuhan Haji.

”Dapil empat Lotim B dengan Kecamatan Keruak, Sakra, Terara, Sikur, Montong Gading, Sakra Timur, Sakra Barat dan Jerowaru dialokasikan 6 kursi,” ujarnya.

Sementara dapil lima yang terdiri dari Sumbawa Barat dan Sumbawa mendapatkan delapan kursi. Kemudian, dapil enam meliputi Dompu, Bima dan Kota Bima mendapatkan delapan kursi.

”Tujuh kursi untuk dapil tujuh yang terdiri dari Lombok Tengah (Loteng) A meliputi Kecamatan Praya, Batukliang, Janapria, Kopang, Praya Tengah, Batukliang Utara,” papar Suhardi.

Kemudian untuk dapil delapan mendapatkan tujuh kursi. Dapil ini meliputi Kabupaten Loteng B yang terduru dari Jonggat, Pujut, Praya Barat, Praya Timur, Pringgarata dan Praya Barat Daya. Untuk DPRD provinsi, penetapan dapil dan alokasi kursi tidak mengalami perubahan.

Setelah penetapan dapil provinsi, dilanjutkan dengan dapil dan alokasi kursi DPRD kabupaten/kota. Di Kabupaten Lombok Barat tidak mengalami perubahan kursi maupun dapil. Hanya letak dapil yang berubah.

”Seperti waktu 2014 lalu, dapil satunya Lobar Sekotong, Lembar sekarang jadi Gerung Kuripan,” katanya.

Di Lombok Barat, terdiri dari lima dapil dengan jumlah kursi sebanyak 45 kursi. Dengan jumlah penduduk sebanyak 713.848 orang. Dengan rincian, dapil satu mendapatkan sembilan kursi, dapil dua sebanyak delapan kursi. Kemudian dapil tiga sembilan kursi, dapil empat 11 kursi dan dapil lima delapan kursi. Kabupaten Lombok Tengah, dengan jumlah penduduk sebanyak 1. 035.355 mendapatkan 50 kursi.

”Di Loteng dapil tetap namun alokasi kursi berubah,” katanya.

Pada dapil satu alokasi kursi tetap yaitu 10 kursi. Sedangkan dapil dua mengalami perubahan yang semula delapan kursi sekarang menjadi sembilan kursi.

Dapil tiga alokasi kursi tetap dengan sembilan kursi. Dapil empat mendapatkan satu tambahan kursi menjadi tujuh kursi. Sementara dengan dapil lima, mengalami pengurangan satu kursi menjadi delapan kursi. Begitu pula dengan dapil enam, mendapat pengurangan satu kursi menjadi tujuh kursi.

”Di Kabupaten Lombok Timur juga sama, tidak ada perubahan dapil tapi alokasi kursi tiap dapilnya berubah,” katanya.

Dapil satu mengalami penurunan satu kursi menjadi 10 kursi. Sementara pada dapil dua mengalami peningkatan satu kursi menjadi 12. Dapil tiga berkurang satu kursi menjadi 8 kursi.

”Dapil empat awalnya 9 kursi sekarang jadi 10 kursi lalu dapil lima tetap dengan 10 kursi,” kata Suhardi.

Kabupaten Sumbawa terdiri dari lima dapil dan 45 kursi. Terdapat perbedaan alokasi kursi serta letak dapil. Yang semula menjadi dapil lima, pada pemilu 2019 ini menjadi dapil satu. Dengan jumlah kursi sebanyak sembilan kursi.

”Dapil dua tetap 10 kursi, dapil tiga mendapatkan sembilan kursi di pemilu 2019, dapil empat tetap 11 kursi dan dapil lima Sumbawa mendapatkan enam kursi,” ujarnya.

Di Dompu terdiri dari empat dapil dan 30 kursi. Sebelumnya pada pemilu 2014, Dompu hanya terdiri dari tiga dapil. Untuk Pemilu 2019, dapil dua yang terdiri dari Woja dan Kilo dipecah menjadi dua.

”Sehingga pada dapil dua menjadi Woja saja dengan alokasi kursi sebanyak tujuh, sementara dapil satu tetap 11 kursi,” katanya.

Kilo berpindah menjadi dapil tiga bersama dengan Manggelewa mendapatkan enam kursi. Kemudian dapil empat menjadi Kempo dan Pekat mendapatkan enam kursi.

Kabupaten Bima mengalami perubahan, yakni menjadi enam dapil dengan jumlah kursi sebanyak 45 kursi.

”Dari yang semula lima dapil namun jumlah kursi tetap 45,” tegasnya.

Dengan rincian, dapil satu sebanyak delapan kursi, dapil dua tujuh kursi, kemudian dapil tiga enam kursi. Pada dapil empat mendapatkan lima kursi, dapil lima mendapat sembilan kursi dan dapil enam sebanyak 10 kursi.

”Di Kabupaten Sumbawa Barat jumlah kursi tetap 25 begitu pula dengan jumlah dapilnya tetap tiga,” papar Suhardi.

Hanya terdapat pergeseran dapil, dapil dua menjadi dapil satu. Dengan perolehan masing-masing kursi pada dapil satu sebanyak 10 kursi. Dapil dua mendapat sembilan kursi dan dapil tiga mendapat enam kursi.

Begitu pula dengan Kabupaten Lombok Utara, alokasi kursi tetap yakni 30 kursi dengan tiga dapil. Tidak ada perubahan, dapil satu tetap 11 kursi, dapil dua mendapat 12 kursi, dan dapil tiga mendapatkan tujuh kursi.

”Kota Mataram mengalami perubahan, sekarang menjadi enam dapil namun jumlah kursi tetap 40,” ujarnya.

Dapil satu mendapat tujuh kursi. Sebelumnya dapil satu terdiri dari Mataram dan juga Sekarbela. Keduanya kini dipecah dan Sekarbela berada pada dapil dua dan mendapatkan lima kursi. Dapil tiga delapan kursi, dapil empat tujuh kursi, dapil lima tujuh kursi dan dapil enam mendapat enam kursi.

Sementara di Kota Bima, hanya terjadi pergeseran kursi. Yang awalnya dapil tiga menjadi dapil satu dan dapil satu menjadi dapil tiga. Alokasi kursi tetap.

Di dapil satu, Raba dan Rasanae Timur mendapatkan 10 kursi. Dapil dua, Mpunda dan Rasanae Barat mendapatkan 10 kursi. Kemudian dapil tiga, Asakota mendapatkan lima kursi.

Sosialisasi ini dihadiri oleh perwakilan partai peserta Pemilu 2019. Dengan sosialisasi ini Suhardi berharap putusan dapat disosialisasikan pada internal partai.

”Kalau di internal partai kan kaitannya dengan pencalonan pasti dapil ini akan jadi basis mereka menentukan siapa calonnya,” ujarnya.

Dan dari alokasi kursi yang telah ditentukan, partai politik dapat memetakan beberapa jumlah perempuan tiap dapil. Hal lainnya, penetapan dapil ini dapat digunakan sebagai kompetisi internal partai.

”Keterlibatan perempuan itu 30 persen jumlahnya di pencalonan tiap dapil,” katanya.

Dalam Pemilu 2019 pun terdapat perubahan sistem penghitungan kursi dari Pemilu 2014 lalu. Pada tahun 2014 menggunakan konsep bilangan pembagi pemilih (BPP).

”Dimana perolehan suara dalam satu dapil itu ke dalam kursi, akan dilihat BPPnya,” terang Suhardi.

Pada Pemilu 2019 menggunakan sistem sainte lague. Jumlah perolehan setiap partai politik akan dibagi dengan angka ganjil.

”Siapa yang jumlahnya paling besar itulah yang mendapatkan kursi,” katanya. (cr-eya/r4)

Berita Lainnya

22 Mei, NTB Kondusif!

Evi Buka Rahasia Foto Cantiknya

Laporan Farouk Kedaluarsa

BN KMA: Ini Kemenangan Rakyat!

Menelusuri Penyebaran Islam di Pulau Lombok dari Buku Karya Dr Jamaluddin (2)

Korban Gempa Dikadali, BPBD Terima Laporan Bahan Rumah Korban Gempa Tak Sesuai Spek

Jangan Terpengaruh Ajakan Rusuh

Ini Pesan DPW PKS NTB ke Johan dan SJP

Paloh Dorong Amin Jadi Dubes